sofiahdewi
May 31 2007, 11:54 PM

http://swaramuslim.net/ACEH/setahun/Renungan1.m3u
SEKILAS TENTANG BIBEL
Dalam bentuknya yang sekarang, Bibel memuat dua kitab yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Umat Yahudi hanya beriman kepada Perjanjian Lama atau Taurat, sementara umat Nasrani menganggap Perjanjian Lama sebagai kitab yang berisi syariat-syariat agama, dan Perjanjian Baru atau Injil ditambah surat-surat sebagai perjanjian yang utama.
Dikarenakan kitab Injil tidak banyak mengandung hukum-hukum syariat maka umat Nasrani harus tetap mengacu pada kitab Taurat sebagaimana Yesus sendiri mengatakan dengan tegas bahwa ia datang untuk menyempurnakan apa yang telah dibawa oleh Nabi Musa. Dengan demikian, mereka beriman pada nash-nash Taurat itu dan memandangnya sebagai kitab suci Ilahi yang harus ditaati syariatnya.
Kata Injil berasal dari bahasa Yunani. Asal katanya adalah euaggelion. Dalam bahasa Yunani berarti hadiah, yang diberikan kepada orang yang mendengarkan berita gembira.
Bahasa Yunani bukan bahasa Yesus sendiri tetapi bahasa kaumnya. Pada waktu itu ia sendiri menggunakan bahasa Aramea. Jadi kata Injil tidak pernah disebutkan dalam risalah Yesus atau pada kitab sucinya. Tetapi mungkin kata "berita gembira" atau yang menyerupainya dalam bahasa Aramea. Bahasa itu masih bersaudara dengan bahasa Arab dan bahasa Ibrani.
Dalam Perjanjian Baru kata Injil disebutkan beberapa kali, tapi bukan dalam arti kitab. Hanya dalam arti kabar gembira atau kabar baik. Penggunaan kata Injil sebagai kitab suci yang dibawa Yesus baru digunakan pada pertengahan abad kedua Masehi. Ini berarti sesudah Yesus wafat seratusan tahun kemudian. Sedangkan Al Qur'anul Karim menggunakan nama itu pada risalah Yesus, karena nama itulah yang populer digunakan oleh umat Nasrani dan seluruh masyarakat di seluruh pelosok negeri. Al Qur'an turun enam abad setelah penggunaan kata Injil pada risalah Yesus, sehingga tidak ada nama yang lebih tepat digunakan untuk mengenalkannya pada kitab yang dibawa Yesus selain nama itu.
Absennya Yesus dari gelanggang masyarakat Yahudi membuat pemalsuan atau penyamaran risalah yang dibawanya meningkat. Kami menemukannya lewat surat Paulus kedua kepada jemaat Tesalonika. Ia mengatakan, "Jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitahuan atau surat yang dikatakan dari kami." (II Tesalonika 2:2)
Dari sini jelaslah bahwa pembuatan dan pemalsuan surat-surat berkaitan dengan Mesias sudah tersiar di masyarakat pada masa Paulus. Bahkan lebih jauh lagi, pemalsuan ini juga sudah memuncak hingga banyak orang yang mengaku sebagai nabi. Mereka mengaku mendapat ilham dan mempertontonkan berbagai kecakapan yang dikatakan sebagai mukjizat. Peristiwa ini persis sama seperti yang diramalkan Yesus dalam ayat berikut:
"Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu, akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda mukjizat-mukjizat dengan maksud, kiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan." (Markus 13:22)
Untuk menyangkal tuduhan Yesus ini terhadap dirinya, maka Paulus pun mengatakan kepada jemaatnya di Roma: "Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang dusta?" (Roma 3:7)
Sejarah Gereja Romawi menjelaskan tentang peristiwa di abad kedua Masehi. Pada waktu itu telah terjadi perdebatan sengit antar umat Nasrani tentang keabsahan sistem para filosofi Yunani yang mereka anut. Mereka berdebat, apakah cara itu dibenarkan?
Tapi akhirnya cara itu mereka laksanakan juga. Ini didukung oleh kecerdikan para peneliti dan kritikus umat Nasrani. Dalam perdebatan itu juga terjadi krisis kejujuran. Berlandaskan alasan itulah dimulailah serial karangan Injil yang dipalsukan atau disamarkan sebagian isinya.
Umat Nasrani pada masa itu tidak memiliki keseragaman pendapat. Secara garis besar jemaat Nasrani terpecah menjadi dua golongan besar, yaitu Nasrani bertradisi Yahudi dan Nasrani bertradisi Yunani. Nasrani bertradisi Yunani inilah yang nantinya menjadi akar tumbuhnya umat Kristen di masa depan. Dalam hal ini Dr. C. Groenen ofm dalam bukunya 'Sejarah dogma Kristologi' mengungkapkan: "…Justru orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani (diistilahkan: Helenis) sekitar tahun 40 mulai menyebarkan iman kepercayaan Nasrani di luar Palestina, tidak hanya di Samaria, tetapi juga di daerah Syiria, Mesir, dan Afrika Utara. Dan pewartaan juga diarahkan kepada orang bukan Yahudi, yang 'Yunani' tanpa latar belakang tradisi Yahudi, seperti halnya dengan orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani di Diaspora. Akibatnya: pengaruh alam pikiran Yunani atas refleksi umat mengenai iman kepercayaannya bertambah besar dan kuat. Dua-tiga generasi Kristen pertama tentu tidak seluruhnya lepas dari asal-usulnya, lingkup Yahudi pribumi. Tetapi asal-usul itu semakin bergabung dengan alam pikiran Yunani dan akhirnya unsur Yunani menjadi unsur utama dalam pemikiran umat Nasrani.
Alam pikiran Yunani pada awal tarikh Masehi memang serba sinkretis. Di dalamnya terserap bermacam-macam unsur dari kebudayaan-kebudayaan lain, tetapi secara dasariah alam pikiran itu tetap Yunani. Sinkretisme itu meliputi segala sesuatu dan boleh dikatakan terutama pemikiran religiuslah yang serba sinkretis. Segala apa dicampuradukkan melebur menjadi satu, tetapi sekaligus kabur tidak keruan. Dan di samping sinkretisme populer itu masih ada aliran filsafat bermacam-macam, yang berpangkal pada tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, Epikurus, Zenon (Stoa), Diogenes dan sebagainya. Dan filsafat itu sedikit banyak 'merakyat' ke mana-mana dan juga bercampur aduk. Orang-orang Yahudi di Diaspora, yang berkebudayaan Yunani tentu saja tidak terluput dari sinkretisme umum itu." (hal. 35)
Lebih lanjut Dr. Groenem ofm membuat suatu pernyataan tentang karangan-karangan Perjanjian Baru sebagai berikut:
"Karangan-karangan itu agak fragmentaris. Ditulis dengan alasan tertentu, oleh orang tertentu dan bagi sidang pembaca tertentu. Semua karangan itu dikarang setelah umat Nasrani sudah berkembang sedikit, ditulis antara tahun 50-120 M. Dan tidak jarang di dalamnya bercampur aduk apa yang sudah 'tradisional' dan apa yang baru, apa yang berasal dari umat Nasrani yang murni Yahudi dengan apa yang disumbangkan umat Nasrani yang murni Yunani. Dan bagi kita sukar dipisahkan unsur-unsur yang berbeda latar belakangnya. Sudah penting bahwa seluruh Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan hanya di sana-sini masih ada bekas dari bahasa Aram yang menjadi bahasa Yesus dan bahasa jemaah awal. Itu berarti bahwa bagi kita tidak ada lagi tersedia ungkapan iman umat Kristen dalam bentuknya yang awal. Semuanya sudah diolah sedikit oleh mereka yang terpengaruh oleh alam pikiran Yunani. " (hal. 37)
Tiap-tiap golongan, Nasrani Yahudi dan Nasrani Yunani, menempuh perkembangannya sendiri-sendiri. Karangan-karangan Perjanjian Baru, khususnya karangan-karangan Paulus, membuktikan bahwa di antara keduanya memang terjadi ketegangan dan bahkan permusuhan. Menurut penilaian umat Nasrani Yahudi, Paulus memang berbangsa Yahudi, tetapi toh tampil sebagai suara jemaah-jemaah Yunani. Dan jelas antara Paulus dengan jemaah Nasrani Yahudi tidak ada kesepahaman. Bagi umat Nasrani Yahudi Paulus dinilai sebagai 'pengkhianat' dan 'murtad' dari ajaran Yesus.
Kosa kata dalam Injil juga disinyalir telah banyak mengalami perubahan. Banyak sisipan ayat-ayat yang dapat merancukan paham monoteisme sebagai ajaran asli Yesus. Menurut Theodore Zahn mulanya kalimat keimanan dalam ajaran Nasrani masih berbunyi: "Saya percaya pada Allah Yang Maha Kuasa". Akan tetapi antara tahun 120 sampai tahun 210 M ada yang menambah kata 'Bapa' di depan kata Yang Maha Kuasa. Tindakan ini sempat dikecam keras oleh beberapa tokoh-tokoh gereja. Uskup Victor dan Zephysius mengutuk penambahan yang dianggap mencemari kemurnian kitab suci dan menentang pendapat yang mengatakan bahwa Yesus adalah salah satu dari oknum Tuhan. Penambahan tersebut adalah konsekuensi dari penerapan pendapat bahwa Yesus adalah 'Anak Tuhan'.
2. SEJARAH PENETAPAN PERJANJIAN BARU
Ajaran Paulus yang banyak mengandung mitos-mitos Yunani ternyata banyak mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitar Mediterania, Laut Tengah. Diantara para pendukungnya tersebut terdapat Ireneus (150-202 M), Tertulianus (155-220 M), Origens (185-254 M), dan Anthanasius (298-377 M). Anthanasius sendiri dikenal sebagai pelopor lahirnya dogma trinitas dalam sidang Nicea pada tahun 325 M. Di belakangnya berdiri pula Santo Agustinus (354-430 M) dan Gregoryus Nyssa (335-394 M). Mereka ini ikut berpikir dan berunding untuk memecahkan persoalan tentang Tuhan itu tiga tetapi satu. Maka tidaklah mengherankan bila kemudian kita mendengarkan ada konsili-konsili seperti konsili Nicea, konsili Efesus, konsili Alexandria dan lain-lain, di mana pada tiap-tiap konsili akan lahir pula suatu 'perkembangan baru dari Tuhan.' Dalam Konsili Nicea Kaisar Konstantin yang agung mengumpulkan tiga ratus pastur untuk membuat suatu ketetapan. Mereka mengadakan kesepakatan dan mufakat tentang Injil yang benar. Tetapi ternyata mereka bukan memilih kebenaran berdasarkan historis dan pertukaran pikiran yang logis, tapi mereka menumpuk semua Injil yang ada di bawah meja makan malam kudus. Lalu mereka berdoa kepada Allah agar Injil yang benar terangkat ke atas meja dan membiarkan yang dianggap palsu tetap di bawah.
Setelah peristiwa ini, Kaisar Konstantin pun mengeluarkan dekritnya. Ia menyatakan bahwa semua Injil yang berbeda dengan keempat Injil (yang berlaku sampai sekarang) sebagai Injil palsu dan harus dibakar. Sayangnya pada masa itu, ternyata tidak semua orang mau menerima ajaran Paulus. Meskipun Kaisar Konstantin telah membuat satu ketetapan baku yang harus dipatuhi semua rakyatnya nyatanya masih ada golongan-golongan seperti Nestorius (338-440 M) dan Arius (270-350 M) yang giat menentang. Kedua golongan ini terkenal dengan kegigihannya mempertahankan keyakinan bahwa tiada lain yang patut disembah melainkan Allah. Akibat dari pertentangan mereka inilah akhirnya timbul perburuan manusia yang tiada tara. Siapapun yang tidak mau mengikuti perintah Kaisar Konstantin, diasingkan ke seluruh negeri, bahkan di eksekusi dengan cara dibakar hidup-hidup, diadu dengan singa, diseret oleh kuda dan bahkan dihukum injak dengan seekor gajah.
Pater Mochim dalam bukunya 'Sejarah Gereja' antara lain menerangkan bahwa dekrit itu sudah jelas zalim dan tidak masuk akal. Sayangnya, setelah Kaisar Konstantin merasa bersalah dan membatalkan dekritnya, Arius yang diasingkan sudah meninggal sebelum sempat menerima keputusan pembatalan dekrit tersebut.
Perjanjian Baru pun ditetapkan terdiri dari 27 kitab, yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohanes, Kisah Para Rasul, dan surat-surat Paulus kepada jemaat Roma, jemaat Korintus, jemaat Galatia, jemaat Efesus, jemaat Filipi, jemaat Kolose, jemaat Tesalonika, Timotius, Titus, Filmon, orang Ibrani, kepada Yakobus, kepada Petrus, kepada Yohanes dan kemudian Wahyu kepada Yohanes. Kumpulan kitab-kitab pilihan itu disetujui juga oleh Paus Glasios pada tahun 492-496 M. Lalu diberinya ijin berkembang secara resmi. Maka sejak itu Perjanjian Baru berkembang pesat di kalangan umat Nasrani. Sebetulnya masih ada 158 Injil dan kitab lainnya yang dikatakan oleh para penafsir dan kalangan gereja sebagai Injil yang kudus. Sayangnya, kemudian Injil-Injil tersebut dianggap palsu dan hanya dianggap sebagai karangan biasa. Di antara Injil-Injil dan kitab-kitab itu dikatakan ada yang ditulis oleh Yesus sendiri, seperti suratnya kepada Epiko uros, kepada Propal, Kitab Perumpamaan dan Nasehat, Kitab doa-doa Mesias, Kitab Penciptaan Yesus dan Maria, dan kitab-kitab yang diturunkan dari langit. Selain itu juga masih terdapat Injil-Injil lain yang juga ikut diapokritkan, diantaranya adalah:
a. Injil Markion
b. Injil Mesir
c. Injil Eva
d. Injil Yudas
e. Injil Nicodemus
f. Injil Thomas
g. Injil Barnabas
h. Injil Matius (tidak sama dengan yang ada sekarang)
i. Injil Yosepus
j. Injil Duabelas
k. Injil Kebenaran
l. Injil Maria
m. Injil Yesus
n. Injil Andreas
o. Injil Pilipias, dan lain-lain
(diambil dari berbagai sumber) Sesungguhnya, hampir seluruh nubuat Perjanjian Lama menunjuk pada Nabi Muhammad. Namun, oleh karena telah terjadi perombakan besar2an di dalam tubuh Perjanjian Lama, maka kita hanya bisa mengenali Muhammad melalui Nebayot, Kedar, Tema, dan lembah Baka. "Nebayot", "Kedar", dan "Tema" sangatlah penting, karena mereka adalah anak2 dari Nabi Ismail (Kejadian 25:13-15) dan memberi petunjuk terhadap kelompok masyarakat bangsa Arab. Sementara "Baka" menjadi penting, karena ia memberi petunjuk adanya perjalanan Nabi Ismail ke Mekah. Ada 6 kata kunci dalam mengidentifikasi Muhammad dalam Perjanjian Lama, yaitu: Nebayot, Kedar, Tema, Arab/Arabia, Baka, dan Paran.
Sepandai2nya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepandai2nya Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) menyembunyikan kebenaran, pasti ketahuan juga jejaknya. Kira2 inilah ungkapan yang paling tepat dalam mengungkap sosok Nabi Muhammad di dalam Perjanjian Lama.
[QS. 2:146. Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.]
[QS. 6:91. Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur'an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.]
[QS. 2:75. Apakah kamu masih mengharapkan mereka (Ahli Kitab) akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?]
[QS. 2:78-79. Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Alkitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.]
1. YEHEZKIEL (Bukti Kedar sebagai orang Arab dan terletak di jazirah Arab).
27:21 Arab dan semua pemuka Kedar berdagang dengan engkau dalam anak domba, domba jantan dan kambing jantan; dalam hal-hal itulah mereka berdagang dengan engkau.
Nubuat Perjanjian Lama banyak menyebut "Kedar", putra kedua Ismail (Kejadian 25:13), yang pada akhirnya menurunkan Nabi Muhammad. Tampak jelas dalam ayat di atas bahwa Kedar adalah suku bangsa Arab. Meski letaknya tidak disebutkan, tapi ini memberi petunjuk tentang lokasi atau status Kedar sebagai orang Arab yang berkaitan erat dengan kedatangan nabi setelah Yesus yang terlihat pada nubuat2 lainnya di bawah ini.
2. YESAYA (Kedar dan Tema bukti orang2 Arab).
21:13. Ucapan ilahi terhadap Arabia. Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan!
21:14 Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti!
21:15 Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan.
21:16 Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: "Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis.
21:17 Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecilsaja, sebab TUHAN, Allah Israel, telah mengatakannya."
Dalam ayat 13 terdapat kata "Arabia" yang memberi isyarat tentang kelompok bangsa Arab yang hendak melakukan hijrah. Pengikut Muhammad ketika itu masih sedikit. Dalam ayat di atas digambarkan hanya diikuti oleh orang2 Dedan (anak Yoksan anak Abraham). Muhammad adalah orang Quraisy keturunan Kedar, namun justru orang2 Quraisylah yang memberontak dakwah Muhammad.
Dalam ayat 14 terdapat kata "Tema", anak ke-9 Nabi Ismail yang terletak di Madinah. Ketika itu Muhammad beserta pengikutnya yang belum banyak, hendak diperangi oleh suku Quraisy (keturunan Kedar) di Mekah. Oleh karenanya, atas perintah Muhammad, mereka melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah (Dari sinilah tonggak tahun hijriyah dimulai). Kelompok Muhammad yang berhijrah dikenal dengan nama "Muhajirin", sementara orang2 Madinah yang menyambutnya dikenal sebagai kaum "Anshor".
Dalam ayat 17 terdapat kata "Kedar", anak kedua Nabi Ismail, yang menurunkan suku Quraisy dan bermata pencaharian sebagai pemanah (pemburu). Mata pencaharian Bani Kedar ini merupakan warisan dari nenek moyangnya, Ismail, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kejadian berikut ini:
21:20 Allah menyertai anak itu (Ismail), sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.
21:21 Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.
[H.R. AT-TURMUDZI, dari Watsilah bin Al-Asqa r.a. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya, Allah telah memilih Ismail menjadi anak Ibrahim dan Dia telah memilih keturunan Kinanah menjadi keturunan Ismail dan Dia telah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah dan Dia telah memilih Hasyim dari Quraisy, dan Dia telah memilih aku dari keturunan Hasyim."]
3. MAZMUR (Tempat berziarah dan sumur Zam-Zam di Baka).
84:5 (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
84:6 (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.
Ayat2 di atas berbicara tentang tempat berziarah yang selalu ramai dikunjungi oleh hamba2 Tuhan, yaitu Baka/Mekah. Frasa "tempat yang bermata air" dalam ayat di atas memberi petunjuk kepada kita tentang kejadian ajaib Ismail ketika masih bayi, yaitu peristiwa terbentuknya Sumur Zam-Zam di lembah Baka. Dimanakah lokasi Baka selain di Jazirah Arab? Al-Qur'an dengan tegas menyatakan bahwa Baka adalah Mekah. Berikut pernyataan Al-Qur'an:
[QS. 3:96-97. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Baka (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa Mka mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.]
[QS. 14:35,37. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala...Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."]
[QS. 90:1-2. Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini,]
4. YESAYA ("Inilah Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan" yang dikutip oleh 4 pengarang injil kanonik sebagai inspirasi karangan mereka ketika "membaptis" Yesus, lihat ayat 1).
42:1. Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
42:2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.
42:5. Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya:
42:6 "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
42:7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
42:8 Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. 42:9 Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu."
42:10 Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya.
42:11 Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung!
42:12 Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.
42:13 TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan kepahlawanan-Nya.
42:14 Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap.
42:15 Aku mau membuat tandus gunung-gunung dan bukit-bukit, dan mau membuat layu segala tumbuh-tumbuhannya; Aku mau membuat sungai-sungai menjadi tanah kering dan mau membuat kering telaga-telaga.
42:16 Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan.
42:17 Orang-orang yang percaya kepada patung pahatan akan berpaling ke belakang dan mendapat malu, yaitu orang-orang yang berkata kepada patung tuangan: "Kamulah allah kami!"
42:18 Dengarkanlah, hai orang-orang tuli pandanglah dan lihatlah, hai orang-orang buta!
42:19 Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba TUHAN?
42:20 Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidakmendengar.
42:21 TUHAN telah berkenan demi penyelamatan-Nya untuk memberi pengajaran-Nya yang besar dan mulia;
42:22 namun mereka suatu bangsa yang dijarah dan dirampok, mereka semua terjebak dalam geronggang-geronggang dan disembunyikan dalam rumah-rumah penjara; mereka telah menjadi jarahan dan tidak ada yang melepaskan, menjadi rampasan dan tidak ada yang berkata: "Kembalikanlah!"
42:23 Siapakah di antara kamu yang mau memasang telinga kepada hal ini, yang mau memperhatikan dan mendengarkannya untuk masa yang kemudian?
42:24 Siapakah yang menyerahkan Yakub untuk dirampas, dan Israel kepada penjarah? Bukankah itu TUHAN? Sebab kepada-Nya kita telah berdosa, dan orang tidak mau mengikuti jalan yang telah
ditunjuk-Nya, dan kepada pengajaran-Nya orang tidak mau mendengar. 42:25 Maka Ia telah menumpahkan kepadanya kepanasan amarah-Nya dan peperangan yang hebat, yang menghanguskan dia dari sekeliling, tetapi ia tidak menginsafinya, dan yang membakar dia, tetapi ia tidak memperhatikannya.
Yesaya 42:1-25 di atas adalah satu kesatuan ayat yang tak terpisahkan, karena ia meramalkan kedatangan seorang Nabi bukan Yesus! Justru ayat2 di atas membuka tabir kebohongan peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis sebagaimana dimaksud Matius 3:15-17; 12:16-21, Markus 1:9-11, Lukas 3:21-22, dan Yohanes 1:32-34.
Perlu dicatat, bahwa Yesaya 42:1 di atas menjelaskan tentang konsep "hamba" yang telah dipilih oleh Tuhan untuk seluruh alam semesta, dan secara tegas Al-Qur'an berbicara mengenai hal tersebut:
[QS. 25:1. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,]
Dalam ayat 10 di atas terdapat frasa "nyanyian baru" yang berarti syariat baru. Yesus datang bukan untuk membawa syariat baru, melainkan hanya untuk menggenapi syariat Taurat dan kitab2 para nabi (Matius 5:17-20). Sedangkan Muhammad datang untuk membawa syariat baru bagi semesta alam. Dengan tegas Al-Qur'an menyatakan:
[QS. 21:107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.]
[QS. 38:86-87. Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. Al Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.]
Dalam ayat 11 terdapat frasa "didiami Kedar". Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, bahwa Bani Kedar adalah orang2 Arab keturunan Nabi Ismail di Mekah. Kemudian juga terdapat frasa "Bukit Batu". Mekah juga secara geologis terkenal dengan gunung2 batunya. Sedangkan Yesus adalah keturunan Ishak, adik Ismail, dengan "memaksakan" garis keturunannya melalui jalur Yusuf, bapak tiri Yesus, oleh karena Yesus lahir dari perawan suci Maria (Matius 1:1-18 dan Lukas 3:23-38). Lebih jauh, ayat ini memberi isyarat adanya ibadah haji yang mengagungkan asma Allah dengan bertahmid dan bertalbiah.
Dalam ayat 13 terdapat frasa "Tuhan keluar berperang seperti pahlawan". Ayat ini jelas2 mengindikasikan kedatangan Muhammad, yang senantiasa dakwahnya diiringi dengan peperangan fisik. Perang yang terkenal dan dahsyat ialah Perang Badar. Sementara Yesus digambarkan Alkitab sebagai sosok yang lemah dan tidak pernah berperang atau memimpin peperangan secara fisik. Bahkan "Yesus" mati dibantai umatnya sendiri di tiang salib.
Dalam ayat 17 terdapat frasa " Orang-orang yang percaya kepada patung pahatan akan berpaling ke belakang". Sebelum Muhammad resmi menjadi Nabi, orang2 Arab pada waktu itu adalah penyembah berhala, bahkan mereka meletakkan berhala2nya di sekeliling Ka'bah hingga mencapai 365 buah. Sedangkan Umat Israel ketika Yesus diutus, bukanlah penyembah berhala dari patung2 buatan manusia, oleh karena mereka sudah mengenal Taurat dan kitab2 para nabi.
Dalam ayat 18 terdapat kata2 ungkapan "buta" dan "tuli". Kata "buta" merupakan ungkapan Tuhan yang dapat diartikan sebagai "tidak dapat membaca dan menulis", sedangkan kata "tuli" dapat diartikan sebagai "tidak pernah mendengar satu kitab pun sebelumnya". Umat Muhammad ketikabeliau diutus adalah umat yang buta huruf. Dalam tradisi Islam dikenal sebagai Zaman Jahiliyah (zaman kebodohan). Ini berbeda dengan umat Israel yang sudah pandai merubah2 Taurat dan kitab2 para nabi. Tentang kaum buta huruf ini, diabadikan di dalam Al-Qur'an:
[QS. 62:2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,]
Dalam ayat 19 digambarkan bahwa "hamba yang dipilih Tuhan" itu adalah seorang hamba yang"buta dan tuli", artinya bahwa "hamba yang dipilih Tuhan" itu adalah seorang hamba yang "tidak dapat membaca dan menulis" dan "belum pernah mengenal satu kitab pun sebelumnya". Al-Qur'an dengan gamblang mengabadikannya:
[QS. 7:157. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang tidak dapat membaca dan menulis, yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.]
[QS. 42:52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.]
Sedangkan ayat 20 di atas menggambarkan sifat orang2 kafir baik pada masa kerasulan Muhammad maupun sesudahnya yang tidak mau tahu dan tidak mau mengerti agama Islam. Hal ini dijelaskan juga dalam Al-Qur'an:
[QS. 2:18. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)].
5. YESAYA ("Roh seperti burung merpati" yang dikutip oleh 4 pengarang injil kanonik ketika "membaptis" Yesus, lihat ayat lapan).
60:1. Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.
60:2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.
60:3 Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.
60:4 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong.
60:5 Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu.
60:6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN.
60:7 Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.
60:8 Siapakah mereka ini yang melayang seperti awan dan seperti burung merpati ke pintu kandangnya? [/color]
[color="#483d8b"]Yesaya 60:1-8 di atas adalah satu kesatuan ayat yang tak terpisahkan, karena ia juga meramalkan kedatangan seorang Nabi bukan Yesus! Justru ayat2 di atas membuka tabir kebohongan peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis sebagaimana dimaksud Matius 3:15-17; 12:16-21, Markus 1:9-11, Lukas 3:21-22, dan Yohanes 1:32-34.
Ayat 1 di atas menggambarkan Firman Tuhan kepada Muhammad sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an:
[QS. 74:1-3. "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu, agungkanlah"]
[QS. 26:196-197. Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israelmengetahuinya?]
Ayat 2-6 menggambarkan keadaan Jazirah Arab pada saat itu yang diliputi kegelapan. Mereka semua hidup dalam kebodohan, tidak ada aturan, menyembah berhala, dan lain2. Setelah dibangkitkannya Muhammad, seluruh Jazirah Arab tunduk patuh di bawah kekuasaannya. Digambarkan dalam ayat di atas bahwa orang2 dari Midian (adik Ismail) dan Efa (anak sulung Midian) pun berduyun2 memeluk agama Islam.
Dalam ayat 7-8 terdapat kata "Kedar" dan "Nebayot" yang merupakan orang2 keturunan Nabi Ismail sebagaimana dijelaskan di atas. Digambarkan bahwa mereka pada akhirnya berduyun2 memeluk agama Islam dan mempersembahkan korban dan mengagungkan nama Tuhan pada musim haji.
6. ULANGAN & HABAKUK (Pegunungan Paran).
ULANGAN 33:2 Berkatalah ia: "TUHAN datang dari Sinai (Taurat) dan terbit kepada mereka dari Seir (Injil); Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran (Al-Qur'an) dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; di sebelah kanan-Nya tampak kepada mereka api yang menyala.
HABAKUK 3:3. Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. Sela. Keagungan-Nya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya.
3:4 Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya (Al-Qur'an) dari sisi-Nya dan di situlah terselubung kekuatan-Nya.
PARAN, adalah nama varian kuno dari Baka/Mekah, karena di Mekahlah tempat tinggal nabi Ismail hingga dikebumikannya (lihat QS. 2:125; 14:37), dan Muhammad adalah satu2nya nabi/rasul keturunan Ismail dari putra keduanya, Kedar. Lebih jelas tentang Paran dan Ismail, baca Kitab Kejadian di bawah ini:
21:20 Allah menyertai anak itu (Ismail), sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. 21:21 Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.
Jika kata "Paran" sebagaimana dimaksud Kitab Kejadian 21:20-21 di atas terdapat di sekitar Palestina, maka kata "Paran" dalam ayat tersebut harus direvisi, karena tidak ada bukti sama sekali bahwa Ismail, semenjak bayi hingga dikuburkannaya, berada di sekitar Palestina. Justru bukti2 kuatnya terdapat di lembah Baka/Mekah, yaitu: kuburan Ismail, Sumur Zam Zam, Hijir Ismail, Bukit Shafa dan Marwah, keturunan Ismail, Ka'bah yang dibangun bersama bapaknya, Ibrahim, dan maqam Ibrahim.
[QS. 2:125. Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud"]
[QS. 2:127-129. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah (Ka'bah) bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.]
7. KITAB KEJADIAN (Pemeliharaan Sunat).
17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu (Abraham) serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."
Realitanya, yang memegang teguh perjanjian tersebut hingga hari kiamat adalah umat Islam, karena umat Kristen tidak disyariatkan untuk sunat, sebagaimana pernyataan pendiri Kristen, Paulus Tarsus dalam 1 Korintus berikut ini:
7:18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.
7:19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.
Umat Kristen lalai, bahwa perintah sunat merupakan kewajiban setiap individu laki2 yang diperintahkan Tuhan dalam Taurat yang tidak bisa dibantah hanya oleh seorang Paulus Tarsus. Sangat mungkin, Paulus menyatakan demikian karena dia sendiri enggan disunat.
8. KEJADIAN (Sholawat Nabi).
12:2 Aku akan membuat engkau (Abraham) menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
Jelas sekali, bahwa ayat2 di atas bercerita tentang Sholawat Nabi (Muhammad dan Ibrahim) yang senantiasa dibaca oleh umat Islam ketika duduk tasyahud/takhiat akhir dalam sholat. Tidak ada umat lain yang selalu memuliakan Nabi Ibrahim kecuali umat Islam. Umat Kristen sendiri, yang mengklaim Perjanjian Lama sebagai kitabnya, tidak pernah memuliakan Nabi Ibrahim.
[QS. 33:56-57. Sesungguhnya Allah dan malaikat2-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang2 yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Sesungguhnya orang2 yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.]
9. KEJADIAN (Perjanjian Allah dengan Abram/Abraham).
15:18 Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:
Dari pihak siapakah keturunan Abram/Abraham akan menguasai wilayah tersebut? Jawabannya sudah pasti, Ismail !!! Dalam ayat di atas sudah sangat jelas, dan realitanya memang demikian (sebenarnya lebih luas lagi), bahwa keturunan Ismail (bangsa Arab) menyebar dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Irak. Sementara bangsa Israel (keturunan Ishak) hanya menguasai sebagian dari wilayah Palestina (Kanaan).
Ayat di atas juga seolah2 mencocokkan pasangan Abraham dengan Hagar, sebagaimana dijelaskan Taurat sendiri bahwa Abraham berasal dari negeri Ur-Kasdim di pesisir Sungai Efrat, sedangkan Hagar berasal dari negeri Mesir dekat Sungai Nil.
[QS. 3:67-68. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.]
10. YEREMIA ("damai sejahtera" atau "Shalom").
28:9 Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN."
Ayat di atas bercerita tentang "damai sejahtera" yang asal kata Ibraninya adalah "shalom" dan dalam bahasa Arabnya adalah "Salam" atau "Islam" (lihat QS 3:19; 5:3). Muhammad jelas2 mengemban misi Islam, dan sekarang sudah digenapi oleh pemeluk agama Islam, terutama seluruh jazirah Arab yang tunduk pada agama Islam. Muhammad juga banyak bernubuat, namun tidaklah cukup dimuat di sini. Salah satunya adalah nubuat yang berkaitan dengan cucu beliau yang bernama Husain, yang ketika masih kecil sudah diramalkan oleh Muhammad bahwa ia akan mati dipenggal kepalanya di padang Karbala, Irak. Dan, memang benar2 terbukti!
Sementara Yesus membantah nubuat tersebut, bahwa kedatangannya bukanlah membawa damai di bumi, melainkan pertentangan. Berikut pernyataan Yesus menurut Alkitab:
LUKAS:
12:51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
12:52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
12:53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."
