Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Islam Dalam Lintasan Sejarah
Mesra.net Forum > Social & Societies > Hal Ehwal Islam
Pages: 1, 2, 3
sofiahdewi



Jihad Never Sleep Mujahid Never Die
Kembali Pada Fitrah Kembali Kepada Syariah dan Kembali Pada Khalifah Islamiah





Renungan Sejarah Silam



Dulu Islam Pernah Berjaya
Sirah Nabawiyah & Islam Oleh : Redaksi 03 Mar 2006 - 3:34 pm

Ibarat paku: semakin ditekan, Islam akan menancap semakin kuat. Asal tidak bercerai-berai, kejayaan itu bisa diraih lagi.

Dinasti Abbasiyiah membawa Islam ke puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat.

Masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi, kata Ketua Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia, Dr Muhammad Lutfi, terjadi pada masa pemerintahan Harun Al Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786.

Saat itu, kata Lutfi, banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna.

Sebelum Islam datang, kata Luthfi, Eropa berada dalam Abad Kegelapan. Tak satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan lebih percaya tahyul. Dalam bidang kedoteran, misalnya. Saat itu di Barat, jika ada orang gila, mereka akan menangkapnya kemudian menyayat kepalanya dengan salib. Di atas luka tersebut mereka akan menaburinya dengan garam. ''Jika orang tersebut berteriak kesakitan, orang Barat percaya bahwa itu adalah momen pertempuran orang gila itu dengan jin. Orang Barat percaya bahwa orang itu menjadi gila karena kerasukan setan,'' jelas Luthfi.

Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama mandanik, sejenis pelontar batu atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah dan membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab.

Lain lagi pada masa pemerintahan dinasti Usmaniyah -- di Barat disebut Ottoman -- yang kekuatan militernya berhasil memperluas kekuasaan hingga ke Eropa, yaitu Wina hingga ke selatan Spanyol dan Perancis. Kekuatan militer laut Usmaniyah sangat ditakuti Barat saat itu, apalagi mereka menguasai Laut Tengah.

Kejatuhan Islam ke tangan Barat dimulai pada awal abad ke-18. Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir. Saat itu Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan peralatan cetak, ditambah tenaga ahli.

Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang berkembang pada kekhalifahan Usmaniyah.

Salah langkah diambil saat mereka mendukung Jerman dalam perang dunia pertama. Ketika Jerman kalah, secara otomatis Turki menjadi negara yang kalah perang sehingga akhirnya wilayah mereka dirampas Inggris dan Perancis.

Tanggal 3 Maret 1924, khilafah Islamiyah resmi dihapus dari konstitusi Turki. Sejak saat itu tidak ada lagi negara yang secara konsisten menganut khilafah Islamiyah.

Kini 82 tahun berlalu, umat Muslim tercerai berai. Akankah Islam kembali mengalami zaman keemasan seperti yang terjadi di 700 tahun awal pemerintahannya?

Ketua MUI, KH Akhmad Kholil Ridwan menyatakan optimismenya bahwa Islam akan kembali berjaya di muka bumi. Ridwan menyebut saat ini merupakan momen kebangkitan Islam kembali. ''Seperti janji Allah, 700 tahun pertama Islam berjaya, 700 tahun berikutnya Islam jatuh dan sekarang tengah mengalami periode 700 tahun ketiga menuju kembalinya kebangkitan Islam,'' ujarnya.

Meskipun saat ini umat Islam banyak ditekan, ujar Ridwan, semua upaya ini justru semakin memperkuat eksistensi Islam. Ini sesuai janji Allah yang menyatakan bahwa meskipun begitu hebatnya musuh menindas Islam namun hal ini bukannya akan melemahkan umat Islam. ''Ibaratnya paku, semakin ditekan, Islam akan semakin menancap dengan kuat,''ujarnya.

Sementara itu, Luthfi menyatakan sistem khilafah Islamiyah masih relevan diterapkan pada zaman sekaran ini asal dimodifikasi. Ia mencontohkan konsep pemerintahan yang dianut Iran yang menjadi modifikasi antara teokrasi (kekuasaan yang berpusat pada Tuhan) dan demokrasi (yang berpusat pada masyarakat).

Di Iran, kekuasaan tertinggi tidak dipegang parlemen atau presiden, melainkan oleh Ayatullah atau Imam, yang juga memiliki dewan ahli dan dewan pengawas. Sistem pemerintahan Iran ini, menurut Luthfi, merupakan tandingan sistem pemerintahan Barat. ''Tak heran kalau Amerika Serikat sangat takut dengan Iran karena mereka bisa menjadi tonggak peradaban baru Islam.''

Konsep khilafah Islamiyah, kata Luthfi, mengharuskan hanya ada satu di dunia dan tidak terpecah berdasarkan negara atau etnis. ''Untuk mewujudkannya lagi saat ini, sangat sulit,'' kata dia.

Sementara Kholil Ridwan menjelaskan ada tiga upaya konkret yang bisa dilakukan umat untuk mengembalikan kejayaan Islam di masa lampau. Yang pertama adalah merapatkan barisan. Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103 yang isinya "Dan berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai."

Upaya lainnya adalah kembali kepada tradisi keilmuan dalam agama Islam. Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan ilmu fardhu ain adalah Alquran, hadis, fikih, tauhid, ahlaq, syariah, dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran, matematika, psikologi, dan cabang sains lainnya.

Sementara upaya ketiga adalah dengan mewujudkan sistem yang berdasarkan syariah Islam.






Topik Katagori Ini Lainnya

Baghdad, Kota Dengan Sejarah Panjang
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=271_0_4_0_M

Bangsa-bangsa yang Dihancurkan Allah
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=343_0_4_0_M

Ibnu Sina dan 'Kitab Suci' Kesehatan
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=1168_0_4_0_M

Jatidiri Bangsa Petualang "KURDI"
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=772_0_4_0_M

Kehadiran Islam di Balkan
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=1212_0_4_0_M

Khairuddin Barbarossa
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=2406_0_4_0_M

Nabi Yusuf Pernah Jadi Menteri
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=1506_0_4_0_M

Penemu Sirkulasi Pernapasan Ibn Al-Nafis atau Harvey?
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=390_0_4_0_M

Pesan Rasulullah untuk Gubernur Mesir
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=2010_0_4_0_M





Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
aPplE MaC
ni bukan aku yg ckp tp zmn aku blajar dulu lecturer yg bgtau
islam skrg dh kembali ke zamn jahiliyah

pd pndgn aku yg tk beberapa pndai ni aku cuma memerhati jek
sofiahdewi
Inilah jawapan yang kian lama aku tercari cari semenjak tahun 2002 mengenai peristiwa isra mi’raj walaupun tak saperti yang ku harapkan semuga ada lagi infomasi yang lebih jelas dari yang ini.

Sempena kedatangan Ramadan dan setelah pemergian 27 rejab dan pada bulan kelahiranku iaitu bulan syaaban aku bersyukur dapat terus tegar dengan apa yang aku percaya. Semuga aktikel ini memberi sedikit munafaat pada banyak orang.






Khutbah Jumaat - 27 Rejab 1423H/4 Oktober 2002M Bil:39/2002



PERISTIWA ISRA MI'RAJ DAN KEPENTINGANNYA BAGI UMAT

Oleh : AN-NAJM






Sidang jamaah yang dirahmati Allah,

Bulan Rejab kian hampir melabuhkan tirainya. Maka semakin terasa dekatnya pertemuan dengan bulan mulia lagi penuh rahmat, iaitu Ramadan al-mubarak. Namun, di penghujung Rejab yang mulia ini, kita terpanggil untuk merenung sejenak peristiwa yang besar dan bermakna bagi seluruh umat. Peristiwa yang dimaksudkan itu ialah peristiwa Israk Mikraj yang menakjubkan, yang berlaku pada malam 27 Rejab, tahun ke-11 daripada kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Israk dan Mikraj adalah dua peristiwa yang amat besar dan luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan dianggap sebagai satu penganugerahan yang tinggi nilainya dari segi kerohanian. Kedua-dua peristiwa itu adalah kurnia Allah SWT kepada baginda untuk memperlihatkan tanda keagungan dan kekuasaan-Nya.

Sungguhpun peristiwa luar biasa yang terjadi setahun sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah itu mustahil dapat dijangkau oleh alam pemikiran manusia, namun kita selaku umat Islam wajib percaya dan mengyakini bahawa Israk Mikraj yang ditempuhi serta dialami oleh Nabi Muhammad SAW adalah benar dan berlaku dengan roh dan jasadnya sekali. Segala-galanya boleh berlaku dengan kehendak dan kekuasaan Allah selaku Pencipta dan Pentadbir alam semesta.

Sidang jamaah yang mulia,

Israk bererti perjalanan Nabi SAW dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis di Palestin. Peristiwa ini terakam di dalam Al-Quran, sepertimana firman Allah yang bermaksud :

“Maha Suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil-Haraam (di Mekah) ke Masjidil-Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(Q.S. Al-Israa’: 1).

Sementara itu, Mikraj pula merujuk kepada perjalanan baginda SAW dari Masjidil Aqsa ke Sidratulmuntaha di langit ketujuh, dekat singgahsana Allah SWT sepertimana yang digambarkan oleh Al-Quran yang bermaksud:

“Dan demi sesungguhnya! (Nabi Muhammad) telah melihat (malaikat Jibril dalam bentuk rupanya yang asal) sekali lagi di sisi “Sidratul-Muntaha”; yang di sisinya terletak syurga “Jannatul-Makwa”. (Nabi Muhammad melihat Jibril dalam bentuk rupanya yang asal pada kali ini ialah) semasa “Sidratul-Muntaha” itu diliputi oleh makhluk-makhluk dari alam-alam ghaib, yang tidak terhingga. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak berkisar daripada menyaksikan dengan tepat (akan pemandangan yang indah di situ yang diizinkan melihatnya), dan tidak pula melampaui batas. Demi sesungguhnya ia telah melihat sebahagian dari sebesar-besar tanda-tanda (yang membuktikan luasnya pemerintahan dan kekuasaan) Tuhan-Nya.”

(Q.S. An-Najm: 13-18).

Oleh itu, Israk Mikraj dapat disimpulkan sebagai satu perjalanan kilat Nabi Muhammad pada malam hari atas kudrat dan iradat Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke langit sampai ke Sidratul Muntaha, bahkan ke Mustawa dan sampai di bawah Arasy Allah (suatu tempat di mana alam ini diatur) dengan menembusi tujuh lapis langit, lalu kembali semula ke Makkah pada malam yang sama.

Sidang jamaah yang dikasihi Allah,

Salah satu inti penting daripada peristiwa Israk dan Mikraj ialah perintah solat yang diterima Nabi SAW di Sidratulmuntaha. Pada mulanya Allah SWT memberi perintah supaya mengerjakan solat (sembahyang) 50 waktu sehari semalam. Tatkala bertemu dengan Nabi Musa Alaihi Salam di langit keenam, Muhammad SAW menceritakan perintah yang diterimanya daripada Allah. Lalu Nabi Musa menyarankan agar baginda kembali menghadap Allah SWT untuk memohon keringanan, dengan alasan bahawa umatnya tidak akan sanggup melaksanakan solat 50 waktu itu. Disebabkan terlalu sayangkan umatnya, Nabi SAW menerima saranan itu. Ia pun kembali menghadap untuk memohon keringanan. Permohonan itu berulang sampai 9 kali hinggalah Allah SWT mengabulkannya dengan mengurangi waktu solat menjadi hanya 5 kali sehari semalam.

Adapun waktu-waktu solat yang telah ditentukan itu ialah Subuh, Zohor, Asar, Maghrib dan Isya. Waktu mengerjakan solat berkenaan diterangkan dengan jelas di dalam Al-Quran, sepertimana firman Allah yang bermaksud :





“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan-peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Q.S. Hud: 114).

Sidang jamaah yang berbahagia,

Bulan Rejab tahun ke-11 dari kerasulan baginda SAW, disifatkan oleh ahli sejarah sebagai ‘Amulhuzn’ (tahun dukacita) bagi Rasulullah. Ini berikutan dengan dua musibah berturut-turut yang menimpa baginda, iaitu kehilangan dua insan tersayang berikutan kewafatan Khadijah, isteri baginda yang tercinta, yang kemudian disusuli pula dengan pemergian bapa saudara baginda, Abu Thalib, yang banyak melindunginya daripada ancaman kaum kuffar Quraisy.

Musibah yang menimpa itu berpengaruh besar terhadap diri Rasulullah. Lantas Nabi merasakan ruang untuk pergerakan dakwah di kota Makkah semakin sempit dan keselamatan diri turut terancam. Keadaan yang sedemikian mendorong Rasulullah untuk berpindah ke Thaif dengan harapan agar penduduknya menerima seruan dan bersedia membantu perjuangannya. Malangnya, segala harapan baginda hancur berkecai kerana penduduk Thaif bukan saja tidak mahu memberi perlindungan kepada Nabi, malah Nabi dicaci, dihina hatta dianiaya.

Lalu, Rasulullah kembali semula ke Makkah dengan perasaan hampa tanpa hasil. Dan dalam hal keadaan menanggung kesedihan dan kehampaan, Allah menganugerahkan Israk Mikraj, yang antara lain bertujuan menghibur dan mempertebal iman Nabi SAW.

Sidang jamaah yang berbahagia,

Berdasarkan kepada peristiwa Israk Mikraj, kita memperolehi pelbagai pengajaran berharga yang terkandung di dalamnya untuk direnungi serta dihayati. Antara pengajaran berguna tersebut ialah:

1. Manusia harus sentiasa mengadakan hubungan dengan Allah, baik di kala ditimpa kesusahan mahupun di kala mendapat kesenangan. Ini kerana hanya Allah yang berkuasa memberikan pertolongan, menghilangkan segala kesedihan, dukacita dan kesusahan pada diri manusia. Sebagaimana yang diceritakan, Nabi telah ditimpa beberapa musibah sebelum terjadi Israk Mikraj. Dalam keadaan demikian, datang perintah untuk Israk Mikraj, iaitu untuk berhadapan dengan Allah swt. Ini memberi pengajaran kepada kita agar mendekatkan diri kepada Allah sewaktu didatangi musibah dan pelbagai permasalahan dalam kehidupan. Caranya ialah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya di samping terus meningkatkan ketakwaan dan amal ibadat.

2. Menjauhi perkara mungkar dan maksiat. Semasa Israk Mikraj, tepatnya sewaktu Nabi diajak meninjau keadaan neraka, baginda ditunjukkan berbagai bentuk penyeksaan dahsyat yang sedang dialami oleh berbagai kaum sebagai akibat daripada segala macam bentuk kejahatan yang pernah mereka lakukan. Misalnya Nabi diperlihatkan kepada satu kaum yang memecahkan sendiri kepala mereka dengan batu besar, setelah pecah ia kembali bertaut seperti sediakala. Nabi juga melihat bentuk penyeksaan yang lain seperti seksaan bagi pemakan riba, penzina, pengumpat, yang suka memfitnah dan lain-lain lagi. Ini semua memberi iktibar supaya kita yang hidup di dunia ini tidak melakukan segala perbuatan tercela itu dan juga pekerjaan lain yang jelas dilarang Allah kerana begitulah seksaan yang bakal diterima oleh seseorang di akhirat nanti sekiranya perbuatan yang dilarang Allah itu dilakukan.

3. Perintah solat sebagai suatu bentuk ibadah yang Allah sendiri menggariskan ketentuan mengenainya. Kewajipan solat berbeza dengan kewajipan yang lain seperti puasa, zakat dan haji. Ini adalah kerana kewajipan solat diterima langsung oleh Nabi daripada Allah sewaktu bertemu Allah pada malam Mikraj tanpa perantaraan malaikat Jibrail. Ini menunjukkan keistimewaan dan kelebihan solat berbanding ibadah-ibadah lain, dan solat juga amalan yang paling awal dihisab di akhirat kelak. Dengan solat, kita berpeluang untuk berdialog langsung dengan Allah, iaitu ketika bersolat.

4. Mengakui dan tunduk kepada kebesaran Allah sebagai pencipta agar keyakinan terhadap kekuasaan-Nya benar-benar bersemi di jiwa manusia. Ini kerana sewaktu Israk Mikraj, Allah memperlihatkan kepada Nabi akan keagungan dan berbagai keajaiban ciptaan-Nya yang terdapat di alam tinggi bernama langit itu seperti Sidratul Muntaha, syurga dan lain-lain lagi.

5. Anjuran memberi salam. Di sepanjang perjalanan Mikraj, Nabi tidak pernah lupa mengucapkan salam kepada rasul yang baginda temui. Ini mengingatkan kita kepada keutamaan memberi salam dan galakan supaya selalu memberi salam kepada saudara sesama Islam sebagai tanda penghormatan dan untuk mengeratkan hubungan.

6. Mengingatkan usia dunia yang sudah tua yang mana dibayangkan melalui pertemuan Nabi dengan seorang nenek tua. Ia memberi gambaran kepada kita yang umur dunia sudah lanjut dan hampir berlaku kiamat. Hakikat ini memperingatkan setiap Muslim bahawa segala kemewahan dan kesenangan dunia hanyalah bersifat sementara. Hanya ketakwaan dan amal salih menjadi bekalan untuk ke akhirat.

7. Berwaspada dengan rayuan dan tipu daya iblis, di mana sewaktu Israk, pada awal perjalanan lagi jin ‘Afrit telah mengejar baginda dengan membawa obor untuk menghalang perjalanan Nabi dan berusaha memperdayakan baginda. Peristiwa ini memperingatkan kita bahawa syaitan dan iblis tidak akan jemu-jemu untuk menyesat dan memperdayakan umat manusia dengan pelbagai cara.

Sidang jamaah yang dihormati,

Israk Mikraj merupakan mukjizat yang tidak diberikan kepada nabi-nabi yang lain. Justeru itu, Pelbagai pengajaran berharga yang terkandung di dalamnya hendaklah direnung dan dihayati supaya ianya dapat membantu memberikan nilai tambah dalam kehidupan, baik dalam usaha meningkatkan ketakwaan dan prestasi ibadah kepada Allah mahupun untuk peningkatan ilmu pengetahuan, terutama dalam menghadapi cabaran globalisasi masa kini. Firman Allah yang bermaksud :

“Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul sebelummu (wahai Muhammad), selain dari kalangan orang lelaki yang Kami wahikan kepada mereka. Oleh itu bertanyalah kamu kepada orang yang berpengatahuan agama jika kamu tidak mengetahui.”

(Q.S. An-Nahl: 43).






http://www.swaramuslim.com/streaming/tausi...unami-intro.wmv


sofiahdewi
Ilham untuk menjejak sejarah melayu ini datang dari diskusi dengan Kernel dan Adam tentang betapa pentingnya mengetahui sejarah permulaan bangsa Melayu yang di anggap samar samar kerana tiada asas yang kukuh untuk mendapat maklumat yang tepat mengenai asal usul dan permulaan sebenar sejarah Melayu atau bangsa Melayu. Disini ingin saya kongsi sedikit informasi mengenai sejarah bangsa Melayu. Semuga mendapat kerjasama lebih ramai lagi teman teman agar kita dapat menyelami lebih dalam lagi warisan datuk nenek moyong kita.


Melayu


{{Etnik| nama etnik=Melayu Imej:BalineseWoman1930-1-.jpg|250px|center poptime=''c. '' 200-300 juta popplace=Brunei, Filipina, Indonesia, Madagascar, Malaysia, Timor Leste langs=Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia rels=Islam, Hindu, Buddha, Kristian, Animisme related=Polynesian, Micronesian
}}

'''Melayu''' merujuk kepada mereka yang bertutur bahasa Melayu dan mengamalkan adat resam orang Melayu. Bangsa Melayu merupakan bangsa termuda di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Perkataan Melayu mungkin berasal daripada nama sebuah anak sungai yang bernama '''Sungai Melayu''' di hulu Sungai Batang Hari, Sumantera. Di sana letaknya '''Kerajaan Melayu''' pada zaman 1500 tahun dahulu sebelum atau semasa adanya Kerajaan Sriwijaya.Sehubungan itu, dari segi etimologi, perkataan "Melayu" itu dikatakan berasal daripada perkataan Saskrit "Malaya" yang bermaksud "bukit" ataupun tanah tinggi.[1]


=Masalah Dalam Penakrifan Orang Melayu=

Penakrifan orang Melayu merupakan satu pekerjaan yang sukar. Sekiranya menurut penakrifan orang Melayu sebagai orang yang bertutur dalam Bahasa Melayu, penakrifan ini merangkumi kebanyakan orang di Malaysia, Indonesia, dan sebahagian daripada negeri Thai dan Filipina. Tetapi, apa yang menjadi masalahnya, di Indonesia orang Melayu hanya merupakan salah satu daripada beratus-ratus kaum-suku di negara itu. Lebih-lebih lagi, warga Indonesia lebih suka mengenali diri mereka sebagai orang Indonesia dan mengenali bahasa mereka sebagai bahasa Indonesia. Walaupun demikian, secara amnya terdapat dua jenis penakrifan untuk menentukan sama ada seseorang itu orang Melayu.Iaitu:

• Penakrifan Undang-Undang
• Penakrifan Antropologi


Penakrifan Undang-undang

Di negara Malaysia, orang Melayu didefinisikan menurut Perlembagaan Persekutuan dalam pekara 160(2).Menurut pekara ini, orang Melayu ditakrifkan sebagai[2]:

1. Seorang yang beragama Islam
2. Bertutur bahasa Melayu
3. Mengamalkan adat isiadat Melayu
4. Lahir sebelum hari Merdeka sama ada di Persekutuan atau di Singapura, atau pada hari Merdeka dia bermastautin di Persekutuan atau di Singapura.