MATIUS:
10:34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
11. YESAYA ( Injil dan Al-Qur'an). 29:11 Maka bagimu penglihatan dari semuanya itu seperti isi sebuah kitab yang termeterai, apabila itu diberikan kepada orang yang tahu membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat, sebab kitab itu termeterai";
29:12 dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat membaca."
Ayat2 di atas berbicara tentang penyampaian Kitab Suci dari Tuhan. Ayat 11 tampaknya menunjuk pada Yesus, sebab menurut versi Islam, Yesus menerima Injil hanya dalam satu kali turun saja. Sementara ayat 12 dengan jelas bernubuat tentang Muhammad, dimana ketika berada di Gua Hira, Muhammad menerima wahyu pertama kalinya berupa Al-Qur'an Surat Al-'Alaq (96):1-5, yang diabadikan oleh Al-Hadits riwayat Bukhari berikut ini:
[HR. BUKHARI. Malaikat itu mendekapku (Muhammad) sampai aku sulit bernapas. Kemudian, ia melepaskanku dan berkata, "Bacalah!" Kujawab, "Aku tak dapat membaca." Ia mendekapku lagi hingga aku pun merasa tersesak. Ia melepasku dan berkata, "Bacalah!" dan kembali kujawab, "Aku tak dapat membaca!" Lalu, ketiga kalinya, ia mendekapku seperti sebelumnya, kemudian melepaskanku dan berkata: "baca QS. 96:1-5"].
12. KITAB KIDUNG AGUNG (Ciri2 Muhammad).
5:10 --Putih bersih dan merah cerah kekasih-Ku, menyolok mata di antara 10.000 orang. (New/King James Version Bible, New Revised Standard Version Bible, Third Millennium Bible, dan lain2).
5:16 Kata-katanya manis semata-mata, dia (Muhammad) sungguh sangat digemari. Demikianlah kekasih-Ku, demikianlah teman-Ku, hai puteri-puteri Yerusalem. (New/King James Version Bible, New Revised Standard Version Bible, Third Millennium Bible, dan lain2).
Lihat juga Ulangan 33:2 di atas tentang 10.000 orang pengiring Muhammad.
Penjelasan ayat 10:
Menurut saudara sepupu sekaligus menantu Muhammad, yaitu Ali bin Abu Thalib, ciri2 Muhammad adalah: "...Tubuh beliau tidaklah terlalu gemuk, mukanya bundar, warnanya PUTIH BERCAMPUR MERAH..." (H.R. TIRMIDZI dalam Sunan dan Syama'ilnya). Sedangkan menurut Anas bin Malik, ciri2 Muhammad adalah: "...wajahnya terang bercahaya, tubuhnya tidak terlalu PUTIH dan tidak pula terlalu MERAH..." (H.R. BUKHARI, MUSLIM, dan TIRMIDZI). Ketika memasuki kota Mekah pada tahun 630 M dalam keadaan aman dan damai yang dikenal dengan peristiwa "Fathu Makkah", Muhammad disertai 10.000 pengikut yang saleh (STANLEY LANE POOLE, Speeches and Table Talks of the Prophet Mohammed 1882). Dalam literatur lain dikatakan: "Nabi Muhammad berangkat bersama dengan 10.000 orang pada saat yang menentukan ini" (WASHINGTON IRVING, Life of Muhammad, Hal. 17). Sementara itu, dalam literatur lain juga, Abu Sufyan berteriak untuk mengumpulkan orang2: "Wahai orang2 Quraisy, Muhammad telah berada di sini dengan kekuatan yang tidak dapat kalian lawan. Muhammad bersama 10.000 pasukan baja..." (MARTIN LINGS, Muhammad, hal. 474).
Edirossa
Jun 1 2007, 12:58 AM
Testing...
sofiahdewi
Jun 4 2007, 05:55 PM
MCB-09 : Al Ihya Ulumuddien : Menghidupkan Kembali Ilmu Ilmu Agama
Oleh : Erros Jafar 01 Dec, 03 - 2:38 am

Al Ihya Ulumuddien
Menghidupkan kembali ilmu ilmu agama
karangan Imam Al Ghazali
Karangan Imam Ghazali
Assalamu'alaikum wr wb
Bersama kami mengajak antum antum berinteraksi untuk menghimpun buku Al Ihya Ulumuddien karangan Imam Besar (Al Ghazali). Buku tersebut sangat langka... dan sekarang ini sangat sulit menemukannya ditokok toko buku (kalaupun ada mungkin sangat mahal harganya), padahal isinya sangat bagus untuk pedoman kita umat Islam dalam bersyariat.
Kami tim admin swaramuslim kesulitan mencari file buku tersebut dalam bentuk teks file *.txt. Oleh karena itu kami mengajak antum untuk langsung menghimpunnya di e-book swaramuslim dengan langsung mengisi ke Bab Bab sesuai daftar isi yang telah kami buat URLnya di : http://mcb.swaramuslim.net/index.php?section=9&page=-1
Wassalam
SURAT IMAM AL-GHAZALI
Kepada Salah Seorang Muridnya
Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh segala hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira bahwa di dalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsuf - filsuf.
Ia tidak tahu bahwa ketika telah ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulullah SAW: "Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu".
Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang.
Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindunginya dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali jika diangkat, dipukulkan dan ditikamkan!
Demikian pula, jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.
Wahai anak! berapa malam engkau berjaga guna mengulang - ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia, atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau.
Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulullah SAW, dan menyucikan budi pekertimu, dan menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, 'Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata. Jika tak karena Allah semata'.
Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu. Namun Ingat! bahwasannya engkau akan mati. Dan cintalah siapa yang engkau sukai. Namun Ingat! Engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki. Namun ingat! Engkau akan menerima balasannya nanti.
masing-masing.
6 PERTANYAAN IMAM AL GHOZALI.
Imam Al Ghozali dikenal sebagai ulama besar. Di akhir hidupnya beliau lebih menekuni tasawuf. Karya besar beliau berjudul Ihya Ullumudin. Sedangkan karya yang lain adalah 'Tahafut Al-Falasifa' kerancuan berpikir ahlu filsafat. Buku ini menjadikannya polemik dengan Ibnu Rusdy (setelah Al-Ghazali meninggal).
Imam Al Ghozali mempunyai 6 pertanyaan penting:
1. "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan kerabatnya.
Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)
2. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang.
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak boleh kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
3. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawah gunung, bumi,dan matahari.
Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus
hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
4. "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah.
Semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin)
di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
5. "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan.
Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.
6. "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang...
Benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, Manusia dengan mudah menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Nasyid Ustd.Jefry Al Buchoryhttp://swaramuslim.com/streaming/nasyid/jefry/radio.m3u Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
sofiahdewi
Jun 12 2007, 12:44 PM
Cara Mudah Hancurkan Zionis (Bag.1)
Oleh : Redaksi 11 Jun 2007 - 4:00 pm
Kamis dinihari, 7 Juni 2007, saat matahari masih terlelap dalam tidurnya, sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk di ponselku dan pesannya cukup jelas:. "Hadiri 'MUNASHOROH PALESTINA' utk menentang 40th pejajahan Yahudi terlaknat. Ahad 10/6 di HI... "
Aku tersenyum. Tiba-tiba saja aku teringat salah satu sabda Rasulullah SAW, "Ilmu qobla 'amal". Ilmu sebelum beramal, yang memiliki arti sebagai: Sebelum melakukan sesuatu, hendaknya engkau mengetahui dengan benar apa yang akan kau lakukan. "
Pesan tersebut mengandung niat yang sungguh mulia. Semua manusia yang memiliki nurani pasti akan mendukungnya. Namun kalimat pesan tersebut mengandung bias dengan adanya tulisan "40th penjajahan Yahudi terlaknat. "
Yang tidak diketahui banyak kalangan, tidak semua Yahudi itu Zionis. Bahkan ada banyak orang-orang Yahudi yang dengan gigih menentang Zionisme. Sebut saja Rabbi Yisroel Dovid Weiss dengan kelompok Neturei Karta-nya di Amerika, Norman Finkelstein yang membuka kedustaan kaum Zionis soal Holocoust, Noam Chomsky yang membeberkan kelakuan Zionis-Amerika sehingga dengan berani menyebut AS sebagai 'The Rogue State' (Negara Bajingan), dan sebagainya. Saya yakin, orang-orang Yahudi yang berjuang keras menentang dan melawan Zionisme ini tentu tidak terlaknat.

Detail Galery Dapat dilihat di
http://swaramuslim.net/galery/boycott/inde...ancurkan_zionis
Di sisi lain, ada banyak orang-orang Melayu, Anglo-Saxon, dan ras selain Yahudi yang secara aktif membantu Zionisme Internasional. Ironisnya, di negeri ini ternyata ada banyak orang yang mengaku Muslim yang turut membantu penjajahan Zionis-Israel di Palestina. Di negeri ini ada banyak orang yang turut menyumbangkan uangnya untuk dijadikan senjata-senjata dan peluru-peluru tentara Zionis yang pada akhirnya membunuhi bayi-bayi Palestina yang tak berdosa dan para Mujahidin Palestina lainnya.
Masih Beli McDonald's?
Dari Senin hingga Jum'at ba'da maghrib, dalam perjalanan pulang dari kantor, saya nyaris selalu melewati resto McDonald's di Pondok Indah, Jakarta. Hampir setiap malam resto itu penuh oleh pembeli. Banyak di antara mereka perempuan-perempuan berjilbab. Tahukah mereka jika sebagian keuntungan dari McD itu disalurkan ke Israel? Tahukah mereka jika CEO McD yang bernama Jack M Greenberg menjabat sebagai Direktur Kehormatan American-Israel Chamber of Commerce and Industry—Kadinnya Amerika—yang berlokasi di Chicago?
McDonald yang telah berdiri di lebih 121 negara, dengan jumlah armada restorannya sekitar 30. 000 buah, merupakan rekanan dari Jewish United Fund dan Jewish Federation. Sebab itu, ketika dalam perayaan 100 tahun berdirinya Jewish United Fund dan Jewish Federation di Chicago-AS di tahun 2002, McD mendapat penghargaan dari dua organisasi zionis itu sebagai perusahaan penyumbang ketiga terbesar di dunia setelah AOL Corporation dan Illinois Tool Works Foundation kepada Zionis-Israel.
Walau fakta-fakta ini sudah tersebar ke seluruh dunia sejak tahun 2000-an lalu, namun masih teramat banyak saudara-saudara kita yang mengabaikan hal tersebut. Ironisnya, di Makkah, sebuah kota suci umat Islam, resto McD bahkan telah mendirikan sekurangnya dua gerainya. Dan di Saudi Arabia sendiri McD telah mendirikan sekitar 71 gerai restonya. Pangeran Misha-al-bin Khalid bin Fahad al-Faisal Al-Saud tercatat sebagai pemegang lisensi restoran McD di Saudi Arabia. Dia bukan Yahudi. Tapi jelas terlaknat!
Sesungguhnyalah, jika ada seseorang—siapa pun dia—yang membeli produk makanan rekanan Zionis-Israel tersebut, maka dia telah ikut andil dalam pembunuhan bayi-bayi Palestina!
Sesungguhnyalah, jika ada seseorang—siapa pun dia—yang membeli dan memakan produk makanan rekanan Zionis-Israel tersebut, maka dia sebenarnya tengah memakan, mengunyah, dan memamah daging bayi-bayi Palestina yang telah dibunuhnya!
Bukan Hanya McDonald's
Sahabat Zionis-Israel bukan cuma McDonald's. Di dunia ini ada banyak sekali perusahaan-perusahaan yang secara aktif dan giat menyalurkan sebagian labanya kepada Zionis-Israel. Ironisnya, perusahaan-perusahaan tersebut bisa hidup dari menyedot uang milik kaum Muslimin seluruh dunia. Kenyataan ini membuat ulama besar asal Qatar, Dr. Yusuf Qaradhawy, pada November 2000 mengeluarkan fatwanya yang sangat monumental:
"Tiap-tiap riyal, dirham, dan sebagainya, yang digunakan untuk membeli produk dan barang Israel atau Amerika, dengan cepat akan menjelma menjadi peluru-peluru yang merobek dan membunuhi pemuda dan bocah-bocah Palestina. Sebab itu, diharamkan bagi umat Islam membeli barang-barang atau produk musuh-musuh Islam tersebut. Membeli barang atau produk mereka, berarti ikut serta mendukung kekejaman tirani, penjajahan, dan pembunuhan yang dilakukan mereka terhadap umat Islam... "
Fatwa ini didukung oleh ulama-ulama dan cendekiawan Muslim dunia seperti Syaikh Al-Azhar Ath-Thantawy, Dr. Abdul Satar Fathullah Said (Dosen Syariah Universitas Al-Azhar), Dr. Naser Farid Wasil (mantan Mufti Mesir), Dr. Muhammad Imarah (Pemikir Muslim Dunia), Dr. Abdul Hamid Ghazali (pakar ekonomi dan politik Islam), dan sebagainya. Puluhan ulama Sudan juga menulis surat dukungan terhadap fatwa tersebut.
Di Lebanon, Ayatullah Sayyid Muhammad Husayn Fadhlullah mengeluarkan fatwa sejenis pada tanggal 20 November 2000. Dari Iran, dari Markas Besar di Kota Qum, Imam Syed Ali Khamenei mengeluarkan fatwa mengharamkan membeli produk dan barang buatan Zionis-Israel dan seluruh negara yang mendukung Zionisme.
"Tiap-tiap transaksi dengan perusahaan yang mana pasti memberikan laba kepada mereka, pada hakikatnya adalah tindakan menolong musuh-musuh Islam dan Muslim, dan juga berarti mendukung rezim Zionis-Israel. Ini adalah perbuatan haram. Membeli produk dan barang dagangan mereka sama saja melakukan tindakan yang tidak bermoral, ini tentu saja tidak dibenarkan. "
Pemimpin Muslim Irak, Ayatullah as-Sayyid Ali as-Seestani juga mengeluarkan fatwa sejenis.
Yang menarik, fatwa Dr. Yusuf Qaradhawy ini ternyata juga direspon sangat positif oleh banyak sekali aktivis kemanusiaan Eropa dan Amerika. Mereka bukan orang Islam, bahkan kelompok Yahudi anti Zionisme yang ada di AS seperti Kelompok Neturei-Karta, dengan tegas menyatakan bahwa Zionisme dan Talmud adalah ajarannya Iblis.
Fatwa Boikot Dr. Qaradhawy bergema ke seluruh dunia. Di Eropa timbul gelombang pasang aksi boikot terhadap Zionis-Israel dan Zionis AS. Inilah beberapa kejadian di antaranya yang dikutip dari buku "Ketika Rupiah Jadi Peluru Zionis" (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2005):
- Belgia: Negara Eropa ini adalah pelopor suatu kampanye internasional untuk memboikot perusahaan-perusahaan minyak AS. Kampanye anti-AS itu dilakukan dalam rangka mengecam invasi AS atas Irak.
Aksi-aksi boikot itu dilakukan aktivis kemanusiaan Belgia dengan jalan menutup stasiun-stasiun bahan bakar milik perusahaan minyak AS seperti Esso dan Texaco di hampir seluruh wilayah Belgia. Di SPBU Esso di provinsi Gent misalnya, aksi boikot itu digelar dalam bentuk pergelaran happening art, ada sebuah karpet menutup mayat-mayat manusia, lalu sekelompok marinir AS bersenjata, dan sosok Presiden George W. Bush. Adegan itu untuk menggambarkan ribuan warga Irak tak berdosa yang menjadi korban ambisi perang minyak yang dikobarkan AS di Irak. Aksi itu juga menyimbolkan betapa ladang-ladang minyak dan gas penting milik Irak telah dirampok dan kemudian dijual perusahaan multinasional AS, Esso dan Texaco.
Organisasi HAM "For Mother Earth" sebagai salah satu anggota aliansi LSM "Kampanye Boikot Bush" memaparkan hal ini dalam pernyataan persnya yang dirilis Sabtu (14/6/03) di Belgia. Aliansi LSM "Kampanye Boikot Bush" merupakan satu koalisi LSM internasional yang terdiri dari Attac, America Watchers, For Mother Earth, dan Christian Movement for Peace.
Aliansi ini menegaskan bahwa AS telah bertindak sebagai "negara bajingan" sejak Bush terpilih sebagai presidennya. LSM For Mother Earth (FME) yang bermarkas di Belgia itu mencantumkan daftar produk-produk AS yang harus diboikot bersama produk-produk alternatif lainnya dalam situs mereka. FME juga mencantumkan perusahaan-perusahaan yang dianggap telah memberikan sumbangan terbesar kepada Partai Republik dalam kampanye Pemilu 2000 AS.
Dengan mengenakan pita dan bendera-bendera peringatan "berbahaya", para aktivis aksi boikot AS itu menutup stasiun-stasiun bahan bakar Esso dan Texaco tanpa kekerasan. Sejumlah lokasi stasiun bahan bakar yang berhasil sukses mereka tutup terletak di Antwerp, Arlon, Bruges, Brussels, Gent, Hasselt, dan Namur. "Ada darah ribuan korban tak berdosa pada logo-logo Esso dan Texaco. Kedua perusahaan minyak multinasional itu, bersama-sama telah menyumbangkan dua juta dolar AS untuk Bush pada kampanye Pemilu 2000. Mereka juga yang mendorong kebijakan pemerintahan Bush untuk menggelar perang di Irak, " tegas Pol D'Huyvetter, jurubicara FME.
Tokoh FME ini juga berkata, "Ketika Bush sama sekali melecehkan peringatan PBB dan opini publik internasional, boikot hari ini adalah model aksi paling efektif yang dapat kami tawarkan pada seluruh warga negara di manapun. Setiap orang bisa dengan mudah mendaftarkan sikap perlawanannya terhadap kebijakan AS. Yakni dengan cara memboikot produk-produk AS yang ada dalam daftar kami, atau bisa juga memboikot seluruh produk AS. Uang adalah bahasa yang biasa digunakan pemerintah Bush untuk memaksa negara-negara lain masuk dalam koalisi mereka. Aksi boikot adalah bahasa yang bisa dimengerti dan dipahami Washington. "
Dalam hampir semua aksi penutupan SPBU milik perusahaan Esso dan Texaco, para pekerja pom bisa memahami tujuan aksi para aktivis. Dialog berjalan cukup lancar. Para pengendara mobil dan motor yang mendengar seruan kampanye boikot perusahaan-perusahan minyak AS dari udara, umumnya memberikan respon mendukung. Mereka memberikan senyuman dan acungan jempol. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Link :
- http://www.inminds.co.uk/qa-rabbi-weiss.html
- http://en.wikipedia.org/wiki/Norman_Finkelstein
- http://www.normanfinkelstein.com/
- http://www.chomsky.info/
- http://en.wikipedia.org/wiki/Noam_Chomsky[/COLOR]
[color="#006400"]Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
sofiahdewi
Jul 29 2007, 09:09 PM

Sayidina Ali, Sang Inspirator Uluhiyah
Tokoh Teladan Oleh : Redaksi 25 Oct 2003 - 3:17 am
Oleh : Wawan Susetya
http://www.swaramuslim.com/streaming/nasyid/jefry/Iqra.wma
Sayyidina Ali bin Abi Thalib memiliki kepribadian yang penuh inspirasi Uluhiyah atau Ketuhanan. Ali tidak memerlukan proses pengalaman atau tabrakan atau penimbangan dengan dan atas apa pun benda dan peristiwa dalam hidupnya sebagaimana seniornya; Abu Bakar, Umar, dan Usman. Ia tidak perlu menggali ilmu tentang daun dan hujan untuk menemukan kebesaran Allah. Begitu ia memandang daun, yang dijumpainya adalah langsung Allah.
Rasulullah memberikan m.e.t.a.for dengan sabdanya, ''Aku ibarat alun-alunnya ilmu, sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah pintunya (gerbang).''
Pernyataan Rasulullah ini menimbulkan perasaan iri pada kaum Khawarij terhadap Ali. Mereka kemudian mengadakan majelis musyawarah yang dihadiri 10 orang dari kalangan para tokoh. Mereka sepakat menguji Ali: masing-masing akan mengajukan pertanyaan yang sama, tapi harus dijawab oleh Ali dengan jawaban yang berbeda.
Lalu, mereka menemui Ali bin Abi Thalib, masing-masing mengajukan pertanyaan, ''Ya Ali, istimewa manakah antara ilmu dan harta?''
Ali bin Abi Thalib dengan tangkas menjawab pertanyaan mereka satu per satu, yang masing-masing jawaban disertai argumentasi yang berbeda. Jawaban yang disampaikan Ali, yakni: pertama, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Haman, dan Fir'aun.
Kedua, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu selalu menjagamu, sedangkan engkau harus menjaga harta milikmu.
Ketiga, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu banyak kawan, sedangkan orang kaya banyak musuhnya.
Keempat, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu bila diinfakkan (diajarkan) semakin bertambah, sedangkan harta bila diinfakkan semakin berkurang.
Kelima, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu dipanggil dengan sebutan mulia, sedangkan orang berharta dipanggil dengan sebutan hina.
Keenam, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu tidak perlu dijaga, sedangkan harta minta dijaga.
Ketujuh, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu di hari kiamat dapat memberi syafaat, sedangkan orang berharta di hari kiamat dihisab dengan berat.
Kedelapan, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu dibiarkan saja tidak akan pernah rusak, sedangkan harta dibiarkan pasti berkurang (bahkan habis dimakan).
Kesembilan, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu memberikan penerang di dalam hati, sedangkan harta dapat membuat kerusakan di dalam hati (seperti menimbulkan sifat takabur, pamer, dan ingkar).
Kesepuluh, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu bersikap lemah lembut dan selalu berbakti kepada Allah, sedangkan orang berharta seringkali memiliki sifat takabur dan ingkar kepada Allah.
Sepuluh orang tokoh Khawarij yang mengajukan pertanyaan kemudian ditantang oleh Ali bin Abi Thalib: ''Seandainya seluruh kaum Khawarij satu per satu mengajukan pertanyaan 'istimewa mana antara ilmu dan harta' tentu aku akan memberikan argumentasi yang berbeda selagi hayat masih di kandung badan.'' Akhirnya kaum Khawarij mengakui kealiman Ali dan mengakui pula kebenaran sabda Rasulullah. Mereka pun tunduk patuh kepada Ali.
Demikianlah kehebatan Ali, kemenakan dan kader gemblengan Rasulullah. Abu Bakar, Umar, dan Usman, serta kita semua berupaya mencapai ''kota'' itu, memasuki lewat ''pintunya'' dengan cara kita masing-masing untuk memperoleh kemungkinan mendapatkan kemuliaan liqa-u Rabb; untuk mengalami pertemuan agung dengan Allah. Kita melewati ''pintu'', sedangkan Ali adalah ''pintu'' itu sendiri.
Sebagian kita ditakdirkan Allah sejak dinihari kehidupan memperoleh jalan lempang memasuki ''kota ilmu'' Tuhan. Bahkan, ada yang memperoleh rahmat dengan sudah berada di dalamnya tanpa susah payah. Tapi, tak sedikit juga di antara kita yang malah sibuk mencari jalan keluar dari ''kota Tuhan''. Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Khayty
Jul 29 2007, 09:56 PM
Assalamualaikum...Puan sofiahdewi...
saya nak mintak jasa baik Puan sofiahdewi atau masMerah atau Edirossa atau Pakcik Kordi untuk dapat mencarikkan bahan-bahan artikel atau apa sahaja yang berkaitan dengan apa yang saya mahu minta disini...
disini saya catatkan bahan-bahan yang saya mahukan..
dalam bentuk bacaan artikel atau apa sahaja yang berkaitan...
terlebih dahulu saya mengucapkan berbanyak terimakasih diatas kesudian membantu dan bersusah payah mencari bahan tersebut kelak...
selain dari nama/nick yang saya sebut..jika ada yang lain dapat membantu sama..dialu-alukan...terimakasih sekali lagi....
--------------
-Tasfir Surah Al-Buruuj(ayat seperti yang tertera dalam Al-Quran)
-Terjemahan
-Latar belakang surah
-Fadilat Surah
--Sebab turun Surah
--Hikmah Surah
--Tafsir Ayat
JUGA...SEJARAH mengenai beberapa nama dan tempat berikut...
-Dzaa/Dzuu Nuwwaas atau Zur`ah Bin Tubaan As`ad al-Himyari
--Ashab al-Ukhudud
--Intinayus al-Rumi
--Bakhtansar
-sejarah diantara zaman Nabi Isa a.s. dengan Nabi Muhammad s.a.w.
--sejarah Negara Arab/YAMAN/Najran
--sejarah SYAM
-sejarah PARSI
----------------
Tambahan...
* kalau dapat disertakan sejarah Firaun dan Nabi Musa
kaum Tsamud dan Nabi Saleh
-------------
Terimakasih kerana membantu
sofiahdewi
Jul 30 2007, 12:33 PM
Waalaikumusalam,
Semuga sebahagian artikel dibawah ini dapat membantu pencarian Puan Khaytythkir dan mereka
yang ingin mengetahui…saya akan cuba mendapatkan lagi informasi jika diizinkan untuk perkongsian
renungan bersama.
Untuk mendengar dan membaca taksir/terjamahan surah tersebut sila ke laman berikut:
http://swaramuslim.net/islam/multimedia/quran.php
http://www.mymasjid.com.my/quran/surah.asp?id=85

MUQADDIMAH SURAH AL-BURUUJ
Surah ini diturunkan di Mekah, mengandungi 22 ayat. Dinamakan surah "Al-Buruuj" (Tempat-tempat Peredaran Bintang), kerana pada awal surah ini Allah Taala bersumpah dengan langit dan bintang-bintangnya serta hari pembalasan yang dijanjikan, bahawa kaum kafir yang bertindak ganas menggali parit dan membakar orang-orang yang beriman di dalamnya, akan menerima akibat yang seburuk-buruknya.
Intisari kandungannya: Membentangkan kisah kekejaman kaum kafir terhadap orang-orang yang beriman, yang terjadi dalam zaman Nabi-nabi yang telah lalu. Setelah itu ditegaskan: Bahawa orang-orang kafir yang menim- pakan bencana untuk memesongkan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka mereka akan beroleh azab api yang membakar.
Sebaliknya orang-orang yang beriman dan beramal salih, akan ditempatkan di dalam Syurga yang melimpah-limpah nikmatnya. Kemudian ditegaskan: Bahawa azab Tuhan terhadap orang-orang yang kufur ingkar amatlah berat. Kenangkan sahaja apa yang telah menimpa kaum- kaum yang telah menentang Rasul-rasulnya pada zaman yang silam.
Demikian juga yang akan menim- pa orang-orang kafir yang menentang Nabi Muham- mad (s.a.w.). Surah ini diakhiri dengan menegas- kan tentang kebenaran Al-Quran: "Sebenarnya apa yang engkau sampaikan wahai Muhammad kepada mereka, bukanlah syair atau sihir, (sebagaimana yang mereka tuduh dengan tidak berasas), bahkan ialah Al-Quran yang tertinggi kemuliaannya, (lagi yang terpelihara dengan sebaik-baiknya) pada Luh Mahfuz!"
TAFSIR QURAN: PENGAJARAN AYAT 4, SURAH AL-BURUUJ
"Celakalah kaum yang menggali parit"
KISAH ASHABUL UKHDUD
Shuhaib bin Simaan Arrmmi ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: "Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, karena itu anda kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir"
Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya, maka ia terlarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta.
Maka diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan: Aku ditahan oleh ahli sihir.
Maka berjalan beberapa lama kemudian itu, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan pergi, mendadak di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang tidak berani jalan di tempat itu, maka pemuda itu berkata: "Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajara pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendita itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini".Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang ramai gembira karena telah dapat lalu lintas di jalan itu.
Maka ia langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib, maka berkatalah Rahib itu kepadanya :Anda kini telah afdhat (besal daripadaku, dan anda akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku". Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit yang berat-berat pada semua orang.
Ada seorang besar dalam majlis raja ia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan beragai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: "sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka".
Jawab pemuda itu: "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mahu beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu".
Maka langsung ia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda dan seketika itu juga ia sembuh izin Allah.
Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja
"Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu" Jawabnya "Rabbi (Tuhanku)".
Raja bertanya: "Aku?".
Jawabnya "Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu iaitu Allah".
Ditanya oleh Raja "Apakah anda mempunyai Tuhan selain Aku?"
Jawabnya "Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu ialah Allah".
Maka disiksa oleh raja seberat-beratnya siksa sehingga terpaksa ia memberitahu raja itu akan pemuda yang mendoakannya untuk sembuh itu.Maka segera dipanggil pemuda itu lalu berkata "Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyebuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit"
Jawab pemuda itu "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla". Raja itu pun bertanya "Adakah aku?", "Tidak" jawab permuda itu. maka tanya raja itu "Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?" Jawab pemuda "Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah". Maka ditangkap dan disisa seberat-beatnya sehingga terpaksa menunjukkan pada Rahib yang mengajarnya. Maka dipanggil Rahib dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi Rahib tetap bertahan dan tidak mahu beralih agama, maka diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya.
Kemudian kembali pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama Islam), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja, Maka raja memerintahkan supaya ke puncak gunung dan di sana juga supaya ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak supaya dilempar dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga mereka berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: "Manakah orang-orang yang membawamu?". Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka".
Lalu pemuda diperintah untuk membawanya ke laut dan naik perahu, bila telah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mau mengubah agama, jika tidak maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta", maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?" Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka".
Kemudian pemuda itu berkata kepada raja "Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku" Raja bertanya: "Apakah perintahmu?" Jawab pemuda: "Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu anda ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaarn (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian anda lepaskan anak panah itu, maka dengan itu anda dapat membunuhku". Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)". Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini. Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya lentang agamanya, jika ia telap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.
Maka adanya orang berjejaljejal dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang menggandong bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menurut mereka berganti agama karena sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang hak.
(H.R. Ahmad, Muslim dan Annasa'i)
Berkata Ibnu Abbas kisah ini berlaku 70 tahun sebelum Nabi saw.
sofiahdewi
Aug 5 2007, 05:50 AM

Imam Ali, dan Kekuasaan anti-Kemewahan
Oleh: Irman Abdurrahman

Jauh sebelum sejarahwan dan filosof Inggris, John Emerich Edward Dalberg Acton, terkenal dengan pernyataannya, "Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely," Imam Ali, dalam peringatannya kepada salah seorang gubernurnya, telah menyatakan kekhawatirannya akan potensi koruptif kekuasaan. Potensi itu akan semakin terasah ketika kekuasaan bersinggungan dengan kemewahan.
Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib diriwayatkan telah memperoleh informasi bahwa seorang gubernurnya di Basrah, Usman bin Hunaif al-Ansyari, menghadiri pesta seorang hartawan Basrah. Fenomena yang mungkin kini sepele bagi kita tetapi tidak bagi Ali saat itu. Sang Khalifah segera menyampaikan pesan:
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Ibnu Hunaif! Telah sampai ke pendengaranku sebuah kabar, bahwa seorang hartawan kota Basrah mengundangmu ke sebuah pesta makan, dan Anda telah bergegas ke sana untuk menikmati aneka hidangan yang lezat di atas nampan-nampan yang datang bergantian… Sungguh aku tak mengira bahwa Anda akan memenuhi undangan seperti itu, lalu makan di suatu tempat yang orang-orang miskinnya dilupakan, dan orang-orang kayanya diundang."
Jauh sebelum sejarahwan dan filosof Inggris, John Emerich Edward Dalberg Acton, terkenal dengan pernyataannya, "Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely," Ali, dalam peringatannya di atas, telah menyatakan kekhawatirannya akan potensi koruptif kekuasaan. Potensi itu akan semakin terasah ketika kekuasaan bersinggungan dengan kemewahan. Ibarat jalan bebas hambatan yang supercepat sehingga mengaburkan pandangan si pengendara dari segala sesuatu di kiri-kanan jalan (wajah lokal, kontur pemandangan, dan wajah regional kehidupan sehari-hari –meminjam ekspresi provokatif Slouka, Ruang yang Hilang: 1999), maka kemewahan dengan "nampan-nampan yang datang bergantian" akan berpotensi menelan habis kesadaran si pemilik kekuasaan terhadap kegetiran, kepahitan, dan kekerasan hidup rakyat yang memberinya kuasa. Bukankah kemewahan adalah "tempat yang orang-orang miskinnya dilupakan, dan orang-orang kayanya diundang"?
Kemewahan adalah sejenis simulasi, representasi tanpa asal-usul realitas. Kemewahan tidaklah diprakondisikan oleh kebutuhan, yang acuannya nyata di dalam realitas, tetapi oleh keinginan: citra, status, simbol, dan gaya sebagai "penanda-penanda" murni yang sudah tidak memiliki "petanda-petanda" (realitas). Bagi kemewahan, tidak ada yang tidak dapat dimiliki karena mewah tidak berbicara tentang "kutahu apa yang kubutuhkan" tetapi "kutahu apa yang kumau".
Karena tidak berpijak realitas, maka kemewahan tidaklah terbatas. Satu hal yang mungkin mengendalikannya hanyalah logika hasrat (logic of desire): fantasi, ilusi, dan halusinasi. Jika sudah demikian, sebagaimana simulasi adalah hiperrealitas (Baudrillard, Simulations: 1983) karena tampak lebih "nyata" daripada kenyataan, maka mewah adalah "hiperkaya" karena bukan hanya kaya tetapi juga rakus.
Oleh sebab itu, alih-alih ingin menjadi seperti Tuhan Yang Mahakaya, para pemuja kemewahan justru ibarat —meminjam ungkapan Goenawan Mohammad— "katak yang hendak menjadi lembu" karena 'kaya' (al-ghani) dalam realitas Ilahiah adalah identik dengan 'sederhana' (al-basîth): kondisi ketakbergantungan. Bukankah semakin sederhana suatu entitas, semakin ia tidak bergantung kepada selainnya. Sementara itu, para pemuja kemewahan, dalam serba "ketakterbatasannya", adalah pecandu-pecandu citra, simbol, ilusi, fantasi, dan halusinasi. Eksistensi dan kualitas-diri mereka amatlah bergantung kepada semua hal tersebut.
Maka, jika para pecandu narkoba harus direhabilitasi karena dipastikan mengalami disorientasi-diri (perasaan tidak percaya diri, tidak berguna, tidak berdaya, dan sebagainya) ketika tidak mengonsumsi zat adiktif itu, para penguasa dan politisi, atau siapa pun, yang menyatakan dirinya tak bermartabat karena penghasilan yang lebih rendah atau kepemilikan yang lebih sedikit adalah sama buruknya dan harus menjalani rehabilitasi yang tampaknya jauh lebih sulit.
Dalam pelukan mesra kemewahan, kekuasaan mengalami proses transformasi yang supercepat menjadi "kerakusan": kuantitas yang menggilas kualitas [naik gaji identik dengan kinerja yang makin baik]; kecepatan yang mengebiri substansi [krisis komunikasi antara masyarakat dengan penguasa dijawab dengan SMS]; citra yang tampak lebih penting dibandingkan realitas [adakah anggota DPR yang menolak kenaikan gaji? Ada, tetapi maaf, bukan dalam rapat-rapat tetapi di koran-koran dan teve-teve].
Apa yang bisa kita harapkan dari para pemegang "amanah" kekuasaan yang telah merapat ke dermaga kemewahan? Mungkin tidak ada—untuk tidak mengatakan "sama sekali" tidak ada. Simpati dan empati, sesuatu yang mungkin paling minim diharapkan dari seorang penguasa, hanya akan kita temui dalam citraan-citraan itu sendiri: iklan, retorika politik di media-media, seremoni-seremoni, atau kunjungan-kunjungan kerja "sesaat".
Sementara itu, yang akan kita saksikan dari kekuasaan jenis ini, di antaranya, adalah pertama, kebijakan simplistik yang mengarah kepada pengabdian yang minimalis. Para penguasa jenis ini pada hakikatnya merupakan korban dari lalu-lintas perburuan hasrat yang tak kunjung henti dan bergerak dalam kecepatan tinggi. Akibatnya, mereka benar-benar lumpuh—terutama secara paradigmatik— untuk menetapkan kebijakan yang radikal, revolutif, dan solutif. Mereka terjebak di dalam kebijakan-kebijakan yang simpilstik: sekedar mengikuti prosedur, reaktif terhadap segala fenomena yang terjadi, dan—bahkan celakanya—miskin alternatif sekaligus larut ke dalam fenomena-fenomena globalisasi ekonomi, politik, dan budaya yang selalu saja diasosiasikan dengan realitas "di luar sana", seraya seringkali berkhotbah, "Tidak ada alternatif bagi sistem pasar."
Bagi Imam Ali, penguasa seperti itu adalah mereka yang menganggap bahwa segala sesuatu telah selesai ketika suatu pekerjaan 'besar' (undang-undang, keppres, kepmen, permen, perpu, dan "tetek bengek" produk hukum positif lainnya, peresmian proyek, pencanangan program, serta berbagai kegiatan seremonial lainnya) telah dilaksanakan padahal, "Jangan beranggapan bahwa kau tidak akan dituntut akibat melalaikan yang remeh semata-mata disebabkan kau telah menyelesaikan berbagai urusan yang besar…"
Yang kedua adalah—meminjam istilah Yasraf Amir Piliang—hiper-kriminalitas, yakni ketika kedegilan dan kebejatan perilaku justru dilakukan oleh mereka yang berkuasa untuk mencegahnya. Akal sehat kita, misalnya, seakan-akan tak kunjung mengerti bagaimana mungkin belasan perwira polisi diduga melakukan tindakan pencucian uang atau bagaimana mungkin para pejabat—yang notabene berpenghasilan lebih daripada cukup dan telah berulangkali naik haji—tanpa adanya sebuah resistensi moral berhaji atas biaya rakyat sementara jutaan orang Indonesia harus bersusah payah menabung seperak-duaperak demi menjadi tamu Allah itu—apatah lagi ketika diduga bahwa sebagian dari "para haji" itu bahkan mengorupsi dana haji.
Sungguh, jawaban itu tidak akan kita temukan, baik dalam logika hukum ataupun moral. Logika hasratlah yang telah mencabik-cabik kesadaran-diri mereka akan moralitas dan realitas sosial. Karena berpacu bersama hasrat akan kemewahan: simbol dan status—haji kini telah hanya menjadi simbol dari status kelas tertentu di dalam masyarakat, apalagi jika dilakukan berkali-kali—mereka melakukan "justifikasi" hak-hak orang banyak sebagai hak-hak khusus mereka [sebagian pejabat yang naik haji dengan Dana Abadi Umat berargumen bahwa hal itu sudah menjadi hak mereka karena menjalankan tugas negara] padahal, "Jangan mengkhususkan dirimu dengan sesuatu yang menjadi hak bersama orang banyak," kata Ali lagi.
Yang berikutnya adalah ketakberpihakan. Para penguasa yang telah mempersembahkan martabat dan kehormatan dirinya kepada buaian kemewahan adalah mereka yang bukan saja abai tetapi berupaya lari dari [tidak berpihak kepada] realitas—kebenaran dan keadilan; karena yang terakhir itu terlalu getir, pahit, dan berat untuk dihadapi; karena perlu keringat, air mata, dan darah untuk memperjuangkannya. Mereka lebih memilih menikmati beragam ilusi dan halusinasi yang disajikan kemewahan yang celakanya—karena wataknya yang manipulatif—sangatlah membenci realitas.
Konsekuensinya: (1) mereka lebih mementingkan kepuasan kaum elit ketimbang rakyat kebanyakan; (2) mereka memanipulasi realitas (melalui iklan, retorika, seremoni-seremoni, dan lain sebagainya) sehingga seolah-olah tampak seperti realitas karena bukankah lebih mudah mengubah persepsi orang akan realitas daripada mengubah realitas itu sendiri; dan (3) "menutupi" diri terhadap rakyat kebanyakan—bukan hanya dengan menetapkan urusan protokoler yang njelimet—dengan menyelubungi diri dan keluarga mereka dengan simbol-simbol yang tak akan pernah terraih oleh tangan-tangan hina kaum papa.
Maka, janganlah pernah berharap mereka melakukan perubahan-perubahan yang radikal bagi kepentingan orang-orang lemah karena bukankah, "Pohon-pohon di padang tandus lebih kuat batangnya sedangkan yang hijau menawan jauh lebih lunak. Demikian pula kayu pepohonan di tempat-tempat gersang lebih kuat nyala apinya dan lebih lambat padamnya," atau "Bukankah. unta akan hidup tenang beristirahat bila telah penuh perutnya? Demikian pula domba bila merasa kenyang setelah makan rerumputan?" ungkap Ali, Sang Putra Ka'bah.
Ada yang unik dari ucapan Imam Ali di dalam Nahj al-Balâghah ('puncak kefasihan' —suatu bunga rampai yang dipandang sarat nilai-nilai kehidupan sekaligus diekspresikan dengan kata-kata indah). Di situ, Ali menyebut dunia, dalam struktur negasi, dengan istilah qalib-an hissiyyan 'sesuatu yang tidak dapat diidentifikasi seperti halnya sesuatu yang bersifat sensual', mirip dengan simulasi sebagai 'peniruan yang tanpa asal-usul realitas'. Jelaslah bahwa yang dikecam Ali bukanlah dunia fisik: jasad tempat ruh kita bersemayam, bumi tempat kita berpijak, dan lingkungan sosial tempat kita berinteraksi, tetapi dunia hasrat yang kemilaunya mampu mengalienasi manusia bukan saja dari persoalan-persoalan masyarakatnya tetapi juga dari kesadaran-diri.
"Dunia kemilau" inilah yang, dalam realitas kita, telah mampu mengalienasi seseorang dari perannya sebagai penegak hukum, pengemban amanah rakyat, mahasiswa/pelajar, guru besar, agamawan, aktivis pro-demokrasi, dan—terlebih lagi—dari eksistensi dirinya sebagai manusia. Karena itulah, kini, kita kian sulit membedakan antara "penegak hukum dengan pelaku kriminal", "politikus dengan preman", "guru besar dengan pelacur intelektual", "mahasiswa/pelajar dengan tukang pukul", "agamawan dengan penghasut", "aktivis pro-demokrasi dengan penyuap", dan bahkan antara "manusia dengan monster".
Kini tampaknya kita harus mulai melakukan penjarakan dari dunia hasrat dan pengakraban dengan realitas—bukan sebaliknya seperti yang sering disalahtafsirkan orang dari istilah self-denial 'penyangkalan-diri'. Namun tentu saja, kita tak mungkin memaksa para "bapak-bapak" kita itu untuk melakukan self-denial ala Imam Ali yang, "Tiada secuil emas atau perak dari dunia kalian ini pernah kusimpan. Tiada harta apa pun darinya pernah kutabung. Tiada sepotong baju pun telah kusiapkan sebagai pengganti pakaianku yang lusuh. Tiada sejengkal tanah pun yang kumiliki. Tiada kuambil bagi diriku lebih daripada makanan seekor keledai yang renta."
Yang kita minta mungkin hanyalah hal-hal sepele seperti, "Kadang-kadang dapatkah Bapak keluar dari rumah dan istana Bapak yang megah itu lalu memperhatikan adakah di sekitarnya gubuk-gubuk liar yang setiap harinya selalu diliputi kecemasan dan ketakutan tentang: tempat berteduh yang mungkin digusur, makanan yang habis, uang yang menipis, anak yang menangis karena belum membayar uang sekolah atau pungutan lainnya; atau sesekali relakah Bapak meninggalkan mobil-mobil mewah Bapak lalu menaiki bus-bus umum atau kereta-kereta api yang penuh sesak dan sumpek, yang para penumpangnya seringkali harus cemas: apakah ongkos mereka cukup atau—jika cukup—masihkah ada pada tempatnya, yang kondekturnya menghitung keping demi keping uang recehan sembari bertanya dalam hati: adakah ini cukup untuk membayar setoran, seraya berharap semoga tidak ada pungli atau tidak kena tilang yang berbuntut 'uang damai'."
Hal-hal di atas mungkin sesuatu yang remeh, yang tidak akan berbuah kompensasi seperti jika anggota parlemen "berstudi banding" ke luar negeri, bukan pula berbuah "surga" seperti yang dijanjikan dari haji yang berbiaya dinas tersebut. Yang dapat mereka peroleh, paling tidak, adalah kesempatan untuk mengetahui siapakah mereka (dan siapakah yang bukan mereka) dan siapa yang mesti mereka penuhi haknya lebih daripada yang lain.
Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Edirossa
Aug 6 2007, 01:08 AM
Sejarah Perkembangan Islam di Jepun
Oleh MAZLAN NORDIN
DALAM simpanan tukang catat ini sejak beberapa tahun lalu ialah sebuah al-Quran yang dicetak di negara Jepun. Pada sebelah kanan setiap muka ialah ayat-ayat suci dan pada sebelah kiri terjemahan dan penjelasan dalam bahasa Jepun.
Kitab suci itu dicari semula dari rak buku setelah membaca berita berulang mengenai orang-orang Islam di Korea Selatan berdoa supaya kira-kira 20 orang awam Korea yang ditawan oleh askar Taliban di Afghanistan tidak diapa-apakan.
Kerana, orang-orang Islam bangsa Jepun dan Korea berupa golongan minoriti di negeri masing-masing. Keterangan mengenai mereka yang diperoleh dari Wikipedia, ensiklopedia bebas mungkin berguna bagi kita.
Pertama mengenai Islam di negara Jepun. Hubungan pertama dengan orang Islam ialah dengan orang-orang Melayu yang bekerja sebagai kelasi kapal-kapal British dan Belanda lewat abad-19. Sebelum itu, lewat 1870, buku riwayat hidup Nabi Muhammad telah diterjemah ke bahasa Jepun. Dengan itu, agama Islam dianggap mengambil tempat dalam imaginasi intelek bangsa Jepun.
Satu lagi yang dianggap pertemuan penting ialah pada tahun 1890 manakala Turki pemerintahan Uthmaniah mengirim sebuah kapal ke Jepun sebagai membalas secara hormat lawatan seorang putera diraja Jepun ke Istanbul beberapa tahun sebelum itu.
Orang Islam Jepun yang pertama menunaikan fardu haji ialah Kotaro Yamaoka yang memeluk agama Islam pada tahun 1909 dan mengambil nama Omar Yamaoka manakala pergi ke Mekah.
Seorang lagi bernama Bunpaciro Ariga yang berniaga ke India dan memeluk agama Islam setelah berkenalan dengan orang-orang India Islam. Beliau kemudian mengambil nama Ahmad Ariga.
Pelarian Islam
Masyarakat Islam muncul di negara Jepun dengan ketibaan ratusan orang Turkoman, Uzbek, Tajik, Kirghiz, Kazakh dan lain-lain pelarian Islam dari Asia Tengah dan Rusia, iaitu akibat revolusi komunis. Mereka diberi perlindungan oleh Jepun dan selanjutnya bermastautin di beberapa buah bandar.
Dengan lahirnya masyarakat kecil Islam itu, beberapa buah masjid dibina. Yang utama sekali ialah Masjid Kobe pada tahun 1935 dan Masjid Tokyo pada tahun 1938 (diperbaharui pada tahun 1990-an).
Dalam masa Perang Dunia Kedua pula, makluman mengenai agama Islam tersebar luas di negara Jepun dan di kalangan pusat-pusat penyelidikan mengenai Islam dan dunia Islam. Lebih 100 buah buku dan majalah mengenai Islam terbit di negara Jepun.
Sebenarnya terbitan-terbitan itu bukan untuk memperkenalkan Islam, tetapi untuk membolehkan pihak tentera lebih mengetahui mengenai Islam dan orang Islam. Ini kerana wujudnya masyarakat Islam yang ramai di China dan Asia Tenggara yang ditakluki oleh tentera Jepun.
Pada tahun 1970-an, pelbagai maklumat mengenai Islam tersebar, iaitu selepas “krisis minyak tahun 1973.” Dengan itu ramai orang Jepun mendapat kesempatan melihat gambar-gambar orang Islam menunaikan fardu haji di Mekah dan mendengar bacaan-bacaan ayat suci al-Quran serta suara bilal melaungkan azan.
Sebilangan orang Jepun kemudian memeluk agama Islam ketika itu dan kemudiannya ‘puluhan ribu’.
Hingga baru-baru ini, masyarakat Islam paling ramai di negara Jepun ialah orang Turki. Lalu disebut bahawa sebelum meletusnya perang, orang Jepun bersimpati dengan warga Islam di Asia Tengah yang antikomunis.
Sebilangan lagi masuk Islam setelah berkenalan dan berdampingan dengan mereka manakala tamat perang.
Sebilangan pemandu pesawat-pesawat angkatan udara Jepun dilatih mengucap dua kalimah syahadat jika ditembak jatuh dan ditawan oleh orang-orang kampung.
Menurut yang empunya cerita, beberapa orang yang berbuat demikian terkejut melihat orang-orang kampung berubah sikap mereka.
Jelas bahawa serangan Jepun di China dan negara-negara Asia Tenggara merapatkan hubungan dengan orang-orang Islam. Mereka yang masuk Islam menubuhkan, pada tahun 1953, organisasi Islam yang pertama di bawah pimpinan seorang bernama Sidiq Imaizumi. Bilangan ahli seramai 65 orang Islam bertambah dua kali ganda beberapa tahun kemudiannya.
Bilangan sebenar orang Islam di Jepun tidak begitu jelas kerana kerajaan Jepun tidak bertanya mengenai agama dalam borang-borang banci dan lain-lain dokumen rasmi. Bilangan mereka ditaksirkan kira-kira 70,000 orang, iaitu 90 peratus warga asing dan 10 peratus Jepun.
Terjemahan al-Quran dalam bahasa Jepun belum diedarkan secara meluas. Pelbagai tulisan mengenai Islam tidak jual di toko-toko buku atau diperoleh di perpustakaan awam.
Demikian serba sedikit mengenai Islam di negara Jepun. Bersambung kelak, insya-Allah ialah keterangan mengenai Islam di Korea.
Semoga adanya pihak-pihak berwajib di negara kita memberi sumbangan meluaskan maklumat mengenai Islam di negara-negara lain.
* Penulis ialah konsultan kanan ISIS Malaysia. Pandangan penulis adalah pendapat peribadi dan tidak ada kena-mengena dengan ISIS.
Mengimbau kembali perkembangan Islam di Jepun
Oleh MAZLAN NORDIN
DALAM simpanan tukang catat ini sejak beberapa tahun lalu ialah sebuah al-Quran yang dicetak di negara Jepun. Pada sebelah kanan setiap muka ialah ayat-ayat suci dan pada sebelah kiri terjemahan dan penjelasan dalam bahasa Jepun.
Kitab suci itu dicari semula dari rak buku setelah membaca berita berulang mengenai orang-orang Islam di Korea Selatan berdoa supaya kira-kira 20 orang awam Korea yang ditawan oleh askar Taliban di Afghanistan tidak diapa-apakan.
Kerana, orang-orang Islam bangsa Jepun dan Korea berupa golongan minoriti di negeri masing-masing. Keterangan mengenai mereka yang diperoleh dari Wikipedia, ensiklopedia bebas mungkin berguna bagi kita.
Pertama mengenai Islam di negara Jepun. Hubungan pertama dengan orang Islam ialah dengan orang-orang Melayu yang bekerja sebagai kelasi kapal-kapal British dan Belanda lewat abad-19. Sebelum itu, lewat 1870, buku riwayat hidup Nabi Muhammad telah diterjemah ke bahasa Jepun. Dengan itu, agama Islam dianggap mengambil tempat dalam imaginasi intelek bangsa Jepun.
Satu lagi yang dianggap pertemuan penting ialah pada tahun 1890 manakala Turki pemerintahan Uthmaniah mengirim sebuah kapal ke Jepun sebagai membalas secara hormat lawatan seorang putera diraja Jepun ke Istanbul beberapa tahun sebelum itu.
Orang Islam Jepun yang pertama menunaikan fardu haji ialah Kotaro Yamaoka yang memeluk agama Islam pada tahun 1909 dan mengambil nama Omar Yamaoka manakala pergi ke Mekah.
Seorang lagi bernama Bunpaciro Ariga yang berniaga ke India dan memeluk agama Islam setelah berkenalan dengan orang-orang India Islam. Beliau kemudian mengambil nama Ahmad Ariga.
Pelarian Islam
Masyarakat Islam muncul di negara Jepun dengan ketibaan ratusan orang Turkoman, Uzbek, Tajik, Kirghiz, Kazakh dan lain-lain pelarian Islam dari Asia Tengah dan Rusia, iaitu akibat revolusi komunis. Mereka diberi perlindungan oleh Jepun dan selanjutnya bermastautin di beberapa buah bandar.
Dengan lahirnya masyarakat kecil Islam itu, beberapa buah masjid dibina. Yang utama sekali ialah Masjid Kobe pada tahun 1935 dan Masjid Tokyo pada tahun 1938 (diperbaharui pada tahun 1990-an).
Dalam masa Perang Dunia Kedua pula, makluman mengenai agama Islam tersebar luas di negara Jepun dan di kalangan pusat-pusat penyelidikan mengenai Islam dan dunia Islam. Lebih 100 buah buku dan majalah mengenai Islam terbit di negara Jepun.
Sebenarnya terbitan-terbitan itu bukan untuk memperkenalkan Islam, tetapi untuk membolehkan pihak tentera lebih mengetahui mengenai Islam dan orang Islam. Ini kerana wujudnya masyarakat Islam yang ramai di China dan Asia Tenggara yang ditakluki oleh tentera Jepun.
Pada tahun 1970-an, pelbagai maklumat mengenai Islam tersebar, iaitu selepas “krisis minyak tahun 1973.” Dengan itu ramai orang Jepun mendapat kesempatan melihat gambar-gambar orang Islam menunaikan fardu haji di Mekah dan mendengar bacaan-bacaan ayat suci al-Quran serta suara bilal melaungkan azan.
Sebilangan orang Jepun kemudian memeluk agama Islam ketika itu dan kemudiannya ‘puluhan ribu’.
Hingga baru-baru ini, masyarakat Islam paling ramai di negara Jepun ialah orang Turki. Lalu disebut bahawa sebelum meletusnya perang, orang Jepun bersimpati dengan warga Islam di Asia Tengah yang antikomunis.
Sebilangan lagi masuk Islam setelah berkenalan dan berdampingan dengan mereka manakala tamat perang.
Sebilangan pemandu pesawat-pesawat angkatan udara Jepun dilatih mengucap dua kalimah syahadat jika ditembak jatuh dan ditawan oleh orang-orang kampung.
Menurut yang empunya cerita, beberapa orang yang berbuat demikian terkejut melihat orang-orang kampung berubah sikap mereka.
Jelas bahawa serangan Jepun di China dan negara-negara Asia Tenggara merapatkan hubungan dengan orang-orang Islam. Mereka yang masuk Islam menubuhkan, pada tahun 1953, organisasi Islam yang pertama di bawah pimpinan seorang bernama Sidiq Imaizumi. Bilangan ahli seramai 65 orang Islam bertambah dua kali ganda beberapa tahun kemudiannya.
Bilangan sebenar orang Islam di Jepun tidak begitu jelas kerana kerajaan Jepun tidak bertanya mengenai agama dalam borang-borang banci dan lain-lain dokumen rasmi. Bilangan mereka ditaksirkan kira-kira 70,000 orang, iaitu 90 peratus warga asing dan 10 peratus Jepun.
Terjemahan al-Quran dalam bahasa Jepun belum diedarkan secara meluas. Pelbagai tulisan mengenai Islam tidak jual di toko-toko buku atau diperoleh di perpustakaan awam.
Demikian serba sedikit mengenai Islam di negara Jepun. Bersambung kelak, insya-Allah ialah keterangan mengenai Islam di Korea.
Semoga adanya pihak-pihak berwajib di negara kita memberi sumbangan meluaskan maklumat mengenai Islam di negara-negara lain.
* Penulis ialah konsultan kanan ISIS Malaysia. Pandangan penulis adalah pendapat peribadi dan tidak ada kena-mengena dengan ISIS.
Edirossa
Aug 6 2007, 02:30 AM
Menolak tanggapan Barat perintis perubatan moden
Oleh Abdurrahman Haqqi
Banyak bidang kajian kedoktoran sudah dibukukan ilmuwan Islam, jadi rujukan universiti di Eropah
ADAKAH sains perubatan moden masa ini sampai kepada tahap cemerlang sekarang sekiranya ahli perubatan Islam pada masa silam tidak merekod dan mencatat cara rawatan, diskripsi, diagnosis, kajian, penemuan, farmasi dan penyelidikan mereka.
Malangnya sumbangan ilmuwan perubatan Islam terhadap kemajuan sains perubatan moden ditelan zaman seperti tertelannya ketamadunan Islam oleh keegoan dan kecemburuan sesetengah masyarakat antarabangsa yang memperkecilkannya. Mereka hanya mengakui ketamadunan hanya datang dari Eropah (baca: Barat). Mereka hanya mengakui bahawa sejarah manusia dan kemajuannya hanya berpusat di Eropah (baca: Barat). Mereka memaksakan kehendak bahawa putaran bumi hanya berasal dari Eropah (baca: Barat).
Pada 28 Julai lalu, penulis menghadiri perasmian Persidangan Sains Perubatan Malaysia, Indonesia dan Brunei Darusalam anjuran Institut Perubatan, Universiti Brunei Darussalam.
Pada akhir sesi plenari I, Dekan Fakulti Perubatan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof Datuk Dr Lokman Saim dengan kertas kerja perdana bertajuk Identifying Regional Priorities in Health Research menjual pantun berikut:
Mudik ke muara dengan perahu
perahu penuh ikan gelama
tidak menyelidik tak kan tahu
tak tahu tak akan ke mana
Ketika itu duduk di sebelah penulis ialah pembentang kertas kerja dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Dr Nurdeng Beuraseh yang juga kawan lama ketika menuntut di Kuwait dulu. Beliau menjelaskan kepada penulis mengenai sifat ikan gelama. Katanya, jika kita mahu menangkap ikan gelama, kita mesti memastikan dahulu kedudukan ikan berkenaan. Apabila sudah diketahui di mana tempat ikan berkenaan, barulah kita mengepung dan menangkapnya. Penulis pun bergumam bahawa pemilihan ikan gelama dalam pantun di atas memang tepat dan sesuai kerana menyelidik mencari sesuatu dengan cara berhati-hati. Penyelidikan itulah punca kemunculan buku rujukan perubatan Islam yang menjadi asas kepada sains perubatan moden.
Islam menggalakkan umatnya yang berkebolehan untuk mendalami bidang perubatan supaya tidak tertinggal daripada bangsa lain. Ini jelas kita dapati daripada suatu kejadian yang berlaku pada zaman Nabi SAW ketika Baginda masih di Makkah.
Pada suatu masa seorang sahabat, Sa'ad ibn Abi Waqqas jatuh sakit dan Baginda pun menjenguknya. Ketika menjenguk, Baginda memerintahkan sahabat yang lain untuk memanggil al-Harits ibn Kaldah al-Tsaqafi, seorang tabib kenamaan di Makkah pada masa itu. Sabda Baginda maksudnya: “Panggillah al-Harits ibn Kaldah untuk mengubatinya. Sesungguhnya dia adalah seorang yang mahir dalam perubatan.”
Ketika al-Harits datang dan memeriksa Sa’ad, beliau menggunakan dua cara rawatan yang biasa dilakukan doktor pada hari ini iaitu secara psikologi dan material. Secara psikologi, al-Harits berkata kepada Sa’ad dan orang di sekitarnya bahawa insya-Allah tidak ada apa-apa dan secara material dia pula memberikan ubat untuk dibuatkan tamar yang dimasak dengan susu kemudian meminta Sa’ad meminumnya. Tidak lama selepas itu, Sa’ad pun sembuh. (Lihat Ibn Abi Ushaibi’ah, ‘Uyun al-Anba, hal. 161)
Daripada kejadian di atas setidaknya dapatlah kita membuat dua kesimpulan. Pertama, panggilan Rasulullah SAW kepada al-Harits ibn Kaldah membuktikan bahawa Islam menyeru umatnya untuk mempelajari sains perubatan dan cara rawatan bahkan menggalakkannya. Kedua, kesaksian Baginda ke atas kepakaran dan kemahiran al-Harits ib Kaldah dalam bidang perubatan secara teori dan amali.
Al-Harits ibn Kaldah yang berasal dari Taif sememangnya seorang pakar perubatan yang terbilang pada zamannya. Beliau menulis perbahasannya mengenai perubatan dengan Kisra Anusyarwan, Raja Parsi ketika itu. Kebanyakan perubatan yang dilakukannya adalah nasihat dan hikmah. Pernah Khalifah Mu’awiyyah bertanya beliau: “Apakah cara yang mujarab dalam rawatan?” dan jawapannya ialah “Lapar!” Jawapan ini pula yang diberikan kepada Kisra Anusyarwan ketika beliau ditanya berkenaan dengan asas perubatan.
Ketika ditanya mengenai mandi sauna oleh Kisra, contoh lain, beliau menjawab: “Jangan anda memasukinya ketika anda sedang kenyang; jangan anda mendatangi keluarga anda ketika sedang mabuk; jangan anda bangun pada tengah malam dalam keadaan telanjang; jangan anda menyantap makanan ketika anda sedang marah; berlembutlah dengan diri anda kerana ia akan menenangkan fikiran anda; dan jangan makan terlalu banyak kerana ia akan memudahkan tidur anda.” (Lihat Ibn Abi Ushaibi’ah, ‘Uyun al-Anba, hal. 167)
Antara ilmuwan perubatan Islam terbilang yang menulis buku rujukan perubatan dalam sejarah tamadun manusia adalah Ali ibn Sahl al-Tabari (w. 850M) dengan tulisannya Firdaus al-Hikmah, Abu Bakar al-Razi (w. 320H) dengan bukunya al-Hawi, Khalaf ibn Abbas al-Zahrawi (w. 961M) pakar bedah dengan kitabnya al-Tasrif Liman ‘Ajaza ‘an al-Ta’lif, dan al-Hussein ibn Abdullah ibn Ali ibn Sina (w.429H) dengan al-Qanun sebagai kitab unggulnya.
Semua buku hasil penyelidikan dalam bidang perubatan di atas adalah mercu tanda bagi kemajuan sains perubatan moden. Sebagai contoh, buku al-Tasrif Liman ‘Ajaza ‘an al-Ta’lif karangan al-Zahrawi adalah buku rujukan pertama dalam sejarah sains pembedahan selama lima abad lamanya yang diterjemah lima kali ke dalam bahasa Latin. Yang membanggakan kita lagi buku ini mengandungi lebih daripada 200 gambar alat pembedahan yang menunjukkan betapa alim dan pakarnya al-Zahrawi dalam bidang pembedahan sehingga beliau boleh menggambarkan alatnya. Buku ini terdiri daripada 30 artikel yang dibahagikan kepada dua bahagian.
Bahagian Pertama dikhaskan untuk membincangkan perkara yang berkaitan dengan ubat dan cara penyembuhan, manakala Bahagian Kedua dikhaskan untuk keperluan pembedahan. Bab Satu berkaitan dengan bekam; Bab Dua berkaitan dengan pembedahan tubuh manusia secara amnya; Bab Tiga berkaitan patah tulang dan yang sejenis dengannya.
Buku al-Qanun karangan Ibn Sina pula adalah buku rujukan di sekolah perubatan dan universiti Eropah hingga pertengahan abad ke-17. Ia diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebanyak 20 kali dalam masa 30 tahun sebelum berakhirnya abad ke-15. Dalam buku ini, Ibn Sina membahagikan kajiannya kepada lima bahagian iaitu sains perubatan secara umum; ubat-ubatan; penyakit khusus bagi sesetengah anggota badan; penyakit yang menimpa semua badan manusia; dan farmasi. Oleh itu, sememangnya Ibn Sina mendapat jolokan Bapa Perubatan Dunia.
Itulah contoh masyarakat bertamadun yang melahirkan ilmuwan berjasa kepada manusia. Masyarakat Islam ialah satu-satunya masyarakat yang dikawal dan dilindungi Allah Ta’ala. Anggota masyarakat itu meninggalkan dan membuang jauh segala bentuk pemujaan dan pendewaan kepada sesama manusia untuk melakukan pemujaan dan pendewaan kepada Allah SWT saja. Oleh sebab itulah anggota masyarakat berkenaan menjadi orang yang bebas dan merdeka sepenuhnya.
Bila saja program yang berpunca dari Allah SWT menjadi tali pengikat antara umat manusia, iaitu kedaulatan bagi seluruh umat manusia tidak bersumber daripada sebarang kuasa duniawi dalam bentuk pengabdian dan penindasan atas sesama umat manusia nescaya masyarakat itu menjadi sebuah masyarakat ideal yang boleh menggambarkan keindahan ciri kemanusiaan, iaitu ciri roh dan fikiran.
Sebaliknya bila saja dasar perkauman, kebangsaan, warna kulit dan tanah air, persamaan nasib dan lain-lain lagi yang menjadi tali pengikat antara kelompok umat manusia, maka jelas dasar-dasar itu tidak menggambarkan ciri kemanusiaan, sebab manusia akan tetap menjadi manusia tanpa kebangsaan, tanpa warna kulit dan tanah air, tetapi manusia itu bukan manusia lagi tanpa roh dan fikiran
Ahad lalu, akhbar ini melaporkan mengenai pengambilan pelajar bagi Program Perubatan Kolej Universiti Teknologi dan Pengurusan Malaysia (KUTPM). Sejajar dengan hasrat kerajaan untuk mengantarabangsakan pendidikan tinggi Malaysia, KUTPM menubuhkan pusat pengajian di empat negara bagi menawarkan program pengajiannya di seberang laut.