Definisi Undang-undang ini adalah ditetapkan demi keperluan politik di Negara Malaysia. Maka dengan itu, ia adalah tidak menepati hakikat di mana sebenarnya terdapat juga orang Melayu yang bermastautin di luar Persekutuan Malaysia. Contohnya di selatan Thailand terdapat juga kelompok manusia yang bertutur dalam Bahasa Melayu dan mengamalkan budaya orang Melayu.


Penakrifan Antropologi

Menurut Syed Husin Ali, Antropologist di negara Malaysia, orang Melayu itu dari segi lahiriah, lazimnya berkulit sawo matang, berbadan sederhana besar serta tegap dan selalu berlemah lembut serta berbudi bahasa[3].Dari segi etnologi, Melayu bermakna kelompok masyarakat yang mengamalkan sistem kemasyarakatan dwisisi dan kegenerasian yang termasuk dalam bangsa Mongoloid[4]


=Asal Usul Bangsa Melayu=

Asal usul bangsa Melayu merupakan sesuatu yang sukar ditentukan. Walaupun terdapat beberapa kajian dilakukkan untuk menjelaskan pekara ini, tetapi kata sepakat antara para sarjana belumlah tercapai. Secara amnya terdapat 2 teori mengenai asal usul Bangsa Melayu iaitu:

• Bangsa Melayu Berasal daripada Yunan(Teori Yunan)
• Bangsa Melayu Berasal daripada Nusantara(Teori Nusantara)

Selain itu ada juga pendapat yang mengatakkan orang Minangkabau itu berasal daripada pengikut Nabi Nuh, iaitu bangsa Ark yang mendarat di muara Sungai Jambi dan Palembang, semasa banjir besar berlaku di bumi. Tetapi pendapat ini masih belum mendapat bukti yang kukuh.



Teori Yunan


Teori ini disokong oleh beberapa sarjana seperti R.H Geldern, J.H.C Kern, J.R Foster, J.R Logen, Slametmuljana dan juga Asmah Haji Omar. Secara keseluruhannya Alasan-alasan yang menyokong teori ini adalah seperti berikut:

1. Kapak Tua yang mirip kepada Kapak Tua di Asia Tengah ditemui di Kepulauan Melayu. Pekara ini menunjukkan adanya migrasi penduduk daripada Asia Tengah ke Kepulauan Melayu.
2. Adat Resam bangsa Melayu mirip kepada suku Naga di daerah Assam(Berhampiran dengan sempadan India dengan Myanmar).
3. Bahasa Melayu adalah serumpun dengan bahasa di Kemboja. Dengan lebih lanjut lagi, peduduk di kemboja mungkin berasal daripada dataran Yunan dengan menyusuri Sungai Mekong. Perhubungan bangsa Melayu dengan bangsa Kemboja sekaligus menandakan pertaliannya dengan dataran Yunan.

Teori ini merupakan teori yang popular yakni yang diterima umum. Contohnya, dalam buku Teks Pengajian Malaysia[5], adapun menyatakan "nenek moyang" orang Melayu itu berasal daripada Yunan.

Berdasarkan Teori ini, dikatakan orang Melayu datang dari Yunan ke Kepulauan Melayu menerusi tiga gelombang yang utama, yang ditandai dengan perpindahan Orang Negrito, Melayu Proto, dan juga Melayu Deutro. Berikut adalah huraiannya.


Orang Negrito

Orang Negrito merupakan pududuk paling awal di Kepulauan Melayu. Mereka diperkirakan ada di sini sejak 1000 SM berdasarkan penerokaan arkeologi di Gua Cha, Kelantan. Daripada orang Negrito telah diperturunkan orang Semang yang mempunyai ciri-ciri fizikal berkulit gelap, berambut kerinting, bermata bundar, berhidung lebar, berbibir penuh, serta saiz badan yang pendek.


Melayu Proto

Perpindahan orang Melayu Proto ke Kepulauan Melayu diperkirakan berlaku pada 2500 SM. Mereka mempunyai peradaban yang lebih maju daripada orang Negrito, ditandai dengan kemahiran bercucuk tanam.
Melayu Deutro

Perpindahan orang Melayu Deutro merupakan gelombang perpindahan orang Melayu kuno yang kedua yang berlaku pada 1500 SM. Mereka merupakan manusia yang hidup di pantai dan mempunyai kemahiran berlayar.
Teori Nusantara

Teori ini didukung oleh sarjana-sarjana seperti J.Crawfurd, K.Himly, Sutan Takdir Alisjahbana dan juga Gorys Keraf. Teori ini adalah disokong dengan alasan-alasan seperti di bawah:

1. Bangsa Melayu dan Bangsa Jawa memupunyai tamadun yang tinggi pada abad kesembilan belas. Taraf ini hanya dapat dicapai setelah perkembangan budaya yang lama. Pekara ini menunjukkan orang Melayu tidak berasal dari mana-mana, tetapi berasal dan berkembang di Nusantara.
2. K.Himly tidak bersetuju dengan pendapat yang mengkatakan bahawa Bahasa Melayu serumpun dengan Bahsa Champa(Kemboja). Baginya, persamaan yang berlaku di kedua-dua bahasa adalah satu fenomena "ambilan"
3. Manusia kunoHomo Soloinensis dan Homo Wajakensis terdapat di Pulau Jawa. Penemuan manusia kuno ini di Pulau Jawa menunjukkan adanya kemungkinan orang Melayu itu keturunan daripada manusia kuno tersebut yakni berasal daripada Jawa.
4. Bahasa di Nusantara(Bahasa Austronesia) mempunyai perbezaan yang ketara dengan bahasa di Asia Tengah (Bahasa Indo-Eropah).



Teori ini merupakan teori yang kurang popular khususnya di negara Malaysia.

=Kekeluargaan Orang Melayu=

Sistem kekeluargaan Melayu mempunyai ciri-ciri yang agak fleksibel. Ciri-ciri ini terlihat dalam perkhawinan Melayu yang boleh berbentuk matrilokal atau patrilokal, monogami atau poligami. Lebih-lebih lagi, perkembangan keluarga mempunyai beberpa variasi. Dalam sistem ini keluarga boleh bercerai dan bergabung sekiranya berlaku perceraian ibu bapa dan perkhawinan semula.Malah bukan semua keluarga akan mengalami perkembangan kepada keluarga luas, yakni sebuah keluarga(yang mendiami sebuah rumah) mempunyai golongan 3 generasi. Kelahiran cucu mungkin membawa kepada perkembangan ini tetapi juga mungkin membawa kepada perpecahan keluarga dengan perginya ibu bapa yang baru demi mencari ruangan yang baru di luar rumah untuk keluarganya yang mengalami penambahan ahli. Bersamping itu faktor yang menyebabkan seorang anak mewarisi rumah ibu-bapa mereka juga tidak menentu dan ia mungkin disebabkan oleh desakan ekonomi dan alasan-alasan yang lain.



=Nota Kaki=


[1] Harun Aminurrrashid,1966 ''Kajian Sejarah Perkembangan Bahasa Melayu'', Singapura: Pustaka Melayu, hlm 4-5.
[2] Madiana&Hasnah,2000, ''Pengajian Malaysia'',Shah Alam: Penerbitan Fajar Bakti, hlm 140.
[3] Ismail Hamid, 1988, ''Masyarakat dan Budaya Melayu'', Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, hlm 4.
[4]''Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu'', 1988, Jld 3 (M-Q), Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,hlm 1504
[5] Madiana&Hasnah,2000,''Pengajian Malaysia'',Shah Alam: Penerbitan Fajar Bakti,hlm 150



http://copernicus.subdomain.de/ms:Melayu

http://www.geocities.com/traditionalislam/


Atas tajuk 'Kegemilangan Tamadun Melayu, Warisan dan Cabaran Abad Ke-21' ada tiga perkara yang harus dibincangkan: pertama, kegemilangan Tamadun Melayu, kedua, warisan, ketiga, cabaran.

Di zaman moden ini tuntutan ilmu tidak lagi terhad kepada kumpulan ilmuan atau cerdik pandai tetapi sudah menjadi hak dan minat seluruh masyarakat. Untuk meningkatkan pengetahuan dalam bidang-bidang ilmu, kajian perlu dibuat melalui penyelidikan, perbincangan dan lain-lain cara.

Di masa-masa yang lampau terdapat minat yang tebal di kalangan kumpulan etnik Melayu untuk mengetahui dengan lebih mendalam akan zaman kegemilangan dahulu serta untuk mengenali tamadun yang menjadi asas dan warisan mereka.

Apabila kita menyebut tentang kegemilangan zaman dahulu, secara tidak langsung kita membuat perbandingan dengan keadaan zaman ini yang dirasai tidak begitu gemilang. Perbandingan cara ini adalah baik jika tujuannya ialah untuk mencari inspirasi dan keyakinan bahawa kegemilangan dahulu boleh dikejar dan dicapai di zaman ini. Tetapi perbandingan adalah buruk jika kita hanya ingin berkhayal dengan zaman dahulu, bagi menyedapkan hati dan mencari perlindunganbdaripada pandangan dunia terhadap kita sekarang.

Setiap bangsa atau kumpulan etnik mempunyai tamadunnya sendiri, jika ini diertikan dengan keseluruhan atau 'total
sum' kebudayaan, sosial, ekonomi dan politik yang digubal dan tergubal dalam masyarakat berkenaan. Walau bagaimanapun terdapat antara tamadun itu yang dianggap tinggi kerana tingkat pencapaiannya yang baik dalam keilmuan, falsafah, susunan dan keteguhan masyarakat berkenaan.

Dilihat daripada sudut-sudut tersebut, tidak dapat tidak, kumpulan etnik Melayu yang bertempat di Semenanjung
dan Kepulauan Asia Tenggara, pulau-pulau Lautan Hindi dan Lautan Pasifik mempunyai tamadun yang tinggi. Walaupunn tidak semua kumpulan etnik Melayu mempunyai tahap tamadun yang sama tingginya, tetapi nyata sekali ada kumpulan- kumpulan yang tamadunnya boleh menandingi tamadun Asia Tengah dan Lautan Mediterranean.

Pengenalan tamadun Melayu secara dekat amat penting sekali kerana kita harus tahu apa yang diwarisi oleh kita.
Di sini kita perlu kepada kejujuran intelektual atau 'intellectual honesty'. Kita tidak boleh menidakkan bahawa
di zaman yang gemilang juga terdapat ciri-ciri yang buruk, yang sebenarnya menjadi sebab mengapa yang gemilang menjadi pudar dan akhirnya hilang terus cahayanya. Mengenali unsur yang tidak baik yang terdapat di zaman dahulu, sama ada gemilang atau tidak, merupakan usaha yang tidak boleh diabaikan, seperti kata George Santayana: "Mereka yang tidak mempelajari daripada sejarah akan didera dengan mengulangi segala kesalahan dahulu". Sudah tentu mengulangi kesalahan akan membawa kesan buruk yang sama seperti yang
berlaku dahulu. Sementara kita ghairah memperkatakan tentang zaman kegemilangan Melaka dalam tamadun Melayu umpamanya, kita tidak harus lupa bahawa zaman itu juga melahirkan orang-orang seperti Kitol dan Raja Mendaliar, pengkhianat kepada bangsa Melayu.

Walau bagaimana tinggi sekalipun tamadun Melayu dahulu, hakikatnya ialah ia tidak mampu mempertahankan dirinya daripada serangan dan pengaruh tamadun Barat. Bukan sahaja secara fizikal Barat dapat merampas wilayah-wilayah Melayu, tetapi ciri-ciri tamadun Melayu sendiri telah diserang dan dimusnahkan sehingga orang Melayu tidak lagi kenal akan aspek-aspek tertentu tamadun mereka dan menganggap semua yang ada pada mereka adalah tidak baik.

Soalnya ialah apakah serangan tamadun Barat ini ke atas tamadun Melayu baik ataupun tidak? Hakikat yang perlu kita
terima ialah sesuatu tamadun itu tidak terbentuk dalam sekelip mata, tetapi mengambil masa yang lama, mungkin beratus tahun lamanya untuk memperolehi cara, nilai dan amalan yang unggul atau distinctive. Sepanjang masa cara, nilai dan amalan yang secara keseluruhan menjadi 'sum total' sesuatu tamadun bertukar kerana pemikiran baru atau tekanan alam sekeliling. Hanya dengan adanya pertukaran-pertukaran ini tidak bermakna sesuatu tamadun itu telah hancur. Setiap tamadun yang berdayamaju mempunyai sifat-sifat dinamis dan ianya berubah apabila perubahan diperlukan. Tamadun yang tidak berubah, yang beku dan tidak dapat
membentuk cara, nilai dan amalan yang baru, demi penyesuaian dan keperluan masa dan tempat, akan mati dan luput. Demikian dengan tamadun Egypt lama, Assyria, Phoenicia, Greece, Mongol dan lain-lain. Demikian juga di Dunia Baru atau New World iaitu apa yang dipanggil sebagai The Americas, tamadun Incas dan lain-lain, tiada lagi merupakan tamadun yang tinggi.

Walaupun dikalahkan oleh tamadun Barat, dan ada aspek- aspek tertentu daripada tamadun Barat yang mengambil tempat sebagai sebahagian daripada tamadun Melayu, kita harus bersyukur kerana tamadun Melayu masih tidak hilang kesemua ciri-cirinya. Tamadun Melayu tidak luput dan tidak mati. Ia masih hidup walaupun kadang-kadang sukar untuk mencari persamaan antara tamadun Melayu sekarang dengan tamadun Melayu yang dikatakan asli di zaman gemilang dahulu.

Perbezaan antara tamadun lama dan baru ini bererti tamadun Melayu adalah dinamik dan berdaya hidup. Kita masih boleh mengenali tamadun Melayu yang mempunyai ciri-ciri lama sehingga ianya dapat diasingkan daripada tamadun-tamadun lain di zaman ini. Tetapi pengekalan ciri-ciri ini tidaklah sampai menjadikan tamadun Melayu tidak sesuai dengan zaman ini.

Minat untuk menghidupkan semula segala ciri tamadun Melayu yang lama biasanya didorong oleh keinginan
mengembalikan zaman kegemilangan dahulu. Untuk ini kadang- kadang tumpuan diberikan kepada perkara titik-bengik yang tidak membawa banyak manfaat, selain daripada meningkatkan perbezaan antara yang Melayu dengan yang bukan Melayu. Sebenarnya tamadun yang membawa kejayaan dalam satu zaman tidak semestinya membawa kejayaan yang sama di zaman yang lain. Lebih tepat lagi, tamadun lama yang tidak berubah
tetap akan membawa kegagalan jika diteruskan.

Tamadun yang berjaya di zaman ini tidak seratus peratus mencerminkan segala nilai, ciri dan amalan tamadun yang
menjadi asas kepadanya. Jika ada aspek tamadun yang berjaya dikekalkan dari dahulu hingga sekarang, ini ialah oleh kerana kesanggupan membuat penyesuaian dengan peredaran zaman. Kajian menunjukkan bahawa tamadun yang berjaya ini amat fleksibel, mudah dilenturkan dan adalah berdayacipta atau innovative.

Jika kita tidak mahu tamadun Melayu dijadikan sebagai satu kajian zaman silam sahaja, jika kita tidak taksub
dengan rupabentuknya dan keinginan untuk mengembalikan rupabentuk ini, maka kita harus menerima daya penyesuaian atau adaptability sebagai sebahagian daripada ciri tamadun Melayu. Ianya tidak akan menghapuskan tamadun Melayu. Sebaliknya ia akan membantu mengekalkan tamadun Melayu, walaupun akan terdapat sedikit sebanyak perbezaan antara dahulu dan sekarang.

Kajian terhadap tamadun Melayu biasanya mengambil corak penyelidikan sejarah. Kita akan menyebut tentang aspek itu dan ini yang menjadi sebahagian daripada tamadun Melayu dalam sejarah kumpulan etnik Melayu. Kita akan berbangga dengan kejayaan dan kecemerlangan zaman-zaman tertentu sebagai bukti ketinggian tamadun di zaman berkenaan. Yang penting bukanlah pemilikan sejarah yang gemilang, tetapi kejayaan semasa yang gemilang.

Justeru itu kajian mendalam perlulah dibuat tentang tamadun Melayu semasa dan di abad ke-21. Tumpuan harus
diberikan kepada perkembangan ciri-ciri tertentu yang ada kaitan dengan maju-mundurnya bangsa Melayu. Di sini juga kejujuran intelektual atau 'intellectual honesty' amat diperlukan. Janganlah kita menidakkan keburukan sesuatu unsur tamadun kita hanya kerana sesuatu unsur itu mencerminkan peribadi tamadun kita. Jika sesuatu unsur itu buruk, kita mestilah berani mengatakan ianya buruk. Tidak ada sesuatu yang lebih buruk daripada mengekalkan yang buruk kerana sentimen, kebongkakan atau false pride. Yang buruk mestilah dihapuskan walaupun ianya sebahagian daripada identiti kita. Sudah tentulah unsur yang menjadi penghalang kepada kejayaan kita harus dikikis.


Di sini kita perlu membincangkan soal warisan. Sudah tentu yang kita ingin warisi ialah tamadun yang gemilang.
Tetapi apakah maknanya warisan? Oleh kerana kita berhak menjadi waris kepada tamadun Melayu, maka apakah dengan sendirinya kita akan memperolehi kegemilangan? Atau apakah kita hanya ingin berbangga sebagai orang yang memiliki tamadun yang dahulunya gemilang?

Warisan ini tidak bermakna jika ianya tidak membawa kegemilangan di zaman ini dan zaman yang akan
datang. Yang penting bukan sejarah. Yang penting ialah pengaruh sejarah yang boleh membawa kebahagiaan kepada kita.

Dengan itu kita dihadapi dengan cabaran sama ada mampu atau tidak menggunakan aspek-aspek tamadun kita di zaman yang gemilang itu untuk kemajuan dan kegemilangan kita sekarang. Jika ditanya sudah tentu kita akan berkata kitammampu, tetapi dakwaan kita sahaja tidak menjamin pencapaian kita. Dakwaan ini mestilah disusuli dengan tindakan dan dengan usaha yang nyata ke arah kegemilangan.

Sementara kita harus mengekalkan beberapa aspek tamadun kita, kita juga harus berani menggugurkan aspek-aspek yang tidak sesuai dengan peredaran zaman dan kegemilangan yang kita kejar. Kita juga harus berani menerapkan unsur-unsur tamadun lain jika ianya boleh menolong kita mencapai kejayaan.

Sebenarnya maju-mundur sesuatu bangsa bergantung kepada nilai hidup yang menjadi sebahagian daripada tamadun bangsa itu. Jika hari ini kita berpendapat bahawa tamadun kita tidak gemilang seperti tamadun di masa yang lain, sebabnya ialah kerana ada nilai-nilai yang tidak baik dalam tamadun yang kita warisi sekarang. Cabaran yang kita hadapi ialah apakah oleh kerana kita ingin mencapai kegemilangan seperti di zaman silam, maka kita berani menukar nilai-nilai hidup yang menjadi sebahagian daripada tamadun kita yang jelas menghalang kejayaan kita? Keberanian kita bertindak mengatasi cabaran ini juga akan menjadi sebahagian daripada tamadun kita.

Perbezaan pencapaian berbagai tamadun di zaman ini lebih ketara dari zaman silam. Tidak ada lagi mana-mana
masyarakat yang boleh mengasing dan memulaukan dirinya daripada dunia luar. Sistem perhubungan yang ada sekarang sudah menjadikan dunia yang dahulu begitu luas sebagai hanya sebuah kampung atau 'global village'. Sebagaimana kita maklum tidak ada sesuatu yang berlaku dalam sebuah kampung yang boleh disembunyikan daripada masyarakat kampung itu sendiri. Semuanya akan terdedah, termasuklah segala keburukan dan kelemahan seseorang, atau sesuatu keluarga.

Memandang kepada hakikat ini, maka amatlah penting agar pengekalan tamadun lama tidaklah sehingga melemahkan kita dan menyebabkan kita ketinggalan di belakang. Apa gunanya tamadun jika kita tidak memperolehi kebahagiaan hidup? Tamadun yang tidak membawa kejayaan akan menjadi bahan
bacaan sejarah dan kajian seperti tamadun Egypt, Greece dan Roma di zaman dahulu.

Sebaliknya kita perlu bersedia menerima warisan kita dengan kesanggupan menghadapi segala cabaran serta
menerapkan unsur-unsur baru yang baik, walaupun unsur-unsur baru ini akan menjadikan tamadun kita di zaman ini berbeza sedikit dengan yang dahulu.


Sesungguhnya kegemilangan tamadun banyak bergantung kepada warisan kita. Warisan kita tidak akan memberi makna kalau pewarisnya tidak bersedia menghadapi cabaran. Cabaran itu mestilah kita hadapi dengan bijak dan tanggungjawab.






Suatu Kebangkitan
11/09/00

i)

Terbujurnya sebuah jasad
Terangkatnya wajah ke arah langit-langit
Ada hembusan nafas yang turun naik
Tiada jelas kelihatan
Lemas ditelan kegelapan malam
Terlerainya sebuah minda
Setiap peristiwa bermain di mata
Terpancar jelas di awan langit-langit
Walau berada di kamar sunyi
Yang hanya ditemani nyanyian cengkrik
Pabila termain setiap peristiwa
Kehadiran kumbang menyegat jiwa
Sesekali jatuh titisan air mata
Terasa hangat mengucup sayu
Tetapi hati masih sesejuk salju.
Bercermin di hadapan kenyataan
Bertanyakan salah tingkah laku
Sehingga lafaz janji yang kedengaran
Mereka wujudkan di dalam mimpi
Sebagai hiasan mainan anganan,
Mainan rasa dan perasaan.
Di mana terletaknya keihklasan?
Masih dikota kasih yang murni
Terhindar dari calar
Oleh kekeliruan kata-kata tidak bermada
Sesunggunya...
Utaian kasih berwarna sayang
Simpanan khas teristimewa
Hanya pada yang dapat menerima
Hanya pada yang dapat melihat jauh di sanubari.
Sebenar-benarnya nilai harga diri
Yang sengaja dilindungi.
Di sebalik nada-nada naluri


ii)

Tanpa dugaan dalam kegelapan
Aku diserga dari jauh.
Terasa wujudnya diri
Seperti buat pertama kali
Roh menyerap ke tubuh.
Bukan disadar ketika dalam lamunan
Tetapi diserga ketika dalam kenyataan
Oleh ia yang mengetahui
Terus mendampingi
Jasad yang dibuat-buat kaku
Sebenarnya dibuai-buai lagu
Diri yang dibangkitkan
Telah dingertikan
Gurisan dari mainan bayangan
Adalah tapisan yang Dia hadiahkan
Sebagia pelindung diri dalam keadaan.
Terus bersyukur di dalam hati
Dengan izin Yang Maha Esa
Aku serta tangunggan di sisi
Dalam jagaan seorang Insani
Utusan dari Ilahi.


iii)

Dilempar tepi segala mainan mimpi duniawi
Nyawa yang ada digunakan untuk mengenal dan mencari
Sesuatu yang berada di hadapan mata
Tetapi sembunyi di dalam nyata.
Di samping mencari...
Hidup berusaha menyenagi mereka
Yang masih memerlukan
Yang masih ada dia di sana
Yang sentiasa mengharapkan kehadiran...
Berpegang teguh pada keimanan
Sentiasa memelihara kesucian hati.
Keyakinan diri terus membara,
Segala keadaan dan keputusan
Akan dibimbing rapi olehNya
Kedengaran laungan azan subuh
Dari surau yang berhampiran
Kini bangkit pula sebuah jasad
Jasad seorang manusia
Ingin menyediakan diri
Untuk menghadap kepadaNya.
Ketika anggota dibasahi wudhuk
Terpapar jelas suatu kepastian..
Di dalam setiap titisan air mata
Tersembunyi kelemahan jiwa raga
Di dalam setiap guris kesyukuran
Tersimpan kegigihan diri
Kerana disirami Zat Yang Maha Agung dan Maha Suci.
________________________________________




Sebuah Pengakuan
by Marshanda



Oh Tuhan
Aku bukanlah ahli surga
Juga tak mampu menahan siksa neraka
Kabulkan tobat ampuni dosa-dosaku
Hanyalah engkau pengampunan dosa hambamu

Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu
Ya Ilahi.. terimalah amal tobatku

Sisa umurku berkurang setiap hari
Dosa-dosaku makin bertambah ya Ilahi..
Hamba yang berdosa datang bersimpuh menyembahmu
Mengaku menyeru memohon ampunanmu
Mengaku menyeru memohon ampunanmu
..
sofiahdewi
Aku sedang mencari aktikel mengenai Islam dan bumi Afrika, aku merasa terperanjat sebentar membaca tajuk buku/sub topik laman web harunyahya yang hampir sama dengan tajuk topik aku ini. Siapakah yang mendahului …aku atau laman tersebut???

Termenung aku sebentar kerana seandainya laman ini mendahului aku, mungkin kah
topik yang aku buka ini merupakan lintasan yang di capai oleh pemikiran aku tanpa aku sedari. Aku bersyukur kerana ianya satu kurniaan dan pertunjok yang berguna dan bermakna buat diri ku.

Dari itu aku ingin kongsi laman ini untuk renungan kita semua di sini di bulan yang mulia ini. Semuga ianya memberi kebaikan dari keburukan pada kita semua. Amin




http://www.harunyahya.com/malaysian/index.php


http://www.harunyahya.com/malaysian/buku/k...itanislam03.php


2006 Harun Yahya International. Semua material dalam laman ini boleh disalin semula, dicetak, diedar dan diterbitkan secara percuma






RAMADHAN: BULAN RAHMAT,
BERAMAL SOLEH DAN BERPUASA




Bulan Ramadhan benar-benar memberikan pulangan yang besar dan ibarat pasar untuk dagangan ke akhirat. Ditamsilkan juga seperti tanah yang subur untuk bercucuk tanam menuju ke sana. Perbuatan yang hidup dan cergas di dalam bulan ini dikiaskan seperti hujan April yang turun pada musim bunga. Bulan ini juga merupakan festival yang amat mulia bagi orang-orang yang mengabdikan diri kepada tuhannya. (The Risale-i Nur Collection, Letters, The Twenty-Ninth Letter).

Seperti yang diungkapkan Bediuzzaman Said Nursi kepada kita melalui kalimat yang indah ini, bulan Ramadhan mempunyai kuasa suci bagi perayaan umat Islam. Umat Islam yang bertakwa dan hidupnya sentiasa mencari keredhaan Allah tidak akan mengabaikan kewajipannya untuk berpuasa sepanjang bulan ini dengan penuh semangat dan keghairahan.

Puasa, seperti yang diwajibkan Allah
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (Surah al-Baqarah: 183) dan "...berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui" (Surah al-Baqarah: 184) merupakan tugas yang tidak ternilai faedahnya bagi umat Islam. Kewajipan yang dilaksanakan oleh semua umat Islam akan meningkatkan semangat perpaduan di kalangan mereka yang bertebaran di serata alam. Kenyataan ini berdasarkan dengan aktiviti yang dilakukan bersama-sama ini sekaligus menguatkan kekuatan spiritual. Nabi Muhammad s.a.w. juga memperincikan kepentingan Ramadhan seperti berikut:


"Hai manusia! Telah datang kepada kamu satu bulan yang mulia, bulan rahmat... dimana bulan ini mewajibkan kamu berpuasa di siang hari dan sukarela bersolat pada malamnya. Barangsiapa yang mendekati Allah dengan melakukan segala amalan sunat di bulan ini akan menerima ganjaran seperti melakukan amalan wajib di lain hari. Ini merupakan bulan kesabaran dan kesabaran itu imbuhannya syurga. Ini juga bulan sedekah dan bulan dimana rezeki orang beriman bertambah..." (Diriwayatkan Ibn Khuzaymah).


Berpuasa menjadi peluang keemasan bagi orang beriman yang benar-benar takutkan Allah dan kesempatan dimanfaatkan untuk mendekatkan diri pada-Nya. Melaksanakan perintahnya dengan bersabar menahan lapar sepanjang hari selepas melewatkan sahur dan sebelum menyegerakan berbuka menjadi bukti menuntut keredhaan Allah. Disebabkan itulah, orang Islam yang istiqomah mencari keredhaan Allah akan meraikan bulan ini dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan. Sepanjang bulan ini juga umat Islam akan memastikan setiap langkahnya dipenuhi dengan amalan-amalan yang diturunkan Allah selain menunaikan yang diwajibkan.

Tidak kurang juga mereka yang tidak mengamalkan hidup secara Islami di hari lain akan mengubah perilaku dengan berpuasa sepanjang Ramadhan. Ini kerana mereka percaya Allah akan membersihkan dan menyucikan kesalahan mereka dengan menunaikan kewajipan ini. Dengan itu, secara tidak langsung bulan ini bermakna seseorang itu akan mendekati agamanya dan meninggalkan perbuatan buruk yang dilakukannya.

Bulan ini juga sesungguhnya telah menurunkan kadar jenayah dengan peratusan yang tinggi di seluruh negara Islam. Penipuan, pengkhianatan, fitnah dan umpat mengumpat akan ditinggalkan kerana mereka menyedari akan larangan ketika berpuasa. Semangat dan keazaman mereka untuk berfikir dan melakukan perbuatan baik juga meningkat. Dalam erti kata lain, berpuasa seperti memandu mereka untuk berfikir sesuatu yang tidak pernah terlintas langsung di minda mereka. Bagi sesetengah individu pula, bulan ini digunakan untuk berehat sambil melakukan amal yang soleh dan perbuatan mulia.

Di dalam kalimat yang lain, Bediuzzaman Said Nursi menerangkan bagaimana semua pancaindera orang berpuasa beralih arah dalam pengabdian:



Kejayaan yang bermakna ketika berpuasa ialah dengan menjadikan semua pancaindera dan organ seperti mata, telinga, hati, dan fikiran turut sama berpuasa bersama-sama perut. Dengan ini akan mengelakkannya dari melakukan perkara yang sia-sia dan mendorongnya melakukan amalan pengabdian.


Salah satu hikmah dari berpuasa ialah membolehkan seseorang itu menzahirkan kesyukuran di atas segala rahmat yang Allah limpahkan. Musibatlah bagi mereka yang menggunakan sewenangnya rahmat Allah tetapi tidak tahu untuk berterima kasih pada yang memberi. Bagi mereka semua rahmat ini merupakan hak yang memang patut diterimanya. Allah banyak menyarankan kepada hamba-Nya di dalam Al-Quran supaya sentiasa bersyukur di atas rahmat yang dikurnai-Nya. Allah juga berjanji akan melipatgandakan rahmat bagi mereka yang bersyukur.

Orang yang berpuasa juga akan dilindungi Allah dari segala hasutan syaitan untuk melupakan manusia dari bersyukur. Mereka yang tidak pernah merenung untuk berfikir berapa banyak kurniaan yang telah Allah turunkan akan mula mengucapkan syukur berulang




Setitis Cahaya Di Aidilfitri
sofiahdewi



http://www.palestine-net.com/life/





The Black May 14th, Lahirnya Malapetaka Bernama Zionis
http://www.palestinkini.info/modules.php?n...article&sid=503



Album : Tak Kenal Henti
Munsyid : Shoutul Harokah
http://liriknasyid.com




MERAH SAGA



Saat langit berwarna merah saga
Dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru
Terbang bersama teriakan takbir

Semua menjadi saksi
Atas langkah keberanianmu
Kita juga menjadi saksi
Atas keteguhanmu

Ketika yahudi-yahudi membantaimu
Merah berkesimbah ditanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu
Membebaskan bumi jihad palestina

Perjuangan telah kau bayar
Dengan jiwa, syahid dalam cinta-NYA



Adinda
assalamu'alaikum kak sofia...
Ramadhan Kareem!! happy.gif

saja nak kongsi sesuatu di sini..


VIDEO MENARIK, Sila klik di sini yer...

smile.gif) smile.gif
sofiahdewi
KEMERDEKAAN PERLU DIPERJUANGKAN
Ustaz Syed Hasan Alatas

http://www.shiar-islam.com


KEMERDEKAAN PERLU DIJAGA

Banyak negara di dunia ini yang telah mencapai kemerdekaan mereka. Kemerdekaan itu diperoleh bukanlah mudah, kebanyakannya telah mengorbankan banyak nyawa dan harta benda .Miskipun demikian masih ada juga negara yang belum merdeka, dan sedang berjuang dengan gagah berani untuk membebaskan tanah air mereka daripada penguasaan penjajah.

Di zaman Global ini masih wujud penjajah bentuk baru, yang ingin menjajah banyak negara, dan berusaha keras supaya negara yang telah dikuasainya itu bertekuk lutut kepada penjajah tersebut. Kononnya Negara yang dituju itu memiliki senjata pemusnah. Ternyata kemudiannya apa yang dituduhkan itu tidak benar, sedangkan korban jiwa dan harta benda tak terkira banyaknya. Betapa banyak korban nyawa dan harta benda, semua itu tidak penting bagi si penjajah, yang penting bagi mereka ialah dapat menguasai sumber kekayaan yang wujud disitu, dan negara tersebut menjadi negara boneka untuk kepentingan mereka.

Akibatnya ramai Rakyat yang tidak berpuas hati terhadap tindakan zalim yang telah dilakukan penjajah yang tidak berperikemanusiaan yang telah melakukan banyak kekejaman dan penghinaan, setiap hari pembunuhan tidak pernah berhenti, dan yang menjadi korban kebanyakannya adalah orang awam.

Dapat disaksikan bukan sedikit nyawa dan harta benda yang musnah. Kezaliman menjadi-jadi, manusia diperlakukan sebagai haiwan, ramai yang dibunuh, dianiaya, ditangkap dan berbagai yang kita dengar dan menyaksikan sendiri melalui alat media. Hingga kini negara yang diserang itu, masih tetap dalam keadaan haru biru, keamanan dan kedamaian jauh panggang dari api.

Kini kita dengar pula pencerobohan baru terhadap negara yang merdeka seperti Lebanon. Dengan alasan untuk membasmi pengganas mereka telah menceroboh sebuah negara yang merdeka, kebanyakan yang menjadi korban adalah orang awam. Ramai anak kecil, kaum wanita, kanak-kanak, orang tua yang telah terbunuh dan ramai pula yang cacat dan menderita seumur hidup. Belum lagi dihitong kemusnahan terhadap bangunan kerajaan dan rumah ibadah, banyak rumah penduduk yang dihancurkan, sehingga untuk membangun kembali berapa banyak wang yang diperlukan, akibat hawa nafsu jahat pengganas yang tidak punya perikemanusiaan.

Islam mengutamakan keamanan dan kedamaian, akan tetapi bila musuh telah menceroboh dan berlaku zalim, maka Allah s.w.t. mengizinkan kita membela diri kita. Sesuai dengan firmannya yang bermaksud:

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu; (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampong halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali kerana mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, tentulah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang didalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong (agamanya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qur’an, al-Hajj:39-40).


Perhatikan firman Allah dalam Surah Annisa: 75

“Mengapa kamu tidak mahu berperang pada jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik lelaki, wanita, maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisiMu dan berilah kami penolong dari sisiMu.”


Perhatikan juga firman Allah dalam Surah al-Baqarah: 193

Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada lagi fitnah (sehingga) agama itu untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu) maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang zalim.”


Firman Allah ini adalahuntuk mengingatkan ummat Islam dan semua yang cintakan keadilan dan kebenaran dimana saja mereka berada supaya jangan berdiam diri dan berpangku tangan dan membiarkan para pengganas berbuat sesuka hati mereka, meskipun demikianperjuangan itu barulah berjaya apabila, semua mereka yang cintakan perdamaian dan keaamanan menyusun barisan dengan teratur rapi seakan-akan mereka sebagai satu bangunan yang saling kuat menguatkan.



Allah berfirman yang maksudnya:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalanNya dalam satu barisan yang teratur rapi seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh dan saling menguatkan antara satu dengan lain (Qur’an, al saff:4)


Alhamdulillah suara keadilan dan kebenaran telah mulai wujud sehingga ramai masyarakat awam di banyak Negara termasuk di Negara pengganas itu sendiri yang telah mulai sadar akibat perbuatan durjana yang dilakukan oleh pengganas antara bangsa, sehingga dimana mana saja kita dapat saksikan dimonstrasi perotes atas manusia kejam yang tak berperikemanusiaan, yang sampai hati membunuh anak-anak kecil, kaum wanita, orang-tua, dan mereka yang lemah dan tak bermaya. Mudah-mudahan suara mereka akan didengar oleh mereka yang mampu menyelesaikan masaalah Ummat sejagat, yang jika dibiarkan berlanjutan akan timbul suatu mala petaka yang amat dahsyat yang memusnahkan seluruh dunia, apalagi jika ada orang gila kuasa dan tamak harta dunia menggunakan bom nukler, apa akan jadinya dunia ini, semua kita dapat membayangkannya.



SIAPA PENGGANAS?

Penindasan dan ketidak adilan telah mendorong berlaku keganasan dibanyak tempat di dunia ini, tetapi anehnya semuanya tidak diperhatikan. Mereka hanya tahu menyalahkan orang lain. Siapa saja yang mengingatkan mereka supaya bertindak adil dan mencari punca masaalah, orang itu pula dituduh pengganas atau berpihak kepada pengganas.

Ramai orang tidak berani bersuara karena takut dituduh pelampau agama ataupun pengganas, padahal sebenarnya mereka ini orang yang inginkan keamanan dan kedamaian. Seumpama seorang doctor yang mengingatkan pesakitnya tentang pantang larang yang perlu dipatuhi, akan tetapi pesakit itu merasa dirinya saja yang benar, semua nasihat doktor yang merawatnya tidak dipedulikan, akibatnya sakit yang dideritainya itu bertambah parah dan boleh membawa maut.

Atau boleh juga kita umpamakan kepada alat tanda kecemasan yang dipasang dimana-mana tempat penting untuk mengingatkan manusia supaya berhati-hati dan mencari punca masaalah dan jika perlu hentikan sebentar kenderaannya, atau menjauhkan diri dari tempat-tempat berbahaya yang telah diberi tanda peringatan, boleh jadi ada sesuatu yang perlu dibuat untuk menormalkan kembali keadaan. Setelah segala kekurangan itu diperbetulkan, bolehlah dilanjutkan perjalanan ataupun pekerjaan, Insya Allah dengan cara demikian, kita akan terselamat dari mara bahaya yang mungkin boleh menyebabkan kecerderaan ataupun kematian.




UMMAT ISLAM DIJADIKAN MANGSA

Apabila sebuah bangunan Kerajaan di Bandar Oklahoma telah di bom maka serta merta tanpa kaji selidik, tanpa bukti, mereka menuduh peristiwa tersebut angkara “Pengganas Islam” atau “Muslim terrorism”. Akan tetapi setelah penyiasatan dijalankan dengan teliti, ternyata angkara tersebut dilakukan oleh “pengganas yang beragama Kristian”. Anehnya pengganas itu tidak dilabelkan sebagai “Pengganas Kristien” atau “Christian terrorism.”

Demikian pula pembunuhan secara besar-besaran yang telah mengorbankan ratusan ribu Ummat Islam di Bosnia-Herzegovina yang telah dilakukan oleh orang Kristian Serbia, anehnya apa yang telah dilakulkan oleh pengganas Kristian Serbia itu tidak pula disebut sebagai Teroris Kristien (Christien terrorism)

Bila Israel menceroboh Palastin membunuh ramai orang awam yang beragama Islam dan Kristien, merampas rumah-rumah mereka, mencabul dan meroboh rumah-rumah ibadah terutama masjid-masjid, merusak tanaman penduduk asli, memperkosa wanita, menghina ummat Islam dan membakar masjid suci ketiga Ummat Islam (Masjidil Aqsa), hingga kini pencerobohan terus saja berlaku, mereka menculik, menangkap membunuh, tokoh-tokoh dan alim ulama Islam, dan banyak lagi keganasan yang telah dilakukan oleh Zionis Israel, tapi anehnya kita tak pernah dengar semua pengganas ini dilabelkan sebagai Pengganas Yahudi (Jew Terrorism). Kemana perginya keadilan yang diagong-agongkan mereka ?

Oleh itu itu untuk membasmi pengganas dan mencipta keamanan dan kedamaian maka perlulah kajian dibuat mengapa keganasan terus saja meningkat, bila kajian telah dibuat Insya Allah pengganas yang sebenarnya akan kita temui dan hadapi pengganas yang sebenarnya secara bersama, Insya Allah dunia ini akan aman dan damai.



Dimuatnaik pada: Jumaat 17 Rajab 1427 (11 Ogos 2006)



Takbir Raya

http://www.islamonline.net/english/index.shtml
http://www.islamonline.com/
razim172
KIsah Umar Mukhtar ni saya tlh tgk kt TV, dlm bntk filem,,mmg berani dia, x tunduk kpd Itali..Kalau x silap dia org Morocco atau Algeria..

Ada sapa2 leh betulkan...

Untuk kembalikan kecemerlangan Islam spt dulu, umat Islam mesti kuat dr segenap bidang, terutamanya akidah...

Tiada satu pun kt dunia ini yg akan dpt menundukkan akidah yg teguh,
sofiahdewi
QUOTE(razim172 @ Oct 31 2006, 08:47 AM)
Untuk kembalikan kecemerlangan Islam spt dulu, umat Islam mesti kuat dr segenap bidang, terutamanya akidah...