Penubuhan pusat di Indonesia, India, Vietnam dan China dilakukan menerusi usaha sama antara KUTPM dengan rakan kerjasama global di negara terbabit.
Sekolah Perubatan Antarabangsanya (KIMS) ditubuhkan di Bangalore, India dan diharapkan ia mampu melahirkan ramai pakar perubatan dan membantu kerajaan mencapai matlamat meningkatkan modal insan dalam bidang berkenaan.
Sudah semestinya umat Islam termasuk negara yang memikirkan bagaimana cara memposisikan semula keunggulan perubatan Islam pada mata masyarakat antarabangsa dan membuktikan fikiran berkenaan dengan menubuhkan pusat penyelidikan sains perubatan Islam yang disesuaikan dengan zaman kita ini.
Kita pun mempersoalkan jika UNESCO menetapkan tujuh keajaiban dunia dalam bidang struktur bangunan mengapa mereka tidak memperhatikan mengenai keajaiban penemuan ilmuwan silam khasnya ilmuwan yang memberi sumbangan yang tidak ternilai harganya kepada kemajuan tamadun manusia pada hari ini.
INTI PATI
Tamadun perubatan
Barat sengaja menidakkan sumbangan Islam dalam merintis ilmu perubatan moden.
Banyak bukti menunjukkan Islam mendahului tamadun lain dalam bidang perubatan seperti penghasilan kitab perubatan.
Ada antara kitab perubatan karangan ilmuan Islam menjadi rujukan universiti di Eropah sehingga pertengahan abad ke-17.
sofiahdewi
Aug 10 2007, 08:18 PM
Suatu ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib berpolemik dengan seorang Yahudi. Sang khalifah yakin baju besi yang dipakai orang Yahudi itu adalah miliknya. Namun si Yahudi tetap menyangkal. Ia tetap bertahan, bahwa baju besi itu adalah kepunyaannya. Polemik itu terus meruncing hingga keduanya sepakat untuk menghadapkannya ke hakim.
Begitu Ali dan si Yahudi itu duduk di depan persidangan, hakim yang bernama Syuraih bertanya kepada Ali, "Apa yang Anda kehendaki, wahai saudara Ali?"
"Soal baju besiku yang hilang. Kemudian diambil oleh Yahudi ini!" Ali menerangkan.
"Apakah yang diucapkan Ali itu benar?" tanya Hakim kepada si Yahudi.
"Tidak. Ini benar-benar baju besiku dan sekarang berada di tanganku!" jawab si Yahudi.
"Saudara Ali, sebagai orang yang menuntut, Anda harus mendatangkan dua orang saksi yang mendukung Anda sebagai bukti," pinta sang Hakim.
Ali bin Abi Thalib segera mengajukan dua orang saksi, yaitu pembantunya, Qanbar dan putranya, Hasan bin Ali. Sang Hakim, menerima kesaksian Qanbar dan menolak kesaksian Hasan bin Ali.
"Kesaksian Qanbar saya benarkan, tetapi kesaksian Hasan bin Ali tidak karena ia putra Anda sendiri!" ujar Syuraih.
"Tapi, tidakkah saudara Hakim pernah mendengar bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, 'Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda di surga'?"
Dengan suara yang lembut tapi penuh wibawa Syuraih menjawab, "Allahumma na'am. Ya Allah, memang benar."
"Lalu, masihkah tidak dapat diterima kesaksian pemimpin pemuda di surga ini?"
Namun, Syuraih masih tetap dalam pendiriannya bahwa ia tidak dapat menerima kesaksian Hasan bin Ali. Karena Ali tak bisa mendatangkan seorang saksi, maka Hakim memutuskan dia yang kalah. Dengan tegas ia katakan bahwa baju besi itu adalah kepunyaan si Yahudi itu.
Ali tidak angkat bicara lagi. Ia tidak berdaya melawan peraturan dan undang-undang. Ia terima keputusan hakim itu dengan senang hati. Ia menyadari bahwa ia tidak dapat menghadirkan saksi yang mendukung tuntutannya. Lalu sambil tersenyum beliau berkata, "Ashaba Syuraih ma lii bayyinatun! Sahabatku Syuraih, Anda sungguh benar. Saya tidak mempunyai bukti yang kuat."
Si Yahudi itu melihat dengan mata kepala sendiri betapa puasnya Ali bin Abi Thalib terhadap keputusan yang dijatuhkan hakim tersebut. Ia heran mengapa seorang khalifah mau tunduk terhadap peraturan dan undang-undang.
Melihat adegan mengharukan itu, si Yahudi pun berkata di hadapan majelis persidangan itu, "Baju besi ini benar-benar kepunyaan Ali. Aku memungutnya waktu baju besi ini jatuh dari untanya ketika ia hendak pergi ke medan Shiffin...."
Selanjutnya Yahudi itu mengucapkan dua kalimat syahadat. Begitu mendengar si Yahudi membaca syahadat, dengan segera Ali menyatakan, "Kalau begitu, baju besi itu kuhadiahkan kepadamu!" Selain itu, orang Yahudi itu juga dihadiahi sembilan ratus dirham uang.
Peristiwa "baju besi" di atas menyimpan ibrah (pelajaran) yang mestinya kita teladani. Pertama, keberanian Qadhi Syuraih mengambil keputusan. Dengan kedudukannya sebagai hakim, Syuraih berani mengambil keputusan tegas, berani dan adil. Keputusan yang ia tentukan tidak pandang bulu. Meskipun yang terdakwa adalah seorang khalifah yang kedudukannya lebih dari presiden, karena bukti menunjukkan ia kalah, maka harus diputuskan salah. Persis seperti yang disitir Rasulullah saw dalam ungkapannya, "Seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, tentu akan aku potong tangannya," (HR Bukhari).
Dalam konteks sekarang, hakim seperti itu sungguh sulit dicari. Kenyataan yang ada justru sebaliknya. Pencuri ayam dipenjara, sedangkan perampok uang negara dibiarkan bebas. Peristiwa teranyar yang terjadi di negeri ini adalah kasus pengadilan Akbar Tandjung dan koleganya. Meski pengadilan sudah memutuskannya bersalah, tapi karena yang bersangkutan adalah pejabat dan orang yang berpengaruh di negeri ini, maka kasusnya tetap mengambang. Bahkan, tidak mustahil bisa bebas.
Selain itu, banyak hal yang perlu diperbaiki di negeri ini. Selain watak para penegak hukumnya yang tidak jujur, juga undang-undangnya sendiri. Akibat lamanya Orde Baru berkuasa, sebagian besar peraturan di negeri ini sepertinya dibuat sedemikian rupa agar bisa disiasati. Misalnya, dalam kasus peradilan. Orang yang diputus bersalah pada Pengadilan Negeri bisa dianulir oleh Pengadilan Tinggi. Sehingga dengan harap-harap cemas, arti naik banding itu adalah untuk melenyapkan putusan hakim pada tingkat Pengadilan Negeri. Andai kata Pengadilan Tinggi memvonis sama atau malah memperberat, maka masih juga dianggap tak punya kekuatan hukum tetap karena masih dimungkinkan sebuah kasasi.
Padahal kita tahu, kasasi bisa memakan waktu lama untuk mengusut ulang kasus yang menumpuk sebelumnya. Tetapi andai kata pun akhirnya Mahkamah Agung (MA) membenarkan vonis pada tahapan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi, si terpidana masih punya peluang untuk lolos karena masih ada lembaga Peninjauan Kembali (PK). Tentu PK memerlukan waktu bertahun-tahun, sehingga orang sudah lupa sama sekali terhadap kasus sebenarnya. Dengan mengikuti cara berpikir seperti ini, maka selain membenarkan sistem hukum kita yang sangat koruptif, sesungguhnya kita sedang menipu diri sendiri. Dengan peraturan itu, jangan berharap seorang penjahat dan politikus kelas kakap yang telah merampok negeri ini bisa tersentuh hukum.
Kedua, berani menerima kekalahan. Inilah yang dilakukan Ali bin Abi Thalib. Kendati ia merasa benar—dan kenyataannya memang demikian—tapi keputusan hakim tidak ia tolak. Ia tidak ngotot untuk mempertahankan pendapatnya. Yang terjadi di negeri ini justru sebaliknya. Meski ia tahu dan semua orang tahu dirinya bersalah, tapi ia tetap ngotot mempertahankan pendapatnya. Segala cara pun diupayakan. Dari menyuap para hakim sampai membayar para demonstran untuk mendukungnya.
Beginilah keadaan bangsa kita. Para penegak hukumnya tidak bermoral, aturan yang kita pakai pun sangat koruptif lantaran jauh dari landasan agama. Padahal, ketiga aspek itu—hukum, moral dan agama—harus bersanding. Tak ada aturan tanpa hukum, tak ada hukum tanpa moralitas, dan tak ada moralitas tanpa agama sebagai sumber pertama dari nilai-nilai moral dan etika. Wallahu a'lam. (RioL)

"JANGAN TINGGALKANKU "
http://swaramuslim.com/streaming/nasyid/ha...inggalkanku.wma
Bila ku kenang jalan hidupku
betapa kurasa kehadiranMu
kini beranjak dewasa aku
kau berikan uluran tangan suciMu
reff
ya Tuhanku terimalah sujudku
ya Tuhanku terimalah syukurku
duhai Yang Kuasa tlah kau beri rahmatMu
kau berikan sgala karunia kasihMu
sadarku semua ini milikMu
jangan...jangan lagi jauh dariku
jangan jangan pernah tinggalkanku
Yang Kuasa bimbinglah aku selalu
SALMAN AL-FARISI r.a. (Pencari Kebenaran)
Tokoh Teladan Oleh : Redaksi 14 Mar 2005 - 3:20 pm
Salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, hingga bermunculanlah filosof-filosof Islam, dokter-dokter Islam, ahli-ahli falak Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam .
Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agama. Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui. Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya. Salman radhiyallahu 'anhu sendiri turut menvaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu.
Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima Hijrah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan vang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.
Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam -- yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimim sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.
Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut:
Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah nakh sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 al-Ahzab:l0)
Dua puluh empat ribu orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya.
Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan. Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?
Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Itulah dia Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu!' Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.
Di negerinya Persi, Salman radhiyallahu 'anhu telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.
Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atau usul Salman radhiyallahu 'anhu tersebut. Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.
Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta'ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka ... dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit ... Sewaktu menggali parit, Salman radhiyallahu 'anhu tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman radhiyallahu 'anhu bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.
Salman radhiyallahu 'anhu seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.
Salman radhiyallahu 'anhu pergi mendapatkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun pergi bersama Salman radhiyallahu 'anhu untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi. Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti....
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi. "Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah", kata Salman radhiyallahu 'anhu, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan takbir, sabdanya:
Allah Maha Besar! Ahu telah dikaruniai hunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu.
Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertakbir sabdanya: Allah Maha Besar! Ahu telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya.
Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum Muslimin. Lalu diceritakanlah oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan'a, begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru:
Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya .... Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.
Salman radhiyallahu 'anhu adalah orang yang mengajukan saran untuk membuat parit. Dan dia pulalah penemu batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia dan ramalan-ramalan ghaib, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Ia berdiri di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyaksikan cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dan dia masih hidup ketika ramalan itu menjadi kenyataan, dilihat bahkan dialami dan dirasakannya sendiri. Dilihatnya kota-kota di Persi dan Romawi, dan dilihatnya mahligai istana di Shan'a, di Mesir, di Syria dan di Irak. Pendeknya disaksikan dengan mata kepalanya bahwa seluruh permukaan bumi seakan berguncang keras, karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah Allah ....Nah, itulah dia sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon yang rindang berdaun rimbun, di muka rumahnya di kota Madain; sedang menceriterakan kepada shahabat-shahabatnya perjuangan berat yang dialaminya demi mencari kebenaran, dan mengisahkan kepada mereka bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Persi, masuk ke dalam agama Nashrani dan dari sana pindah ke dalam Agama Islam. Betapa ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan menjatuhkan dirinya ke dalam lembah kemiskinan demi kebebasan fikiran dan jiwanya .. .! Betapa ia dijual di pasar budak dalam mencari kebenaran itu, bagaimana ia berjumpa dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan iman kepadanya ...!
Marilah kita dekati majlisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceriterakannya!
"Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama "Ji". Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluq Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam. Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati: "Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!" Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.
Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nashrani dari mana asal-usul agama mereka. "Dari Syria",ujar mereka.
Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya: "Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita". Kami pun bersoal-jawab melakukan diskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya diriku ....
Kepada orang-orang Nashrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai. Lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.
Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Maka datanglah aku kepadanya, kuceriterakan keadaanku. Akhirnya tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka dan belajar, Sayang uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat ....dan mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya demikian rupa, sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu dari padanya.
Dan tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku padanya: "Sebagai anda maklumi, telah dekat saat berlakunya taqdir Allah atas diri anda. Maka apakah yang harus kuperbuat, dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi. "Anakku!", ujamya: "tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul".
Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceriterakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang shalih yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan ku ceriterakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula.
Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di 'Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi.
Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku berternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.
Kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakannya. Ujarnya: "Anakku.' Tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. la nanti akan hijrah he suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia, la mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya':
Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, maka kataku kepada mereka: "Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?" "Baiklah", ujar mereka.
Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang yahudi. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.
Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang yahudi Bani Quraizhah yang membeliku pula daripadanya. Aku dibawanya ke Madinah, dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.
Aku tinggal bersama yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani 'Amar bin 'Auf di Quba.
Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku lagi duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya: "Bani Qilah ######! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku-pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi: "Apa kata anda?" Ada berita apakah?" Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya: "Apa urusanmu dengan ini, ayoh kembali ke pekerjaanmu!" Maka aku pun kembalilah bekerja ...
Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kataku kepadanya: "Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedeqah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini". Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya.
"Makanlah dengan nama Allah". sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada para shahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. "Nah, demi Allah!" kataku dalam hati, inilah satu dari tanda-tandanya ... bahwa ia tah mau memakan harta sedeqah':
Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya: "Kulihat tuan tak hendak makan sedeqah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah'', lalu kutaruh makanan di hadapannya. Maka sabdanya kepada shahabatnya: 'Makanlah dengan menyebut nama Allah ! ' Dan beliaupun turut makan bersama mereka. "Demi Allah': kataku dalam hati, inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah ':
Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian kupergi mencari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan kutemui beliau di Baqi', sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh shahabat-shahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju. Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, maka disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap henabian sebagai disebutkan oleh pendeta dulu.
Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceriterakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceriterakan tadi.
Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku:'Mintalah pada majihanmu agar ia bersedia membebashanmu dengan menerima uang tebusan."
Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh para shahabat untuk membantuku dalam soal keuangan. Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam perang Khandaq dan peperangan lainnya.
Dengan kalimat-kalimat yang jelas dan manis, Salman radhiyallahu 'anhu menceriterakan kepada kita usaha keras dan perjuangan besar serta mulia untuk mencari hakikat keagamaan, yang akhirnya dapat sampai kepada Allah Ta'ala dan membekas sebagai jalan hidup yang harus ditempuhnya .... Corak manusia ulung manakah orang ini? Dan keunggulan besar manakah yang mendesak jiwanya yang agung dan melecut kemauannya yang keras untuk mengatasi segala kesulitan dan membuatnya mungkin barang yang kelihatan mustahil? Kehausan dan kegandrungan terhadap kebenaran manakah yang telah menyebabkan pemiliknya rela meninggalkan kampung halaman berikut harta benda dan segala macam kesenangan, lalu pergi menempuh daerah yang belum dikenal -- dengan segala halangan dan beban penderitaan -- pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negeri ke negeri lain, tak kenal letih atau lelah, di samping tak lupa beribadah secara tekun ...?
Sementara pandangannya yang tajam selalu mengawasi manusia, menyelidiki kehidupan dan aliran mereka yang berbeda, sedang tujuannya yang utama tak pernah beranjak dari semula, yang tiada lain hanya mencari kebenaran. Begitu pun pengurbanan mulia yang dibaktikannya demi mencapai hidayah Allah, sampai ia diperjual belikan sebagai budak belian ...Dan akhirnya ia diberi Allah ganjaran setimpal hingga dipertemukan dengan al-Haq dan dipersuakan dengan Rasul-Nya, lalu dikaruniai usia lanjut, hingga ia dapat menyaksikan dengan kedua matanya bagaimana panji-panji Allah berkibaran di seluruh pelosok dunia, sementara ummat Islam mengisi ruangan dan sudut-sudutnya dengan hidayah dan petunjuk Allah, dengan kemakmuran dan keadilan.. .! Bagaimana akhir kesudahan yang dapat kita harapkan dari seorang tokoh yang tulus hati dan keras kemauannya demikian rupa? Sungguh, keislaman Salman radhiyallahu 'anhu adalah keislamannya orang-orang utama dan taqwa. Dan dalam kecerdasan, kesahajaan dan kebebasan dari pengaruh dunia, maka keadaannya mirip sekali dengan Umar bin Khatthab.
Ia pernah tinggal bersama Abu Darda di sebuah rumah beberapa hari lamanya. Sedang kebiasaan Abu Darda beribadah di waktu malam dan shaum di waktu siang. Salman radhiyallahu 'anhu melarangnya berlebih-lebihan dalam beribadah seperti itu.
Pada suatu hari Salman radhiyallahu 'anhu bermaksud hendak mematahkan niat Abu Darda untuk shaum sunnat esok hari. Dia menyalahkannya: "Apakah engkau hendak melarangku shaum dan shalat karena Allah?" Maka jawab Salman radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Di samping engkau shaum, berbukalah; dan di samping melakukan shalat, tidurlah!" Peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah, maka sabdanya: Sungguh Salman radhiyallahu 'anhu telah dipenuhi dengan ilmu.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri sering memuji kecerdasan Salman radhiyallahu 'anhu serta ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji Agama dan budi pekertinya yang luhur. Di waktu perang Khandaq, kaum Anshar sama berdiri dan berkata: "Salman radhiyallahu 'anhu dari golongan kami". Bangkitlah pula kaum Muhajirin, kata mereka: "Tidak, ia dari golongan kami!" Mereka pun dipanggil oleh Rasurullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan sabdanya: Salman adalah golongan kami, ahlul Bait.
Dan memang selayaknyalah jika Salman radhiyallahu 'anhu mendapat kehormatan seperti itu ...!
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menggelari Salman radhiyallahu 'anhu dengan "Luqmanul Hakim". Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya: "Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering".
Dalam kalbu para shahabat umumnya, pribadii Salman radhiyallahu 'anhu telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Di masa pemerintahan Khalifah Umar radhiyallahu 'anhu ia datang berkunjung ke Madinah. Maka Umar melakukan penyambutan yang setahu kita belum penah dilakukannya kepada siapa pun juga. Dikumpulkannya para shahabat dan mengajak mereka: "Marilah kita pergi menyambut Salman radhiyallahu 'anhu!" Lalu ia keluar bersama mereka menuju pinggiran kota Madinah untuk menyambutnya ...
Semenjak bertemu dengan Rasulullah dan iman kepadanya, Salman radhiyallahu 'anhu hidup sebagai seorang Muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan selalu berbakti. Ia pun mengalami kehidupan masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu; kemudian di masa Amirul Mu'minin Umar radhiyallahu 'anhu; lalu di masa Khalifah Utsman radhiyallahu 'anhu, di waktu mana ia kembali ke hadlirat Tuhannya.
Di tahun-tahun kejayaan ummat Islam, panji-panji Islam telah berkibar di seluruh penjuru, harta benda yang tak sedikit jumlahnya mengalir ke Madinah sebagai pusat pemerintahan baik sebagai upeti ataupun pajak untuk kemudian diatur pembagiannya menurut ketentuan Islam, hingga negara mampu memberikan gaji dan tunjangan tetap. Sebagai akibatnya banyaklah timbul masalah pertanggungjawaban secara hukum mengenai perimbangan dan cara pembagian itu, hingga pekerjaan pun bertumpuk dan jabatan tambah meningkat.
Maka dalam gundukan harta negara yang berlimpah ruah itu, di manakah kita dapat menemukan Salman radhiyallahu 'anhu? Di manakah kita dapat menjumpainya di saat kekayaan dan kejayaan, kesenangan dan kemakmuran itu ...?
Bukalah mata anda dengan baik! Tampaklah oleh anda seorang tua berwibawa duduk di sana di bawah naungan pohon, sedang asyik memanfaatkan sisa waktunya di samping berbakti untuk negara, menganyam dan menjalin daun kurma untuk dijadikan bakul atau keranjang. Nah, itulah dia Salman radhiyallahu 'anhu Perhatikanlah lagi dengan cermat! Lihatlah kainnya yang pendek, karena amat pendeknya sampai terbuka kedua lututnya. Padahal ia seorang tua yang berwibawa, mampu dan tidak berkekurangan. Tunjangan yang diperolehnya tidak sedikit, antara empat sampai enam ribu setahun. Tapi semua itu disumbangkannya habis, satu dirham pun tak diambil untuk dirinya. Katanya: "Untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kuperbuat dan kujual tiga dirham.
Yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku, sedang satu dirham sisanya untuk shadaqah. Seandainya Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu melarangku berbuat demikian, sekali-kali tiadalah akan kuhentikan!"
Lalu bagaimana wahai ummat Rasulullah? Betapa wahai peri kemanusiaan, di mana saja dan kapan saja? Ketika mendengar sebagian shahabat dan kehidupannya yang amat bersahaja, seperti Abu Bakar, Umar, Abu Dzar radhiyallahu 'anhum dan lain-lain; sebagian kita menyangka bahwa itu disebabkan suasana lingkungan padang pasir, di mana seorang Arab hanya dapat menutupi keperluan dirinya secara bersahaja.
Tetapi sekarang kita berhadapan dengan seorang putera Persi, suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan serta hidup boros, sedang ia bukan dari golongan miskin atau bawahan, tapi dari golongan berpunya dan kelas tinggi. Kenapa ia sekarang menolak harta, kekayaan dan kesenangan; bertahan dengan kehidupan bersahaja, tiada lebih dari satu dirham tiap harinya, yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri.. .? kenapa ditolaknya pangkat dan tak bersedia menerimanya?
Katanya: "Seandainya kamu masih mampu makan tanah asal tak membawahi dua orang manusia --, maka lakukanlah!" Kenapa ia menolak pangkat dan jabatan, kecuali jika mengepalai sepasukan tentara yang pergi menuju medan perang? Atau dalam suasana tiada seorang pun yang mampu memikul tanggung jawab kecuali dia, hingga terpaksa ia melakukannya dengan hati murung dan jiwa merintih? Lalu kenapa ketika memegang jabatan yang mesti dipikulnya, ia tidak mau menerima tunjangan yang diberikan padanya secara halal? Diriwayatkan eleh Hisyam bin Hisan dari Hasan: "Tunjangan Salman radhiyallahu 'anhu sebanyak lima ribu setahun, (gambaran kesederhanaannya) ketika ia berpidato di hadapan tigapuluh ribu orang separuh baju luarnya (aba'ah) dijadikan alas duduknya dan separoh lagi menutupi badannya. Jika tunjangan keluar, maka dibagi-bagikannya sampai habis, sedang untuk nafqahnya dari hasil usaha kedua tangannya". Kenapa ia melakukan perbuatan seperti itu dan amat zuhud kepada dunia, padahal ia seorang putera Persi yang biasa tenggelam dalam kesenangan dan dipengaruhi arus kemajuan? Marilah kita dengar jawaban yang diberikannya ketika berada di atas pembaringan menjelang ajalnya, sewaktu ruhnya yang mulia telah bersiap-siap untuk kembali menemui Tuhannya Yang Maha Tinggi lagi Maha Pengasih.
Sa'ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya, lalu Salman radhiyallahu 'anhu menangis. "Apa yang anda tangiskan, wahai Abu Abdillah",') tanya Sa'ad, "padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat dalam keadaan ridla kepada anda?" "Demi Allah, ujar Salman radhiyallahu 'anhu, "daku menangis bukanlah karena takut mati ataupun mengharap kemewahan dunia, hanya Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepada kita, sabdanya:
Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara, padahal harta milikku begini banyaknya"
Kata Sa'ad: "Saya perhatikan, tak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan sebuah baskom. Lalu kataku padanya: "Wahai Abu Abdillah, berilah kami suatu pesan yang akan kami ingat selalu darimu!" Maka ujamya: "Wahai Sa'ad! Ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau derita. Dan pada putusanmu jika kamu menghukumi. Dan pada saat tanganmu melakukan pembagian". Rupanya inilah yang telah mengisi kalbu Salman radhiyallahu 'anhu mengenai kekayaan dan kepuasan. Ia telah memenuhinya dengan zuhud terhadap dunia dan segala harta, pangkat dengan pengaruhnya; yaitu pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepadanya dan kepada semua shahabatnya, agar mereha tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil bagian daripadanya, kecuali sekedar bekal seorang pengendara.
Salman radhiyallahu 'anhu telah memenuhi pesan itu sebaik-baiknya, namun air matanya masih jatuh berderai ketika ruhnya telah siap untuk berangkat; khawatir kalau-kalau ia telah melampaui batas yang ditetapkan. Tak terdapat di ruangannya kecuali sebuah piring wadah makannya dan sebuah baskom untuk tempat minum dan wudlu .:., tetapi walau demikian ia menganggap dirinya telah berlaku boros .... Nah, bukankah telah kami ceritakan kepada anda bahwa ia mirip sekali dengan Umar?
Pada hari-hari ia bertugas sebagai Amir atau kepala daerah di Madain, keadaannya tak sedikit pun berubah. Sebagai telah kita ketahui, ia menolak untuk menerima gaji sebagai amir, satu dirham sekalipun. Ia tetap mengambil nafkahnya dari hasil menganyam daun kurma, sedang pakaiannya tidak lebih dari sehelai baju luar, dalam kesederhanaan dan kesahajaannya tak berbeda dengan baju usangnya.
Pada suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan raya, ia didatangi seorang laki-laki dari Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat, hingga melelahkannya. Demi dilihat olehnya seorang laki-laki yang tampak sebagai orang biasa dan dari golongan tak berpunya, terpikirlah hendak menyuruh laki-laki itu membawa buah-buahan dengan diberi imbalan atas jerih payahnya bila telah sampai ke tempat tujuan. Ia memberi isyarat supaya datang kepadanya, dan Salman radhiyallahu 'anhu menurut dengan patuh. "Tolong bawakan barangku ini!", kata orang dari Syria itu. Maka barang itu pun dipikullah oleh Salman radhiyallahu 'anhu, lalu berdua mereka berjalan bersama-sama.
Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman radhiyallahu 'anhu memberi salam kepada mereka, yang dijawabnya sambil berhenti: "Juga kepada amir, kami ucapkan salam" "Juga kepada amir?" Amir mana yang mereka maksudkan?" tanya orang Syria itu dalam hati. Keheranannya kian bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman radhiyallahu 'anhu dengan maksud hendak menggantikannya, kata mereka: "Berikanlah kepada kami wahai amir!"
Sekarang mengertilah orang Syria itu bahwa kulinya tiada lain Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu, amir dari kota Madain. Orang itu pun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf bagai mengalir dari bibirnya. Ia mendekat hendak menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman radhiyallahu 'anhu menolak, dan berkata sambil menggelengkan kepala: "Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu!
Suatu ketika Salman radhiyallahu 'anhu pernah ditanyai orang: Apa sebabnya anda tidak menyukai jabatan sebagai amir? Jawabnya: "Karena manis wahtu memegangnya tapi pahit waktu melepaskannya!"
Pada waktu yang lain, seorang shahabat memasuki rumah Salman radhiyallahu 'anhu, didapatinya ia sedang duduk menggodok tepung, maka tanya shahabat itu: Ke mana pelayan? Ujarnya: "Saya suruh untuk suatu keperluan, maka saya tak ingin ia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus'' Apa sebenarnya yang kita sebut "rumah" itu? Baiklah kita ceritakan bagaimana keadaan rumah itu yang sebenamya. Ketika hendak mendirikan bangunan yang berlebihan disebut sebagai "rumah'' itu, Salman radhiyallahu 'anhu bertanya kepada tukangnya: "Bagaimana corak rumah yang hendak anda dirikan?" Kebetulan tukang bangunan ini seorang 'arif bijaksana, mengetahui kesederhanaan Salman radhiyallahu 'anhu dan sifatnya yang tak suka bermewah mewah. Maka ujarnya: "Jangan anda khawatir! rumah itu merupakan bangunan yang dapat digunakan bernaung di waktu panas dan tempat berteduh di waktu hujan. Andainya anda berdiri, maka kepala anda akan sampai pada langit-langitnya; dan jika anda berbaring, maka kaki anda akan terantuk pada dindingnya". "Benar", ujar Salman radhiyallahu 'anhu, "seperti itulah seharusnya rumah yang akan anda bangun!" Tak satu pun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau diutamakan oleh Salman radhiyallahu 'anhu sedikit pun, kecuali suatu barang yang memang amat diharapkan dan dipentingkannya, bahkan telah dititipkan kepada isterinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman.
Ketika dalam sakit yang membawa ajalnya, yaitu pada pagi hari kepergiannya, dipanggillah isterinya untuk mengambil titipannya dahulu. Kiranya hanyalah seikat kesturi yang diperolehnya waktu pembebasan Jalula dahulu. Barang itu sengaja disimpan untuk wangi-wangian di hari wafatnya. Kemudian sang isteri disuruhnya mengambil secangkir air, ditaburinya dengan kesturi yang dikacau dengan tangannya, lalu kata Salman radhiyallahu 'anhu kepada isterinya: "Percikkanlah air ini ke sekelilingku ... Sekarang telah hadir di hadapanku makhluq Allah') yang tiada dapat makan, hanyalah gemar wangi-wangian Setelah selesai, ia berkata kepada isterinya: "Tutupkanlah pintu dan turunlah!" Perintah itu pun diturut oleh isterinya.
Dan tak lama antaranya isterinya kembali masuk, didapatinya ruh yang beroleh barkah telah meninggalkan dunia dan berpisah dari jasadnya ... Ia telah mencapai alam tinggi, dibawa terbang oleh sayap kerinduan; rindu memenuhi janjinya, untuk bertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan dengan kedua shahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta tokoh-tolroh mulia lainnya dari golongan syuhada dan orang-orang utama ....
Salman radhiyallahu 'anhu .... Lamalah sudah terobati hati rindunya Terasa puas, hapus haus hilang dahaga. Semoga Ridla dan Rahmat Allah menyertainya.
Sumber : harun yahya
Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Edirossa
Aug 16 2007, 07:25 AM
Muslim penggerak sejarah, tamadun China
JUDUL: Rahsia Kegemilangan Islam di China
Penulis: Ann Wan Seng
Penerbit: PTS Profesional Publishing Sdn Bhd
MENYEBUT China, perkara yang berkisar di minda adalah sebuah negara yang kaya dengan budaya, kesenian dan nilai peradaban tinggi.
Sejarah China yang panjang itu serta diperintah oleh beberapa dinasti tertentu hingga menimbulkan rasa ingin tahu serta mengorek rahsia terkandung termasuk dari segi kemunculan dan kegemilangan masyarakat Islam di negara berkenaan.
Buku Rahsia Kegemilangan Islam di China ini menceritakan dengan terperinci mengenai sejarah termasuk kedatangan Islam di negara itu.
Berdasarkan sejarah, umat Islam di negara itu juga memainkan peranan penting dalam pentadbiran beberapa dinasti China dan diberi kedudukan tinggi di kaca mata pemerintah. Islam dipercayai sampai ke negara itu sejak lebih 1400 tahun lalu.
Nabi Muhammad sebelum berhijrah dari Makkah ke Madinah menghantar beberapa sahabat untuk berdakwah di China.
Pada Zaman pemerintah dinasti Tang ada rekod wujud hubungan diplomatik antara kerajaan China dengan pemerintahan Saidina Usman Affan, iaitu sekitar 618 Masihi (M).
Mereka meletakkan batu asas untuk membolehkan Islam bertapak di China dan akhirnya Islam berkembang pesat di China.
Ketika pemerintahan dinasti Yuan pula, kerajaan itu mengamalkan dasar pemerintahan memihak kepada umat Islam. Seterusnya umat Islam juga membantu penubuhan dinasti Ming pada 1368, sebagai balasan Maharaja dinasti itu membina beberapa masjid dipercayai 100 masjid manakala Beijing empat masjid besar dan sekali gus Islam terus berkembang pesat .
Kini, natijahnya, misi dakwah itu berjaya melahirkan lebih 136 juta umat Islam dengan majoriti menetap di Xinjiang, Gansu, Hubel, Qinghai dan Yunnan.