Tiada satu pun kt dunia ini yg akan dpt menundukkan akidah yg teguh,

Betul tu razim smile.gif

Sebagai contoh:


Umar Muchtar-pahlawan Libya yang mendapat julukan 'the lion of the desert' --singa padang pasir dikatakan sebagai datuk kepada Kolonel Muammar Khadafi pemimpin tertinggi Libya yang banyak mewarisi sifat, keberanian dan kepimpinan beliau.


Sedikt sejarah hidup Kolonel Muammar Khadafi


Libya, yang terletak di tepi Laut Tengah, Afrika Utara, termasuk negara nomor empat terluas di Afrika. Dengan penduduk sekitar 4,5 juta jiwa, negara yang kaya-raya dengan produksi minyak, sejak 1969 dipimpin oleh Muammar Khadafi -- pengagum pemimpin Mesir Jamal Abdel Nasser. Sejak Kolonel Khadafi jadi pemimpin tertinggi Libya, ia menggunakan minyak untuk membantu perjuangan negara-negara Arab, terutama dalam menentang Israel. Khadafi dan para pemimpin Libya menyadari bahwa kekayaan yang mereka peroleh anugerah Allah SWT. Karena itu harus dimanfaatkan untuk kepentingan Islam.

Libya konsisten membantu perjuangan umat Islam dan negara-negara tertindas di dunia, Khadafi jadi dibenci Barat, khususnya Amerika Serikat. Libya pernah menghadapi perjuangan berat melawan imperialisme dan kolonialisme. Sejak Italia menduduki negara itu pada 1911 --setelah mengalahkan Turki-- rakyat Libya tidak henti-hentinya melakukan perlawanan. Lebih-lebih ketika Mussolini pada 1922 berkuasa di Italia. Mussolini yang fasis dan diktator itu melakukan kekejaman luar biasa dalam upaya mematahkan perlawanan rakyat Libia yang tidak pernah surut.

Di antara pahlawan Libya yang mendapat julukan 'the lion of the desert' --singa padang pasir-- adalah Umar Muchtar, guru sekolah agama dari Tripoli. Sepuluh tahun lamanya ia dan para pengikutnya mengangkat senjata melawan balatentara Italia yang memiliki persenjataan modern. Mussolini, yang semakin kalap memerintahkan untuk --dengan segala cara-- menumpas pemberontakan itu. Akibatnya, beratus-ratus rakyat Libya dibunuh dan disiksa, tidak terkecuali wanita dan orang tua.

Pada 16 September 1931, Umar Muchtar (setelah menderita luka-luka dalam pertempuran tidak seimbang) ditangkap bersama dengan para syuhadah lainnya. Pejuang Islam ini pun menjadi syahid setelah dihukum gantung di depan umum bersama sejumlah pengikutnya. Sebelum meninggalkan dunia, ia minta agar terlebih dulu melakukan shalat. Sambil menyatakan bahwa ia boleh mati, tetapi perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan dan kebebasan, melawan ketidakadilan dan nafsu serakah kaum imperialis tidak akan pernah berhenti.


http://id.wikipedia.org/wiki/Moammar_Khadafy



Renungan Bersama


Tamadun Islam dalam Era Pasca Kolonialisme
Date: Saturday, August 06 @ 03:42:11 MYT
Topic: Pendidik

Selepas merdeka, umat Islam Melayu berpecah belah kepada dua kumpulan akibat perjuangan politik kepartian. Satu pihak mendukung parti yang bersifat kebangsaan Melayu manakala di satu pihak yang lain mendukung parti Islam.

Tamadun Islam dalam Era Pasca Kolonialisme Asmadi Mohamed Naim Penguasaan dan dominasi Barat ke atas kebanyakan negara Islam berakhir pada awal tahun-tahun 60-an. Hanya beberapa kawasan blok komunis, terutama negara Kesatuan Sosialis Soviet Rusia, mulai mendapat kemerdekaan pada tahun-tahun 90-an dengan kejatuhan dan perpecahan persekutuan Soviet. Pada peringkat awalnya, Islam berperanan sebagai kekuatan pembentukan negara dalam gerakan nasionalisme di negara-negara yang muncul selepas

Perang Dunia Kedua akibat daripada kejatuhan empayar kolonial Eropah. Namun, selepas mencapai kemerdekaan, kebanyakan negara-negara Islam mengamalkan sistem politik dan sosioekonomi Barat bagi mengisi kemerdekaan mereka. Beberapa percubaan pernah dilakukan pada tahun 50-an bagi menubuhkan kesatuan negara-negara Islam berdasarkan perpaduan Islam. Perjuangan dan seruan dalam tahun 50-an dan 60-an ke arah perpaduan Islam dan peranan Islam di dalam pembangunan negara, tidak banyak diberi tempat dan perhatian oleh negara-negara Islam yang baru merdeka. Kekuatan Islam dibayangi oleh idea politik dan pergerakan dari luar atau yang diimport, seperti nasionalisme ‘Pan Arab’, ‘Pan Turki’, ‘Melayu Raya’, ‘Perpaduan Afro-Asia’ yang dikenali juga sebagai ‘Semangat Bandung’, pergerakan negara-negara berkecuali hingga kepada idea sosialis seperti Parti Baath di Syria dan Iraq. Sebaik sahaja hampir keseluruhan dunia Arab mencapai kemerdekaan, langkah-langkah dijalankan ke arah penyatuan dan perpaduan Arab. Langkah ke arah perpaduan ini berakar umbi dan inspirasinya wujud sejak kesedaran Arab dalam kurun ke19. Sejak itu lahirlah idea ke arah nasionalisme Arab, yang disebut ‘Pan Arabisme’ di kalangan pemikir-pemikir Arab di serata pelosok dunia Arab. Pada tahun 1944, di atas inisiatif perdana menteri Mesir dan gabungan negara-negara Arab yang terdiri daripada Mesir, Saudi Arabia, Yemen, Syria, Iraq, Lebnon dan Transjordan, mengisytiharkan pakatan Liga Arab pada awal tahun 1945. Sebaik sahaja Libya, Sudan, Tunisia, Maghribi, Kuwait dan Algeria mencapai kemerdekaan, mereka turut menyertai Liga Arab. Tumpuan utama perjuangan liga ini ialah persoalan Palestin. Liga Arab menuntut supaya Palestin dikembalikan tanpa mempedulikan kewujudan negara Israel, di samping menggalakkan perpaduan yang lebih kukuh sesama negara Arab.

Di negara-negara bukan Arab pula, golongan sekularis nasionalis dan Islam berusaha mengisi kemerdekaan dan perjuangan mewujudkan negara Islam. Implikasi Kemerdekaan Bagi menggambarkan kemelut pemikiran umat Islam dan kecelaruan mereka selepas kemerdekaan, beberapa sarjana Islam memperbahaskan masalah peperangan pemikiran Islam-Barat yang berkisar pada persoalan patriotisme, nasionalisme, perkauman dan negara-bangsa. Hassan al-Banna (Himpunan artikel-artikel Imam Syahid Hassan al-Banna, 1990) menghuraikan dengan terperinci patriotisme melalui penerangannya berkaitan wataniyyah atau nasionalisme, dan qaumiyyah atau perkauman. Menurut beliau manusia berdepan dengan dua seruan utama, iaitu seruan ke arah nasionalisme, dan perkauman. Perkara ini berlaku di saat-saat orang-orang Timur merasakan mereka ditindas oleh orang-orang Barat - suatu penindasan yang meruntuhkan kemuliaan, maruah dan kebebasan mereka. Sekali gus ia menjadi bualan umum pemimpin dan rakyat jelata. Dalam erti kata yang lain, topik ini menjadi satu topik yang menjadi tumpuan masyarakat.

Bagi menjawab tanggapan Islam terhadap permasalahan nasionalisme dan perkauman itu, beliau membahagikan nasionalisme kepada beberapa pembahagian.

a. Pertama ‘nasionalisme kerinduan dan kecenderungan hati’ iaitu seseorang itu merindu tanah airnya, dan terikat hati padanya. Emosi sedemikian adalah dibenarkan oleh Islam sebagaimana Bilal membaca suatu syair yang menyifatkan kerinduannya pada Mekah selepas beliau berhijrah ke Madinah, dan Rasulullah SAW menangis mendengar syair tersebut disebabkan kerinduannya kepada Mekah.

b. Kedua ialah ‘nasionalisme kebebasan dan kemuliaan’ iaitu suatu usaha kecintaan yang membawa kepada usaha yang bersungguh-sungguh bagi membebaskan negara daripada tangan perampas-perampas dan menanamkan semangat kebanggaan terhadap negara pada diri anak watannya. Menurut Hassan al-Banna, Islam amat menekankan perkara tersebut sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah al-Munafiqun, ayat yang bermaksud, ‘Untuk Allah kemuliaan, dan untuk rasul-Nya, dan untuk orang-orang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.’ Firman Allah SWT dalam surah an-Nisak, ayat 141 bermaksud, “Tidaklah sekali-kali Allah menjadikan untuk orang-orang kafir kekuasaan terhadap orang-orang beriman.

c. Ketiga ialah ‘nasionalisme kemasyarakatan’ iaitu nasionalisme yang difahamkan sebagai memperkuatkan penyatuan dan perpaduan antara rakyat yang menghuni sesuatu tempat, iaitu nasionalisme yang berperanan memandu rakyat membina kekuatan perpaduan bagi diri mereka. Maka perpaduan sebegini tidak bertentangan dengan kehendak Islam sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Jadilah hamba-hamba Allah yang bersatu padu.”

d. Keempat ialah ‘nasionalisme penaklukan’ iaitu fahaman kebangsaan yang membawa kepada perluasan kawasan dan mengekalkan pertuanan. Seruan ke arah ini difardukan oleh Islam sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah, ayat 193 yang bermaksud, “Dan berperanglah dengan mereka sehingga hilang fitnah dan menjadikan agama hanya untuk Allah.”

e. Kelima ialah ‘nasionalisme kepartian’ iaitu satu fahaman yang memecahkan ummah kepada kumpulan-kumpulan, ataupun puak-puak; tuduh-menuduh, saling memperdaya antara satu sama lain. Suatu fahaman bikinan manusia yang menjadikan hawa nafsu yang mempunyai matlamat-matlamatnya yang tersendiri dan ditafsirkan oleh kefahaman yang mementingkan kepentingan peribadi.

Pada ketika itu musuh mengambil peluang daripada keadaan ini dan membakar api perbezaan ini serta memisahkan mereka daripada kebenaran, lalu mengumpulkan mereka dalam kebatilan. Pada ketika itu dilarang seseorang berhubung dengan orang lain kecuali puaknya sahaja, dan saling membantu di kalangan mereka sahaja. Menurut Hassan al-Banna, inilah nasionalisme palsu yang tidak ada kebaikan padanya sama ada bagi penyokongnya mahupun bagi masyarakat umum. Setelah menerangkan jenis-jenis nasionalisme, Hassan al-Banna memperjelaskan sempadan nasionalisme yang menjadi pegangannya. Hassan al-Banna menekankan bahawa perbezaan di antara pendapatnya dan pihak-pihak lain ialah pada sempadan nasionalismenya. Beliau berpandangan nasionalisme mesti bertitik tolak daripada akidah Islam, sementara pihak-pihak lain menganggap nasionalisme adalah berdasarkan tempat tinggal dan sempadan geografi.

Oleh itu setiap tempat yang ada padanya seorang Muslim yang mengucapkan kalimah syahadah adalah tanah airnya dan mereka adalah saudaranya, iaitu seseorang Muslim mesti mengambil berat terhadap mereka. Berbeza dengan mereka yang menyeru kepada nasionalisme yang hanya mementingkan satu kawasan daripada dunia yang begitu luas.

Penyeru nasionalisme seperti ini tidak menghiraukan keadaan masyarakat Islam di tempat-tempat lain. Sebagai kesinambungan daripada penghuraiannya terhadap nasionalisme, as-Syahid Hassan al-Banna memperjelaskan pula pendiriannya berkaitan dengan faham perkauman menurut Islam. Beliau membahagikan perkauman kepada beberapa bentuk sebagaimana pembahagiannya tentang faham nasionalisme.

a. Pertama ialah ‘perkauman kemegahan’ atau qaumiyyah al-majd iaitu di mana orang-orang terkemudian mesti mencontohi langkah-langkah orang-orang terdahulu daripada kaum mereka bagi mendapat ketinggian kemuliaan, keagungan dan kematangan. Dalam erti kata yang lain, mereka adalah ikutan bagi masyarakat yang terkemudian. Emosi yang sedemikian memberikan kekuatan kepada perbuatan mencontohi dan mendapatkan hasil sebaik mungkin ataupun lebih baik daripada mereka yang terdahulu. Memuja perkauman sebegini adalah dibenarkan dalam Islam sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Orang ramai adalah sumber kekuatan, orang-orang pilihan pada zaman jahiliah adalah orang-orang pilihan pada zaman Islam sekiranya mereka memahami agama Islam.”

b. Kedua ialah perkauman ummah iaitu perkauman yang menyeru kepada tanggungjawab yang mana keseluruhan kaum dituntut berjuang dan berusaha bagi kebaikan negara, oleh itu, setiap kumpulan yang wujud dalam masyarakat mesti berusaha ke arah itu, sebaliknya bukanlah perkauman yang mengatakan kaum kerabat orang tertentu sahajalah merupakan manusia yang lebih baik dilayan, ataupun lebih berhak berjuang dengannya. Jika sekiranya perkauman difahami sedemikian, pasti setiap orang mendakwa kaumnyalah yang lebih berhak ke atas keistimewaan tersebut.

c. Ketiga ialah perkauman jahiliah iaitu rasa perkauman yang ingin menghidupkan adat istiadat mereka yang berbentuk jahiliah dengan jalan mempelajarinya; ataupun mengadakan acara-acara yang sudah pupus yang sebenarnya sudah hilang; ataupun mempertahankan tamadun bangsa yang bersifat faedah keduniaan semata-mata; ataupun membebaskan diri daripada ikatan Islam dan lingkungannya atas dakwaan ingin menegakkan perkauman dan berbangga dengan bangsa, sebagaimana dilakukan oleh sesetengah negara bagi memusnahkan penampilan-penampilan yang berbentuk keislaman dan kearaban. Perubahan seperti ini dilakukan sehingga mereka menafikan keislaman pada nama-nama, huruf-huruf penulisan, lafaz-lafaz perkataan dan menghidupkan adat-adat jahiliah dalam masyarakat atas semangat perkauman. Menurut Hassan al-Banna, fahaman ini memberikan kerugian besar kepada masyarakat Timur yang sepatutnya lebih maju bersama dengan Islam. Perkara ini sebenarnya diisyaratkan oleh Allah SWT dalam surah Muhammad, ayat 38 yang bermaksud, “Dan sekiranya mereka berpaling daripada jalan Allah, maka Allah menukar kaum yang lain, kemudian mereka tidak akan menjadi seperti kamu, yang suka berubah pendirian.”

d. Keempat ialah perkauman permusuhan iaitu kebanggaan kepada bangsa yang membawa kepada suatu tahap merendahkan bangsa-bangsa yang lain dan memusuhinya, ataupun mengorbankan bangsa-bangsa lain demi faedah bangsa sendiri sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Jerman dan Itali.

Manakala Ali Abdul Halim Mahmud (1989) dalam bukunya al-Ghazw al-Fikri wa Atharuhu ‘Ala al-Mujtama’ al-Islami (Peperangan Fikiran dan Kesannya Ke Atas Masyarakat Islam) turut memperkatakan mengenai perkauman. Menurutnya perkauman yang ada di negara-negara umat Islam pada hari ini adalah cedokan daripada fahaman yang dibawa oleh Barat. Perkauman seperti itu menjurus kepada mengangkat syiar sesuatu tnegara, yang mana melalui perkara tersebut rakyat berjaya disatukan. Cara ini dilakukan oleh Napoleon untuk memecahkan empayar kerajaan Kristian Rom melalui kebangkitan rasa perkauman Itali dan Jerman. Menurut Ali Abdul Halim ‘perkauman’ dan ‘nasionalisme’ membawa makna yang sama. Perkara yang sama dilakukan oleh Napoleon pada zaman moden ini ke atas umat Islam, iaitu apabila tenteranya kalah kepada tentera Islam di Mesir. Syiar yang terpancar daripada mulut umat Islam pada ketika itu ialah ‘Allah maha besar dan kemuliaan untuk umat Islam.’ Napoleon mendapati tidak ada jalan lain bagi memecahkan empayar Islam Uthmaniyyah kecuali dengan membangkitkan keyakinan bahawa kerajaan Uthmaniyyah adalah lambang kekuatan bangsa Turki dan bukannya bangsa Arab Mesir. Ali Abdul Halim menekankan perkauman dan segala bentuknya yang ada pada hari ini, adalah suatu usaha membinasakan Islam dan kesatuan yang dibina oleh Islam di kalangan penganutnya.

Islam menjadikan akidah sebagai asas kesatuan dan bukannya warna kulit, bangsa, tempat ataupun bangsa sebagai pengikatnya. Berikutan kekalutan peperangan pemikiran tersebut, muncullah beberapa negara-negara bangsa yang mencuba jalan-jalan ciptaan sendiri bagi mengisi kemerdekaan mereka. Islam di Timur Tengah dan Asia Tenggara.



TUNISIA

Di Tunisia, pada peringkat awalnya, peranan dimainkan oleh parti Destour. Selepas berjuang begitu lama, Tunisia mencapai kemerdekaannya pada tahun 1956. Presiden Habib Bourguiba diisytiharkan sebagai presiden seumur hidup, akan tetapi pada tahun 1987 beliau digulingkan oleh tentera dan General Zine el Abidine Ben Ali menggantikan Habib Bourguiba. Pada tahun 1991 kerajaannya melancarkan kempen terhadap gerakan Islam ‘Nahda.’ Sikap kerajaan Tunisia terhadap pergerakan Islam adalah keras. Beberapa orang ahli Nahda dibunuh, diseksa dan mati dalam tahanan kerajaan. Sikap kerajaan Tunisia ini mendorong persahabatan yang lebih rapat dengan Mesir. Pemimpin Nahda, Rashid Ghannouchi yang membentuk front kumpulan penentang mendapat suaka politik di United Kingdom. Pada keseluruhannya, situasi di Tunisia sama seperti negara-negara Timur Tengah lain, iaitu menyedihkan dan mengecewakan. Maghribi Perjuangan mendapat kemerdekaan di Maghribi adalah hasil pakatan yang digerakkan oleh perjuangan Islam dan nasionalis moden. Pada mulanya perjuangan itu menentang penjajah Sepanyol, ia dipimpin oleh Abd al-Karim al-Khattabi. Perjuangan beliau berorientasikan Islam dan diteruskan oleh anaknya sehingga berjaya mengalahkan Sepanyol. Sebuah republik Islam ditubuhkan dengan polisi menggabungkan asa-asas ajaran Islam dengan sains dan industri Barat. Kerajaan ini tidak bertahan lama kerana pada tahun 1926 negara itu dijajah oleh Perancis. Selepas kemerdekaan pada tahun 1956, kerajaan Maghribi meneruskan dasar gabungan nilai-nilai Islam dan modenisasi. Sistem politik Maghribi adalah sistem raja berperlembagaan. Raja melantik Perdana Menteri dan anggota kabinet. Di Maghribi terdapat dua badan utama yang menjadi aspirasi pernyataan golongan nasionalis iaitu Parti Kebangsaan Istiqlal yang berorientasikan agama dan raja yang prestijnya di dalam masyarakat berlandaskan latar belakang Islam. Menurut Golam (1993: 119), sekurang-kurangnya Islam menyediakan struktur institusi bagi kemerdekaan Maghribi. Libya Sebelum penjajahan, Libya berada di bawah pentadbiran Gerakan Sanusi iaitu suatu gerakan pembaharuan atau reformasi yang sama seperti gerakan Wahabi di Saudi dan gerakan Mahdi di Sudan. Gerakan Sanusi mengasaskan pentadbiran berlandaskan Islam. Pada tahun 1930, Itali menakluki Libya. Kekalahan Itali dalam Perang Dunia Kedua memberi laluan kemerdekaan kepada Libya pada tahun 1951 dengan Raja Idris iaitu keturunan Sanusi, memerintah hingga tahun 1969 apabila sekumpulan pegawai tentera menggulingkan beliau di bawah pimpinan Muammar Gaddafi. Mesir Mesir adalah negara penting di dunia Islam. Dalam tahun 50an gerakan nasionalisme Mesir dipimpin oleh golongan elit bandar yang dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Barat, namun begitu mereka terpaksa mengekalkan Islam bagi meraih sokongan golongan massa Islam. Mesir lahir sebagai sebuah negara progresif di bawah rejim sosialis pimpinan seorang individu iaitu Gamal Abd al-Nasser (1918-70) juga dikenali sebagai ‘nasserisme’. Menurut Golam (1993), Muhammad Heikal seorang yang paling rapat dengan Nasser mengulas ‘nasserisme’ sebagai wadah ke arah pembebasan dan transformasi sosial, iaitu rakyat menguasai sumber-sumber mereka dan demokrasi kepada tenaga pekerja rakyat. Walaupun Nasser seorang Muslim tetapi falsafahnya tidak berasaskan agama. Beliau begitu kuat memperjuangkan ‘Pan Arabisme’ bukan ‘Pan Islamisme’ walaupun begitu, beliau tidak dapat mengetepikan Islam begitu sahaja. Pada tahun 1962, perubahan berlaku dalam perlembagaan Mesir apabila Nasser memasukkan Islam dan mengisytiharkan Islam sebagai agama negeri Mesir. Menurut Golam (1993), Nasserisme adalah berdasarkan sekularisme tetapi Nasser terpaksa membuat beberapa rujukan Islam untuk berhadapan dengan cabaran dalaman dan luaran terhadap kuasa beliau.

Gerakan Ikhwan al-Muslimun mengecap Nasser adalah bagi memartabatkan prinsip-prinsip Islam yang sebenar di dalam negara Islam moden. Bagi Ikhwan, mereka percaya dengan cara kembali kepada Islam sahajalah jalan yang dapat menyelamatkan dunia Islam dan hanya Islam sahaja yang dapat mempertahankan Islam daripada ancaman Barat dan kapitalisme. Jika kita membuat analisis terhadap polisi ‘Pan Arab’ yang diperjuangkan Nasser, kita akan dapati ia bertentangan dengan Islam. Nasser sendiri menentang idea Pan Islamisme. Idea sosialisme Arab Nasser gagal mengatasi masalah sosioekonomi Mesir. Pada zaman Nasser jugalah pakatan Mesir, Syria, dan Jordan tewas dalam perang Israel. Kematian Nasser digantikan oleh Anwar Sadat. Anwar Sadat tidak menentang Islam. Pada zaman Anwar, beliau mengambil sikap toleran terhadap gerakan Ikhwan dan mengiktiraf Islam sebagai faktor pembangunan negara. Dasar Anwar Sadat berbeza daripada Nasser tetapi percubaan Anwar menjalinkan hubungan dengan Israel dan membuka kedutaan menyebabkan rata-rata dunia Islam mengecam tindakan beliau. Akibatnya, keanggotaan Mesir digugurkan daripada OIC dan Liga Arab. Anwar Sadat sendiri menemui maut disebabkan usaha beliau itu. Hari ini, presiden Mesir iaitu Hosni Mubarak dikatakan bersifat sederhana dalam ideologi dan ehwal awam. Dasar luar Mesir lebih kepada hubungan erat dengan Amerika. Namun begitu, Mubarak berhadapan dengan tentangan daripada gerakan Islam. Mubarak dikatakan menindas golongan fundamentalis Islam. Penyeksaan dilaporkan dilakukan di pusat-pusat tahanan dan penjara-penjara dikatakan penuh dengan penentang-penentang Mubarak. Kesimpulannya, pemerintah Mesir yang ada sekarang bukan demokratik mahupun bersifat pemerintahan Islam kerana Islam tidak pernah mengizinkan penindasan.



Sudan Islam menyatukan negara Sudan.

Majoriti penduduk utara Sudan beragama Islam, manakala di Selatan Sudan, majoriti penduduknya mengamalkan pagan. Penjajahan British di Sudan ditamatkan akibat revolusi yang berlaku di Mesir. Di bawah pimpinan baru Mesir mereka menggugurkan tuntutan ke atas kedaulatan wilayah Sudan dan berdamai dengan parti-parti politik Sudan. Selepas pilihan raya diadakan pada tahun 1953, Parti Kesatuan Nasional di bawah pimpinan Ismail al-Azhary menang dan beliau dilantik sebagai perdana menteri pertama Sudan. Akibat daripada polisi beliau yang pro-Mesir, bantahan dan rusuhan tercetus pada bulan Mac, 1954. Di samping itu, kekacauan juga berlaku di Selatan Sudan akibat daripada pemberontakan tentera. Tentera Utara dikerahkan ke Selatan bagi memadamkan pemberontakan. Peristiwa ini menambahkan tradisi rasa benci yang wujud di dua bahagian ini. Pada bulan Januari 1956, kerajaan yang ada digantikan oleh Parti Umma pimpinan Abdullah Khalil yang disokong oleh pemimpin-pemimpin agama gerakan al-Mahdi dan gerakan al-Mirghani yang berpecah daripada kumpulan nasionalis Islam. Pada tahun 1958, rejim tentera di bawah Jeneral Ibrahim Abbud mengambil alih pemerintahan di Sudan dan memerintah hingga tahun 1964. Jeneral Abbud dipaksa turun dan digantikan dengan kerajaan awam. Namun begitu, akibat tidak dapat menyelesaikan masalah ekonomi dan ketegangan agama antara wilayah Utara dan Selatan, kerajaan awam tidak dapat bertahan lama. Sekali lagi rejim tentera, kali ini di bawah pimpinan Kolonel Gaafar Numeiri mengambil alih pemerintahan hingga tahun 1985. Pada peringkat awalnya, Numeiri begitu tegas ke atas parti-parti Islam dan komunis. Beliau cuba berdamai dengan pihak bukan Islam di Selatan dengan mengiktiraf identiti Afrika autonomi mereka. Beliau juga menyedari kekuatan Islam yang diwakili oleh gerakan Mahdi. Dalam tahun mega_shok.gif-an Numeiri terpaksa akur dengan kebangkitan Islam, terutama pengaruh di universiti-universiti dan kolej-kolej serta merebaknya tuntutan Islamisasi masyarakat Sudan dan order politik. Akibatnya, Numeiri bekerjasama dengan kumpulan Mahdi dan melakukan perubahan undang-undang kepada Islam. Namun begitu masalah dalaman negara semakin meruncing dan Numeiri meninggalkan pejabatnya kepada Perdana Menteri Sadiq al-Mahdi untuk berhadapan dengan cabaran dan masalah sosioekonomi dan ketegangan kawasan dan agama. Perdana Menteri al-Mahdi digulingkan oleh tentera pada 30 Jun 1989 dan rejim tentera yang baru menjanjikan referendum berhubung dengan isu syariah. Rejim tentera di bawah Lt. Jeneral Omar Hassan Ahmad al-Bashir berhadapan dengan cabaran dan isu yang berat. Antaranya ialah, isu perbalahan agama di wilayah Utara dan Selatan, situasi ekonomi yang serius dan kemarau yang berterusan. Perang saudara juga meletus antara tentera pembebasan Sudan dengan kerajaan. Akibat daripada itu, Sudan menerima sekatan daripada kuasa besar seperti Amerika dan dilabelkan sebagai sebuah negara fundamentalis dan menggalakkan keganasan.



ARAB SAUDI

Arab Saudi adalah contoh jelas sebuah negara Islam di dunia Islam hari ini. Asas kepada kerajaan Saudi hari ini dikatakan sebagai akibat daripada perikatan di antara Ibn Saud dengan Muhammad Ibn Abd al-Wahab dalam kurun ke-18. Gerakan Wahabi mahupun umat Islam kembali kepada kemurnian Islam yang sebenar dan mahu membersihkan Islam daripada segala rupa bentuk bid’ah dan khurafat. Dalam usaha pemodenan tanpa menjejaskan Islam, Raja Faisal memperkenalkan program sepuluh perkara, antaranya menggalakkan pentafsiran syariah secara dinamik dengan kembali kepada ijtihad dan ijmak. Raja Faisal juga mengekalkan nilai-nilai Islam di samping usaha pemodenan. Prinsip-prinsip di dalam al-Quran diwajibkan menjadi undang-undang mutlak negara dalam semua aspek pentadbiran termasuk ke atas raja sendiri. Pada penghujung tahun 60-an, Raja Faisal menjalankan kempen dengan bersungguh-sungguh terhadap Pan Arabisme yang didukung oleh Nasser dan negara-negara Arab lain yang radikal atau sosialis dengan menggalakkan perpaduan dan kesatuan serta Pan Islamisme. Di samping itu, baginda juga menubuhkan banyak institusi dan organisasi bagi memberi perkhidmatan kepada ummah dan menganjurkan pelbagai persidangan dan mesyuarat dengan pemimpin-pemimpin negara Islam, baik Arab mahupun bukan Arab. Baginda juga berjuang untuk negara-negara Islam. Kejayaan Arab Saudi dalam memodenisasikan dengan mengikut jejak Islam menjadi sumber inspirasi bagi seluruh ummah Islam dan mempengaruhi kebangkitan Islam dalam tahun 1970-an dan 1980-an.



AFGHANISTAN

Afghanistan adalah sebuah negara yang 99 peratus daripada penduduknya beragama Islam. Secara tradisinya, ajaran dan kepercayaan serta amal Islam mempengaruhi kehidupan di Afghanistan. Secara tradisi juga wujudnya jalinan di antara peraturan sosial yang berlandaskan keagamaan dengan hal-hal yang bersifat sekular. Golongan Mullah memiliki autoriti dalam segenap aspek kehidupan, bukan setakat dalam bidang keagamaan. Namun begitu, pada pertengahan kurun ke-20 perubahan secara beransur-ansur mulai berlaku di dalam politik dan sosial. Perubahan juga berlaku dalam wilayah pengaruh kekuasaan Mullah dengan kemunculan pendidikan sekular. Madrasah-madrasah yang diasaskan dan ditadbirkan oleh golongan Mullah mulai hilang pengaruhnya kepada institusi-institusi umum. Pada masa yang sama juga terdapat usaha-usaha memperkenalkan undang-undang sekular ke atas undang-undang syariah di mana kod undang-undang dan birokrasi dikaji semula. Dalam melaksanakan perubahan, kerajaan Afghanistan pada masa itu amat berhati-hati dalam hal-hal yang berkaitan dengan Islam dan yang menyentuh kepercayaan Islam, umpamanya percubaan Sultan Amanullah melakukan pembaratan dan dasar liberal Perdana Menteri Shah Mahmud yang akhirnya menyebabkan kejatuhan mereka. Bagaimanapun menjelang 1967, pengaruh Mullah dan keluarga ternama di bidang agama mulai luntur dalam hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akibat daripada langkah-langkah pembaharuan yang dijalankan oleh kerajaan, umpamanya kemunculan sekolah-sekolah sekular menyebabkan pengaruh Mullah mulai merosot. Di samping itu, perubahan juga mulai berlaku dengan kehadiran penasihat-penasihat Rusia dan kumpulan yang mendukung kehadiran Rusia yang berusaha mengikis Islam dan tradisi budaya Afghan. Pada bulan April tahun 1978, Afghanistan dikuasai oleh kerajaan yang pro-Rusia dan kemudiannya negara itu diduduki oleh tentera Rusia. Hari ini, selepas rakyat Afghan berjaya menumbangkan rejim yang prokomunis dan menghancurkan pendudukan Rusia, Afghanistan berhadapan dengan konflik dalaman. Perebutan kuasa sesama sendiri antara pelbagai puak, seperti puak Hazaras iaitu keturunan Mongol, Ubzek, Turkman, Kirghiz, Phustun, Tajik, Baluch, Nuri, Hindu, dan Yahudi, aliran mazhab sperti Sunni, Shiah, dan Khawarij, serta pelbagai cabang amalan aliran sufi dan mistik seperti naqshabandiah, qadiriah, chistiya dan suhavardya (Raphel 1989: 23-27) berlaku. Sesungguhnya senario ini tidak wujud sejak kekuasaan dinasti Ghaznavid atau dengan kata lain sebelum wujudnya aliran pengaruh luar dan campur tangan kuasa asing di Afghanistan. Serangan Amerika Syarikat ke Afghanistan dan kejatuhan Taliban selepas peristiwa 11 September 2001 mencetuskan sejarah yang belum pasti bagi Afghanistan.



PAKISTAN


Sebelum kemerdekaan, golongan elit agama memainkan peranan penting menggerakkan massa dalam perjuangan menuntut kemerdekaan. Mereka percaya akan kemunculan Pakistan di mana ia akan menjadi sebuah negara Islam atau Dar al-Islam. Dalam hal ini, Asaf Hussain (Raphael 1989) menulis, “The creation of Pakistan was the creation of an ideological state. In such a state the ideology originated in ideas rooted in a religion and the latter occupied a supra-national position for the religious legitimization of the state.” Sebaliknya, selepas kemerdekaan berlaku perebutan bagi memonopoli kuasa memerintah di Pakistan. Persepsi golongan ulama bahawa mereka akan mempunyai kuasa dan pengaruh yang lebih jauh selepas merdeka, tidak menjadi kenyataan. Ini adalah kerana selepas merdeka, mereka tidak membentuk suatu kumpulan yang cohesive malah mereka berpecah belah mengikut aliran pemikiran di dalam Islam seperti Deobandi, Berelvi dan Ahl al-Hadis yang berbeza dengan ulama Jama’at al-Islami. Mereka hanya bersatu padu dalam sistem kepercayaan mereka bagi mengislamisasikan negara. Jama’at al-Islami di bawah pimpinan maulana Maududi dengan organisasinya yang kemas dan tersusun melakukan beberapa percubaan bagi menguasai arena politik Pakistan. Pergerakan ini kemudiannya bertukar menjadi jurucakap ulama di Pakistan. Oleh kerana bimbang dengan tekanan politik, golongan ulama dan golongan elit moden bergabung buat sementara bagi menginstitusikan peraturan demokratik. Hal ini dengan tegas dinyatakan oleh pengasas Pakistan, Muhammad Ali Jinnah iaitu (Raphael, 1989: 67): “Pakistan was not to be a theocratic state to be ruled by the priests with a divine mission.” Maksud Ali Jinnah ialah, “Penubuhan negara Pakistan bukanlah supaya ia menjadi sebuah negara teokrasi yang dipimpin oleh ulama.” Akibatnya, berlaku krisis di Pakistan yang berpanjangan di antara elit moden dan golongan ulama yang berpunca di sekitar persoalan sama ada Pakistan menjadi sebuah negara Islam ataupun sejauh mana ia menjadi negara sekular. Kesimpulannya, dilema di Pakistan akan kekal selagi ketegangan dalam sistem politik wujud tanpa disahkan oleh agama. Kita dapat saksikan pengalaman yang dilalui oleh Pakistan seperti campur tangan tentera dan perang, yang melemahkan identiti kebangsaan dan mengakibatkan terbentuknya negara Bangladesh (Raphael, 1989).



INDONESIA


Daripada segi kependudukan, umat Islam di Indonesia adalah yang terbesar dalam konteks dunia Islam. Islam bertapak di Indonesia sekitar abad ke-13. Pada kurun ke-17, Belanda melalui Syarikat Hindia Timur menjajah Indonesia. Penjajahan Belanda berakhir dengan kehadiran Jepun di rantau Asia Tenggara. Pada saat Jepun hampir menyerah kalah dalam Perang Pasifik, Indonesia mengisytiharkan kemerdekaan. Walaupun Belanda dan sekutunya Britain dan Australia cuba melawan semula Indonesia, namun tekanan kekuatan tentera Indonesia dan tekanan tentera Bangsa-Bangsa Bersatu, akhirnya Belanda terpaksa mengiktiraf kemerdekaan Indonesia pada tahun 1950. Seperti di rantau lain dalam dunia Afro-Asia, perjuangan kebangsaan Indonesia digerakkan oleh golongan agama dan sekular. Di Indonesia perjuangan mula digerakkan dengan penubuhan Budi Utomo, sebuah badan sekular, dan diikuti oleh kemunculan gerakan Muhammadiah, sebuah pertubuhan agama. Malangnya disebabkan ketiadaan kepimimpinan yang berwibawa, aspirasi umat Islam Indonesia bagi menubuhkan negara Islam di Indonesia tidak berjaya. Sebaliknya, pemimpin nasionalis seperti Soekarno dan Mohamad Hatta, sungguhpun mereka beragama Islam, mereka lebih berorientasikan nasionalisme sekular Barat daripada orientasi Islam.Di samping itu pula, selain daripada gerakan Muhammadiah terdapat gerakan Islam lain seperti Sarekat Islam dan Nahdatul Ulama. Disebabkan tiadanya perpaduan di kalangan pertubuhan-pertubuhan Islam, Islam tidak menjadi kuasa yang dominan di Indonesia. Ketika Jepun hampir menyerah kalah dalam Perang Pasifik, suatu komiti dibentuk bagi membahaskan ideologi negara sebagai kerangka bagi perlembagaan Indonesia. Golongan sekularis-nasionalis dan Islam berdebat dalam isu yang menyentuh hubungan antara negara dengan agama Islam. Hatta dan Soekarno mendesak supaya dilakukan pemisahan di antara Islam dengan negara, sebaliknya, kumpulan Islam mahukan Islam diberi kedudukan yang positif dalam hala tuju politik Indonesia. Akhirnya, Soekarno mengisytiharkan Pancasila sebagai ideologi Indonesia. Reaksi pengisytiharan ini ialah kemarahan dan penolakan oleh kumpulan Islam. Selepas diluluskan Pancasila, beberapa siri pemberontakan tercetus di beberapa wilayah. Ia bermula di Jawa Barat di bawah pimpinan Kartosuwirjo yang mengisytiharkan negara Islam Indonesia dengan dirinya sebagai Imam. Kebetulan pada masa yang sama Belanda melakukan tindakan polis terhadap Republik Indonesia. Akibatnya, Soekarno menyeru umat Indoneisa supaya bersatu menentang Belanda dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan ini menaikkan semangat umat Islam dan bukan Islam di Indonesia menentang tindakan pencerobohan Belanda. Rakyat menyokong seruan perjuangan Soekarno bagi mengekalkan kemerdekaan daripada bertelingkah mengenai ideologi negara. Justeru itu, isu penubuhan negara Islam tidak berjaya. (Golam, 1993: 141). Seperti kata Golam (1993), perjuangan umat Islam di Indonesia bagi menubuhkan negara Islam di Asia Tenggara merupakan episod yang menyedihkan. Selepas merdeka, Indonesia mengadakan pilihan raya pada tahun 1955. Parti politik Islam iaitu Masyumi yang dijangkakan mempunyai prospek yang baik hanya mendapat 45 kerusi. Sebaliknya, Nahdatul Ulama bekerjasama dengan Soekarno. Hasil daripada keputusan pungutan suara itu membangkitkan rasa tidak puas hati penyokong-penyokong Masjumi. Akibatnya, beberapa pemberontakan berlaku di Sulawesi dan Sumatera. Tambahan pula, dasar luar Soekarno adalah pro kiri sedangkan Masjumi pula adalah pro Barat dan anti komunis. Pemberontakan tersebut gagal dan Masjumi diharamkan pada tahun 1960an. Soekarno meneruskan dasar sekularnya di bawah sistem autoritarian.



MALAYSIA

Kemerdekaan Tanah Melayu mengambil haluan yang berbeza daripada negara jiran di rantau Asia Tenggara kerana sikap tolak ansur dan toleransi bangsa Melayu untuk menerima kaum lain yang ditinggalkan oleh penjajah sebagai rakyat di negara ini. Justeru itu, kemerdekaan Tanah Melayu di Tanah Melayu mengambil peluang bersama-sama Indonesia mengisytiharkan kemerdekaan ketika Jepun hampir kalah, di mana sejarah di Malaysia kemudiannya menuju hala yang berlainan. Penggubalan perlembagaan oleh Suruhanjaya Reid, yang tidak melibatkan rakyat tempatan, memasukkan Islam sebagai agama Persekutuan sementara lain-lain agama bebas diamalkan di Tanah Melayu. Walau apa pun yang tersirat di sebalik tujuan meletakkan Islam sebagai agama Persekutuan, namun secara tidak langsung ia merupakan pengiktirafan terhadap dominasi agama Islam di rantau ini sejak kurun ke13 yang lalu. Selepas merdeka, umat Islam Melayu berpecah belah kepada dua kumpulan akibat perjuangan politik kepartian. Satu pihak mendukung parti yang bersifat kebangsaan Melayu manakala di satu pihak yang lain mendukung parti Islam. Namun begitu di sebalik pergeseran ini pemerintah yang didukung oleh gabungan kepimpinan sekular Melayu Islam, beberapa tokoh agama dan sekutu mereka daripada bukan Islam, menjalankan dasar-dasar yang lembut dan sederhana berhubung dengan tuntutan dan aspirasi umat Islam. Antaranya proses Islamisasi yang dijalankan sejak pertengahan tahun 80an ialah seperti mewujudkan sistem kewangan iaitu perbankan Islam, institusi pengajian Islam dan langkah lainnya bagi meraih sokongan rakyat beragama Islam di samping tidak mengabaikan kepentingan bukan Islam. Di samping itu, usaha yang berterusan dijalankan bagi memberi kefahaman Islam baik di dalam jentera kerajaan mahupun kepada masyarakat. Masyarakat Melayu juga didapati mudah menerima saudara-saudara Muslim daripada etnik lain di Malaysia terutama kaum India Muslim.