Di China kini ada kira-kira 35,000 masjid dengan yang tertua adalah Masjid Nujie dibina di Beijing pada 996M. Masyarakat etnik Hui adalah kumpulan komuniti Islam terbesar di China iaitu meliputi 90 peratus daripada jumlah mereka yang beragama Islam. Mereka banyak membantu perkembangan tamadun di negara kuasa besar itu.
Masjid tidak saja dijadikan pusat ibadat tetapi juga aktiviti kemasyarakatan dan pendidikan. Peranan masjid diperkukuhkan sebagai pusat kekuatan dan penyatuan tenaga umat Islam. Masjid juga merapatkan hubungan sesama umat Islam di China.
Kesan tamadun Islam di China melahirkan sejumlah alim ulama dan tokoh ilmuan Islam antaranya Wang Daisyu dan Yusuf Ma Zhu yang memberi sumbangan besar kepada pembinaan negara itu sendiri.
Secara keseluruhan jumlah umat Islam di China tidak dianggarkan dengan tepat. Bagaimanapun, ada pelbagai faktor dikemukakan untuk menyokong kenyataan itu, iaitu umat Islam bertapak di negara itu sejak 1400 tahun lalu, sebahagian wilayah China duduki oleh penduduk beragama Islam dengan penempatan bertebaran di kawasan cukup luas, sumbangan dan kesan tamadun Islam di peradaban China yang amat besar dan Islam terus bertahan sebagai sebuah agama terbesar di China dengan cara hidup sunnah masih mendominasi kehidupan penduduk di sana.
Sejarah umat Islam di China turut membantu perkembangan agama Allah itu di Asia termasuk Tanah Melayu. Secara langsung mengubah perkembangan politik dan ekonomi rantau Asia sehingga kini.
Edirossa
Sep 3 2007, 04:00 AM
Muhammad Yusuf bin Ahmad (Tok Kenali )Muhammad Yusuf bin Ahmad atau lebih dikenali sebagai Tok Kenali (1868 – 1933) ialah seorang tokoh tokoh ‘Ulama’ , guru, tokoh pembangun pemikiran umat Islam di dunia sebelah sini, di awal abad ke-20. Beliau seorang alim Rabbani yang dalam hidupnya banyak berpandukan kitab Suci Al-Quran disamping Sunnah Nabi Shallallaahu alaihi wasallam. Beliau disebut juga sebagai seorang yang memilih hidup sederhana . dan juga seorang wali keramat dan mendapat ilham daripada Allah dan ilmu laduni (Ilmu Kurniaan Ilahi tanpa belajar).
Tok Kenali - Tokoh Besar Ulama Kelantan
Bagi seseorang yang mengkaji sejarah tanah air, lebih-lebih lagi menyelidiki “sejarah kelantan’ maka dia secara langsung atau tidak, akan menemui nama Tuk kenali’. Mengikut perkembangan sejarah, Tuk Kenali adalah merupakan seorang pembangun fikiran umat Islam di dunia sebelah sini menerusi pengajaran kepada murid-murid yang bertebar pada beberapa tempat di Alam Melayu, juga melalui fikiran-fikirannya yang membina menerusi majalah “Pengasuh”, keluaran Majlis Agama Islam dan Adat istiadat Melayu kelantan dan majalah “Al-Hikmah” sebuah majalah pengatahuan yang antara lain yang sedang bersemarak di masa ini.
Sesuatu perkara yang menarik perhatian kita ialah perjuangan dan penghidupan Tuk kenali adalah agak nyata. Beliau banyak menerima pengaruh dari ajaran-ajaran Failasuf islam Al-Iman Ghazali , (1058-1111M) seorang pembangun dan pembina fikiran umat Islam yang banyak membuat pembaharuan dalam acara mengupas soal-soal agama berdasarkan ajaran-ajaran kitab suci Al-Quran dan hadis di samping memperoleh ilmu ladunni di zaman silam. Melihat kepada perjuangannya, kita mendapati cara perjuangannya hampir-hampir sama dengan perjuangan Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905M), seorang pembawa pembaharuan pemikiran umat Islam yang meletakkan kitab Al-Quran sebagai asas perjuangannya dan perjuangannya adalah secara melyeluruh menyedar dan membina masyarakat dalam aspek hidup, agama, ilmu pengatahuan, politik, sosial ekonomi dan lain-lain yang secara kebetulan di masa Tuk kenali berada di kota Suci Makkah dan semasa beliau melawat ke Mesir 1322H (1904M) merupakan akhir zaman Syaikh itu.
Untuk selanjutnya marilah sama-sama kita mengikuti garis-garis perjuangan beliau dan cebisan riwayat hidup beliau sebagai berikut:
Kelahiran Tok Kenali
Beliau dilahirkan di Kampung Kenali, Kubang Kerian, Kota Bharu, Kelantan kira-kira pada tahun 1287H (1870M*) dengan nama Muhammad Yusof (pernah disebut sebagai Awang sahaja) iaitu di penghujung pemerintahan Sultan Muhammad II (1837-1886M). Bapanya seorang petani bernama Ahmad, manakala Fatimah, ibunya adalah seorang insan yang sopan dan bercita-cita tinggi dan murni.
Latar Belakangnya
Muhammad Yusoff dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, dan ini adalah membentukkan sifat peribadinya yang tidak menonjol. Bapanya seorang petani manakala ibunya bagaimana kebiasaan orang-orang di kampungnya adalah bekerja menolong pekerjaan suaminya.
Sebelum melanjutkan pelajaran ke luar negeri, Muhammad Yusof telah mula belajar pada datuknya sendiri Encik Salleh (Tok Leh) iaitu dalam pelajaran membaca kitab suci Al-Quran dan pelajaran tulis-menulis. Sesudah itu dia menyambungkan pelajaran ke masjid Besar Al-Muhammadi, Kota Bharu dan tempat-tempat pengajian lain di sekitar kota Bharu dalam pelajaran Bahasa Arab, nahu, saraf juga pengetahuan agama.
Isterinya ialah Cik Ruqayyah Mahmud. Beliau dikurniakan empat orang anak, iaitu Ahmad, Muhd Shaalih, Mahmud dan Abdullah Zawaawi.
Perlu disebutkan bahawa datuknya adalah seorang yang lebai, warak, mempunyai sedikit sebanyak ilmu-ilmu agama untuk panduan hidup, seorang yang mempunyai kesedaran, mematuhi peraturan-peraturan agama dan gemar berbuat ibadat semata-mata mencari keredaan Allah.
Bapanya meninggal dunia sewaktu umurnya baru meningkat 5 tahun. Beliau dilantik di bawah pengawasaan datuknya menyebabkan pengaruh bapanya kurang terasa dalam corak hidupnya. Di samping itu, nenek perempuan tirinya, Tuk Mek ngah turut memberikan pendidikan yang baik kepadanya termasuk pengawasan terhadap punca-punca makanan yang hendak disajikan. Menurutnya pengaruh-pengaruh makanan-makanan yang haram adalah membawa akibat yang buruk dalam penghidupan di dunia ini, lebih-lebih lagi di akhirat.
Kebolehan Luar Biasa
Kecenderungan Tuk Kenali dalam pelajaran adalah nyata sejak kecil lagi. Perasaan ingin maju dan ingin tahu adalah meluap-luap di dadanya. Dalam tempoh yang pendek dia telah dapat mengkhatami pembacaan kitab suci Al-quran dan dapat menulis dengan baik. Kerana itu tidaklah hairan mengapa dia telah dipilih oleh penggawa daerahnya untuk menjadi seorang kerani sebagai pembantunya dalam mengira dan menguruskan hasil-hasil tanaman dan kebun di kawasan tersebut sewaktu dia berusia antara tujuh ke lapan tahun.
Menyambung Pelajaran Ke Kota Bahru
Sewaktu berusia antara sembilan ke sepuluh tahun, Muhammad Yusof telah mengambil langkah bagi menyambung pelajarannya ke Kota Bharu. Tempat pertama yang ditujunya ialah ke masjid Al-Muhammadi, di mana terdapat beberapa orang guru agama dan beratus-beratus orang murid dari seluruh ceruk Negeri Kelantan menyembung pelajaran mereka ke sini. Sekitar masjid besar ini, dewasa ini penuh dengan pondok-pondok (asrama) penuntut.
Dalam masa menuntut di sini beliau berguru kepada Tuan Haji Wan Ismail (ayahnda Datuk Perdana Menteri Paduka Raja, Kelantan, Dato' Nik Mahmud) Beliau belajar bersama-sama Encik Idris yang kemudiannya menjadi “Mufti Kerajaan Kelantan”’ Selain iatu beliau berguru kepada Tuan Guru Hj. Ibrahim, penambang (Mufti kerajaan Kelantan) Syaikh Muhammad Ali bin Ab. Rahman (Wan Ali) Kutan dan kepada Tuan Guru Padang (Hj. Ahmad) Kota Bharu.
Melanjutkan Pelajaran Ke Tanah Suci Mekah
Sebagai seorang pelajar, Tok Kenali telah menaruh cita-cita yang kuat untuk melanjutkan pelajaran ke Mekah. Pada tahun 1887M (1305H). Menjelang umurnya kira-kira 18 tahun, Tok Kenali menjejak Tanah Suci Mekah untuk meninggikan pelajaran agamanya di samping menunaikan rukun islam yang kelima, ibadat Haji iaitu sesudah enam bulan mengalami kesusahan di Lautan Hindi disebabkan kerosakan kapal yang ditumpanginya.
Penghidupan Tok Kenali di Tanah Suci Mekah
Pemergian Tok Kenali ke Tanah Suci Melah adalah semata-mata atas bantuan daripada sahabat dan kenalan beliau di Kota Bharu yang berjumlah kira-kira RM50.00 dan sumbangan daripada ibunya cuma berjumlah RM22.00. Kesukaran yang di hadapi Tok Kenali di rantau orang tidak dapat digambarkan lagi. Hampir tujuh bulan beliau di sana tanpa tempat kediaman yang tetap. Semasa itu beliau menginap di serambi Masjidil Haram, Mekah, dan hanya dapat tidur serta berehat-rehat bila menjelang sesuku malam disebabkan Masjidil Haram merupakan pusat ibadat tawaf, sa’i, sembayang dan sebagainya.
Pakaiannya sederhana, begitu juga tentang pemilihan makanannya untuk menampung kekosongan di waktu pagi dan petang. Memandangkan kedudukan ini, beliau pernah ditugaskan menjadi tukang masak sementara dalam sesuatu perkelahan atau antara kawan-kawannya di wadi-wadi (lembahan) dan di pinggir-pinggir bukit-bukit nan tandus.
Perkembangan Pelajaran
Sebelum beliau keluar negeri dahulu, beliau telahpun mempunyai pengetahuan-pengetahuan asas dalam pelajaran-pelajaran yang telah dipelajari ketika itu . Beliau telah pun menguasai pengetahuan bahasa arab (Nahu dan Sarafnya) bagi mengikuti setiap segi jurusan pengetahuan agama di masa itu. Perkara-perkara ini adalah melayakkan Tuk Kenali untuk menerima dan mengikuti pelajaran-pelajarannya yang sedang berkembang dewasa ini di Tanah Suci Makkah.
Tuk Kenali terpaksa belajar mendengar sahaja tanpa kitab. Di samping itu juga beliau terpaksa membaca di kedai-kedai kitab dengan meminta izin tuan-tuan kedai itu untuk membaca dan menatap kitab-kitab jualannya dalam tempoh yang agak lama dengan cara yang cermat sekali. Kitab-kitab Wakaf yang ada dalam simpanan di Masjid Al-Haram juga dipergunakan untuk memahami kuliah-kuliah gurunya . Selain itu, Tuk Kenali terpaksa pula meminjam kitab-kitab gurunya sendiri. Kerana kemiskinanlah agaknya , membawa Tuk Kenali mengharungi lautan ilmu dan kemajuan melebihi kawan-kawannya yang lain.
Jelaslah bahawa Tuk Kenali banyak sekali membaca dan menatap kkitab-kitab buah tangan ulamak dan para failasuf islam yang telah dan sedang tersebar di dunia islam dewasa itu. Beliau juga mempunyai sifat suka bertanya dan mengkaji pelajarannya sebelum pelajaran itu di ajar oleh gurunya dengan mengadakan perbandingan-perbandingan sendiri dan pergalaman sendiri. Banyak membaca dan banyak membuat kajian adalah merupakan faktor-faktor besar dalam perkembangan ilmu seseorang pelajar atau siswa.
Antara guru-guru di Masjid yang namanya banyak disebut-sebut oleh Tuk Kenali ialah Tuan Guru Wan Ahmad atau nama penuhnya Wan Ahmad bin Muhammad Zain yang terkenal sebagai seorang pengarang sesudah nama Syaikh Daud Patani. Kepada Guru inilah Tuk Kenali mendapat bimbingan dan bantuan baik dari segi ilmu pengetahuan mahupun penghidupan. Disamping itu, terdapat beberapa orang guru dari patani dan indonesia yang mungkin mendapat perhatian Tuk kenali disamping guru-gurunya yang terdiri daripada orang-orang Arab.
Lawatan Tok Kenali ke Mesir
Dalam tahun 1904M, Tok Kenali telah melawat Mesir bersama Tuan Guru Wan Ahmad, Encik Nik Mahmud (yang kemudiannya bergelar Datuk Perdana Menteri Paduka Raja Kelantan) dan Hj. Ismail Patani. Garis-garis kasar lawatan ini adalah menunjukkan bahawa lawatan beliau ke Mesir adalah berbentuk lawatan sambil belajar terutama kerana mengkaji hal-hal perkembangan pelajaran yang berhubung dengan Agama Islam di Universiti Al-Azhar dan lain-lain tempat pengajian di sekitar kota Kahirah.
Pulang ke Tanah Air
Pada tahun 1909M (1327 H) iaitu sesudah menjalani pengajian selama 22 tahun di tanah suci mekah, maka Tuk kenali pun pulang ke tanah air iaitu ke Kelantan seterusnya pada tahun 1911M (1329M) beliau mula membuka pondok Kenali, sebuah tempat pengajian yang kemudiannya menjadi pusat pengajian agama di semenanjung ini. Dua tahun kemudian , beliau menjadi guru di masjid Besar Al-Muhammadi, kota Bharu yang waktu itu menjadi pusat pengetahuan agama terbesar di kelantan, malahan juga dikenali di Semenanjung sebagai Serambi Mekkah.
Murid-murid dari seluruh kelantan telah membanjiri pondok-pondok yang terletak berderet-deret di sepanjang jalan di kawasan masjid dan di kawasan Kubang Pasu. Selain itu, bukan sedikit murid-murid dan pelajar-pelajar dari luar negeri datang yang menceduk pengetahuan agama daripada guru-guru yang terkenal . Selain daripada Tuk kenali, mereka belajar pada Tuan Guru Hj. Nik Abdullah, Tuan Guru Hj.Idris (yang kemudiannya berjawatan “Mufti kelantan) dan lain-lain.
Memandang hak-hak kemasyarakatan di kampung sendiri perlu pula dititik beratkan, maka Tuk kenali terpaksa pula menetap di kampungnya sendiri iaitu sesudah lima tahun mengajar di Masjid Besar Al-Muhammadi. Dewasa itu pondok kenali kembali bersemarak sehingga namanya termasyur ke serata ceruk rantau Semenanjung ini, malah sampai ke Indonesia (terutama Sumatera) kemboja, Patani dan lain-lain. Jumlah pelajar-pelajar yang menetap di asrama (Pondok) meningkat 400 orang suatu jumlah yang besar dalam pertumbuhan pengajian Islam dikala itu.
Dalam menjalankan tugasnya, Tuk kenali menetapkan beberapa buah kitab pelajaran (teks) dalam berbagai-bagai jurusan, iautu pengajian Bahasa dan pengetahuan-pengetahuan Agama islam dalam berbagai-bagai peringkat pelajaran. Beliau sendiri banyak mengambil peranan dalam mengembangkan pengetahuan Bahasa Arab, manakala pelajaran-pelajaran lain diperkembangkannya selaras dengan kehendak-kehendak masyarakat dewasa itu. Murid-murid beliau yang telah matang dalam pengajiannya dilantiknya menjadi kepala telaah (guru Kumpulan) disamping itu, kitab-kitab agama dalam tulisan jawi diajarkan juga kepada pelajar-pelajar dan orang-orang kampung. Menerusi pengajian-penjagian kepada orang-orang dewasa inilah lahirnya cerita-cerita tauladan yang kadang-kadang mengggelikan, sebagai suatu cara untuk menarik perhatian murid-murid kepada pelajaran yang sedang ditumpukan. Suatu hal yang agak luar biasa bahawa dalam masa mengajar itu, Tuk kenali mengajar tanpa kitab, di hadapannya tiada kitab-kitab pelajaran sedangkan muridnya mempelajarinya dengan menggunakan kitab. Ililah menunjukkan bahawa Tuk kenali adalah seorang yang mempunyai daya ingatan yang kuat.
Kemasyuhuran Tuk kenali telah menarik ramai pelajar Islam dari serata ceruk semenanjung. Antara mereka ini ada yang telahpun mempunyai kematangan dalam pengetahuan Agama islam datang untuk mengenal wajah dan mengikuti sebahagian pelajaran yang diajar oleh Tuk Kenali. Antara mereka ada yang datang kira-kira seminggu, sebulan, tiga atau empat tahun seterusnya. Ini bergantung kepada keadaan masing-masing, sebab di antara mereka ada yang sudahpun bekerja sebagai guru agama. Qadi atau sebagainya. Untuk meminta Tuk Kenali membaca kitab, cukuplah dengan meminta izin beliau di mana si peminatnya sendiri yang akan disuruh membacanya di hadapan kumpulan pelajar-pelajar. Sesudah itu Tuk kenali memainkan peranan memberi kefahaman dan mensyarahkan isi kitab itu, juga memberi peluang-peluang bertanya.
Menghembus Nafas Terakhir
Setelah kira-kira 65 tahun menyedut udara dunia ini, maka Tuk kenali pun dipanggil tuhan, kekasihnya iaitu pada Ahad 19 November 1933M, berikutan suatu penyakit di kakinya.
Majalah “Pengasuh” keluaran 11 disember 1933M. Mencalitkan berita tentang kematian Tuk kenali antara lain berbunyi;
“ kembali ke Darul-Baqa 1352 yang meredupkan alam Kelantan dendan dukacita. Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun:.
“Hari wafatnya; dilawati oleh tidak kurang daripada 2,500 orang dan disembahyang jenazahnya lebih daripada 1,000 orang dan disembahyang jenazahnya lebih seribu orang yang khalis liwajhillaahi Ta’ala.
Tuk Kenali dikebumikan di perkuburan yang sekarang terkenal dengan nama Kubur Tuk Kenali’ kilometer 5 jalan Pasir Puteh, Kota Bharu, tidak jauh dari istana negeri. Kuburnya selalu dizarahi oleh Duli yang maha Mulia Al-marhum Sultan Ibrahim (nenekanda kepada Duli Yang mulia Sultan Ismail Putera Sekarang) apa lagi oleh ramai terutamnya bekas murid-murid beliau yang ada berselerak di negeri ini, juga oleh pelawat-pelawat.
Dari desa pergi ke kota mencari sahabat nan berbudi kematiannya tanpa mewarisi harta tapi meninggalkan ilmu dana bakti.
Jawatan-jawatan Tok Kenali
Tuk kenali ada di antara orang-orang yang memikul tugas dan jawatan terpenting dalam perkembangan pengajian islam dan pertubuhan kebudayaan timur yang berteraskan islam di negeri Kelantan berdasarkan jawatan-jawatan yang pernah disandangnya sebagai berikut:
1. Ahli Majlis Ulama Islam Kelantan (7 Disember 1951- 19 November 1933).
2. Ketua Pelajaran Agama (Pengarah Bahagian Ilmu Agama. Bertanggungjawab memimpin Madrasah Muhammadiyyah dan penerbitan buku teks.
3. Ketua Pengarang pertama majalah Pengasuh (lidah rasmi Majlis Agama Islam Kelantan dikeluarkan setiap Isnin, dijual 10 sen senaskah).
4. Anggota Majlis Agama Islam Kelantan dan Adat Istiadat Melayu Kelantan.
5. Pengasas Jamiyyah al-Ashriyyah - kumpulan ilmiah membincangkan isu agama dan semasa.
6. Penterjemah kitab dari Bahasa Arab ke Bahasa Melayu.
7. Guru agama di Masjid Besar al-Muhammadi, Kota Bharu.
8. Penasihat agama kepada Datuk Perdana Kelantan (Menteri Besar).
Kegiatan-kegiatan dan Jasa Tok Kenali
Selain daripada amengajar, Tuk Kenali juga bergiat dalam lapangan-lapangan yang berhubung dengan kemajuan agala dana kebudayaan islam. Datu Paduka menteri Paduka Raja (Tuan haji mahmud bin ismail) dengan nasihat beliau telah dapat membentuk Majis Agama Islam dan Adat istiadat melayu kelantan pada 24 Disember 1915M (17 Safar 1334H). Ini adalah satu jasa yang dapat dilihat buktinya sampai sekarang.
Semasa hendak mengeluarkan majalah pengasuh 1918M iaitu warta majlis Agama islam dan Adat Istiadat Melayu kelantan. Tuk kenali telah dipilih untuk menjadi ketua pengarang kehormat . pada mulanya majalah ini dikeluarkan berupa lembaran akhbar yang mempunyai bidang besar, diterbitkan setia hari Isnin, senaskah berharga 10 sen. Penerbitan majalah ini juga adalah daripada saranan dan dorongan-dorongan beliau.
Selain itu beliau telah ditugaskan oleh pihak majlis Agama Islam kelantan untuk menterjemahkan Tafsir Al-Khazin yang bertajuk “Lubaab at-Ta,wiil fil Ma’aani At-Tanzil” ke dalam bahasa melayu. Tugas berat ini telah dijalankan oleh beliau dan sebahagian daripada tafsir Al-khazin telahpun siap diterjemahkan. Sayangnya, naskah ini tidak dapat dikesan sehingga sekarang.
Juga tidak dapat dilupakan bahawa majalah Al-Hikmah (lahir 1 julai 1923M) di mana ketua Pengarang dan penerbitnya yang berbahagia tuan hj. Ahmad bin Ismail (Datuk Lela negara) adalah kerap menerima nasihat-nasihat dan fikiran-fikiran yang berguna daripada Tuk kenali. Majalah pengetahuan ini diterbitkan tiga kali sebulan . pejabat penerbitan ini selalu didatangi oleh Tuk kenali danaa merupakan salah satu tempat beliau membaca surat-surat khabar dan majalah dewasa itu.
Tuk kenali adalah seorang pencinta ilmu pengetahuan. Hal ini ternyata sekali dalam sejarah hidupnya . Beliau juga pernah menyimopan sebuah buku cetera Raja Muda . salah sebuah buku sejarah kelantan yang penting. Buku ini kemudiannya telah diberikan kepada pengaranag buku Hikayat Seri kelantan.
- dalam kegiatan kemasyarakatan pula , beliau telah melancarkan suatu getakan perhimpunan umat islam yang di namakan ‘Jam ,iyyatul Asriyyah] ‘[Perhimpunan semasa] yang kerap membicangkan perkara-perkara hangat dalam masyarakat [Politik] , pebincangan=perbincangan ilmu dan perhimpunan kerana ibadat. Sebagai megekal gerakan tersebut ,maka satu bangunan telah didirikan di tebgah-tengah ibu kota dengan nama yang sama, terletak di Jalan Tengku Petra Semarak , Kota Bharu.
Perkembangan Pengaruh
Melihatkan jawatan- jawatan pentig yang telah disandang oleh Tuk Kenali dalam masa hayatnya,juga memandangkepada kegiatan dan jasa -jasa beliau yang cermelang dalam perkambangan pengajian ugama dan kebudayaan islam di Negeri Kelantan khasnya dan Alam Melayu amnya.
Maka sudah sewajanyalah pengaruh beliau segera berkembang ke segenap pelusuk tanah air dalam masa yang singkat sekali. Perkembangan-perkembangan ini adalah agak memuncak di penghujung pemerintahan Sultan Muhammad IV (1900-1920M) dan di awal pemerintahan sultan Ismail (1920-1944M) . kedua-dua baginda sultan ini adalah di antara sultan-sultan yang banyak mencipta kemajuan negeri dalam serba lapangan, lebih-lebih lagi di lapangan kemajuan agama islam. Ini adalah memberi peluang yang besar kepada perkembangan pengaruh Tuk kenali yang sedang berkembang ke seluruh tanah air, apa lagi melihat kedudukan Tuk Kenali yang sedang berkembang ke seluruh tanah air, apa lagi mellihatkan eratnya perhubungan Tuk Kenali dengan anak tuan gurunya dahulu iaitu dengan hj. Nik mahmud bin ismail (Datuk Perdana Menteri Paduka Raja) yang juga memegang peranan terpenting dalam pentadbiran negeri kelantan dewasa itu.
Tidak keterlaluan jika dikatakan bahawa tersebarnya pengatahuan Bahasa Arab dan pengetahuan-pengetahuan agama melalui pondok dan sekolah-sekolah pondok ke seluruh Tanah melayu ini antara lain ialah daripada jasa Tuk kenali yang menyusun kata-kata Tassrif yang kemudiannya diperkanalkan oleh murid-murid nya terutama tuan guru hj. Ali Shalaahuddin Pulau Pisang dan syaikh uthman jalaluluddin, seberang prai dalam buku Tatriful Arf- itu, syaikh Uthman menulis;
“Sesungguhnya hamba pungut akan dia daaripada beberapa mutiasa tasrif yang amat elok bagi guru hamba yang alim lagi yang amat ilmunya lagi yang menghimpunkan bagi beberapa fan ilmu yang bangsa kepada agama iaitu muhammad yusof yang masyhur akan gelarannya di seluruh tanah melayu dengan Tuk kenali di negeri kelantan.
Perkembangan Pondok Sekolah Agama dan Sekolah Melayu
Sistem persekolahan yang diutaamakan oleh Tuk kenali dalam masa hayatnya ialah sistem pondok, Sistem pondok yang menggunakan bahan-bahan pelajaran yang berdasarkan kitab dengan mengkelas-kelaskan kitab kepada pengajian peringkat rendah, menengah atas dana tinggi yang dipelajari secara berkelompok (berhalqah) di masjid atau madrasah (balaisah) . Manakala pelajar-pelajar yang tinggal di pondok-pondok (Asrama) di bawah bimbingan Tuk kenali, telah melahirkan beberapa orang tokoh ulamak. Tuan-tuan guru (tok guru_, pendakwah, pengarang yang terkenal yang datang dari beberapa tempat di seluruh tanah Melayu , sumatera, kemboja dan lain-lain.
Guru-guru pondok lepasan kenali inilah kemudiannya tersebar keseluruhan rantau ini di mana mereka menghidupkan pula sistem pondok.
Adalah agak luar biasa, di samping menggalakkan sistem pondok, Tuk kenali sebagai pencinta ilmu, tidaaklah menghalang wujudnya sistem persekolahan.
Tertubuhnya Agama islam dan adat istiadat melayu kelantan padaa tahun 1915M yang sudahpun mempunyai rancangana mendidikan sekolah-sekolah Agama islam di kelantan , adalah juga dengan mendapat nasihat daripada Tuk kenali. Maka pada 5 Ogos 1917M ditubuhkan sebuah Sekolah Agama berbahasa pengantar melayu yang menitik beratkan Bahasa Arab, dengan nama “Al-Madrasah Al-Muhammadiyyah Al-Kilantaniyyah”. Sekolah ini juga mengadakan pelajaran bahasa inggeris di sebelah petangnya.
Jadi, Tuk Kenali sebagai Ketua Pelajaran Agama Islam di Kelantan adalah memainkan peranan dalam pembukaan dan perlaksaan sekolah ini. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama “ Sekolah Agama Majlis”.
Kemudian pada tahun 1937 bila lahirnya sekolah aliran bahasa arab di Majlis dengan nama “Majlis Al-Muhammadiyyah Al-Arabiyyah” barulah Sekolah Agama Majlis tadi bertukar nama dengan “Sekolah Melayu Majlis”, manakala sekolah yang baru tadi disebut “Sekolah Arab Majlis”. Akhir sekolah aliran melayu ini diserapkan secara beransur-ansur ke dalam Bahasa Arab sesudah dia dipindahkan ke bangunan Maahad Al-Muhammadi sekarang ( sebagai ekoran daripada sekolah aliran arab tadi )
Keberkatan usaha beliau ini membawa Syaikh Uthman Jalaludin Al-Kilatani membuka sekolah arab Manaabi’ Ai-’Uluum, Bukit mertajam pada tahun 1934 (1353). Demikian juga Tuan Guru Hj. Ali Salaahudin membuka madrasah Al-Falaah di Pulau Pinang di mana kedua-dua madrasah ini lebih berbentuk pondok (sistem pondok).
Di samping itu beliau juga adalah dianggap sebagai pendorong pembukaan sebahagian sekolah-sekolah Melayu di Kelantan ini seperti Sekolah Melayu Kubang Kerian 1920M, Sekolah Melayu Mentuan, dan lain-lain. Beliau tidaklah memusuhi pembukaan sekolah-sekolah seperti ini selagi pelajaran yang diajar tidak menyelaweng daripada ajaran islam yang suci.
Tok Kenali Melahirkan Angkatan Pengarang
Di antara murid-murid Tuk kenali terdapat suatu golongan atau angkatan pengarang buku-buku agama yang mempunyai kedudukan yang baik di kalangan masyarakat Islam di dunia sebelah sini. Mereka ialah”
1. Dr. Syaikh Muhammad idris Al-Marbawi, seorang pujangga Islam yang banyak memberio sumbangan dalam perkembangan ajaran-ajaran Isdlam dengan kamusnya “Kamus Al- Marbawi” (Arab-Melayu) dan kitab-kitab karyanya yang banyak di lapangan Agama Islam.
2. Saahib Al-Fadhilah Datuk Hj. Ahmad mahir, Mufti Kerajaan kelantan yang juga seorang pengarang.
3. Syaikh uthman Jalaluddin Al-Kilantani, seorang pengarang buku-buku agama dan seorang guru.
4. Tuan guru Hj. Yaakub bin Ismail. Legor, Selatan Thailand.
5. Saahib Al-Fadhilah, Datuk Hj. Ismail bin Yusoff, Mufti Kerajaan kelantan.
6. Asy-Syaikh Muhammad Salih Tuk kenali, Makkah Al-Mukarramah Saudi Arabia.
7. Yang Berbahagia Hj. Ahmad bin Ismail (Datuk Lela Negara) pengarang majalah Al-Hikmah***(1923M) yang banyak mendidik bakat-bakat penulis dan pengarang-pengarang sebelum perang.
8. Tuan guru Hj. Ali Salahuddin, seorang guru agama terkenal yang juga menjadi seorang pengarang.
9. Tuan Guru Hj. Abdullah Tahir, seorang guru agama terkenal yang juga menjadi seorang pengarang.
10. Tuan Guru Hj. Yaakub bin Hj. Ahmad , lorong Gajah mati, kota Bharu adalah seorang guru agama dan seorang pengarang.
11. Yang berbahagia Datuk Hj. Hassan Yunus Al-Azhari, Bekas Menteri Besar Johor , ahli politikyang juga menjadi seorang pengarang.
Selain murid-murid beliau yang berbakat, terdapat pula cahaya-cahaya mata Tuk kenali yang turut memperkembangkan pengajaran ayahndanya, mereka ialah
1. Al-Marhum Hj. Ahmad Tuk Kenali, guru agama di pondok kenali dan guru yang mengajar pada beberapa buah surau dalam beberapa jajahan, daerah Negeri Kelantan.
2. Hj. Mahmud, wakil Syaikh haji , makkah.
3. Hj. Mohd Salleh Tuk Kenali, guru agama di kota suci Makkah dan seorang pengarang buku-buku dan risalah-risalah agama. Beliau mendirikan persatuan “Darul-Islah” bertempat di Maulid nabi, Suatu persatuan astu perhimpunan kaum Muslimin dari Tanah melayu, patani, kemboja, Indonesia dan lain-lain yang datang ke Tanah Suci makkah terutamanya di musim-musim haji, di mana Tuk kenali diperkenal dan jasanya diperkenangkan. Suatu persatuan lagi didirikan oleh beliau dengan nama “Darul-Quran (Persatuan Al-quran) bertempat di Misfalah, Makkah.
4. Hj. Abdullah Zawawi, lulusan kuliah Syariah, makkah. Berkecimpung di bidang pendidikan dan menjadi pengetua sekolah-sekolah menengah di Kerajaan Arab Saudi dan Nigeria.
Peribadi dan Sifat-sifat Utama
Tuk kenali bukan hanya terkenal sebagai salah seorang ulamak besar sahaja, malah terkenal pula sebagai tokoh yang mempunyai sifat-sifat utama yang berguna untuk menjadi teladan kepada masyarakat islam. Antara sifat-sifat utama yang berguna untuk menjadi teladan kepada masyarakatt islam. Antara si fat-sifat tersebut ialah:
a) Sangat menghormati dan memuliai ibu
Pemurah, suka menderma terutamanya kepada fakir miskin dan anak-anak.
C) Seorang yang sabar, tidak lekas marah.
D) Suka berjalan kaki sahaja sebagai suatu langkah latihan melenyapkan perasaan sombong, bongkak dan megah.
E) mengamalkan hidup berdikari. Beliau membeli sendiri di pasar.
F) suka membaca dan menatap, baik buku-buku atau majalah-majalah di mana-mana sahaja beliau berada.
G) Suka beriktikaf di masjid, manakala tidur kerap berbantalkan lengan.
H) pakaian beliau amat sederhana.
Sebenarnya Tuk kenali ialah seorang “wali” atau seorang sufi disebabkan berlaku perkara luar biasa pada dirinya dan tidak inginkan kemegahan dan kesenangan hidup yang berlebihan. Tambahan pula memandang makhluk-makhluk lain dengan pandangan yang penuh bertimbang rasa dan kasihan belas.
Tok Kenali dan Hal-hal Kemasyarakatan
Sewaktu melancarkan pengajaran-pengajarannya, Tuk kenali didapati agak gemar sekali membincangkan hal-hal politik tanah air. Semasa hayatnya Tuk kenali tidak memisahkan politik daripada bidang pelajaran, malah beliau tidak mengenal pemisahan antara. Agama islam yang difahami dengan politik. Ini adalah merupakan suatu cara menyesuaikan pengajarannya dengan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dengan alam keliling. Kerana itu dalam pengajarannya beliau mengemukakan beberapa anjuran melalui cerita-cerita tauladan yang berkesan antaranya: ikut bapamu, tetapi takutkan Tuhan kuasailah pengetahuan agama dan politik ilmu itu apa yang terguris dalam hati pengetahuan manusia terbatas. Mengaku salah jika bersalah. Sunnah Tuhan sudahlah wajar biar mati adat, jangan mati syarak. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Bertanya pada yang tahu. Penjahat itu mencukupi dengan kejahatannya. Doa adalah senjata orang mukmin. (Cerpen-cerpen Tuk Kenali” oleh AQHAS - halaman 76), Terbitan baru dengan tajuk cerpen-cerpen warisan Tuk Kenali).
Tok Kenali dan Puisi
Dalam masa menyampaikan pengajarannya, disamapaing mengutarakan ayat-ayat suci Al-Quran dan hadis-hadis nabi Muhammad S.A.W , maka terhamburlah dari mulut beliau beberapa rangkap syair dan kata-kata hikmat bak mutiara gugur dari untainya.
Di sini dibentangkan sebuah syair yang pernah dikeluarkan oleh Tuk Kenali iaitu:
Bahaya Merokok:
Perokok itu terhina, dungu, membazir dan keji, kerendahan bagi penagihnya, pasti, Darinya menguap kentut yang busuk dan diluati. Kepulan asap dari bibirnya mengasapi muka dana peribadi.
Antara kata-kata hikmatnya:
“orang yang mulia itu ialah orang yang memuliakan ibu” “mengkaji sendiri adalah punca kemajuan dalam pembelajaran”,
Pengaruh Imam Al-Ghazali
Melihatkan peribadi dana sikap hidupnya, nyatakan bahawa Tuk kenali adalah terpengaruh oleh ajaran-ajaran Failasuf islam Iman Ghazali, seorang alhi Tasauf yang sampai kepada darjat “hakikat” mengenal diri dan Tuhannya, ingin mencapai kebahagiaan dan kesucian yang setinggi-tingginya dalam penghidupan yang singkat ini, kemewahan hidup yang terhad dan sifat tidak membesar diri adalah nyata sekali dalam penghidupannya.
Unsur-unsur ini adalah terkandung dalam adoa yang dikumpul dan digubah oleh Iman Al-Ghazali dalam kitabnya “Ayyuhai Walad” (Wahai Anak) yang menjadi amalan Tuk Kenali dan murid-murid beliau sehingga sesudah itu dikenal pula dengan “Doa Tuk Kenali” (Doa mengiringi sembahyang Lima Waktu) yang antara lain bererti:
wahai tuhan, sesungguhnya saya pohon pada Engkau pemberiannya sempurna , kesihatan yang berkekalan, rahmat yang menyeluruh dan kesegaran yang berguna. Saya pohonkan daripada Engkau puncak kesenangan hidup, puncak kebahagiaan umur, kesempurnaan kebaikan, juga keluasan pemberian dan kesopanan yang lebih berfaedah.”
Tuhanku, Tolonglah kami dan jangan pula kami ditindas. Tuhanku, Bahagiakanlah kesudahan hidup kami, buktikanlah hasrat kami dengan penambahan amalan. Susilah kesegaran dikala berpagi-pagi dan berpetang-petang.
Wahai Tuhanku, tumpahkanlah rahmat engkau di tempat kembali kami dan kesudahan kami dan tuangkanlah dulang kemaafan ke atas dosa-dosa kami dan kurniakanlah pembaikan kepada keaifan-keaifan kami dan berikanlah kegiatan kami pada agama engkau. Kepada Engkau kami berserah dan kepada engkau kami menggantung harapan”.
Meninjau kepada beberapa segi yang telah dikemukakan di atas, tidaklah keterlaluan jika dikatakan bahawa Tuk kenali adalah salah seorang tokoh ulama terkenal dan pembangun fikiran Umat Islam di dunia sebelah juga tidaklah salah jika dikatakan bahawa selagi terbitnya majalah pengasuh ke alam persuratan melayu, maka selama itulah Tuk Kenali dikenangan, seterusnya tidaklah merupakan suatu penonjolan jika dikatakan bahawa selagi wujudnya majlis Agama islam dan Adat istiadat melayu kelantan” maka selama itulah ?Tuk Kenali masih disebut dan dikenali.
Edirossa
Sep 9 2007, 07:27 AM
Catatan kehidupan Al-BiruniOleh: DR. SYED ALI TAWFIK AL-ATTAS
PEMISAHAN ilmu kepada usaha-usaha yang menggunakan kaedah ilmiah (scientific method) dan yang tidak menggunakannya adalah fenomena moden. Ia muncul di Barat dengan kemunculan sains tabii pada kurun ke-16. Dengan kejayaan para ilmuwan membebaskan diri dari kongkongan gereja seterusnya membina suatu aliran yang utuh, “sains kemasyarakatan” menurut langkah yang sama dan di bawah kepimpinan Auguste Comte mereka membebaskan diri dari kongkongan yang sama seterusnya meletakkan ilmu berkenaan manusia di bawah bidang kemanusiaan (humanities).
Sains kemasyarakatan memisahkan dirinya dari kemanusiaan dan menggelarkan dirinya “sains” kerana ia mengguna pakai kaedah ilmiah, dan memastikan ia juga setaraf dengan sains tabii dalam soal taraf kesahihannya. Pada zaman yang dikuasai oleh faham romantik, ilmu kemanusiaan hanyalah merangkumi sisa-sisa dari apa yang dinamakan kehidupan manusia, yakni persoalan cita dan perasaan, harapan dan keindahan. Pembahagian yang dibuat ini bagaimanapun menjadikannya sesuatu yang bersandarkan pendapat semata-mata di mana kebenaran yang subjektif mungkin boleh disuarakan, tetapi tiada kebenaran objektif yang boleh ditemui.
Punca perkembangan ini ialah kaedah ilmiah; dan ia ditakrifkan sebagai kaedah bagi mengetahui hakikat kejadian melalui pemerhatian, andaian dan uji kaji. Kaedah ini seterusnya dicirikan oleh maklumat-maklumat dan bukti-bukti yang bersifat material semata-mata yakni boleh ditanggapi oleh pancaindera dan boleh diukur kadarnya.
Para pemikir Muslim menimbulkan persoalan-persoalan besar berkenaan kesesuaian kaedah ilmiah ini apabila digunakan ke atas sains kemasyarakatan. Tidak kurang pentingnya soalan berkenaan kemampuan kaedah itu apabila diguna pakai dalam bidang sains tabii pada zaman sains-sains yang sunyi nilai dan akhlak, memandu dunia ke arah kebinasaan. Teguran-teguran seumpama ini, walau bagaimanapun, tidak menjejaskan pemerhatian, andaian, dan uji kaji berdasarkan maklumat-maklumat inderawi yang boleh diukur. Sebagaimana ia, langkah- langkah yang digunakan ini sah dan terpelihara dalam usaha memperoleh ilmu. Persoalannya, adakah kaedah ini ciptaan Eropah moden semata-mata?
Istilah ilm atau fiqh pada mulanya diguna oleh kaum Muslimin bagi merujuk kepada ilmu berkenaan wahyu, maklumat-maklumatnya, tradisinya dan makna-maknanya. Justeru makna harfinya terpelihara. Ia mula memperoleh makna istilahi apabila diguna bagi merujuk kepada syariah. Kini ia bermakna ilmu yang diperoleh secara istidlal, dengan mengkaji bukti bagi mengetahui apa yang tidak diketahui. Istidlal mengandaikan pemerhatian maklumat dan pengkajiannya menerusi uji kaji, ukuran dan pemerhatian lanjut. Perbezaan seterusnya ialah antara istiqra’ dan istinbat. Yang pertama itu seerti dengan kaedah empirikal dan induktif manakala yang kedua seerti dengan kaedah analitikal. Bukti tentang dakwaan ini boleh ditemui di mana-mana, khususnya dan karya- karya perubatan Abu Rayhan al-Biruni.
BAHAGIAN SATU
Abu Rayhan Muhammad b. Ahmad al-Biruni, pada pandangan saya mungkin merupakan salah satu lambang teragung zaman keemasan sains tamadun Islam. Beliau cendekiawan agung yang dikurniakan berbagai- bagai kepandaian dalam bidang ilmu falak (astronomy), tabii (physics), kaji alam (geography), perubatan dan bidang-bidang ilmu lain. Beliau tokoh ilmuwan terulung pada zaman pertengahan tamadun Islam, salah satu zaman yang paling hebat dalam bidang reka cipta manusia. Walaupun tidak begitu dikenali berbanding Ibn Sina, kesarjanaannya dan pemerhatiannya yang tajam terhadap perubahan-perubahan masyarakat, dan yang lebih penting pencapaian-pencapaian saintifik yang diperolehnya meletakkannya pada kedudukan yang tinggi dalam sejarah pemikiran. Sebahagian sejarawan meletakkannya salah seorang saintis tamadun Islam teragung.
Al-Biruni dilahirkan pada tahun terakhir pemerintahan Khalifah al-Muti’. Tarikh sebenar kelahirannya tidak pasti. Walau bagaimanapun, menurut sesetengah sarjana beliau dilahirkan pada hari Khamis, 3 Zulhijah 362H, di Khwarizm, berdekatan Khira. Daerah ini merupakan pusat kebudayaan antarabangsa yang tumbuh hasil penaklukan. Khwarizm pernah menjadi sebahagian dari Khilafah Umayyah, akan tetapi semasa al-Biruni dilahirkan, ianya telah lama di bawah kuasa dinasti Parsi, Samani. Di bawah pemerintahan Samani, bandar-bandar Asia Tengah seperti Bukhara dan Samarkand mencapai kemuncak sebagai pusat kebudayaan dan kekayaan. Kesusasteraan, syair, serta berbagai-bagai cabang ilmu pengetahuan dinaungi oleh golongan pemerintah, termasuk pemerintah tempatan Khwarizm. Pada awal remajanya al-Biruni dipelihara oleh bapa angkatnya Abu Nasr Mansur b. Ali b. Iraq, kerabat diraja Khwarizm yang juga ahli ilmu hisab (mathematics) dan astronomi yang terkenal. Beliau bertanggungjawab memperkenalkan kepada al-Biruni geometri Euclid dan astronomi Ptolemy.
Al-Biruni boleh dibandingkan dengan berlian yang bergemerlapan. Pada zaman awalnya, al-Biruni begitu mengagumi para ilmuwan Yunani purba. Menurut Max Meyerhorf, pada pandangan al-Biruni bangsa Yunani adalah bangsa yang paling terkehadapan dan cemerlang dalam soal keilmuwan, mereka mengangkat martabat ilmu ke tempat tertinggi dan memajukannya ke tahap yang sempurna. Walau bagaimanapun al-Biruni menentang falsafah silogistik dan rasionalistik Aristotle, menghormati pencapaian saintifik kaum Stagira, dan berbeza pendapat daripada kaum Peripatetik dalam soal-soal besar seperti makna kejadian dan soal keabadian alam. Dia juga membuat kajian mendalam terhadap al-Razi dan penulis- penulis lain yang dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Hermetik.
Peristiwa-peristiwa yang mengubah struktur siasah Asia Tengah pada penghujung kurun ke-10 memberi kesan langsung kepada kehidupan ilmiah al-Biruni apabila penguasa tempatan Khwarizm berpaling memberi ketaatan kepada Dinasti Samani. Al-Biruni meninggalkan negaranya dan membawa diri ke bandar Rayy di mana dia menemui penaungnya yang baru Shams al-Ma‘ali, pemerintah Jurjan dan Tabaristan. Raja ini merupakan pemerintah kejam dan al-Biruni tidak selesa berada di bawah naungannya, tambah pula pertukaran pemerintah menyebabkan dia kehilangan penaung yang diperlukan bagi meneruskan kajiannya. Dengan itu dia kembali ke Khwarizm pada tahun 1012. Satu lagi perubahan siasah berlaku pada 1017. Kali ini membawa kesan yang amat besar yang mengubah kehidupannya: Penaklukan Khwarizm oleh tokoh teragung pada zaman itu, Mahmud Ghaznawi.
Mahmud Ghaznawi (998-1030M) adalah hasil dan sekali gus orang yang bertanggungjawab mengubah institusi-institusi siasah di Asia Tengah, Parsi dan India Utara. Mahmud dikenali dalam sejarah India sebagai penjarah yang mabuk darah, akan tetapi terkenal sebagai penaung seni, sastera dan sains. Pada zamannya, dia mengumpulkan di istananya para ilmuwan dan penulis teragung. Ibn Sina telah pun menyelamatkan diri ke istana pemerintah Buwayh di Parsi, manakala sesetengah ilmuwan yang lain datang secara sukarela dengan harapan mendapat naungan diraja. Sesetengah yang lain pula semata-mata terperangkap apabila Mahmud mencari orang-orang yang berbakat di bandar-bandar yang ditaklukinya. Al- Biruni termasuk dalam golongan ketiga ini. Pada masa itu dia telah dikenali sebagai ahli astronomi, matematik dan falsafah dan apabila Mahmud menakluki Khwarizm, dia dibawa ke Ghazna pada tahun 1017M. Ini bukan bermakna dia ditawan; sebaliknya pemerintah mahukan kehadirannya di istananya, dan satu-satunya peluang untuk dia meneruskan kajian dan penulisannya ialah dengan menyertai rombongan Mahmud.
Tidak banyak maklumat berkenaan kehidupan al-Biruni di Ghazna manakala rujukannya kepada Mahmud adalah berlapik dan kabur. Yang jelas al-Biruni tidak sukakan Mahmud dan sentiasa dalam ketakutan terhadap apa yang Mahmud mungkin lakukan terhadapnya. Walau bagaimanapun, kegilaan Mahmud terhadap penaklukan membuka ruang kepada al-Biruni mencapai cita-cita ilmiahnya kerana ia membolehkannya menjelajah negara-negara asing. Tidak banyak maklumat yang diperoleh berkenaan kerja-kerja yang dilakukan al-Biruni semasa menyertai rombongan Mahmud pada 1030M. Pada masa inilah Mahmud hampir setiap tahun menyerang wilayah-wilayah raja-raja India, dan hampir pasti al-Biruni menyertainya, mungkin sebagai ahli astronomi atau astrologi. Al-Biruni tidak mengagung-agungkan kemenangan para penakluk, atau berpandangan bahawa tamadun yang lebih besar membawa kebaikan kepada yang lebih kecil. Dalam keadaan sedemikian al-Biruni memulakan pengkajiannya terhadap tamadun India, dan di sebalik kekangan tugas- tugasnya terhadap Mahmud dia tidak melepaskan peluang keemasan yang diperolehnya itu.
Pengukuran adalah perkara asasi dalam kaedah ilmiah al-Biruni. Baginya, pengukuran jarak bukan sahaja penting dari segi kegunaan: Ia adalah cara yang penting bagi menyatakan kebenaran. Ilmu yang diperoleh melalui geometri selaras dengan hakikat alam itu sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh keyakinannya bahawa bilangan daun sesuatu bunga mengikut undang-undang geometri. Dia juga mengkaji bidang graviti khusus (specific gravity). Berikut ialah penjelasan kaedah yang beliau gunakan:
Pertama dia menimbang jisim itu dalam udara, kemudian menimbangnya dalam air dengan meletakkannya dalam bekas kon yang ditebuk lubang padanya pada ketinggian tertentu. Seterusnya dia menimbang air yang diganti oleh jisim tadi dan dari berat air itu dia mengetahui berat jisim. Kemudian dengan membahagikan berat jisim di udara dengan berat air berkenaan, dia memperoleh graviti khusus jisim itu, ataupun lebih tepat lagi bahan yang membentuk jisim itu.
Bahan-bahan yang diperoleh melalui kajian teks banyak didapati dalam bukunya. Al-Biruni bagaimanapun tidak bergantung hanya kepada perpustakaan dan hasil kajian orang lain. Dalam kitabnya, al-Saydanah fi al-Tibb, al-Biruni menyatakan keraguannya terhadap pengumpulan buku untuk perpustakaan serta menunjukkan kecenderungannya terhadap ingatan. Perpustakaan, katanya, terdedah kepada bahaya kebakaran, kehilangan akibat kecurian atau kemusnahan.
BAHAGIAN DUA
Dari sekian banyak karya peninggalan al- Biruni dalam bahasa Arab dan Sanskrit, terdapat satu senarai (catalogue) lengkap yang dikatakan mengandungi tidak kurang dari 60 folio yang elok cetakannya, ianya adalah kitab al-Saydanah fi al-Tibb, usahanya yang terakhir yang dimulakan pada penghujung usianya seperti beliau nyatakan pada awal pengenalan buku berkenaan.
Kitab al-Saydanah boleh dibahagikan kepada dua bahagian. Pertama merupakan pengenalan kepada ilmu farmasi, farmakologi dan terapi perubatan, yang dilengkapi takrif dan penjelasan sejarah yang berguna. Selanjutnya, buku berkenaan farmasi dan materia medica telah sampai kepada kita dalam bentuk draf yang dinukilkan oleh al- Biruni sendiri yang menambahkan catatan- catatan sisi tidak lama sebelum kematiannya.
Seperti penulis-penulis Muslim yang datang kemudian, al-Biruni memanfaatkan kitab al-Nabat karangan Abu Hanifah al-Dinawari, juga tulisan al-Razi. Al-Biruni memetik dua tulisan al-Razi, kitab al-Saydanah dan kitab al-Abdal dan menyatakan:
“Aku telah melihat dua karya Abu Bakr al-Razi tetapi aku kurang berpuas hati terhadapnya. Apa saja yang aku ingat aku tambahkan padanya untuk diulangkaji kembali, untuk aku dan rakanku, supaya dia dapat mengenal pasti apa yang aku katakan sama ada berpunca dari kelalaian atau kelemahan ingatanku.”
Sebaik mungkin al-Biruni memastikan dia mengikuti tradisi: Dia menyusun materia medica berkenaan mengikut susunan huruf seperti dilakukan Ibn Sina, Ibn al-Baytar dan al-Ghafiqi. Dia juga menyenaraikan istilah lain bagi setiap dadah yang disenaraikan, biasanya dalam bahasa Yunani, Syria, Parsi, Sogdi, Sindhi, Hindi, Khwarizmi (dan dalam keadaan tertentu, Tirmidhi).
Selain tersusun mengikut urutan huruf, senarai panjang materia medica secara umumnya merangkumi perbicaraan tentang khasiat dan pandangan penulis-penulis lain tentangnya, selaras dari segi rangkanya dengan Medical Formulary al-Kindi. Adalah tugas yang besar untuk memahami sepenuhnya ruang lingkup maklumat yang terkandung dalam buku itu, istilah-istilah yang digunakan dalam perbahasan etimologi tentang nama-nama dadah dan kata seertinya. Dalam kata al-Biruni sendiri:
“Satu kepayahan besar berkenaan bahasa Arab ialah banyak perkataan yang seerti dan seseorang itu mesti membezakan satu dari yang lain melalui perubahan bentuk (inflection) dan titik. Sedikit kecuaian dalam soal ini akan mendatangkan kekeliruan dan kekaburan. Seseorang itu tidak dapat memastikan apa sebenarnya yang dimaksudkan dan kecuaian seperti ini malangnya begitu berleluasa di kalangan kita. Sekiranya ini tidak berlaku, karya-karya yang ditinggalkan para ilmuwan Yunani yang diterjemah ke bahasa Arab sudah mencukupi. Malangnya kita tidak dapat bergantung kepadanya; tambah pula kerana pembetulan dan pindaan dimasukkan dalam karya-karya mereka, kita tidak lagi memperoleh manfaat penuh.”
Seperti dinyatakan sebelum ini kitab al- Saydanah al-Biruni boleh dibahagikan kepada dua bahagian utama. Yang pertama, satu pengenalan dan lima bab yang padat di mana al-Biruni menjelaskan kaedah-kaedah dan kajian yang dilakukan, pendekatan dan perancangannya, termasuk sahabat dan pembantunya al-Shaykh al-Nasha‘i, dan matlamat-matlamat mereka dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang munasabah. Al- Biruni mengutamakan pendekatan yang berasaskan “pengalaman sendiri” dan menekankan bahawa pengulangan cara itu akan melengkapkan ilmuwan dengan maklumat- maklumat yang tidak mungkin dilupakan, yang jika tidak terpaksa dirujuk berulang kali. Sikap ini berlawanan dengan sikap para pengumpul yang hanya mengulang kembali kesilapan-kesilapan yang terdahulu. Al-Biruni menyimpulkan perbahasan berkenaan dengan memetik kata-kata penulis Arab: “Kekayaan sebenar seseorang itu ialah ilmu yang tersimpan dalam ingatannya yang dapat dia gunakan dengan mudah bila-bila sahaja.”
Bahagian kedua mengandungi materia medica yang diatur dengan teliti berdasarkan susunan huruf. Dia telah membina aliran berikut, dan telah menjelaskan ciri-cirinya.
(1) Pertama, dia namakan ubatan berkenaan, kemudian senaraikan istilahnya dalam bahasa-bahasa lain.
(2) Berikutnya etimologi ubat berkenaan.
(3) Sumbernya, di mana diperoleh.
(4) Sifat ubat itu. Dia menggunakan kaedah pembahagian membahagikannya kepada galian, tumbuhan dan haiwan.
(5) Dia juga memberikan penjelasan morfologi terhadap dadah berkenaan.
(6) Turut disediakan ialah perbandingan antara jenis-jenis, dengan menekankan bahagian-bahagian yang digunakan, warna dan ciri-ciri luaran yang lain.
(7) Pertumbuhan, penyebaran, penanaman, pengumpulan dan penyimpanan ubat- ubatan asas (simple drugs) untuk kegunaan akan datang.
(
Kerapkali dia memetik pengarang lain dalam bentuk prosa dan ayat, juga merujuk kepada penilaian yang mereka lakukan.
(9) Menyediakan asas kepada pemisahan farmakologi dari farmakognosi dalam usaha terancang bagi membuktikan sifat-sifat lahiriah ubat-ubatan asas (simples). Menurut Profesor Dr. Hamarneh, bahagian ini dari kitab al-Saydanah adalah salah satu yang terbaik dan yang pertama seumpamanya pernah ditulis dalam mana-mana bahasa sehinggalah kepada zaman kebangkitan Eropah.
Di samping nama-nama ubatan al-Biruni juga memberi penjelasan panjang terhadap setiap ciri ubatan berkenaan, dari etimologinya, sifat dan pembawaannya, hinggalah kepada ciri-ciri lahiriah, isi kandungan dan keracunannya. Tafsiran umum al-Biruni tentang keracunan dalam kitab al-Saydanah berasaskan, dengan sedikit pengubahsuaian, kepada teori-teori dan pegangan Hunayn al-Ibadi dan ilmuwan sezaman dengannya. Dalam bahagian ini, al-Biruni menjelaskan tentang beberapa ubatan asas (simple drugs) yang beracun atau mengandungi kesan sampingan yang membentuk keracunan.
Perbincangan itu mengandungi banyak pemerhatian asli yang disertai pandangan- pandangan yang menarik dan penting dari segi sejarah. Kelazimannya, dari daya usaha al-Biruni, dia akan menjelaskan asal-usul herba tertentu termasuklah kenyataan-kenyataan sejarah dan tafsiran-tafsiran ilmuwan lain. Dia turut menyertakan unsur-unsur budaya dan akhlakiah yang diselitkan bersama kegunaan dan khasiatnya. Ini dilakukan dengan penuh bijaksana dan ilmiah. Memetik satu contoh:
“Dikatakan bahawa chah (tea) adalah perkataan Cina merujuk kepada sejenis herba yang tumbuh di tempat tinggi di negara itu. Terdapat berbagai-bagai jenis yang dibezakan menurut warna: Setengahnya putih, ada yang hijau, ungu, kelabu dan hitam.
Orang Cina dan Tibet memasaknya, dan menyimpannya dalam bekas berbentuk kiub selepas mengeringkannya. Teh mempunyai ciri-ciri air dan mempunyai khasiat dalam mengatasi kemabukan. Dengan sebab itu ia dibawa ke Tibet di mana masyarakatnya kuat minum arak, dan tiada ubat yang lebih mujarab bagi mengatasi kesannya dari herba ini. Orang yang membawanya ke Tibet tidak menerima bahan tukaran lain selain dari kesturi. Dalam buku Akhbar al-Sin disebut bahawa harga 30 beg teh ialah sedirham, dan rasanya manis bercampur masam. Apabila direbus masamnya hilang... Seorang raja Cina yang marah terhadap seorang pegawainya telah membuangnya ke kawasan pergunungan. Pegawai itu mendapat demam dan pada suatu hari dengan susah payah dia berjalan dalam keadaan lemah menuju ke lembah gunung. Dia dalam keadaan lapar dan kebetulannya menjumpai pokok-pokok teh, lalu dimakan daunnya. Selepas beberapa hari demamnya mula berkurangan, lalu dia terus memakan dauh teh hinggalah sembuh sepenuhnya. Seorang pegawai lain kebetulan melalui tempat itu dan menjumpai pegawai yang sembuh itu lantas menceritakan kepada raja tentang apa yang berlaku. Raja memerintahkan kajian dilakukan terhadap teh dan tabib-tabib baginda menyenaraikan kebaikannya kepada baginda. Mereka juga memasukkan teh ke dalam kaedah perubatan.”
Banyak sebab kenapa al-Biruni mendapat pujian tinggi dari sarjana Barat seperti Dr. Edward Sachau, DeBoer dan lain. Dia tidak pernah sesat dalam hutan maklumat yang tidak perlu, sebaliknya memastikan langkahnya sentiasa berada dalam landasan pencari kebenaran. Penilaiannya yang objektif terhadap masalah semasa dan kontroversi menghalang tulisan-tulisannya dari dicemari racun dan sangkaan buruk yang membawa kepada sikap berat sebelah dan berpihak.
Secara semula jadinya, al-Biruni berbakat besar dalam ilmu sains tepat (exact sciences). Dari usia 17 tahun, dia arif bagaimana menentukan aras tempat, dan empat tahun kemudian menyempurnakan bulatan bertingkat (graduated circle). Astronomi, geodesi, meneralogi, botani, farmasi, tidak ada bidang yang tidak menarik minatnya dan tidak diberi sumbangannya. Deduksi dan intuisi sains fizikal dan tabii, dalam ruang lingkup masing-masing telah digunakan secara berterusan oleh al-Biruni.
Abdullah b. Mas‘ud meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
Jangan berharap menjadi orang lain kecuali dalam dua keadaan. Pertama: Seorang yang Allah kurniakan kekayaan dan dia belanjakan pada jalan yang benar. Kedua: Seorang yang Allah kurniakan kebijaksanaan dan dia mengamalkannya dan mengajarnya pada orang lain.
Al-Biruni memiliki kedua-duanya, dan dia meninggalkan warisan yang akan terus dikaji dan dicontohi oleh generasi akan datang.
- DR. SYED ALI TAWFIK AL-ATTAS ialah Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM).
Edirossa
Sep 17 2007, 06:55 AM
Syeikh Abdullah Muhammad Siantan
Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah
NAMA Kepulauan Siantan dan Kepulauan Jemaja memang cukup dikenali dalam beberapa kitab klasik Melayu. Di antara sekian banyak versi sejarah mengenai hubungan dunia Melayu dengan negeri China, salah satu di antaranya ada kesamaan antara Siantan dengan Pattani, Johor, Palembang dan Bangka.
Keempat-empat tempat itu, ramai mengatakan dan juga berupa tulisan yang meriwayatkan salah seorang putera Raja Cina melarikan diri ke negeri mereka. Putera Raja Cina yang dimaksudkan itu bernama Lim Tau Kian.
H. Amryn Helmi Yuda dalam kertas kerjanya berjudul Masuknya Islam ke Pulau Bangka, menulis, “Sejarah menyebutkan bahwa Wan Abduljabar adalah putra dari Abdulhayat, seorang kepercayaan Sultan Johor untuk memerintah di Siantan. Wan Abdulhayat ini semula adalah seorang pejabat tinggi Kerajaan China bernama Lim Tau Kian, yang kerana berselisih faham dikejar-kejar kemudian melarikan diri bersama isterinya sampai ke Johor. Di sini mendapat perlindungan daripada Sultan.
“Ia kemudian memeluk agama Islam dan menggunakan nama Abdulhayat. Karena keahliannya, ia kemudian diangkat oleh Sultan Johor menjadi kepala negeri di Siantan dengan Ce' Wan Abdulhayat”.
Dalam buku-buku penulisan moden tentang Patani juga disebut-sebut nama ‘Lim Tau Kian’ (Lim Tau Kin). Tetapi dalam semua manuskrip (klasik) ialah ‘Lim Tai Kim’. Riwayat Pattani diceritakan bahawa seorang anak Raja Cina bernama Lim Tai Kim/Lim Tau Kian untuk dilantik sebagai Kaisar Cina telah diuji dengan pelbagai kepandaian dan hampir semuanya lulus belaka.
Namun demikian, dia gagal ujian yang terakhir iaitu tinggal bermalam dalam suatu lopak yang di dalamnya penuh dengan lintah.
Lim Tai Kim/Lim Tau Kian sangat jijik dengan jenis binatang itu. Oleh kerana itu, dia tidak sanggup tinggal dalam lopak itu selama satu malam. Oleh kerana berasa malu, dia melarikan diri ke Pulau Siantan. Tiada berapa lama tinggal di Siantan dia berangkat ke Pattani, usianya pada masa itu ialah 22 tahun.
Di Pattani, dia masuk Islam, ditukar namanya dengan Ya’qub. Pelat orang Pattani dipakai nama ‘Aluk’ atau ‘Aquk’ atau ‘Aqub’ lama-kelamaan bertukar menjadi ‘Tok Aguk’.
Beliau berkahwin dengan salah seorang kerabat Diraja Pattani bernama Raja Cik Cahaya. Lim Tai Kim/Lim Tau Kian/Ya’qub dilantik sebagai Syahbandar untuk memungut cukai di Pelabuhan Kerisik, Pattani.
Menurut riwayat, dialah menjadi arkitek Masjid Kerisik dan dia juga yang membuat Meriam Seri Patani dan Seri Negeri. Berdasarkan sebuah salasilah keturunannya disebut bahawa Lim Tai Kim/Lim Tau Kian/Ya’qub meninggal dunia pada 976 H/1568 M. Kuburnya terletak di Tanjung Luluk/Tanjung Tok Aguk.
Demikian gambaran ringkas kisah Siantan yang bererti ada hubungan dengan tempat-tempat lainnya. Kepulauan Siantan yang terletak di Laut China Selatan itu termasuk dalam gugusan kepulauan Indonesia yang paling utara. Ia terletak di antara Malaysia Barat dan Malaysia Timur atau termasuk antara Malaysia Barat dengan Brunei Darussalam.
Di antara tokoh ulama yang berasal dari Siantan yang dianggap sezaman dengan Syeikh Abdul Malik bin Abdullah Terengganu/Tokku Pulau Manis (1650 M-1149 H/1736 M) dikenali dengan nama Haji Muhammad Siantan. Beberapa orang sarjana mencatat Hikayat Golam diterjemahkan dari bahasa Arab oleh seorang tokoh yang berasal dari Siantan. Beliau ialah Abdul Wahhab Siantan.