Islam dan Order Antarabangsa

Kini Sejak Perang Teluk pada tahun 1991, Golam (1993: 215) menyatakan ada percubaan yang sengaja mencerca dan memberi tafsiran yang salah tentang Islam dan prinsip-prinsip utama ideologinya. Sebagai contoh, terdapat kecenderungan dalam akhbar-akhbar di Amerika yang membahaskan tentang perang dingin yang tamat antara blok Barat dan komunis, dan akan membahaskan tentang perang antara Barat dan Islam. Sangkaan dan kebimbangan ini dilihat ada kaitannya dengan gelombang kesedaran yang kuat di kalangan umat Islam supaya kembali kepada penghayatan Islam yang sebenar. Namun begitu, kebimbangan ini disangkal oleh Dr. Zbigniew (Golam, 1993) yang menyatakan tidak ada sebab bagi orang-orang di Amerika mengambil sikap bermusuhan terhadap golongan kebangkitan Islam. Sesungguhnya kebangkitan Islam dan kesedaran semula di kalangan orang-orang Islam di dunia ini adalah fenomena yang sewajarnya dialu-alukan. Ia seharusnya diterima sebagai suatu kekuatan yang dapat mencergaskan semula kesejahteraan terhadap dunia yang tidak bermaya dan harapan bagi kemanusiaan yang tidak keruan. Sebagaimana yang kita sedia maklum, Islam bukanlah agama paksaan terhadap orang lain. Salah tafsiran ini juga barangkali disebabkan anggapan terhadap beberapa kumpulan pelampau Islam di sebalik majoriti negara-negara Islam mempunyai hubungan yang baik dengan Barat. Adalah nyata dunia Islam mahu mencapai kecemerlangan masa lalu. Justeru itu, Islam tidak ada kaitan dengan penentangan terhadap mana-mana agama ataupun kumpulan. Islam adalah agama keamanan. Islam menekankan tasamuh, persaudaraan sejagat dan tidak mengizinkan ideologinya dipaksakan terhadap orang lain dengan kekerasan. Islam ditakdirkan menjadi agama dunia dan mencipta suatu tamadun daripada hujung masyriq atau timur, hingga ke hujung maghrib atau barat. Hakikat ini dipersaksikan kepada kita sejak zaman khalifah-khalifah terdahulu. Islam bermula di bumi Arab dan berpindah kepada orang-orang Parsi yang kemudiannya diikuti oleh orang-orang Turki yang membentuk tamadun klasik Islam. Seterusnya, dalam kurun ke13, Afrika dan India menjadi pusat tamadun Islam yang hebat. Tidak lama selepas itu negara Islam diasaskan di dunia Melayu dan orang Islam Cina berkembang subur di rantau Cina. Sesungguhnya hari ini dunia Islam kekal daripada Atlantik hingga ke Pasifik, dan kehadiran Islam di Eropah dan Amerika adalah pasti; dihidupkan oleh ajaran-ajaran Islam yang berusaha supaya menonjolkan identitinya tersendiri. Namun begitu, di sebalik sifat-sifat tamadun Islam yang aman, terdapat pandangan sarjana-sarjana Barat yang sinis berhubung dengan hala tuju dunia selepas tamatnya perang dingin. Sebagai contoh, Francis Fukuyama (1992) menulis di dalam bukunya bahawa dunia ini hanya milik Barat. Tidak ada ruang bagi tamadun lain di dunia selepas berakhirnya Perang Bingin. Kapitalisme dan demokrasi Barat adalah segala-galanya. Sungguhpun pandangan beliau mengundang kritikan daripada sarjana-sarjana Barat lainnya namun pandangan sarjana-sarjana tersebut juga menunjukkan dunia seolah-olah sedang menghala kepada konflik baru selepas Perang Dingin. Konflik baru ini pula sengaja ditujukan kepada konflik antara Islam dan Barat. Umpamanya tulisan Samuel Huntington (1993) yang meramalkan akan wujud konflik budaya dan tamadun antara dunia Islam dan Barat. Sehubungan dengan itu, Prof. Pipes (Golam, 1993) membangkitkan mengenai Islam fundamentalis dan sikap mereka terhadap kuasa besar seperti Amerika dan USSR. Persepsi Pipes dan mereka yang mendukung kefahaman yang sama mengenai konflik antara Islam dan isme-isme lain dibahaskan dengan begitu panjang dalam tulisan-tulisan mereka. Sebenarnya label yang mereka berikan kepada Islam seperti pelampau Islam, ekstremis Islam, militan Islam dan sebagainya yang mereka dakwa merbahaya atau memberi ancaman bukanlah sesuatu yang asing kepada Islam kerana sejak kewujudan Islam lagi sifat yang tidak toleran ini ditujukan kepada Islam.

Sebelum kita bincang dengan lebih lanjut, marilah kita tinjau sedikit apakah yang dimaksudkan dengan fundamentalis Islam dan lain-lain serta dakwaan merbahaya atau ancaman yang datang daripada fundamentalis Islam. Golam (1993) menulis secara kasarnya perkataan ‘fundamentalis’ boleh dikategorikan kepada dua kumpulan utama iaitu: a. Sebagaimana perkataan itu difahami, ataupun sekurang-kurangnya seharusnya difahami, menurut bimbingan dan ajaran Islam betul, dan b. Istilah yang digunakan dengan meluas ketika ini bagi menghuraikan konflik semasa, sama ada benar ataupun khayalan, antara Islam dan Barat. Golam (1993) menyatakan menurut prinsip asas Islam, seorang Muslim yang benar tidak ada keraguan dalam kepercayaan dan amalannya. Mereka menjalani kehidupan menurut rukun Islam dan rukun Iman iaitu percaya kepada Allah, Rasul, Kitab, Malaikat, Qadak dan Qadar serta melaksanakan solat, puasa, zakat dan haji. Golam (1993) menulis: “If any Muslims believes in these principles he or she cannot indulge in acts of violence, terrorism, hijacking or any kind of action which goes against the universal principles of truth, justice, peace and universal brotherhood”.

Menurut Esposito (Golam, 1993), inilah pertanyaan-pertanyaan kritikal dalam zaman sekarang yang lahir daripada suatu sejarah yang saling tidak mempercayai dan cela mencela. Kesimpulan Selepas beberapa lama di bawah dampak penjajah dan ideologi-ideologi mereka, kini tamadun Islam mulai menyinar kembali. Umat Islam mulai bangun daripada tidur mereka. Mereka bangkit daripada debu perang Arab-Israel, 1967; daripada debu Perang Bosnia; daripada debu perang di Kaukasus khasnya wilayah Chechnya; daripada debu perang Kashmir dan lain-lain lagi.

Umat Islam mulai sedar mereka tidak dapat berdiri dengan sendiri melainkan mereka bersatu dan berpegang teguh kepada tali Allah. Hari ini umat Islam bangkit semula untuk kembali kepada kemurnian Islam di sebalik rasa cemas Barat. Arus kebangkitan Islam tidak dapat disekat. Di mana-mana sahaja kedengaran suara yang mengajak umat Islam kembali kepada Islam. Di Eropah dan Amerika, pergerakan Islam kelihatan lebih bertenaga dan lebih pesat daripada tanah air kita. Ia mulai menapak dalam kehidupan moden. Ia mula dihayati di kalangan generasi muda. Sebagaimana yang ditulis oleh Huntington (Golam, 1993) tamadun Islam mula diterima di Eropah, dan Islam menjadi agama kedua terbesar di Eropah. Menurut Golam (1993) , hari ini kita juga sedang menyaksikan transformasi suatu sejarah baru. Beliau merujuk kepada dunia Islam di bekas negara Kesatuan Soviet, Eropah Timur dan bahagian lain di dunia ini. Negara-negara Islam ini sedang melalui proses pembebasan politik ataupun pendemokrasian yang terhalang pada masa lampau oleh penjajahan, dan dalam masa kebelakangan oleh kerajaan yang bersifat autoritarian. Jika dibandingkan tamadun Islam dengan tamadun-tamadun lain ternyata tamadun Islam merupakan yang paling muda berasaskan agama dan kerohanian-muda dan teguh sungguhpun hari ini ia masih dalam pergolakan jika dibandingkan dengan zaman kegemilangannya pada masa lampau yang penuh dengan keyakinan. Namun begitu, ia masih cuba mengembalikan identiti ketamadunannya setelah berabad-abad lamanya ditindas di segenap medan oleh tamadun moden sekular Barat. Al-Quran sendiri menggambarkan proses silih berganti sebagai ketentuan Ilahi yang berlaku. Sehubungan itu, seorang pemikir agung Islam, Ibn Khaldun percaya konsep peradaban manusia tertakluk kepada prinsip ‘kitaran sejarah.’

Manifestasi kebangkitan semula daripada aspek spirituil dan intelektual dalam pelbagai rupa dan magnitud membingungkan pemikir-pemikir moden terutamanya yang di bawah pengaruh ideologi positivisme kurun ke-19 yang meramalkan bahawa tuhan telah mati, justeru itu berakhirlah semua organisasi agama tradisional.

Hari ini tidak seperti yang disangka, agama sedang muncul semula. Kebangkitan agama-agama kontemporari bukan hanya terhad kepada mana-mana agama. Ia adalah fenomena universal, lebih-lebih lagi Islam sudah ke hadapan kebangkitannya iaitu sejak pertengahan abad ke-20. Di dunia Islam, ketika dua abad yang lalu, generasi Islam ditindas, dijajah, mundur dan kehilangan inisiatif, akhirnya sampai ke penghujung satu era baru yang menekankan perpaduan ummah, kekuatan dalaman berasaskan ajaran Islam yang menyeluruh sedang melanda masyarakat Islam.

Dalam abad lepas juga kita saksikan berbagai peristiwa menimpa negara-negara Islam. Kita melihat kebanyakan tanah dan wilayah umat Islam di serata dunia memperoleh kemerdekaan daripada belenggu penjajahan dan usaha-usaha bagi mengisi kemerdekaan itu. Dalam abad ini juga kita menyaksikan kesengsaraan dan kemelaratan hidup umat Islam di mana-mana sahaja, umpamanya di wilayah Balkan umat Islam sedang berhadapan dengan kekejaman Serbia, penjajahan Rusia yang berterusan ke atas Wilayah Kaukasius, pencerobohan Rusia ke atas Afghanistan, Amerika terhadap kedaulatan Iraq, perang saudara ke atas beberapa buah negara di Afrika, perang saudara di Afghanistan, Penindasan ke atas penduduk Palestin, Kashmir, dan umat Islam di Indonesia, Burma dan lain-lain. Begitu juga dengan konflik politik di antara negara-negara Islam.

Kemiskinan merupakan norma di negara Islam dan begitu juga dengan kadar buta huruf yang terus berlaku. Berhadapan dengan pelbagai jenis masalah ini kelihatan seolah-olah dunia Islam menjadi kaku. Kesengsaraan yang menimpa umat Islam semakin dirasai pada permulaan alaf baru ini selepas berlakunya peristiwa 11 September 2001 di Amerika Syarikat. Peristiwa tersebut berlanjutan kepada serangan Amerika Syarikat ke atas Afghanistan atas dakwaan menaja keganasan. Segala yang berunsur Islam yang sebenar, cuba dilihat sebagai satu fahaman militan. Negara-negara Islam menjadi ketakutan untuk membela nasib masyarakat seagama yang berada di negara lain lantaran takut kepada tindak balas Amerika Syarikat walaupun saudara mereka ditindas di negara-negara tersebut. Perjuangan mendapatkan kemerdekaan di Palestin dan menentang Israel contohnya, dilihat sebagai perjuangan kumpulan pengganas Islam militan terhadap Israel.

Justeru itu, umat Islam harus kembali kepada Islam dalam hakikat dan sifatnya yang sebenar dan semurninya. Sejarah membuktikan umat Islam tidak menjadi mulia dengan berpegang kepada pemikiran orang lain. Ini bererti ketulenan Islam perlu dipegang dan dipelihara. Islam adalah ajaran yang lengkap, serba mencakup, kompak dan padu. Islam tidak hanya berupa nilai-nilai tetapi adalah akidah dan syariah, hukum dan syiar-syiar. Islam adalah tatacara hidup yang sempurna dan komprehensif, meliputi semua aspek kehidupan, politik, ekonomi, pendidikan, perundangan, pentadbiran pertahanan, dasar luar dan lain- lain lagi.


Sebagai agama, Islam tidak perlu bersandar atau berganding dengan sebarang fahaman atau isme lain. Islam tidak perlu sosialisme atau nasionalisme. Islam adalah sempurna bagai mencapai maksud dunia dan akhirat.
razim172
Sedih dan terharu tengok cerita tu...

Patut ramai penggiat filem kita wat cam tu...
Buat filem pasal tok janggut ke? Mat kilau ke..

Tu penting utk warisan anak cucu kita nanti..

Kita tengok b/mana bangsa eropah buat filem, penuh dengan mesej..

Semalam ada tgk gak cter Superman, mmg ada unsur2 kristian gak..
Sebab ada kata2 ' Superman is the only God son to save people..
sofiahdewi
Assalamualaikum....


Razim… saya sangat suka pada maklum balas anda serta cadangan yang anda berikan.

Persoalanya…Bagaimana dapat kita semaikan semangat pembangunan umah seandai kurang usaha penyuntikkan pada generasi mendatang yang di alpakan dengan terlalu banyak informasi dan tayangan yang mengasyikkan dari budaya kekuningan/hiburan?

Sebenarnya perusahaan media massa tak perlu membelanjakan atau mengeluarkan tabungan yang banyak untuk mendidik masyarakat tentang pentingnya kesedaran terhadap sejarah perjuangan mereka yang terdahulu dengan pembikinan filem yang menelan berjuta juta ringgit sedangkan ianya tidak memberi kesan dalam jangka masa panjang.

Kita punya ramai cerdik pandai dalam pelbagai kepakaran terutamanya teknologi maklumat untuk mengeluarkan tayangan filem/TV yang bermutu pada para penonton. Apa yang perlu adalah skrip yang bermutu tinggi dari gabungan nilai kebenaran sejarah dengan kepakaran teknologi bidang pembikinan filem saperti aminasi yang mampu menebusi minat majoriti penonton.

Saya pernah menonton filem aminasi bertajuk lebih kurang “Muhammad Pesuruh Allah” yang di petik dari filem “Muhammad The Messenger Of God”. Seandainya mereka dapat memikirkan sebuah siri aminasi perjuang terdahulu yang berteraskan cerita benar sejarah tanahair saperti pembikinan siri TV :”The Kluangmen”, saya yakin ianya dapat menarik minat pelbagai gulongan terutama kanak kanak dan warga pelajar menghayati erti perjuangan sejarah perjuang perjuang bangsa /islam saperti Pak Sako, Dr. Baharuddin Helmi, Dato Onn dan ramai lagi tanpa memilih siapa mereka kerana yang penting objektif dan kesan perjuangan itu yang pada generasi di masa yang akan datang.

Di zaman penuh pencaroba ini, penyebaran maklumat yang kurang tepat mampu merosakkan dan menyebabkan kehancuran nilai murni kemanusiaan lantaran memberi kesan negatif kepada inspirasi pembangunan nilai kemanusiaan itu sendiri.

Gabungan idea,tenaga dan kepakaran anak bangsa kita bukannya calangan malah mampu memberi impak sosial budaya selain impak ekonomi dan pembangunan negara itu sendiri dengan idea idea yang bermutu seandainya kebebasan berkarya di beri pertimbangan sewajarnya dengan perhatian pada nilai nilai murni keagamaan dan sosial budaya setempat.

Penjanaan sumber melalu kretiviti berkarya yang bergariskan pembangunan nilai murni mampu membangunkan sosial budaya berkehmah pada generasi mendatang. Sumber karya/persembahaan yang berteraskan individualiti dan kepopularan yang mengasyikkan patut di pantau atau dikurangkan agar penyerapan nilai kuning dapat dibendung dalam pembangunan minda anak bangsa lantaran kerosakkan akidah yang melalaikan focus pembangunan kemanusiaan yang sihat lagi berkehmah dapat di kurangkan.

Saya amat sedih menyaksikan ketidakseimbangan penyebaran tayangan di media massa kita masakini yang hanya menyajikan tayangan yang kekadang merosakkan tatasusila anak anak dari segi penggunaan bahasa mahupun cara persembahan kerana alasan ingin memenuhi selera penonton demi memberi keuntungan atau milage pada individu tertentu lantaran menidakkan keadilan menegakan inspirasi memurnikan nilai murni yang mengakibat kerosakan hasrat membangunkan identiti semangat kebangsaan yang berteraskan sifat terpuji.

Semuga apa yang ingin saya sampai dapat di fahami semua. Wassalam
sofiahdewi
Muar daerah kelahiran ku penuh dengan kenangan yang manis terutama
zaman kanak kanak dan remaja. Daerah dan bandar ku yang tercinta. Semuga satu hari nanti
aku dapat membanggakan daerah kesayangan ini dengan nama yang baik sebagai anak jati
bandar maharani.





Daerah Muar terletak di barat laut negeri Johor, Malaysia. Daerah Muar terdiri daripada bandar Muar itu sendiri dan juga daerah kecil Tangkak. Muar bersempadan dengan Melaka di utara, Segamat di timur dan Batu Pahat di selatan.

Daerah Muar berkeluasan 2346.12 km persegi dengan penduduk seramai 328,695 orang (bancian 2000). Perkataan ¡®Muar¡¯ dipercayai berasal daripada Muara. Kemungkinan lain ialah ia berasal daripada perkataan hindu iaitu ¡°Muna¡± dan ¡®Ar¡± yang masing-masing bermaksud Tiga dan Sungai, menggambarkan kewujudan Sungai Muar yang mengalir melalui bandar ini dan juga merupakan sungai terpanjang di Johor.

Pusat pentadbiran baru yang dikenali sebagai Muar 2 sedang dirancang untuk dibina di Muar. Pusat pentadbiran baru tersebut akan menempatkan semua jabatan Kerajaan Negeri dan Persekutuan dan dijangka terletak berhampiran dengan Muar Bypass di bandar Muar.



Geografi

Bandar Muar terletak pada 2¡ã3¡äN 102¡ã34¡äE, di muara Sungai Muar. Bandar ini berada pada kedudukan 150 km (93 batu) ke barat daya ibu negara Malaysia, Kuala Lumpur. Ia adalah 50 km ke utara Batu Pahat dan 179 km ke barat laut Singapura.


Sejarah

Muar adalah kaya dengan sejarah tetapi disebabkan ketiadaan catatan sejarah yang sempurna dan bukti-bukti arkeologi, kebanyakan sejarah silam Muar tidak diketahui. Dipercayai sejarah Muar telah bermula lebih awal daripada Empayar Melaka. Pada tahun 1361, terdapat catatan yang menyatakan Muar adalah sebahagian daripada wilayah empayar Majapahit. Catatan lain pula ada menyebut bahawa Parameswara, pengasas empayar Melaka, pernah menubuhkan penempatan di Pagoh, Ulu Muar selepas melarikan diri dari Temasik sebelum menuju ke Melaka. Muar juga adalah tempat terletaknya satu-satunya makam kesultanan Melaka iaitu Sultan Alauddin Riayat Shah 1 (1477-1488). Makam kesultanan Melaka yang lain telah dibinasakan dengan kejam oleh Portugis semasa penaklukan mereka ke atas Melaka. Muar turut memainkan peranan dalam mengekang kemaraan tentera Portugis pada tahun 1511. Bagi menangani serangan armada Portugis, Kubu Bentayan telah dibina oleh Sultan Melaka untuk mematahkan serangan dari arah laut.

Muar di era Portugis juga menempatkan sebuah kubu iaitu ¡®Fortaleza de Muar¡¯ bagi mempertahankan koloni Portugis daripada serangan Belanda dan Aceh.

Muar adalah bandar di-Raja di selatan Johor. Ia pernah menjadi sebuah Kerajaan merdeka dan berdaulat yang diperintah oleh Sultan Ali dalam masa yang singkat (1855 ¨C 1877), apabila penguasaan negeri Johor (kecuali Muar) telah diserahkan kepada Dato' Temenggong Daing Ibrahim di bawah perjanjian di antara British di Singapura dan Sultan Ali. Sultan Ali adalah pewaris sebenar kesultanan Johor tetapi kelemahan beliau telah menyebabkan pemerintahan Johor dikuasai oleh Temenggong. Setelah beliau mangkat pada 1877, Muar akhirnya menjadi sebahagian daripada wilayah Johor. Muar turut dikenali sebagai Bandar Maharani, nama yang diberikan oleh Maharaja Abu Bakar pada 1884. Muar selama bertahun-tahun adalah bandar yang kedua terbesar di Johor tetapi kedudukan tersebut telah diambil alih oleh Batu Pahat. Namun demikian, Muar masih merupakan bandar kedua terpenting dari segi pentadbiran selepas ibu negeri Johor Bahru.



Keretapi Kerajaan Muar

Muar adalah satu-satunya bandar di Malaysia yang mempunyai sistem perkeretapiannya sendiri di masa lampau yang dikenali sebagai Keretapi Kerajaan Muar (Muar State Railways) atau MSR, beroperasi hanya 4 tahun selepas landasan keretapi pertama di negara ini di antara Taiping dan Port Weld dibuka pada 1885. Sistem keretapi ini wujud dari tahun 1889 hingga 1925, menghubungkan Jalan Sulaiman di Bandar Maharani dan Sungai Pulai pada jarak 22.5 km. Berdasarkan ciri-cirinya sebagai keretapi ringan tempatan, ia adalah terasing daripada jaringan keretapi di tanah Melayu pada waktu itu tetapi terdapat perancangan untuk memanjangkan landasan sehingga ke Batu Pahat pada 1916. Walau bagaimanapun, projek tersebut tidak dilaksanakan ekoran halangan geografi dan kewangan.