Abdul Wahhab Siantan ialah guru kepada Raja Ja’far, Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga ke-6 (1805-1831 M). Selain dua nama ulama yang berasal dari Siantan itu, terdapat lagi dua nama yang lain. Seorang bernama Syeikh Abdullah bin Muhammad Siantan dan yang seorang lagi ialah Syeikh Abdullah bin Abdul Wahhab Siantan.
Dua versi manuskrip yang penulis peroleh di Dabo Singkep, dapat diketahui bahawa Syeikh Abdullah bin Abdul Wahhab Siantan pernah mensyarah sebuah karya Syeikh Abdullah bin Muhammad Siantan yang diberi judul Bayanu Syirki li Ilahil Haqqil Maliki yang diselesaikan pada hari Jumaat, waktu Asar, 9 Zulhijjah 1228 H, di Air Kepayang, Bandar Terempa, Tanah Pulau Siantan.
Menarik juga untuk diperhatikan maklumat dari manuskrip karya Syeikh Abdullah bin Abdul Wahhab Siantan itu, yang tercatat bahawa dalam tahun 1228 H atau yang diperkirakan bersamaan tahun 1813 M bererti Terempa yang dinyatakan sebagai ‘bandar’ atau kota kecil telah wujud.
Karya Syeikh Abdullah bin Abdul Wahhab Siantan yang merupakan syarah itu kemudian disyarah pula, dijumpai sebuah salinannya yang diselesaikan tahun 1235 H.
Jika diperhatikan kedua-dua tahun yang tercatat pada dua versi manuskrip karya Siantan itu, masing-masing bertahun 1228 H/1813 M dan 1235 H/1819 M yang bererti mendahului karya-karya tokoh-tokoh Riau yang terkenal lainnya.
Memerhatikan tahun kemunculan kedua-dua karya itu bererti pengarangnya sezaman dengan tokoh ulama dunia Melayu yang sangat terkenal Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Diperhatikan juga bahawa Raja Ali Haji pujangga Riau yang terkenal itu sewaktu ke Mekah (1243 H/1827-28 M) sempat belajar kepada ulama yang berasal dari Pattani itu.
Dengan demikian dipercayai bahawa Raja Ali Haji adalah peringkat murid pula kepada kedua-dua ulama yang berasal dari Siantan itu.
ANALISIS NASKHAH
Pada pengamatan penulis, kedua-dua manuskrip yang tersebut di atas adalah merupakan syarah dari sebuah matan yang dipercayai berasal dari Syeikh Muhammad Siantan yang disyarah pula oleh anaknya Syeikh Abdullah bin Muhammad Siantan.
Oleh sebab berasal daripada satu karya, maka pada syarah tersebut banyak persamaan dan perbezaan kandungan. Pada beberapa tempat pula antara kedua-dua naskhah mempunyai kelebihan dan kelemahan yang tersendiri.
Di bawah ini penulis nyatakan data ringkas kedua-dua versi manuskrip. Setelah itu sedikit petikan di antara bahagian kandungan atau kalimat dari kedua-dua naskhah itu.
Penulis mulai dengan Naskhah 1228 H, kandungan ringkas ialah membicarakan syirik dan tauhid menurut pandangan ahli hakikat dalam tasauf.
Karya ini merupakan syarah daripada perkataan-perkataan Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad yang terdapat dalam Risalah Bayanis Syirki. Tebalnya adalah 86 halaman, 19 baris setiap halaman. Ukuran: 23.6 x 19.5 cm. Klassifikasi: Nadir, belum diketahui di mana manuskrip selain yang diperkenalkan ini tersimpan. Diselesaikan: Pada hari Jumaat, waktu Asar, 9 Zulhijjah 1228 H, di Air Kepayang, Bandar Terempa, Tanah Pulau Siantan. Keadaan Manuskrip: Lengkap, tidak terdapat kerosakan, tulisan jelas dan baik, ditulis dengan dakwat hitam dan merah.
Manuskrip di atas terdapat berbeza kalimat yang digunakan pada mukadimah jika dibandingkan versi Naskhah 1235 H. Untuk sebagai perbandingan, sebelum membicarakan Naskhah 1235 H lebih lanjut di bawah ini penulis petik mukadimah dari kedua-dua versi itu, dimulai Naskhah 1228 H tertulis, “Ada pun kemudian daripada itu, maka akan berkata yang berkehendak kepada rahmat Allah s.w.t dan ampun-Nya, iaitu Syeikh Abdullah namanya anak Syeikh Muhammad yang terlebih hina ia daripada kasut. Maka tatkala dikehendak oleh Allah akan menyampaikan Ia akan kehendakku kepada negeri Pahang bahawasanya menuntut daripada aku setengah daripada sebesar-besar manusia dan iaitu Maulana Pengulu yang amat mulia Muhsin namanya, anak Marhum Habib Abdur Rahman, Habsyi bangsanya, lagi Ba' Alawi bahawa aku perbuatkan baginya suatu risalah yang pandak daripada perkataan ulama ahil hakikat ...”.
Perhatikan perbezaan-perbezaan dengan Naskhah 1235 H yang termaktub dengan kalimat-kalimat, “Ada pun kemudian daripada itu, maka lagi akan berkata orang yang berkehendak kepada rahmat Allah dan ampun-Nya, akan Syeikh Abdullah ibnu Muhammad orang yang terlebih hina daripada kaus yang di bawah kaki segala orang.
“Maka tatkala dikehendak oleh Allah maka datanglah ke Tanah Bugis maka menuntutlah kepada kami daripada setengah orang yang besar-besar pada masa itu, lagi ia ulama pada ilmu tarekat, dan iaitu Tuan Syeikh Zainal Abidin, Qusyasyi bangsanya, Madinah nama negerinya, bahawasanya kami karangkan dia suatu risalah yang pandak, iaitu daripada segala perkataan ulama ahil hakikat...”.
Pemikiran Sheikh Abdullah Siantan
Pada awal syarahnya Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan (Naskhah 1228 H) menyatakan, “Maka bahawasanya barang yang faqir suratkan dalam kertas ini akan dipersembahkan Kebawah Duli Telapakan Maulana Saiyid Muhsin itu, akan makanan orang tuha-tuha jua. Dan tiada boleh dimakan oleh kanak-kanak kecil-kecil...”.
Sesudah kalimat tersebut nampaknya ada ketegasan Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan bahawa ahli syariat jauh lebih rendah martabatnya dari ahli hakikat, katanya, “Ulama ahlis syariah itu dibilangkan dia kanak-kanak jua, jika ia mengetahui ilmu empat mazhab sekali pun. Dan ulama ahlil hakikat itu dibilangkan akan dia orang tua”.
Pandangan Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan yang demikian tentu saja sangat tidak disetujui oleh ahlisy syariat. Mereka sangat murka. Bagi penulis pendapat demikian ada wajarnya kerana jika kita pelajari tulisan-tulisan dan ucapan-ucapan ahlisy syariat sangat banyak tuduhan-tuduhan mereka yang mengatakan bahawa ahlil hakikat adalah sesat, zindiq, keluar dari Islam dan lain-lain sebagainya.
Pandangan Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan lagi, “... Dan adalah orang yang terpedaya ia dengan ilmunya itu, mereka itulah ulama ahlis syariah yang zahir. Dan mengiktikadkanlah mereka itu dan memandakkanlah mereka itu atas barang yang diketahui oleh mereka itu akan dia. Dan menyangkalah atas bahawa tiada ada lagi ilmu yang mulia lain daripada ilmu yang sudah diketahui oleh mereka itu akan dia”.
Setelah pandangan tersebut beliau tegaskan, “Maka adalah ilmu hakikat itu seperti mutiara dalam laut tiada mengetahui akan dia itu melainkan segala orang yang kuasa menyelam dia. Dan ilmu syariat itu, iaitu ilmu yang zahir, seperti telur hayam (ayam). Harganya tiada berapa, hanya adalah ingar bangar jua mengerjakan dia. Maka mutiara itu mahal harganya besarnya tiada berapa ...”.
Ditulisnya serangkap syair dalam bahasa Arab dan diterjemahkannya, “Adakanlah akan dirimu itu seperti mutiara dalam andangnya, dalam laut yang maha dalam Dan jangan engkau seperti hinduk hayam, meletakkan ia akan telurnya yang satu, memenuhi suaranya itu dalam kampung”.
Sungguh pun demikian yang diperkatakan oleh Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan pada awal kitab, namun beliau sendiri bukanlah seorang yang melalaikan syariat. Beliau adalah seorang ulama pengamal syariat juga.
Jalan pemikirannya dapat kita perhatikan kalimatnya, “... hakikat itu tiada menyalahi syariat, dan syariat itu tiada menyalahi hakikat. Dan keduanya itu bertepatan. Hakikat itu batin syariat, dan syariat zahir hakikat. Dan tarekat itu menjalani ia akan kedua-duanya itu. Makrifat itu mengenal jalan keduanya. Kerana syariat itu umpama kulit. Dan tarekat itu umpama tempurung. Dan makrifat itu umpama isi yang di dalam tempurung. Dan hakikat itu umpama minyak yang di dalam isinya itu”.
Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan menegaskan bahawa semua Rasul diutus adalah untuk menegakkan syariat. Nabi Khidir a.s bertugas menzahirkan hakikat. Nabi Muhammad s.a.w adalah kedua-duanya syariat dan hakikat secara padu dan serentak.
Ditegaskannya, “Dan karena itulah difardukan oleh Allah atas Rasulullah s.a.w itu perang sabilillah dengan kafir serta dihalalkan Allah mengambil rampasan harta, halal memakan dia. Dan segala Rasul yang dahulunya perang sabil jua, tiada dihalalkan mengambil rampasan harta mereka itu dan tiada dihalalkan memakan dia”.
Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan berpendapat bahawa untuk ilmu syariat terdiri bermacam-macam nama iaitu: Ilmu Syariat, Ilmu Syirik, Ilmu Ijtihad, Ilmu Maktasabah, Ilmu Istijarah, ilmu Mukallafah dan lmu Ta’lilah.
Menurutnya ilmu hakikat juga ada beberapa nama, iaitu: Ilmu Hakikat, Ilmu Tanzih, Ilmu Wahdah, Ilmu Fana’ dan banyak lagi namanya.
Demikianlah pengenalan tentang naskhah/manuskrip Siantan.
Edirossa
May 12 2008, 07:56 AM
Sheikh Ahmad al-Fathani
Utusan Malaysia
Koleksi tulisan Allahyarham Wan Mohd. Saghir Abdullah
Pada mulanya penulis tidak mengenali Sheikh Ahmad al-Fathani, kerana penulis selalu diceritakan tentang kehebatan Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan Sheikh Nik Mat Kecik al-Fathani sahaja. Oleh sebab itu, pada penyelidikan awal penulis hanya tertumpu pada biografi Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan sahabat-sahabatnya.
Ibu penulis, Hajah Wan Zainab binti Syeikh Wan Ahmad al-Fathani pada mulanya enggan bercerita lebih panjang mengenai ayahnya.
Namun di antara cerita yang paling awal, katanya: "Kalau kamu ingin tahu tentang ayahku hendaklah kamu merantau ke Kelantan. Di sana ada murid-murid dan anak angkat ayahku. Anak angkat dan murid angkat ayahku yang paling terkenal ialah 'Awang Kenali'. Dia ialah ulama besar dan keramat. Ada murid ayahku menjadi ulama besar Kelantan namanya 'Nik Mahmud' dan 'Haji Muhammad Sa'id'.
"Sebelum kamu dengar dan temukan riwayat ayahku dari orang lain, aku tidak akan menceritakan kisahnya semua, tapi cukup kamu ketahui bahawa ayahku pergi ke Baitulmadqis dari Mekah dengan berjalan kaki. Sewaktu beliau pulang dari Turki pernah mendapat pelbagai hadiah dari Sultan Turki, di antaranya globe dunia yang besar sehingga tidak muat pintu ketika akan dibawa masuk ke rumah...", demikian cerita ibu penulis.
Setelah itu sekitar tahun 1960-an, penulis sering terbaca tentang Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathani terselit dalam riwayat beberapa ulama yang diperkenalkan di majalah-majalah dan buku-buku.
Maklumat awal yang penulis perolehi mengenai beliau adalah berupa tulisan terdapat dua sumber. Sumber pertama pernah dibicarakan oleh salah seorang muridnya, seorang orientalis iaitu, Prof. Dr. C.Snouck Hurgronje yang dimuat dalam bukunya Mecca in The Latter Part Of The Nineteenth Century.
Maklumat pertama didengar bahawa Snouck Hurgronje adalah murid Sheikh Ahmad al-Fathani melalui cerita Saiyid Muhammad Yusof Zawawi, yang ketika hidupnya pernah sebagai Mufti Terengganu. Beliau menjelaskan kepada penulis sewaktu berada di Masjid Negara pada tahun 1977. Cerita beliau tersebut dikuatkan pula dengan pelbagai catatan yang penulis temui beberapa tahun kemudiannya.
Sumber kedua ditulis oleh murid Tok Kenali dalam majalah Pengasuh, bertarikh 2 Zulkaedah 1352 H/ 15 Februari 1934 M, hari khamis, jilid ke 17, muka ke 13 dan 14.
Sedikit mengenainya penulis salin tanpa perubahan bahasa, iaitu: "....al-Allamah Sheikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani yang terkaya daripada ujian umpama kita ini. Betapakah tiada berkata demikian itu? Kerana ilmu yang mengandungi pelajaran agama itu masih ada lagi sekarang 60 perkara ilmu. Maka al-Allamah itu dapat empat puluh tujuh ilmunya seperti mengkhabarkan kepada penulis satu orang alim yang dipercayai khabarannya kerana dia berkebetulan pada satu masa itu ada peluang. Maka al-Allamah itu mentakrifkan 47 ilmu itu satu persatunya.
"Dan setengah-setengah ia karang ilmu itu. Maka sekarang ini, ada juga setengahnya seperti syaikhuna al-Kanali, dapat dua puluh empat. Kalau pembaca-pembaca hendak tahu insya-Allah saya akan sebut. Sebab almarhum itu (Maksudnya Tok Kenali) dapat setengah ilmu al-Allamah pada bilangan itu ialah kerana banyak mukhalathah dan mengaji daripadanya. Katakanlah seperti Abu Hurairah dengan Nabi kerana banyak bercampurnya dapat riwayat hadis tujuh ribu lebih. Dan al-Allamah yang tersebut itu almarhum sentiasa puji dan sebut; menunjukkan kasihnya demikianlah al-Allamah itu telah dapat khabar bahawa murid-murid yang lebih disayang ialah almarhum..."
Mengenai Sheikh Ahmad al-Fathani ini, penulis pernah menerbitkan buku kecil di Yala (1971-1972) dan pernah dimuat dalam majalah Dian bilangan 49, tahun 1972. Kedua-dua karya tersebut adalah karya penulis yang pertama diterbitkan.
Selain itu, khusus mengenai pemikiran Sheikh Ahmad al-Fathani ada tujuh siri pernah dimuat dalam Dewan Budaya mulai April 1991 sehingga September 1991 dan disambung dalam bulan Oktober 1991. Dalam majalah Dakwah pula mulai Ogos 1989 hingga April 1991, dan disambung lagi Jun 1991 hingga Disember 1991, yang penulis tulis khusus membicarakan ulama-ulama Malaysia dan Patani. Sebahagian besar ulama yang dibicarakan ada hubungkaitnya dengan Syeikh Ahmad al-Fathani.
Adakalanya mengenai pertalian dalam kekeluargaan, pertalian keilmuan daripadanya hingga ke atas dan murid-murid beliau.
Riwayat ringkasRiwayat ringkas Sheikh Haji Wan Mushthafa al-Fathani, iaitu datuk kepada Sheikh Ahmad al-Fathani, pernah penulis tulis dalam majalah Al-Islam, Januari 1990, iaitu siri ke-3 di bawah judul Thabaqat Para Ulama Patani.
Dalam Jurnal Dewan Bahasa, Mac 1990, penulis perkenalkan pemikiran bahasa dan huruf Melayu baru ciptaan Sheikh Ahmad al-Fathani. Dalam Jurnal Bahasa, September 1991, diperkenalkan pula kitab Hadiqatul Azhar war Rayahin yang merupakan karya Sheikh Ahmad al-Fathani.
Sepanjang tahun 1990 dan 1991, dalam Jurnal Dewan Bahasa, penulis perkenalkan pelbagai kitab karya ulama dunia Melayu, yang sebahagian besar juga menyentuh nama Sheikh Ahmad al-Fathani, kerana beliau adalah selaku pentashih pertama. Nazham atau syair Sheikh Ahmad al-Fathani, baik dalam bahasa Arab mahu pun dalam bahasa Melayu, beberapa buah di antaranya juga penulis sebut dalam jurnal tersebut itu.
Selain yang penulis sebutkan, masih banyak mengenai Sheikh Ahmad al-Fathani yang ditulis dalam majalah lainnya, di antaranya majalah Pengasuh.
Sebagai kesinambungan dari semua yang tersebut di atas, penulis menerbitkan pula buku khusus mengenai ulama ini, berjudul Sheikh Ahmad al-Fathani: Pemikir Agung Melayu dan Islam, Jilid 1 dan 2, terbitan Khazanah Fathaniyah, 2005.
Buku tersebut terkumpul maklumat lengkap mengenai Sheikh Ahmad al-Fathani hasil dari kajian demi kajian yang penulis selidiki. Dalamnya terkandung di antaranya mengenai pemikiran dan perjuangannya, termasuk aktiviti keseluruhan murid-muridnya yang terkenal, keluarganya yang menjadi ulama dan tokoh dunia Melayu, dan lain-lain yang penulis fikirkan perlu ditonjolkan.
Penulis dulukan perkataan 'Melayu' dari perkataan Islam dalam judul buku tersebut adalah bermaksud bahawa beliau adalah seorang ahli fikir yang terbesar untuk seluruh zaman bagi dunia Melayu.
Penulis tidak bermaksud mengatakan bahawa Sheikh Ahmad al-Fathani adalah pemikir agung atau besar untuk dunia Islam antarabangsa. Namun walau pun kecil, tidak dapat dinafikan bahawa ada peranan, sumbangan dan pemikiran beliau untuk kepentingan umat Islam sejagat hingga peringkat antarabangsa.
Kesinambungan daripada itu, penulis memperkembangkan lagi perbicaraan mengenai Sheikh Ahmad al-Fathani melalui artikel ini secara bersiri, seperti yang pernah penulis lakukan sebelum ini.
Ia dimulakan dengan pengenalan, seterusnya biografi yang mengandungi asal-usul keluarga beliau, keturunannya, keluarga yang menjadi ulama dan tokoh, murid-muridnya, kewafatannya, hasil-hasil karya beliau yang terkenal, dan pemikiran-pemikiran dalam pelbagai bidang.
Sebagai permulaan, penulis memulakan dengan pengenalan dan asal-usul nama beliau sahaja. Seterusnya mengenai yang selainnya akan dibicarakan dalam siri-siri selanjutnya.
Asal-usulNama lengkap Sheikh Ahmad al-Fathani ialah Sheikh Wan Ahmad bin Muhammad Zainal Abidin bin Datu Panglima Kaya Sheikh Haji Wan Mushthafa bin Wan Muhammad bin Wan Muhammad Zainal Abidin (faqih Wan Musa al-Jambui as-Sanawi al-Fathani) bin Wan Muhammad Shalih al-Laqihi bin Ali al-Masyhur al-Laqihi.
Walau bagaimana pun nasab yang sahih dan tahqiq dari Sheikh Ahmad al-Fathani sendiri ialah: Ahmad bin Zainal Abidin bin Haji Wan Mushthafa bin Wan Muhammad bin Wan Muhammad Zainal Abidin al-Fathani.
Nasab ini beliau tulis pada tiga tempat iaitu pada akhir Hadiqah al-Azhar, juga pada akhir Tuhfatul Ummah dan dalam sebuah catatan.
Tetapi pada semua cetakan Ar-Risalah al-Fathaniyah ialah: Ahmad Zainal Abidin bin Haji Wan Mushthafa bin Wan Muhammad bin Musa al-Fathani. Pada nama Zainal Abidin disebut nama 'Musa'.
Ada kemungkinan 'Zainal Abidin' adalah sebagai nama gelar untuk Syeikh Faqih Wan Musa al-Fathani, kerana 'Zainal Abidin' bermaksud 'perhiasan orang-orang yang mengabdikan diri kepada Allah'.
Dalam salah satu manuskrip tulisan Tok Kelaba al-Fathani, ada dicatat bahawa datuk-neneknya berasal dari negeri Khurasan, iaitu yang pertama datang ke dunia Melayu bernama 'Syarif Zainal Abidin'.
Beliau ini merantau ke Pulau Jawa, lalu berkahwin dengan seorang perempuan yang berasal dari Minangkabau. Oleh sebab terjadi sesuatu peperangan di Jawa, maka 'Syarif Zainal Abidin' bersama dengan salah seorang Raja Jawa keluar dari Pulau jawa lalu terdampar di Kelaba, iaitu sebuah negeri dalam Daulah Islam Patani Darussalam.
Syarif Zainal Abidin adalah seorang ulama, sehingga mudah baginya mendapat pengaruh di Kelaba dan juga meninggal dunia di Kelaba. Anak Syarif Zainal Abidin bernama Abu Bakar, berpindah ke Kelantan, dan tinggal di Kampung Laut, Kelantan. Di Kampung Laut (Kelantan), beliau memperolehi anak bernama Abdullah. Abdullah memperolehi anak bernama Abdul Shamad.
Abdul Shamad ini pindah pula ke Kelaba dan mendapat anak bernama Abdul Mukmin. Abdul Mukmin mendapat anak bernama Abdul Latif, dan Abdul Latif mendapat anak bernama Husein (Tok Kelaba).
Syarif Zainal Abidin yang dicatat oleh Tok Kelaba sebagai datuk neneknya itu adalah sezaman dengan Zainal Abidin yang disebut oleh Sheikh Ahmad al-Fathani. Oleh sebab ada hubungan kekeluargaan antara Sheikh Ahmad al-Fathani dengan Tok Kelaba, maka penulis yakin pertemuan nasab kedua-duanya adalah pada nama Zainal Abidin. Zainal Abidin pada salasilah Tok Kelaba kemungkinan adalah orang yang sama dengan Zainal Abidin pada salasilah Sheikh Ahmad al-Fathani.
Adapun nama Musa bin Muhammad Salleh bin Ali al-Masyhur al-Laqihi al-Fathani adalah berdasarkan tulisan Sheikh Muhammad Nur bin Sheikh Muhammad Ismail Daudy al-Fathani.
PenutupSelanjutnya, mengenai yang lain-lainnya akan dibicarakan dalam artikel ini secara bersiri-siri. Ia meliputi asal-usul keluarganya, keturunannya, keluarga yang menjadi ulama dan tokoh, murid-muridnya, kewafatannya, hasil-hasil karyanya yang terkenal, dan pemikiran-pemikiran beliau dalam pelbagai bidang.
Edirossa
Aug 3 2008, 11:52 AM
Ayat al-Hujurat menyedarkan John Pugh
Susunan ZUARIDA MOHYIN
“JIKA kita semua (penganut Kristian) menghormati di antara satu sama lain, sudah pasti tidak timbul pelbagai perbalahan dan perbezaan pendapat sesama kita.” Kata-kata seorang paderi sewaktu menyampaikan khutbah inilah yang telah mencetuskan kesedaran serta membuka minda lelaki kelahiran Toowoomba, Queensland, Australia, John Pugh sekali gus membawa kepada pengislaman beliau kira-kira tujuh tahun lalu.
Pugh yang dipetik menerusi pengakuan penghijrahan akidahnya kepada sebuah laman web Islamik mengakui, titik perubahan ini berlaku kira-kira sebulan selepas pengislaman isteri yang dibuat secara tidak rasmi. Apatah lagi pada masa itu, hatinya semakin kecewa dan memberontak dengan agama kepercayaan yang pernah suatu ketika itu diagung-agungkan.
Ditambah pula apabila diketemukan pula dengan surah al-Hujurat ayat 13 di mana Allah berfirman yang bermaksud: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu daripada seorang laki-laki, seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
“Hakikatnya inilah yang menyedarkan saya bahawa sungguhpun ayat di atas diturunkan kepada umat Islam menerusi kitab al-Quran tetapi sebenarnya, kehidupan yang saya lalui selama ini adalah berasaskan idea-idea atau ajaran Islamik.
Semasa aktif dengan kerja-kerja di gereja lagi, saya tidak pernah lupa menyumbang bakti kepada mereka yang memerlukan atau miskin. Kepercayaan kepada Tuhan begitu teguh malah saya selalu berusaha melaksanakan apa sahaja kehendak-Nya, saya menilai manusia itu secara adil. Semua manusia berasal dari Adam dan Hawa. Yang pasti, keserasian ini telah hadir sejak saya dilahirkan di dunia ini.
“Menariknya, di dalam Islam setiap seseorang itu adalah sama di sisi Allah tidak kira mereka itu orang Arab atau sebaliknya, orang berkulit putih atau hitam. Yang pasti Allah melihat kepada ketakwaan dan amalan baiknya, maka di akhirat jua semua amalan mereka itu ditimbang dan semua umat Islam itu adalah bersaudara.
“Kenyataannya yang tidak saya sedari selama ini iaitu Allah telah membawa atau mendorongkan saya kepada agama Islam. Inilah yang dikatakan ketentuan Ilahi. Malah pada masa sama, isteri saya telah lebih dahulu mengenai salah seorang ketua masyarakat Islam di tempat kami iaitu Dr. Shahjahan Khan yang juga selaku Presiden Persatuan Islamik Toowoomba,” kata bapa kepada dua anak ini yang memeluk Islam bersama isterinya.
Ikrar syahadah mereka itu telah disaksikan pasangan Khan sewaktu pasangan itu berkunjung ke rumah mereka iaitu pada 16 Jun 2001.
Menurut Pugh, pengislaman mereka suami isteri bukanlah datang mendadak. Ini kerana sepanjang aktif dengan gereja telah wujud beberapa keraguan. Pun begitu, pada masa itu ia tidak dibesar-besarkan memandangkan agama pegangan itu adalah segala-galanya dalam kehidupan.
“Namun, isteri saya yang lebih dahulu dan agak berani mempersoalkan tentang beberapa perkara yang diajarkan di gereja yang dikatakan sentiasa berubah-ubah. Ini kerana, semasa belajar di University of New England, dia mengambil pengajian Islam.
“Katanya, dalam Islam penganutnya mempercayai bahawa tiada tuhan yang disembah melainkan kepada Allah, ceramah-ceramahnya sentiasa menitikberatkan soal keamanan, kedamaian dan kesamaan. Malah, mereka yang arif dengan Islam (ulama, mereka ini tidak pernah gentar menjawab soalan-soalan sukar seperti yang berkaitan ketuhanan sehingga berani berdebat tentang perbandingan agama.
“Akui isteri, ini ketara benar dengan apa yang berlaku di dalam agamanya. Mereka yang banyak meluahkan persoalan, akan cuba ‘dilenyapkan’ atau dianggap bersalah atau berdosa. Apa yang diajar mestilah diterima tanpa mempersoalkannya. Keyakinan mendalam isteri kepada agama Islam mengatasi segalanya, lantas mengambil keputusan bergelar Muslim dan seterusnya memakai tudung dan berpakaian sopan,” kata Pugh yang tidak menyangka keyakinannya kepada agamanya sebelum ini menjadi pudar sebaik mengenali Islam.
Menerusi laman web ini juga Pugh berkongsi serba sedikit latar belakang kehidupannya sebelum Islam. Beliau mengakui bahawa dirinya seorang yang boleh dikategorikan seorang pengikut setia Kristian.
“Setiap minggu, kami (saya, ibu, nenek dan pakcik) akan ke gereja. Pakcik merupakan orang yang bertanggungjawab mempengaruhi saya kepada agama ini kerana dia seorang yang dikira setia. Pada 1984, selepas kematian pakcik, kehidupan saya musnah dan ini menyebabkan saya berjanji untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raga saya kepada gereja. Saya mula melibatkan diri dengan kerja-kerja dakyah dalam pelbagai aktiviti mereka.
“Pada masa itu juga saya sempat mempelajari sejarah agama tersebut dan dari situ sudah nampak beberapa perkara di dalam agama ini yang tidak berapa jelas dan paling ketara ia sentiasa berubah-ubah. Namun, semuanya saya pendam kerana cintakan agama ini.
“Lama-kelamaan, apa yang saya harapkan demi menyumbang kepada gereja menemui kehancuran apabila kerjaya yang saya bina di situ lenyap, apabila saya ditinggalkan tanpa pekerjaan atau lebih tepat, bergelar penganggur,” kata Pugh yang mengalami kisah sedih apabila dia sendiri disingkirkan dari gereja kerana dianggap sebagai bebanan dan sering menimbulkan pelbagai persoalan yang dikatakan akan mengugat institusi gereja mereka.
- Petikan daripada IslamOnline.net
sofiahdewi
Sep 7 2008, 08:18 PM

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan" Katagori : RamadhanOleh : Redaksi 02 Sep 2008 - 2:40 pm
IQRA- Ustad Jefri Al Buchori
Selain memerintah syaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah 'azimat' Nabi tatkala memasuki Ramadhan!
"Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah! Allah ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.
Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: "Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian."
Rasulullah meneruskan: "Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air."
Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: "Aku berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?" Jawab Nabi: "Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah".
Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu'."
"Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain."
"Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya."
"Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang."
Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, "Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu."
"Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka."
"Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya."
"Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka."
"Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga." (HR. Ibnu Huzaimah).
[hidayatullah.com] Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
SemangatZaman
Sep 9 2008, 06:00 AM
SALAM......
KEPADA SESIAPA YANG MEMPUNYAI CERITA TENTANG LAKNATULLAH KAMAL ATATURK, KONGSILAH CERITA UNTUK RENUNGAN BERSAMA...
sofiahdewi
Sep 11 2008, 09:44 AM
Salam kembali buat SZ,
Saya bukan pakar sejarah tetapi sangat meminat sejarah terutama sejarah islam.
Saya berharap beberapa aktikel yang akan saya letakkan dapat menarik pembaca
merenungi perjalanan kehidupan kita untuk masa depan.
Semua ciptaan benda di dunia ini tidak bermula daripada kosong tetapi ianya berteraskan
kemas kini ciptaan orang-orang terdahulu dan inilah yang di katakan sejarah.
Sesuatu kejayaan bukan kebetulan tetapi lahir dengan perancangan yang betul. Faktor
penting dalam perancangan ialah mengambil kira pengalaman lalu dan pengalaman lalu itu
juga boleh dikatakan sebagai sejarah.
QUOTE
URUTAN KHALAFAH ISLAMIYAH
Oleh: Ustadz Ahmad Syarwat, Lc
Ada begitu banyak analisa para pemikir dan pengamat tentang sebab-sebab jatuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Baik yang bersifat lebih teknis maupun sebab-sebab yang bersifat lebih umum.