Perkhidmatan keretapi ini adalah menguntungkan dan telah memudahkan pergerakan penduduk serta barangan di samping menggalakan pertumbuhan ekonomi melalui pembukaan ladang-ladang kelapa di sepanjang koridor rel. Walau bagaimanapun, kepentingannya telah menurun apabila Jalan Abdul Rahman yang menghubungkan Bandar Maharani dan Parit Jawa dibuka pada 1918. Tambahan pula, penyelenggaraan terhadap infrastruktur yang usang adalah terhad. Landasan sering terabai sehingga sistem perparitan yang tidak terurus telah merosakkan tapak landasan. Selain itu, ketiadaan batu balas di dalam pembinaan landasan telah mempercepatkan kadar kerosakan landasan di mana mendapan tanah sering berlaku dan mengakibatkan beberapa kegelinciran. Peruntukan kewangan yang besar adalah diperlukan untuk membaikpulih sistem keretapi ini. Dibebani dengan masalah kewangan dan kemerosotan populariti, kegemilangan MSR selama 36 tahun berakhir pada tahun 1925. Kesan landasan telah hilang apabila tapaknya digantikan dengan pembinaan Jalan Temenggung Ahmad. Lokomotif MSR yang dipamirkan di Taman Tanjung Emas adalah satu-satunya tinggalan warisan yang membuktikan kewujudan MSR di masa silam. Dipercayai juga lokomotif tersebut adalah yang tertua di negara ini yang masih berkeadaan baik memandangkan lokomotif wap yang dipamirkan di Muzium Negara Kuala Lumpur adalah dari model yang lebih baru. Memandangkan Muar tidak pernah menjadi ibu negeri atau bandar terbesar di Johor, kewujudan rangkaian keretapi eksklusif di Muar setanding dengan sistem LRT pada hari ini, satu kemudahan yang malahan ibukota Kuala Lumpur tidak memilikinya pada waktu itu, adalah pencapaian yang menakjubkan.


Pekan
Parit Bakar
Parit Jawa
Parit Unas
Bakri
Pagoh
Sungai Mati
Bukit Pasir
Bukit Gambir
Bukit Mor
Bukit Treh
Sungai Abong


Komersil & Industri

Muar dikenali sebagai pusat perabot negara. Ia mempunyai lebih banyak kilang perabot berbanding dengan lain-lain bandar di Malaysia. Di samping itu, Muar turut menempatkan dua kilang milik syarikat multinasional antarabangsa iaitu SGS-Thomson (ST) Microelectronic dan Pioneer. Kawasan perindustrian di sekitar Muar terletak di Tanjung Agas, Pagoh dan Tangkak.

Terdapat berbagai pusat membeli-belah di Muar seperti The Store (bakal digantikan dengan Pasar Besar Giant), Senyum, Pasaraya Borong Senyum (terletak di Tanjung Agas), Astaka dan Plaza Hock Hai. Wetex Parade adalah antara gedung membeli-belah terbesar yang terdapat di Muar di samping sebuah lagi pasaraya besar yang baru dibuka pada Oktober 2006 iaitu Econsave, di Jalan Haji Jaib.

Di samping itu, pembangunan komersil terbaru yang bakal menempatkan hospital swasta dan pusat membeli-belah sedang dilaksanakan di tebing utara Sungai Muar di atas tapak yang ditebusguna daripada hutan paya bakau.


Infrastruktur

Lebuhraya pintasan Muar (Muar Bypass), (2 lorong dua hala) sepanjang 14 km termasuk Jambatan Kedua Muar dengan rekabentuk menarik yang keseluruhannya disiapkan pada 2005 adalah mercu tanda terbaru bandar ini. Lebuhraya yang menyusuri persisiran bandar Muar ini akan memudahkan perjalanan dengan mengalihkan aliran trafik daripada kawasan bandar dan seterusnya dapat mengurangkan kesesakan di Jambatan Sultan Ismail Muar yang lebih tua. Lebuhraya sedemikian (atau jalan lingkaran) adalah ciri biasa bagi Kuala Lumpur, Johor Bahru, Pulau Pinang, Melaka dan Seremban yang kesemuanya adalah ibu negeri. Walaupun Muar tidak berstatus sebagai bandar besar, pembinaannya di Muar telah menggambarkan kepentingan Muar dari segi ekonomi dan membolehkannya untuk merampas kembali kedudukannya selaku bandar kedua terbesar di negeri Johor.

Di samping jalan persekutuan, Muar turut dihubungkan oleh Lebuhraya Utara ¨C Selatan melalui susur keluar di Tangkak dan Pagoh yang masing-masing terletak 20 km dan 30 km dari Muar.

Terdapat juga perkhidmatan feri secara tetap ke Dumai, Sumatera, Indonesia yang bertolak dari jeti Kastam.



Pelancongan

Salah satu tarikan pelancong yang terkenal di Muar ialah Taman Negara Gunung Ledang. Taman ini terletak 170 km dari Johor Bahru dan mempunyai keluasan 107 km2. Terdapat dua pintu masuk ke taman ini iaitu melalui Sagil, Johor dan Asahan, Melaka. Puncak Gunung Ledang setinggi 1,276 m dari aras laut adalah puncak yang tertinggi di negeri Johor. Gunung Ledang juga adalah gunung yang ke-64 tertinggi di Malaysia dan berkemungkinan yang paling banyak didaki di negara ini. Air terjun Sagil yang terdapat di taman ini adalah tempat perkelahan yang terkenal.



Lihat juga Legenda Gunung Ledang


Makanan

Muar turut dikenali kerana makanannya. Makanan tempatan yang paling dikenali ialah [[Otak-Otak dan Mee Bandung Muar. Muar juga terkenal sebagai salah satu tempat di mana satay dihidangkan sebagai sarapan pagi.

Mengunjungi sebahagian restoran dan kedai kopi di Muar akan mengembalikan nostalgia 60-an dan 70-an kerana persekitarannya dan makanan/minuman yang dihidangkan tidak berubah semenjak masa lampau tersebut. Kopi yang dihidangkan di restoran tersebut mempunyai rasanya yang tersendiri dan dipercayai setanding dengan Kopi Kluang yang lebih masyhur.


Tempat menarik

Deretan bangunan yang dibina sebelum Perang Dunia Kedua masih mewarnai senibina bandar ini. Bangunan tersebut menempatkan kedai-kedai di sepanjang Jalan Abdullah yang juga dikenali sebagai pusat dagangan Muar. Bangunan warisan yang ulung antara lain adalah Bangunan Abu Bakar (disiapkan pada 1929) yang menempatkan pejabat-pejabat pentadbiran Daerah Muar dan Bangunan Kastam (disiapkan pada 1909). Umur bangunan-bangunan lama tersebut mudah untuk dikenalpasti kerana tarikh ianya disiapkan (di sekitar tahun 1930an hingga 1950an) tertera di bahagian luar bangunan. Bangunan ini adalah warisan yang amat berharga yang menggambarkan kemakmuran Muar di masa lampau dan menghargai keunikannya akan membuatkan mereka-mereka yang pernah dibesarkan di Muar terkenang kembali kenangan di zaman silam.

Tarikan lain di Muar ialah Taman Tanjung Emas, taman rekreasi bagi bandar ini, yang terletak di muara Sungai Muar. Tebing sungai di taman ini dihiasi dengan laluan siar kaki yang menyajikan pemandangan menarik Sungai Muar. Taman ini yang dikunjungi ramai sewaktu hujung minggu juga menempatkan padang golf 9-lubang. Terdapat perkhidmatan bot menyusuri Sungai Muar selama 45 minit hingga satu jam yang bertolak dari taman ini untuk memberikan peluang kepada pelancong menikmati pandangan bandar Muar dari sungai.

Mercu tanda terbaru bandar ini ialah Mesjid Sultan Ismail, terletak di tebing utara Sungai Muar. Ia adalah mesjid terbesar di Muar. Disiapkan pada 2002, ia menyajikan pemandangan indah bila dilihat daripada bandar Muar, seolah-olah ia terapung di atas sungai.


Pendidikan

Pendidikan bagi genarasi muda disediakan secukupnya oleh beberapa sekolah di Muar. Berikut adalah senarai tidak lengkap sekolah-sekolah di Muar.

SMK PARIT BUNGA
SMK(A) Ma'ahad Muar
SMK St. Andrew
Muar High School
SMK Convent
SMK Bandar Maharani
SMK Dato' Sri Amar Diraja (SEDAR)
SMK Sultan Abu Bakar
SMK Jalan Junid
SMK Sri Muar
SMK Pei Hwa
MRSM Muar (berasrama penuh)
SMS Sains Muar (berasrama penuh)
SRK Abdullah

Sekolah yang paling terkenal di Muar ialah Sekolah Tinggi Muar. Ia ditubuhkan pada 1904 dan bangunan sekolah yang dibina pada 1915 masih berdiri megah. Semasa Perang Dunia Kedua, sekolah ini telah digunakan sebagai kem tahanan pihak Jepun. Bekas pelajar sekolah ini termasuk pembesar negeri dan pemimpin, pegawai tinggi Kerajaan dan industrialis seperti Tan Sri Osman Saat, Tan Sri Muhyiddin Yassin, Dato Seri Abdul Ghani Othman, Dato Chua Jui Meng, Mr. Rahul Doraisamy, Mr. Sathesh Narayanan, Mr. Adam Tee, Mr. Victor Yeo, Mr. Senthil Doraisamy dan Mr. Triptipal Singh.

Pada tahun 2005, Pusat Sumber SMK Parit Bunga telah mendapat johan PSS Cemerlang peringkat negeri Johor. Pada tahun 2006, Pusat Sumber SMK Parit Bunga telah mewakili Negeri Johor dalam Pertandingan PSS Cemerlang peringkat Kebangsaan dan berjaya mencapai kejayaan dengan mendapat Naib Johan dalam pertandingan tersebut.


Kebudayaan

Muar adalah tempat lahirnya Ghazal, muzik tradisi warisan Johor yang mempunyai unsur-unsur Parsi.

Salah satu daripada aliran silat yang telah berkembang di Muar ialah Silat Sendeng Malaysia yang telah diasaskan oleh Haji Abd Hamid bin Haji Hamzah di Sungai Mati, Muar, Johor.


Penduduk Terkenal

Berikut adalah senarai tidak lengkap penduduk terkenal yang berasal dari Muar.

Menteri Besar Johor, Datuk Abdul Ghani Othman
Bekas Pengerusi Tetap UMNO, Tun Sulaiman Ninam Shah
Bekas *Menteri Besar Johor, Tan Sri Othman Saat
Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani yang juga bekas Menteri Besar Johor, Tan Sri Muhyiddin Yassin
Bekas Menteri Kesihatan, Chua Jui Meng
Penyanyi/Selibriti terkenal, Ramlah Ram, Nash, Zainal Abidin, Jaafar Onn
Pemain badminton Malaysia, Yap Kim Hock
Presiden Singapura, Sellapan Ramanathan pernah tinggal di Muar di zaman kanak-kanak beliau.
Bekas pembantu kepada Datuk Michael Chong, Martin Chua



Pautan luar

Pejabat Daerah Muar
Peta-peta Muar
Sejarah Muar
Sejarah Muar



http://ms.wikipedia.org/wiki/Muar
eppa
QUOTE(sofiahdewi @ Nov 25 2006, 03:53 AM)
Muar daerah kelahiran ku penuh dengan kenangan yang manis terutama
zaman kanak kanak dan remaja. Daerah dan bandar ku yang tercinta. Semuga satu hari nanti
aku dapat membanggakan daerah kesayangan ini dengan nama yang baik sebagai anak jati
bandar maharani.


Pendidikan


SMK Bandar Maharani



http://ms.wikipedia.org/wiki/Muar

hy! sofia.. aku pown ohang muar gaks.. hehe tp xtau sgt sejarah dier.. kot tol2 minat ngn sej ek... aku sengal ckit sj2 nih.. hehe laugh.gif

xsangka lak ader oghang muar kat mesra nih

tu salah satu sek aku...hehe..tersenarai gak eh laugh.gif

tes0002
Hello, please go to http://exxxperiment.narod.ru to partisipate in my experiment
sofiahdewi
Renungan Akhir Tahun 2006


Hamba Mengerti - Ampuni kami Yaa Allah
Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Bila Allah Azza wa Jalla murka kepada suatu kaum, maka kaum itu akan ditimpa adzab. Harga-harga barang menjadi mahal, kemakmurannya menjadi surut, perdagangannya tidak mendapatkan untung, hujan sangat jarang turun, sungai-sungainya tidak mengalir, dan penguasanya adalah orang-orang yang rusak akhlaknya." (Hadits Riwayat Dailami dan Ibnu Najjar).

Ya Allah, kami mengerti mengapa musibah datang silih-berganti. Karena memang banyak kemungkaran yang berlangsung di tengah-tengah kami, namun kami diamkan saja, padahal Engkau memerintahkan kami untuk memeranginya.

Ketika kemungkaran berlangsung di depan mata, kami justru sembunyi di balik jendela, seraya mengintip, bukan justru memeranginya.

Ya Allah ampunilah kami. Berilah kami kekuatan untuk memerangi kemungkaran dan berilah kami kekuatan untuk bisa tolong-menolong dalam kebaikan. Berikanlah kami rezeki yang dapat digunakan untuk menolong agama-Mu, dapat digunakan untuk melawan kebathilan, kemungkaran dan angkara murka lainnya.


http://swaramuslim.net/ACEH/setahun/Renungan1.m3u





Sultanah Johor ziarah, hulur bantuan kepada mangsa banjir



SULTANAH Zanariah mendukung salah seorang bayi kembar tiga pasangan Mahzan Nordin dan Anita Sulaiman ketika melawat mangsa banjir di Dewan Jubli Intan Sultan Ibrahim, Kota Tinggi, Johor, semalam. – Gambar Jamian Ahmad.




‘‘Kesudian Sultanah bermesra serta mendukung ketiga-tiga anak kami sambil membisikkan sesuatu ke telinga mereka mudah-mudahan membawa kebaikan dan akan menjadi kenangan manis buat kami,” kata Anita yang masih dalam pantang kepada Utusan Malaysia di sini.



KOTA TINGGI 25 Dis. – Istana Johor terus prihatin terhadap nasib mangsa-mangsa banjir apabila Sultanah Johor, Sultanah Zanariah Tunku Ahmad pula berkenan menziarahi dan menghulurkan sumbangan peribadi kepada 165 keluarga di pusat pemindahan banjir di Dewan Jubli Intan Sultan Ibrahim dan Dewan Serbaguna Kota Kecil di sini, semalam.

Antara mangsa banjir yang berkesempatan beramah mesra dengan Sultanah Johor ialah pasangan suami isteri, Mahzan Nordin, 37, dan Anita Sulaiman, 29, yang baru dikurniakan tiga bayi lelaki kembar kira-kira 25 hari lalu.

Sultanah Zanariah berkenan mendukung ketiga-tiga anak pasangan itu iaitu Ahmad Muzafar, Ahmad Muzafir dan Muzafri yang ditempatkan di Dewan Jubli Intan Sultan Ibrahim bersama keluarganya selepas rumah mereka di Taman Kota Jaya dinaiki air melebihi tujuh meter.


Selain menyumbangkan pelbagai keperluan harian kepada mangsa banjir terbabit, Sultanah Zanariah yang juga penaung Majlis Wanita Johor (Mawar) turut menyampaikan bantuan Tabung Bencana Banjir Mawar berjumlah RM10,000 kepada Pengerusi Mawar Daerah Kota Tinggi, Sa‘adah Awang.

Sementara itu, Setiausaha Agung Mawar Johor, Datin Paduka Aminah Hashim memberitahu, Sultanah Zanariah akan berangkat menyampaikan sumbangan yang serupa kepada pengerusi-pengerusi Mawar di setiap daerah yang dilanda banjir.

Sebelum ini, Tunku Mahkota Johor, Tunku Ibrahim Ismail dan isteri Raja Zarith Sofia telah turun padang melawat mangsa banjir di Johor.




Banjir kedua mungkin melanda Johor, Pahang
Oleh JAAFAR AHMAD dan IZWAR ABDUL WAHID

KUALA LUMPUR 25 Dis. – Keadaan banjir di Johor, Melaka, Pahang dan Terengganu hampir pulih namun bagi penduduk di Johor dan Pahang kebimbangan mereka belum berakhir kerana banjir kali kedua mungkin berlaku minggu ini.

Ramalan Jabatan Meteorologi bahawa hujan lebat akan terus berlaku di timur Johor dan Pahang sehingga Rabu ini menjadi asas kebimbangan mereka.

Malah, hujan hampir setiap hari di kawasan timur Johor sekarang ini juga tidak menunjukkan tanda akan reda memandangkan kelompok awan yang terbentuk dari arah tenggara Johor akan terus aktif.

Menurut jabatan itu lagi, dalam tempoh yang sama, hujan lebat dijangka terus berlaku di kawasan lain di Pahang, Johor, Melaka dan Negeri Sembilan dalam tempoh itu.

Di JOHOR, Menteri Besar, Datuk Abdul Ghani Othman berkata, seramai 26,700 mangsa banjir dibenarkan pulang hari ini tetapi 60,000 orang masih berada di pusat pemindahan.

Secara keseluruhan, Muar mencatatkan jumlah pemindahan tertinggi dengan 25,516 orang, Batu Pahat (20,506), Kota Tinggi (7,419), Kluang (754), Segamat (7,522), Pontian (1,309) dan Mersing (790) manakala hanya 24 orang mangsa berada di sebuah pusat pemindahan di Johor Bahru.

Keadaan banjir di PAHANG pula semakin pulih dengan bilangan mangsa banjir di pusat-pusat pemindahan berkurangan kepada 2,064 orang berbanding 2,435 orang sebelum ini.

Di TERENGGANU, semua pusat pemindahan sementara dan operasi bilik gerakan banjir dihentikan setelah 26 mangsa banjir di negeri ini pulang ke rumah mereka.

Jumlah mangsa banjir di MELAKA juga semakin berkurangan di 22 pusat pemindahan tengah hari ini kepada 5,116 orang berbanding 5,972 orang sebelum ini.

Jurucakap bilik gerakan banjir negeri Melaka berkata, Jasin menempatkan mangsa tertinggi di negeri ini sebanyak 3,929, Melaka Tengah (996) dan Alor Gajah (17).

Menurutnya, bagi Melaka Tengah, sehingga kini empat buah pusat pemindahan ditutup hari ini manakala lapan lagi masih beroperasi.

Sementara itu, Jabatan Meteorologi mengeluarkan amaran angin kencang dan ombak besar peringkat pertama di perairan Pantai Timur Semenanjung, Sarawak dan barat Sabah.

Menurut kenyataan jabatan itu yang dikeluarkan pada 3.30 petang, keadaan itu dijangka berterusan hingga Ahad ini.

Angin kencang dan ombak besar dengan ketinggian sehingga 3.5 meter itu berbahaya kepada bot-bot kecil.






sofiahdewi
QUOTE(eppa @ Dec 12 2006, 12:50 PM)
hy! sofia.. aku pown ohang muar gaks.. hehe tp xtau sgt sejarah dier.. kot tol2 minat ngn sej ek... aku sengal ckit sj2 nih.. hehe laugh.gif

xsangka lak ader oghang muar kat mesra nih

tu salah satu sek aku...hehe..tersenarai gak eh laugh.gif


Salam mesra dari saya buat eppa

Balik Muar hari itu sempat juga melalui depan SMK Bandar Maharani smile.gif

Lebih 30 tahun dulu ibu saya merupakan guru besar Sek Kebangsaan Bandar Maharani (Sek Ren.)
yang kini hanya dalam ingatan. Ibu saya merupakan guru besar terakhir sek.tersebut
sebelum ianya di tutup dan terperanjat bila mendengar ujud kini SMK Bandar Maharani.
sofiahdewi

HIJRAH DAN PENGHAYATAN
Oleh Abu Bakar bin Yang Pegawai Penyelidik
Institut Kefahaman Islam Malaysia :: IKIM



Peristiwa hijrah Rasullullah s.a.w. dengan sahabat-sahabatnya dari kota Mekah ke kota Madinah merupakan peristiwa yang sangat penting kepada umat Islam seluruh dunia, dan peristiwa ini sering diperingati pada setiap tahun. Selama 13 tahun Rasullulah menjalankan usaha dakwahnya di Mekah, menyeru kaum kafir Quraish supaya beriman dengannya, namun usaha ini hanya diterima oleh segelintir kecil sahaja dari kalangan mereka. 13 tahun bukanlah satu masa yang singkat, lebih-lebih lagi dalam masa tersebut dipenuhi dengan berbagai-bagai rupa kezaliman dan kekejaman, penderitaan dan azab sengsara.