Sebab-sebab secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah, terutama sejarah Turki sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah sebab-sebab secara umumnya saja.A. Sebab EkternalSudah kita ketahui bersama bahwa Khilafah Turki Utsmani kalah pada perang dunia pertama. Sebagai negara yang kalah perang, maka negeri itu dengan mudah ditindas, dirampok dan juga diperebutkan wilyahnya oleh para pemangsa dan lawan-lawannya.Sampai terjadi penghinaan yang begitu besar, di mana bangsa Turki yang secara geografis memang penduduk Eropa dilecehkan dengan ungkapan "The Sickman in Europe." Bahkan kata "turkey" dalam ungkapan mereka merupakan pelecehan, yang artinya ayam kalkun.Pahlawan dan tokoh muslim Turki pu tidak luput dari penghinaan. Salah satunya adalah Barbarossa si Janggut Merah. Di dalam cerita Asterik, tokoh Barbarosssa muncul sebagai bajak laut yang bodoh. Padahal beliau adalah pahlawan Islam di masanya dan pelaut kafir Eropa sangat takut dengan angkatan perangnya.B. Sebab InternalPenjajahan barat terhadap Turki semakin menusuk tatkala mereka berhasil meraih generasi muda Turki dengan pendidikan ala barat. Tentu saja semua itu untuk mendapatkan satu tujuan, yaitu sekulerisasi selapis generasi. Maka lahirlah kemudian generasi baru yang anti Islam, Islamo-phobia, sekuler, liberal dan berotak barat.Mereka inilah yang kemudian didukung oleh Eropa untuk menumbangkan lembaga khilafah Islamiyah. Tercatat tokohnya adalah Mustafa Kemal Ataturk yang terlaknat. Sosok ini telah berhasil menumbangkan khilafah pada tahun 1924 lewat gerakan Turki Muda.Sayangnya, hujaman belati mematikan ini justru masuk ke dalam pelajaran sejarah di negeri kita sebagai kebangkitan, bukan sebagai kejahatan. Rupanya, jaring-jaring kerja bangsa-bangsa kafir itu sedemikian luas, sehingga sosok Kemal Ataturk yang zhalim itu, justru muncul dalam buku sejarah kita sebagai pahlawan.Padahal Kemal telah melakukan dosa yang bahkan Iblis pun tidak pernah melakukannya. Yaitu menumbangkan satu rangkaian khilafah Islamiyah yang terakhir. Padahal belum pernah sebelumnya umat Islam di dunia hidup tanpa naungan khilafah.Sebab khilafah sudah ada sejak zaman Rasululullah SAW hidup, yakni sejak 15 abad yang lalu. Selama itu, umat Islam belum pernah hidup tanpa ada khilafah. Iblis dan para jin tidak pernah mampu menumbangkannya. Tiba-tiba seorang sekuleris yang nota bene agamanya masih Islam, malah menumbangkannya. Walhasil, sejak jatuhnya khilafah Turki, umat Islam masuk dalam bid'ah kubro. Sebuah bid'ah teramat besar yang melebihi semua jenis bid'ah yang pernah ada. Dan tentunya sangat dibenci dan dimurkai. Sebuah bid'ah berupa umat Islam hidup tanpa naungan khilafah.Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah IslamDengan wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 623 M, umat Islam segera membaiat Abu Bakar ra sebagai pengganti beliau. Istilah pengganti ini dalam bahasa Arab adalah khalifah. Lengkapnya, khalifatu rasulillah atau pengganti Rasulullah. Maksudnya bukan menggantikan posisi kenabian Muhammad SAW, melainkan posisi beliau SAW sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. Sebab nabi kita itu selain sebagi nabi, juga berperan sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.Selain itu, ada juga sebutan lain buat posisi tertinggi umat Islam sedunia, yaitu istilah Amirul Mukminin. Artinya adalah pemimpin umat Islam.1. Khilafah RasyidahKhilafah Rasidah berdiri tepat di hari wafatnya Rasululllah SAW. Terdiri dari 4 orang atau 5 orang shahabat nabi yang menjadi khalifah secara bergantian. Mereka adalah:Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M) Umar bin Khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M) 'Utsman bin 'Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M) Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M) dan Al-Hasan bin 'Ali ra (tahun 40 H/661 M) Masa berlakunya selama kurang lebih 30 tahun. Disebut juga sebagai khilafah rasyidah karena posisi mereka sebagai shahabat nabi yang mendapat petunjuk. Dan memang ada pesan dari nabi untuk mentaati para khalifah rasyidah ini.2. Khilafah Bani UmayyahKhilafah ini berpusat di Syiria, tepatnya di kota Damaskus. Berdiri untuk masa waktu sekitar 90 tahun atau tepatnya 89 tahun, setelah era khulafa ar-rasyidin selesai. Khalifah pertama adalah Mu'awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Adapun masa kekuasaan mereka sebagai berikut:Mu'awiyyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M) Yazid bin Mu'awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M) Mu'awiyah bin Yazid (tahun 64-65 H/683-684 M) Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M) Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-86 H/685-705 M) Walid bin 'Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M) Sulaiman bin 'Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M) Umar bin 'Abdul 'Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M) Yazid bin 'Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724M) Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M) Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M) Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M) Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M) Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M) Sebenarnya khilafah Bani Ummayah ini punya perpanjangan silsilah, sebab satu dari keturunan mereka ada yang menyeberang ke semenanjung Iberia dan masuk ke Spanyol. Di Spanyol mereka kemudian mendirikan khilafah tersendiri yang terlepas dari khilafah besar Bani Abbasiyah.3. Khilfah Bani AbbasiyahKemudian kekhilafahan beralih ke tangan Bani 'Abasiyah yang berpusat di Baghdad. Total masa berlaku khilafah ini sekitar 446 tahun. Khalifah pertama adalah Abu al-'Abbas al-Safaah. Sedangkan khalifah terakhirnya Al-Mutawakil 'Ala al-Allah.Secara rinci masa kekuasaan mereka sebagai berikut:Abul 'Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M) Abu Ja'far al-Manshur (tahun 137-159 H/754-775 M) Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M) Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M) Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-
9 M) Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M) Al-Ma'mun (tahun 198-217 H/813-833 M) Al-Mu'tashim Billah (tahun 618-228 H/833-842M) Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M) Al-Mutawakil 'Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M) Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M) Al-Musta'in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M) Al-Mu'taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M) Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M) Al-Mu'tamad 'Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M) Al-Mu'tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M) Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M) Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M) Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M) Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M) Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M) Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M) Al-Muthi' Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M) Al-Tha`i' Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M) Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M) Al-Qa`im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M) Al-Mu'tadi Bi Amrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M) Al-Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M) Al-Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M) Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M) Al-Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160 M) Al-Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M) Al-Mustadli`u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M) Al-Naashir Lidinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M) Al-Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M) Al-Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M) Al-Musta'shim Billah (tahun 640-656 H/1242-1258 M) Al-Mustanshir Billah II (tahun 660-661 H/1261-1262 M) Al-Haakim Biamrillah I (tahun 661-701 H/1262-1302 M) Al-Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M) Al-Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1343 M) Al-Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M) Al-Mu'tadlid Billah I (753-763 H/1354-1364 M) Al-Mutawakil 'Ala al-Allah I (th. 763-785 H/1364-1386 M) Al-Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M) Al-Musta'shim (tahun 788-791 H/1389-1392 M) Al-Mutawakil 'Ala al-Allah II (th. 791-
8 H/1392-1409 M) Al-Musta'in Billah (tahun
8-815 H/1409-1416 M) Al-Mu'tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416- 1446 M) Al-Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M) Al-Qa`im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M) Al-Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M) Al-Mutawakil 'Ala al-Allah III (th 884-893 H/1485-1494 M) Al-Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M) Al-Mutawakil 'Ala al-Allah IV (th 914-918 H/1515-1517 M) Khilafah Bani Abbasiyah dihancurkan oleh pasukan Tartar (Mongol), sehingga umat Islam sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa adanya khalifah. Namun kurun waktnya hanya terpaut 3 tahun setengah saja dan segera berdiri khilafah Utsmaniyah.4. Khilafah Bani UtsmaniyyahKhilafah Bani Utsmaniyyah tercatat memiliki30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad 10 Hijriyah atau abad ke enam belas Masehi. Nama-nama mereka sebagai berikut:Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M) Sulaiman al-Qanuni (tahun 926-974 H/1520-1566 M) Salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M) Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M) Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M) Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M) Mushthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M) 'Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M) Mushthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)
Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M) Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M) Muhammad IV (tahun 1058-1099 H/1648-1687 M) Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691 M) Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M) Mushthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M) Ahmad III (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M) Mahmud I (tahun 1143-1168 H/1730-1754 M) Utsman III (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M) Musthafa III (tahun 1171-1187 H/1757-1774 M) Abdul Hamid I (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M) Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M) Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M) Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M) Abdul Majid I (tahun 1255 H-1277 H/1839-1861 M) 'Abdul 'Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M) Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M) 'Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M) Muhammad Risyad V (tahun 1328-1338 H/1909-1918 M)
Muhammad Wahiddin (II) (th. 1338-1340 H/1918-1922 M) 'Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M). Khalifah terakhir umat Islam sedunia adalah 'Abdul Majid II. Semenjak tumbangnya khilafah terakhir ini, berarti umat Islam telah hidup lebih dari selama (2006-1924= 82 tahun) tanpa keberadaan lembaga yang menyatukan.Kepastian Kembalinya Khilafah Lepas dari realitas di lapangan yang kurang menggembirakan, di mana umat Islam saat in menjadi budak barat, kekayaan alam mereka dijarah, ekonomi mereka terpuruk, nilai mata uang mereka sangat rendah, hutang luar negeri merekabertumpuk tak terbayar, pemuda mereka dirusak, wanita mereka menjadi hamba syahwat, bahkan masih ditambah lagi dengan rombongan Islam liberal dan sebagainya, namunmasih ada harapan.Kita masih menemukan satu hadits dari Rasulullah SAW yang cukup melegakan, yaitu kabar gembira dari beliau bahwa suatu saat, khilafah ini akan kembali terbentuk, bahkan dengan kualitasnya yang rasyidah itu.Sabda Rasulullah saw, "Kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi". Namun tentunya khilafah ini tidak akan terbentuk begitu saja, bila hanya dengan doa dan diam saja. Atau hanya dengan bicara dan demonstrasi saja. Setiap umat Islam meski bersinergi untuk saling menguatkan dan saling menyokong semua upaya untuk kembali kepada khilafah Islamiyah.Sebab setiap elemen umat punya potensi yang mungkin tidak dimiliki oleh saudaranya. Maka seruan untuk kembali kepada khilafah seharusnya bukan sekedar lips service, namun harus diiringi dengan kerja nyata, pembinaan dan pengkaderan 1,5 milyar umat, pendirian lembaga pendidikan dan sekian banyak pos-pos penting umat. Lantas diiringi juga dengan kebesaran hati, keterbukaan sikap serta jiwa kepemimpinan dunia Islam yang mumpuni.Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat menyaksikan beridirnya khilafah Islamiyah semasa kita hidup. Sungguh sebuah kepuasan yang dimpikan oleh dunia Islam selama ini. Amien.Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi warabaraktuh.Sumber: Eramuslim QUOTE
Rencana Baru Zionis Israel untuk Timur TengahInfopalestina: Dalam sebuah paragrap dukumen strategi nomor 474 yang diterbitkan oleh Jewish Institute for National Security Affairs (JINSA) dikatakan: tindakan merubah system adalah target dan tujuan kita yang kita upayakan untuk direalisasikan di Libanon dan Suriah. Sejak lama telah kita tulis bahwa di sana ada tiga jalan yang mungkin digunakan untuk merealisasikan tujuan tersebut: system ini memilih perubahan dirinya, atau dijatuhkan lewat rakyatnya, atau melalui serangan dari luar dengan alasan mengencam dunia luar. Petunjuk dan Isi Paragrap yang disebutkan dalam dokumen JINSA ini merupakan hasil pengulangan atas apa yang terungkap pada tahun 1915 dari ungkapan yang keluar dari mulut pemimpin Zionis Ze'ev Jabotinsky (1880-1940) dalam sebuah artikel yang diterbitkan harian The Tribune pada 30 November 1915. Dia mengatakan dalam artikelnya: prediksi harapan masa depan bagi kita adalah memotong-motong Suriah…. Tugas kita adalah hadir untuk prediksi harapan masa depan ini. Dan semua yang selain itu hanyalah membuang-buang waktu. Setelah itu datang David Ben Gurion tahun 1948. Dia mengatakan: Kita harus bersiap maju ke depan melanjutkan espansi ini. Target kita adalah merealisasikan kesuksesan yang gemilang dengan menghancurkan Libanon, Yordania, Suriah dan titik terlemah yaitu Libanon.Adapun Odid Yinon, telah meletakan rencana Zionis untuk timur tengah pada tahun 1982. dia mengatakan dalam rencana tersebut: Jelas bahwa asumsi-asumsi militer yang tersebut di atas, dan rencana ini secara umum, juga bersandar kepada kontinyuitas agar Arab berada dalam kondisi perpecahan lebih besar dari apa yang terjadi sekarang. Dan juga dalam kondisi sangat membutuhkan gerakan massa yang sebenarnya. Dari situ maka apapun jenis perseteruan Arab – Arab akan membantu kita dalam jangka waktu dekat dan akan memperpendek jalan menuju tujuan dan target lebih besar tingkat urgensinya, yang itu tewujudkan dalam penghancuran dan pembagian Irak kenjadi etnis-etnis. Demikian juga Suriah dan Libanon….
Contoh Praktis Perilaku politik luar negeri Amerika dan Israel menunjukan ke sejumlah realitan dan bukti-bukti materi yang menegaskan bahwa koalisi Israel – Amerika berjalan ke arah pelaksanaan tujuan-tujuan dan target-target yang masih berulang-ulang mulai dari tahun 1915, kemudian tahun 1948 dan 1982 hingga hari ini.Analisa secara umum dan parsial saling berkaitan, atas dasar penilaian pendalilan atas umum dengan parsial dan parsial dengan umum. Sebagai contoh: bahwa apa yang terjadi di realita lapangan adalah bagian dari realita-realita parsial menegaskan hal itu, yaitu realita-realita-realita yang mungkin bisa didiskusikan dari pandangan analisa parsial sebagai berikut: 1- Irak: Setelah perselisihan Arab – Arab meningkat, terjadilah aksi agresi dan pendudukan Irak. Beberapa saat setelah berada di bawah pendudukan militer, muncullah langkah pertama proses pembagian Irak menjadi kelompok-kelompk suku dan etnis, melalui konstitusi Irak yang dibuat kedubes Amerika dan yang di belakangnya, Israel. Terjadinya pembagian menjadi 3 wilayah federal dan pengkhususan hasil-hasil minyak khusus dengan segala yang ada secara terpisah.2- Yordania: Meskipun tidak diduduki, secara penuh Yordania berada di bawah perwalian/pengawasan Israel – Amerika, sesuai dengan kesepakatan damai Israel – Yordania yang ditanda-tangani di lembah Araba. Kesepakatan yang telah menjadikan struktur institusi-institusi politik Yordania hanya sekadar cabang dari kolega-koleganya dari Israel. Intelijen dan kepolisian Yordania hanyalah sekadar cabang dari intelijen dan kepolisian Israel. Demikian juga militer Yordania, ibarat entitas kecil yang hanya berdiri untuk melaksanakan tugas tugal, yaitu melindungi raja. Tidak urusan terahdap persoalan-persoalan lainnya. Orang-orang Amerika dan Inggris berhasil sukses mengadaptasikan aliran militer dan satuan tempur khusus dengan militer Yordania dan pasukan pengawal raja yang disesuaikan dengan pelaksanaan tugas ini.Demikian juga pasar-pasar dan ekonomi Yordania, tidak lain hanya mewakili cabang dari pasar-pasar Israel. Dan saat ini, ekonomi Yordania hanyalah sekadar pintu lewat bagi "hubungan ekonomi Arab – Israel yang tidak dideklairkan". Dengan kata lain, ekonomi Yordania telah menjadi pihak yang memerankan sebagai kuda buruan ekonomi Israel di dalam ekonomi Arab. Dengan bukti beredarnya banyak barang Israel di pasar-pasar Arab dikarenakan banyaknya perusahaan Yordania yang menyalurkan barang-barang tersebut setelah merubah lisensi asli dan prosusennya sehingga menjadi barang murni Yordania. Demikian juga orang-orang Israel membeli kebutuhan barang-barang asal Arab dari pasar-pasar Yordania tanpa perlu merubah lisensi dan produses aslinya.Secara politik, Yordania telah menjadi terminal koordinasi antara sebagian pihak Arab dan Israel. Sistem kerajaan Yordania terus maju berjalan bekerjasama dengan Israel, mengira bahwa kerjasama ini akan bisa mencegah ancaman ketamahan Israel dan akan bisa menangkis hantu pendudukan Israel.3- Libanon: Di mana rencana-rencana itu telah jelas. Pelaksanaannya telah mengalami kemajuan besar. Dalam hal ini, analisa yang diajukan seorang peneliti Amerika Trish Show yang merujuk kepada: a. Dokumen mahkamah internasional: yang terakhir adalah ungkapan-ungkapan ancaman yang dilontarkan orang-orang Amerika kepada Ketua Komisi Penyelidik PBB Serge Brammertz saat menyiapkan laporan yang hasilnya tidak membantu pencapaian misi yang diminta. Peneliti Amerika ini mengisyaratkan perincian lebih besar kepada mantan Ketua Komisi Penyelidik PBB Detlev Mehlis dan perannya yang berhasil digagalkan.b. Gerakan-gerakan dubes Amerika di Beirut Jeffry Filtman, secara khusus ancamannya kepada pemerintah Libanon terkait dengan Menteri Luar Negeri Libanon Fauzi Shalukh.c. Penangkapan anggota jaringan Mossad di Libanon yang melakukan banyak serangan dan ledakan serta aktivitas lainnya yang memiliki hubungan dengan pembunuhan Taufiq Hairi dan yang lainnya. Pada akhirnya, perkara ini berhasil ditutup karena tekanan kedubes Amerika di Beirut.c. Sikap orang-orang Amerika, Libanon dan Komisi Penyelidik PBB yang pura-pura tidak tahu atas apa yang tercantum dalam laporan khusus tentang kejahatan pembunuhan Hariri d. Cara yang membuat berhasil dikeluarkannya keputusan-keputusan internasional seputar Libanon dan tabiat skenario yang akan berdampak kepada keputusan-keputusan ini di kawasan secara umum dan di dalam negeri Libanon secara khusus.e. Peristiwa pembunuhan dua bersaudara Magdzub, secara khusus cara pelaksanaan pembunuhan itu, serta penutupan dan tindakan pemerintah Libanon menyembunyikan masalah ini.Secara umum, Libanon telah menjadi dia dekat (sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) dari merealisasikan tujuan yang telah dikatakan Ze'ev Jabotinsky, David Ben Gurion, Odid Yinon dan ditegaskan oleh dokumen Jewish Institute for National Security Affairs (JINSA). Tidak tersisa dari skenario menghabisi Libanon kecuali pelaksanakan skenario cabang khusus dengan bentuk-bentuk perang internal di Libanon.
QUOTE
Sejarah: Mustafa Kamal keturunan Yahudi?H.S. Armstrong, salah seorang pembantu Ataturk dalam bukunya yang berjudul al-Zi'bu al-Aghbar atau al-Hayah al- Khasah li taghiyyah telah menulis:
"Sesungguhnya Ataturk adalah daripada keturunan Yahudi. nenek moyangnya adalah Yahudi yang berpindah dari Sepanyol ke bandar Salonika,".
Golongan Yahudi ini dinamakan dengan Yahudi Daunamah yang terdiri daripada 600 buah keluarga.
Mereka mendakwa memeluk Islam pada tahun 1095 Hijrah(h) (1683 Masehi), tetapi masih menganut agama Yahudi secara senyap-senyap. Ini diakui sendiri oleh bekas Presiden Israel, Yitzak Zifi, dalam bukunya Daunamah terbitan tahun 1377H (1957M).
Ada kumpulan-kumpulan agama yang masih menganggap diri mereka sebahagian daripada Nabi Israel, antaranya ada satu kumpulan iaitu kumpulan Daunamah yang Islam hanya pada zahir tetapi mengamalkan ajaran Yahudi secara senyap-senyap.
Ketika Mustafa kamal mencapai usia 12 tahun, beliau memasuki Sekolah Tentera Salonika, dan kemudiannya menyambung pelajaran di Akademi Tentera Monasitar pada tahun 1302H (1885M).
Pada tahun 1322H (1905M), beliau memasuki kolej tentera di Istanbul dan menamatkan latihan ketenteraannya pada tahun 1325H. (1907M) dan kKemudiannya, belaiu telah ditugaskan di Kem Tentera Batalion ketiga di Salonika.
Kamal mula memusuhi Khalifah Uthmaniyyah
Di situlah bermulanya usaha Mustafa Kamal dalam memusuhi Khalifah Uthmaniyyah dan agama islam. Dengan kedudukannya sebagai graduan kolej tentera, beliau telah mengingatkan rakan-rakan pegawainya agar tidak tertipu dengan pemikiran dunia Islam.
Beliau telah mengubah ucapan Assalamualaikum kepada Marhaban Bikum (Selamat Datang).
Tindakan beliau selanjutnya ialah menubuhkan Pertubuhan Kebangsaan dan Kebebasan yang bertujuan untuk menghapuskan Kerajaan Uthmaniyyah yang menurutnya mengamalkan pemerintahan kuku besi,tetapi malangnya Pertubuhan Bersatu dan Maju yang ketika itu juga bergiat cerdas menentang pemerintahan Islam telah menjadi batu penghalang kepada pengerakan Mustafa Kamal ini.
Imej Mustafa Kamal menonjol selepas meletusnya Perang Dunia Pertama apabila beliau dipilih sebagai panglima pasukan ke -19 di Sinaq Qal'ah.
Pasukannya dapat mengalahkan tentera British sebanyak dua kali di Semanjung Ghalibuli di Balkan Darnadil mestkipun kekuatan tentera British mampu mengalahkan tentera Artaturk. Dengan kemenangan tersebut, Ataturk telah dinaikkan pangkat kapten dan kemudiannya jeneral pada tahun 1335H (1916M).
Pada hakikatnya, kemenangan yang dicapai oleh Mustafa kamal adalah kemenangan yang disengajakan dirancangkan oleh tentera Inggeris supaya reputasi Ataturk dipandang tinggi oleh Kerajaan Uthmaniyyah.
Ini kerana peperangan di antara tentera Uthmaniyyah dengan tentera bersekutu berlanjutan selama beberapa hari tanpa mana-mana pihak mencapai sebarang kemenangan sehingga menyebabkan kedua-dua belah pihak bertahan dikawasan masing-masing untuk beberapa bulan.
Akirnya pihak Inggeris secara mengejut tanpa disangka-sangka telah meninggalkan kawasan pantai Ghalibuli. Pada tahun 1337H (1918M), Ataturk telah mengetuai satu pasukan tentera di Palestin.
Beri laluan mudah kepada Inggeris
Beliau telah menghentikan peperangan terhadap Inggeris, memusuhi Kerajaan Uthmaniyyah secara mengejut dan membenarkan Inggeris mara ke sebelah Utara tanpa mendapat sebarang tentangan.
Ketika itulah beliau mengadu jatuh sakit dan telantar di di Kem Nablus. Tindakannya itu telah menimbulkan pelbagai spekualasi dan tanda tanya, lantas beliau membawa pasukan tenteranya ke Utara sehingga ke Damsyik.
Di sana, beliau telah mengeluarkan perintah supaya menghentikan tentangan terhadap Inggeris sekaligus membuka peluang kepada Inggeris untuk mara ke wilayah-wilayah Uthmaniyyah.
Selepas kekalahan Turki dan perisytiharan gencatan senjata, Inggeris meminta khalifah membubarkan Dewan Rakyat yang berkuasa menentukan kekuasaan khalifah.
Selepas pembubaran itu, Inggeris mencetuskan pula huru hara dalam istana Kerajaan Uthmaniyyah sepanjang tempoh dua tahun 1337 - 1338 H (1918-1919M) dan meminta khalifah menghentikan angkara yang sengaja mereka rancangkan itu.
Mereka kemudian mencadangkan Mustafa Kamal untuk memikul tugas tersebut supaya Mustafa dapat menjadi orang yang berupaya memenuhi aspirasi rakyat dan satu-satunya pegawai tinggi tentera yang layak mendapat penghargaan daripada pihak tentera.
Kedudukkan dan kehebatan Mustafa kamal kian terserlah di mata orang ramai, manakala reputasi institusi khalifah pula semakin menurun sementara pada waktu yang sama beliau telah merealisasikan perancangan Pihak Bersekutu untuk menguasai wilayah-wilayah Kerajaan Uthmaniyyah.
Bunuh orang Islam
Taktik yang digunakan oleh Inggeris untuk menjayakan rancangan tersebut ialah dengan membebaskan Greek daripada penguasaan Izmir dan ini terang-terang bercanggah dengan teks perjanjian yang telah dimeteraikan oleh Pihak Bersekutu.
Semua ini berjalan dengan pantas sekali apabila tentera Greek melepaskan tembakan kepada orang Islam Turki di jalan-jalanraya, memaksa mereka menanggalkan tarbus yang kemudian dipijak-pijak dengan kaki, menanggalkan purdah yang dipakai oleh wanita Muslim, membakar perkampungan Islam di Izmir dan menyembelih orang Islam tanpa belas kasihan.
Di tengah-tengah kegawatan tersebut, kapal Ainabuli telah berlabuh di perairan Izmir di tengah-tengah Armada laut Inggeris dan Greek, lalu Mustafa Kamal menuju ke Izmir dan mengerah segala keupayaannya dan memperlihatkan modus operandi yang menyakinkan dalam menentang Greek.
Mustafa Kamal mengutus telegram kepada khalifah untuk menjelaskan keadaan yang genting, akan tetapi kerajaan mendesak beliau pulang untuk mengelakkan belaiu daripada terus menibulkan huru-hara.
Khalifah cuba memeujuk Mustafa Kamal tetapi belaiu tetap enggan pulang malahan menghantarkan telegram kepada baginda, "Saya akan tinggal di Anadul sehingga kemerdekaan dapat dicapai."
Lancar revolusi, tipu rakyat Turki
Mustafa Kamal mula melancarkan revolusi yang disokong sepenuhnya oleh Inggeris dan beliau telah berjaya pada peringat permulaan dan ia berlaku apabila gerakan beliau telah disertai oleh para pemimpin muda dan pemikir-pemikir yang meletakkan syarat agar tidak membabitkan khalifah.
Pertempuran di antara tentera Uthmaniyah dengan Greek telah berlanjutan selama satu setengah tahun.
Semasa pertempuran sedang berlaku, Pihak Bersekutu telah mengumumkan bahawa mereka berkecuali.
Apa yang menghairankan senjata-senjata yang dibelakkan kepada Mustafa Kamal adalah dari Rusia hasil perancangan rapi pihak Inggeris di Busfor sekalipun Rusia memang memusuhi Kerajaan Uthmaniyyah.
Pada 23 Mac 1921M (1340H), tentera Greek mencetuskan kembali api peperangan dan pada September tahun yang sama, pertempuran di antara kedua-dua belah pihak terhenti apabila Greek menarik keluar tenteranya dari Izmir.
Dua hari selepas itu, tentera-tentera Uthmaniyyah mula memasuki Izmir tanpa menggunakan sebarang kekerasan.
Propaganda Barat telah membesar-besarkan kemenangan pimpinan Mustafa Kamal ini dan menyebarkannya dengan cepat ke negara-negara Islam.
Orang Islam telah tertipu dengan tindakkan Mustafa yang berjaya memenuhi aspirasi mereka sehinggakan Ahmad Shauqi pernah memuji belaiu melalui sebuah qasidah yang mengumpamakan Ataturk seperti Khalid bin al-Walid.
"Maha Besar Allah betapa kemenangan yang penuh keajaiban, Khalid Turki hidupkanlah kembali, Khalid Arab.
Bubar kerajaan Khalifah
Malangnya impian mereka yang tertipu dengan tindakan Mustafa tidak tercapai kerana pada 3 Mac 1343H (1924M)., tersiar berita tentang pembubaran Kerajaan Khalifah.
Khalifah dan kerabat Diraja telah dihalau keluar dari negara Turki, manakala dua buah kementerian iaitu Kementerian Wakaf dan Kementerian Undang-undang Syari'ah telah dimansuhkan.
Sekolah-sekolah agama pula telah ditukar menjadi sekolah-sekolah awam.
Dalam suasana getir itu, musuh-musuh Islam melihat bahawa penghapusan Khalifah Islamiah bukanlah suatu perkara mudah kerana ia hanya akan tercapai dengan cara menonjolkan seorang wira yang agung dan Mustafa merupakan orang yang digelar wira tersebut.
Pihak Inggeris telah melaksanakan rancangan ini bersama-sama Mustafa Kamal sendiri dengan membebaskan Greek dari Izmir dan mendakwa Mustafa adalah pahlawan sebenar yang menjayakan kemenangan tersebut.
Seluruh rakyat mula mempercayai perkara tersebut dan bagi Inggeris inilah masa yang paling sesuai untuk memasukkan jarumnya bagi menghancurkan Islam. Wallahua'lam
Firman Allah "Sederhanalah dan jangan terlalu berlebih-lebihan serta berusahalah melakukan yang benar. Setiap musibah yang menimpa orang-orang muslim adalah suatu pelebur kesalahan biarpun hanya sekadar tercucuk duri " ……..
Firman Allah "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu berdukacita, padahal kamulah orang–orang yang paling tinggi darjatnya, sekiranya kamu beriman."- (surah Ali Imran:Ayat 139)
http://hapise.multiply.com/journal/item/5[...]
jblack
Sep 12 2008, 11:08 AM
menarik jugak bace dlm ni. tapi bnyk sgt la. kalau ade compilation boleh download cantik gak
kawan2 jgn lupe, register aje terus dpt duit raye,
http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=jeff14
rick_kk
Sep 20 2008, 08:56 AM
Aslkm.
Aslkm.
Maklumat yang baik dan telus ini mampu membuka minda dan mata hati mereka yang mahu memikirkannya.
Secara peribadi; berkaitan sebaran agama ini saya membuat klasifikasi:
Era Rasulullah: Tiada peperangan kecuali untuk mempertahankan diri; malah peperangan terhadap golongan murtad tidak lebih daripada pembalasan terhadap tipuan dan pengkhianatan mereka. (Nota: seperti kita ketahui; terdapat golongan yang masuk Islam sekadar menjalankan helah memerangkap umat Islam).
Era Khalifah Rasyidin: Pemilihan ketua dibuat secara baiah. Peperangan dalam era berlaku bukan atas dasar meluaskan wilayah tetapi atas dasar menebus maruah Islam dan membuka jalan kepada 'kebebasan beragama'. (Nota: Peperangan dibuat terhadap pemerintah kafir yang menghalang rakyatnya memeluk Islam dan memaksa mereka tetap dengan agama yang ditentukan pemerintah; sebaliknya kepada ketua negara (walaupun mereka bukan Islam) yang memberi kebebasan kepada rakyatnya memilih agama; terus diberi pengiktirafan (dan perlindungan) oleh khalifah Islam).
Era Selepas Khalifah Rasyidin: Khalifah Islam mula membelakangi visi dan misi Islam (rujuk atas dasar apa Nabi Muhammad diutus kepada manusia; dan rujuk prisinsip umat (ulamak) Islam sebagai pewaris nabi dalam meneruskan misi dan visi dengan mengekalkan konsep dan prinsip Islam); sebaliknya mula melakukan sesuatu yang berkepentingan peribadi dan kuasa; apabila sistem monarki diamalkan dan peperangan dibuat atas dasar meluaskan kuasa. Taklukan era inilah yang memberi kesan negatif di mana penakluk tidak menyebar Tauhid kepada penduduk jajahan takluknya sebaliknya mementingkan pungutan cukai dan meraih kekayaan untuk kehidupan mewah; telah menimbulkan rasa benci dan dendam yang tiada berkesudahan kepada penduduk tanah jajahan. (Nota: Sesungguhnya praktikal Islam, misi menyebar Tauhid bukanlah dengan cara peperangan atau penaklukan; sebaliknya ia adalah suatu dedikasi dalam membuka minda umat manusia dalam melihat (dengan jelas) antara kebenaran dan kebatilan (minadz-dzulumati ilan-nur).
Era Fitnah: Era fitnah ialah era terkini; di mana umat Islam melihat sesuatu yang non-Islamik sebagai identiti Islam. Mereka mengamalkannya dan memepertahankannya. Dalam masa yang sama identiti sebenar Islam telah terabaikan; sehingga lahir konsep dan prinsip melalui takrifan atau glosari dan interpretasi/konotasi yang tersasar. Tuhan telah dianggap sebagai majikan yang mesti diampu (konsep religi), memuji-muji sekadar ingin mendapat upah (mulut memuji-muji, minda tergambar upah). Dari sini tertanam sifat 'syirik syaghir' yang melumpuhkan 'mukhlithina lahuddin' dalam hati umat Islam. Ketika inilah reputasi umat Islam mula merudum; dan Islam tertampil begitu hodoh; diperlekeh dan dipersendakan oleh dunia.
Oleh itu; marilah kita bermuhasabah diri dalam mempastikan keaslian ajaran Islam yang kita amalkan; lantas menyatukan usaha dan minda kita membawa semua umat Islam kepada umat yang satu; dan menampilkan kepada dunia di mana letaknya kebenaran Islam dan di mana letaknya kebatilan mereka; semoga mereka ingin kembali kepada Tauhid.
Wslm.
sofiahdewi
Sep 21 2008, 06:33 AM
Waalaikumussalam,
Terima kasih kepada saudara/saudari rick_kk diatas perkongsian tambahan ini. Semuga sama sama kita beroleh tambanan ilmu. Mohon di tambahan perkongsian ilmu untuk kesanambungan yang berterusan dan munafaat untuk renungan bersama.
sofiahdewi
Sep 21 2008, 06:37 AM
QUOTE(jblack @ Sep 12 2008, 11:08 AM)

menarik jugak bace dlm ni. tapi bnyk sgt la. kalau ade compilation boleh download cantik gak
kawan2 jgn lupe, register aje terus dpt duit raye,
http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=jeff14 Terima kasih di atas komentar saudara/saudari. Semuga mendapat perhatian saudara administrator.
trzpower
Sep 24 2008, 08:20 AM
Salam Ramadhan!
Tahniah buat semua yang terlibat dalam thread yang amat menarik ini, ( terutamanya tuan tanah )banyak ilmu yang berguna utk pedoman kita. Semoga usaha anda mendapat keberkatan Allah!
Wassalam