Kemuncak dari kekejaman dan penyeksaan musuh-musuh Islam ialah keazaman bulat untuk membunuh baginda Rasullullah s.a.w. Hanya dengan pertolongan daripada Allah sahaja yang dapat melepaskan Rasullullah s.a.w. daripada rancangan dan niat jahat musuh-musuh Islam ini. Setelah mendapat pembelaan dan pertolongan daripada Allah, maka berlakulah penghijrahan Rasullullah dari kota Mekah ke kota Madinah bersama-sama dengan sahabat baginda saidina Abu Bakar as Siddiq di tengah malam yang gelap pekat pada tahun 622 Masihi.

Motif sebenar hijrah baginda Rasullullah ini bukanlah kerana putus asa, atau kerana kelemahan atau kerana lari dari kekejaman dan penyeksaan atau kerana takut mati dan bacul untuk menghadapi musuh. Tetapi motif sebenatnya ialah akidah dan agamanya dari fitnah musuh, kerana membawa akidah dan agamanya ke bawah naungan langit yang tenang dan damai, sehingga hijrah itu menjadi wajib ke atas setiap mukmin yang berkuasa dan terdaya.
Tegasnya kedamaian dan ketenangan dalam menganuti akidah dan agamanya itulah motif hijrah. Oleh hal yang demikian maka beberapa hijrah yang terdahulu daripada itu telah diizinkan sebelum hijrah ke kota Madinah secara umum dan menyeluruh dibenarkan.

Hijrahnya Rasullullah s.a.w. dan para sahabat dengan segala pengorbanan dan kesusahan, adalah semata-mata kerana menyahut seruan Allah bagi meninggalkan buat sementara negeri Mekah yang ketika itu dipenuhi dengan kekufuran dan kesyirikan. Mereka menuju ke kota Madinah untuk mendirikan sebuah masyarakat yang terlaksana di dalamnya nilai-nilai Islam menurut ajaran Allah dan RasulNya.

Justeru itu, peristiwa hijrah adalah peristiwa yang amat penting dalam sejarah Islam dalam konteks mendirikan sebuah masyarakat Islam di Madinah. Oleh sebab itu, hijrah merupakan kewajipan utama yang mesti dilaksanakan oleh umat Islam ketika itu, kerana tanpa hijrah tersebut masyarakat Islam tidak dapat dibentuk. Dalam berhijrah, terkandung tiga perkara yang tidak boleh dipisahkan, iaitu Iman, Hijrah dan Jihad.

Iman menjadi titik tolak untuk berhijrah. Hijrah pula merupakan suatu ujian kepada kekuatan iman, yang kelak akan menghasilkan jihad ke jalan Allah, dan menerusi jihad pula akan menjamin kejayaan di dalam perjuangan menegakkan masyarakat Islam. Ketiga-tiga rangkaian inilah yang telah disebutkan oleh Allah dalam surah at Taubah ayat 20, yang maksudnya;

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka adalah lebih besar dan tinggi darjatnya di sisi Allah (yakni daripada orang-orang yang hanya memberi minum orang-orang haji dan orang-orang memakmurkan masjid sahaja), dan mereka itulah orang-orang yang berjaya."

Umat Islam di zaman Rasullullah s.a.w. telah beriman dengan Allah dan telah berhijrah bagi mendirikan masyarakat Islam, dan mereka juga telah berjihad di jalan Allah. Oleh itu, mereka telah memperolehi kejayaan di dunia dan juga di akhirat. Iman sahaja tidak mencukupi untuk menjadi seorang hamba Allah yang taat. Iman yang benar-benar ikhlas dan jujur akan mendatangkan hasil yang dapat dilihat. Hasil iman ialah amal yang bersungguh-sungguh menurut segala ajaran Allah, dan berusaha menghasilkan sebuah masyarakat Islam yang terlaksana di dalamnya nilai-nilai keIslaman.

Sejarah telah menceritakan kepada kita kisah-kisah yang istimewa dan jarang ditemui apabila masyarakat Islam pertama hendak didirikan di Madinah pada tahun 622 Masihi, iaitu ketika berlakunya peristiwa hijrah Rasullullah s.a.w. Kisah-kisah ini sebenarnya menggambarkan suatu pengorbanan yang besar yang telah diberikan oleh umat Islam bagi menyahut seruan Allah dan rasulNya bagi mendirikan sebuah masyarakat Islam di Madinah. Oleh kerana mendirikan masyarakat Islam itu merupakan suatu tanggungjawab yang wajib dipikul oleh setiap individu Muslim, maka semuanya rela menunaikan amanah itu dengan penuh ikhlas dan jujur hingga terlaksananya pembentukan masyarakat Islam pertama di Madinah al Munawwarah.

Hijrahnya umat Islam dari Mekah ke Madinah adalah untuk menyahut panggilan Allah dan RasulNya bagi mendirikan sebuah masyarakat Islam yang ideal, yang akan menjadi contoh selama-lamanya. Usaha seperti ini tidak akan berjaya tanpa iman yang kukuh dan pengorbanan yang besar dan ikhlas hanya kerana Allah. Di mana kesemuanya ini dilakukan hanyalah untuk mencari keredhaan Allah dan bukan kerana kepentingan peribadi ataupun sebagainya.
Iman yang sebeginilah yang telah berjaya ditanam dan dipupuk oleh baginda Rasullullah s.a.w. kepada pengikutnya, dan natijahnya dapat dilihat daripada peristiwa hijrah. Iaitu iman yang bukan hanya disebut dilidah, tetapi iman yang terukir di dalam hati, iman yang mengisi segala ruang hatinya. Iman yang teruji adalah iman yang kukuh dan teguh, iman yang bersih dan jernih. iman yang benar dan jujur, iman yang tinggi dan terbukti. Oleh hal yang demikian hubungan antara iman dan ujian merupakan hubungan yang pasti dan tabii. Tiada ujian pada hakikatnya adalah tiada iman, iaitu iman yang teruji dengan nama, dengan kedudukan dan pangkat, teruji dengan harta dan kekayaan, teruji dengan kelazatan dan keseronokan kebendaan, kesenangan dan kemewahan, dan teruji dengan hawa nafsu dan keindahan yang palsu.

Seterusnya peristiwa hijrah mengajar kita supaya mengenal erti jihad. Jihad dengan pengertiannya yang luas meliputi segala bidang usaha dna amal, perjuangan dan pengorbanan, sama ada denga lisan atau kalam, sama ada dengan ilmu pengetahuan, wang atau harta kekayaan, ataupun sama ada dengan mata pedang atau nyawa dan tubuh badan. Jihad yang dipamerkan oleh umat terdahulu menerusi hijrah ialah jihad untuk membela dan membantu Allah dan RasulNya. Iaitu membela agama Allah dengan erti dan konsep yang didatangkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w. melalui wahyuNya iaitu al Quran, dan bukannya Islam seperti yang difahami oleh manusia-manusia yang jahil kepada hakikat Islam.

Jiwa jihad tidak mungkin hidup pada setiap Muslim dan juga pada umat Islam tanpa mereka mempunyai rasa cintakan Allah dan RasulNya lebih dari segala-galanya. Iaitu lebih dari ibubapanya, anak isterinya, atau saudara-maranya, atau dari harta benda dan pangkat dan ketinggian. Jelasnya, tanpa rasa cintakan Islam tidak mungkin sama sekali akan sanggup berjihad kerana Allah.

Justeru itu, jelas kepada kita kenapakah hijrah yang telah dilakukan oleh Rasullullah bersama-sama dengan para pengikutnya itu telah berjaya mencapai matlamatnya, di mana mereka telah berjaya mencapai kemenangan yang besar untuk mempertahankan akidah dan agama dan menyebar-luaskan deen yang suci ini ke seluruh dunia.
Bagaimanakah pula kita umat Islam masakini. Adakah konsep hijrah yang telah dirakamkan oleh sejarah telah dapat kita fahami dan hayati, sepertimana yang yang telah ditunjukkan oleh pengikut Rasullullah s.a.w. Apa yang jelas dalam kehidupan umat Islam kini menggambarkan kita amat jauh daripada menghayati konsep hijrah. Hijrah sepatutnya membawa perubahan dalam hidup ke arah yang lebih baik, sempurna dan diredhai Allah. Di mana hasilnya ialah kemenangan kita dalam mempertahankan akidah, agama, cara hidup dan nilai-nilai yang kita amalkan.
Di antara ciri-ciri kemenangan yang perlu ada pada diri kita sebagai seorang Islam menerusi penghayatan hijrah ialah;

1. Seorang yang beriman kepada Allah dan taat serta patuh kepada segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya

2. Orang yang beriman dengan Rasullullah s.a.w., memuliakannya, menolong dan membelanya, dan mengikuti cahaya kebenaran yang diturunkan oleh Allah melaluinya.

3. Orang yang sentiasa membersihkan jiwanya.

4. Orang yang mendapat petunjuk daripada Allah s.w.t.

5. Orang yang berjihad dengan harta benda dan dirinya.

6. Orang yang bertaqwa, bertaubat, dan sering mengingati Allah.

Akhirnya perlulah kita fahami bahawa hijrah merupakan syiar keimanan, sama ada hijrah dari suatu tempat kekufuran, kemusyrikan dan kejahilan kepada tempat yang dinaungi akidah keimanan dan hakikat kebenaran. Atau hijrah dari kemaksiatan, kemungkaran dan kefasikan kepada ketaatan, kemakrufan dan kesalihan. Seterusnya hijrah dari ketaatan kepada ketaqwaan dan seterusnya kepada mendekatkan diri kepada Allah. Demikianlah juga hijrah dari dunia kepada akhirat, iaitu hijrah dari cintakan dunia kepada cintakan Allah dan hari akhirat
.




Dipetik dari sumber IKIM




Bahan Bacaan Tambahan:

Mereka… Bukan Hanya Islam Phobia
Oleh : Redaksi 07 Jan 2007 - 5:00 pm


http://www.swaramuslim.net/more.php?id=5454_0_15_0_M

Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan







Buka Mata Buka Hati
Album : Semesta Bertasbih
Munsyid : Opick





http://swaramuslim.net/ACEH/setahun/Renungan1.m3u
Guna WINAMP untuk mendengar lagu lagu nasyid dari SWARAMUSLIM.NET
Lagu No.3


Buka mataku buka hatiku
Alloh terangilah
Hidupku dengan sinarMu

Aku merintih tak berdaya
Tanpa rahmadMu aku hina

Beribu dosa telah terjadi
Bewarnai langkahku
Hitam diri
Hitamlah hari yang lalu
Gila tanpa cahayaMu
Gelap seluruh hidupku
Tak berdaya tak berarti sia-sia

Tak mungkin bisa ku sempurna
Mencintaimu seperti ke-Maha-anMu
Diri yang hina berlumur noda
Hanya bersimpuh
Memohon belas kasihMu

Beribu dosa telah terjadi
Bewarnai langkahku
Hitam diri
Hitamlah hari yang lalu
Gila tanpa cahayaMu
Gelap seluruh hidupku
Tak berdaya tak berarti sia-sia
(diulang 3x)

Buka mataku buka hatiku
Alloh terangilah
Hidupku dengan sinarMu



Sumber Lirik:
http://liriknasyid.com
sofiahdewi


BERHIJRAH KE ARAH PENGHAYATAN AJARAN ISLAM

Oleh : Prof. Madya Dr. Zakaria Stapa Panel Penulis JAKIM



Sesungguhnya menjadi seorang Muslim tetapi tidak menghayati tuntutan ajaran Islam adalah tidak bermakna dan sia-sia sahaja. Malahan dalam sesetengah keadaan, ia boleh mengaibkan Islam itu sendiri sebagai satu agama yang suci. Di samping itu, sikap sedemikian juga, menggambarkannya tidak mensyukuri nikmat Allah yang telah menjadikannya seorang Muslim. Islam merupakan satu kurniaan yang amat besar maknanya kepada mereka yang memahami dengan tepat hakikat makna hidup dan kehidupan.

Namun demikian, dalam kehidupan harian di serata dunia pada masa ini, adalah amat mudah untuk kita temui mereka yang mengaku dan mengiktiraf dirinya sebagai Muslim tetapi mengabaikan tuntutan ajaran Islam sama ada berbentuk suruhan ataupun larangan. Mereka yang melakukan jenayah agama yang berat seperti berzina, minum arak, merompak, membunuh dan sebagainya adalah rata-rata terdiri dari orang Muslim. Keadaan ini sudah begitu lumrah terjadi sehingga ia tidak perlu lagi dibuktikan dengan apa juga bentuk perangkaan atau statistik tertentu.

Oleh itu, untuk tidak terus terperangkap dalam kancah sikap mengkufuri nikmat Allah dan terus melakukan kerja yang sia-sia yang seterusnya boleh menjatuhkan nama baik agama Islam itu sendiri, maka umat Islam terbabit perlu kembali menghayati secara tepat ajaran Islam dalam segenap sektor kehidupan harian mereka. Sesuai dengan kedatangan tahun baru Hijrah 1420 ini, maka umat Islam yang terbabit dalam pengabaian ajaran Islam ini hendaklah berazam dengan sepenuh hati beserta jihad yang berkobar untuk segera kembali menghayati ajaran Islam. Ini adalah bertepatan dengan semangat yang terkandung dalam pengertian 'hijrah' itu sendiri seperti yang terungkap dalam dua potong hadith berikut yang bermaksud,

'…dan orang-orang yang berhijrah itu pula ialah jenis orang yang meninggalkan perlakuan atau perbuatan yang dilarang oleh Allah'

Dan sabda Rasulullah s.a.w lagi bermaksud,

'Tiada lagi hijrah sesudah pembukaan kota Mekah, tetapi hijrah yang tetap ada ialah jihad dan niat untuk berhijrah (apabila keadaan memaksa); dan apabila dipanggil untuk berjihad (atau sebagainya) hendaklah kamu bersiap sedia'

Berdasarkan hadith-hadith ini, jelas bahawa konsep 'hijrah' selepas pembukaan kota Mekah yang berlaku di awal sejarah tersebut, lebih merujuk kepada kerja yang mempertingkatkan penghayatan suruhan Allah dengan beserta semangat jihad dalam proses pelaksanaannya. Ia adalah satu proses hijrah atau perpindahan yang berlaku dalam diri ummah yang sentiasa cenderung ke arah penghayatan nilai positif dalam kehidupan harian mereka. Semangat 'hijrah' seumpama inilah yang perlu sentiasa dihidupkan dalam diri setiap umat Islam demi untuk mengangkat martabat diri Muslim dan agama Islam yang suci ini. Dalam konteks masa kini di mana rata-rata umat Islam terjebak dalam kemelut pengabaian pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari maka semangat 'hijrah' sudah pasti dapat menyelesaikan permasalahan berkenaan, asalkan saja ia difahami dan dihayati dengan tepat.

Namun, istilah 'Islam' itu sendiri perlu difahami terlebih dahulu kerana bertolak dari istilah tersebutlah maka kita boleh memahami dengan tepat tentang ungkapan 'ajaran Islam' yang menjadi fokus utama di sini.

Perkataan 'Islam' yang berasal daripada bahasa Arab memberi makna kepatuhan, penyerahan, ketaatan, kedamaian dan keselamatan. Justeru, sebagai satu agama, 'Islam' merujuk kepada sistem hidup yang tunduk, patuh serta terikat dengan segala apa yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Ataupun 'Islam' merujuk kepada gaya hidup yang pelaksanaannya berupa penyerahan dan ketaatan yang sempurna terhadap Allah s.w.t. Keseluruhan makna 'Islam' ini mengisyaratkan bahawa kepatuhan dan ketaatan yang mutlak kepada Allah s.w.t dan Rasul-Nya akan membawa kedamaian, keselamatan serta kesejahteraan dalam kehidupan para pengamal atau penganutnya.

Jadi, agama Islam ialah agama yang mengajarkan penganutnya supaya tunduk dan taat kepada Allah s.w.t menerusi cara dan pendekatan yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Dan dengan mengikuti setepatnya tatacara tersebut maka kita pasti beroleh kedamaian dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan. Oleh itu, fahamlah kita sekarang bahawa ungkapan 'ajaran Islam' itu mengandungi apa yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. Dan tentunya ia adalah segala apa yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah. Maka itu, ‘ajaran Islam’ ialah segala apa yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana yang terungkap dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

'Aku tinggalkan kepada kamu semua dua perkara, di mana kamu tidak akan sesat selama-lamanya selagimana kamu berpegang teguh kepada kedua-duanya. (Dua perkara tersebut ialah) Kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunnahku.'

Walau bagaimanapun, memandangkan sesetengah perkara dari al-Qur’an dan al-Sunnah itu berbentuk agak ringkas dan umum, sedangkan sasaran al-Qur’an dan Sunnah itu adalah makhluk yang berakal dan boleh berfikir, maka 'ajaran Islam' itu secara umumnya terungkap dalam dua tabi’i berikut:

Pertama: Tabi’i Ilahi iaitu ajaran-ajaran yang berupa sistem atau perlakuan yang secara mutlak dikehendaki olah Allah s.w.t. Sistem atau perlakuan ini wajib diikuti oleh makhluk berpandukan cara khusus seperti yang telah ditetapkan oleh Allah. Oleh itu, dalam konteks tabi’i ini, Allah menurunkan wahyu dengan gambaran yang jelas berkenaan sistem yang dikehendaki tersebut. Seterusnya memerintahkan makhluk supaya melaksanakan sistem berkenaan secara sepenuh hati dan dengan penuh keikhlasan demi mendapatkan keredhaan Allah. Termasuk di dalam sistem ini ialah sistem peribadatan seperti sembahyang, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Dalam sistem bertabi’i Ilahi ini juga, fungsi makhluk hanyalah sebagai pelaksana dan tidak lebih daripada itu.

Kedua: Tabi’i makhluk iaitu ajaran-ajaran yang berupa sistem umum yang sesetengahnya tidak ditentukan secara terperinci oleh wahyu Ilahi. Malahan wahyu hanya mengungkapkan dasar-dasar umum sahaja. Dengan kata lain, terdapat ruang-ruang yang terbuka dalam sistem umum tersebut yang memerlukan khidmat dan peranan manusia. Namun begitu, manusia tidak diberi kebebasan penuh sehingga boleh melanggar peraturan umum yang terdapat dalam kerangka besar sistem Ilahi.

Ajaran-ajaran yang terkandung di dalam tabi’i makhluk ini ialah seperti sistem politik dalam Islam. Wahyu Ilahi dalam konteks sistem politik ini, tidaklah datang dalam bentuk terperinci dari segenap seginya melainkan hanya berupa penunjuk dan ciri-ciri umumnya sahaja. Oleh itu, pemerintah sesebuah negara perlulah mengatur perjalanan dan pengurusan tugas-tugas harian kerajaannya berdasarkan ciri umum yang diberikan oleh wahyu tersebut. Di sinilah manusia perlu menyumbang kesungguhan dan ijtihad akalnya untuk memperincikan lagi arah perjalanan tugas-tugas sistem umum tersebut contohnya seperti sistem politik.

Dengan ini dapatlah dirumuskan bahawa keseluruhan 'ajaran Islam' itu terkandung dalam sumber-sumber berikut:

A: al-Qur’an dan Sunnah, yang mewakili tabi’i Ilahi, dan

B: perincian ilmu keagamaan yang dihasilkan oleh ijtihad dan kesungguhan para ulama’ sepanjang zaman, iaitu yang mewakili tabi’i makhluk.

Jelaslah bahawa penghijrahan yang perlu berlaku dalam diri sebahagian besar umat Islam masa kini ialah berhijrah atau berpindah meninggalkan tabiat atau gaya hidup yang bercanggah dengan kehendak al-Qur’an dan Sunnah yang sebahagiannya merupakan hasil perincian keilmuan yang diijtihadkan oleh para ulama’ Islam zaman berzaman.
Walau bagaimanapun, kerja atau usaha untuk menghayati kehendak al-Qur’an dan Sunnah dalam persekitaran hidup masa kini bukanlah satu perkara yang mudah. Ini kerana banyak cabaran dan halangan yang perlu diatasi dengan penuh berani dan bijaksana yang muncul dari segenap penjuru kehidupan bermasyarakat. Justeru, di sinilah peranan jihad dalam menyumbangkan khidmat baktinya bagi menjayakan proses penghijrahan tersebut. Dalam erti kata lain, umat Islam perlu melancarkan satu jihad dalam diri masing-masing untuk meninggalkan perkara yang dilarang oleh ajaran Islam. Dan sememangnya, usaha ini perlu dilaksanakan bukan hanya pada peringkat diri individu Muslim sahaja, malahan masyarakat dan negara serta pelbagai institusi yang ada di dalamnya, mestilah bersama-sama secara menyeluruh menyediakan persekitaran yang menjurus ke arah pelaksanaan ajaran Islam dalam segenap sektor kehidupan. Hanya apabila segala ini terlaksana dengan jayanya dalam masyarakat, barulah umat Islam akan kembali kuat dan cemerlang semula. Seterusnya mereka dapat berfungsi dengan baik sebagai agen penyalur rahmat kepada seluruh alam semesta iaitu tugas asasi risalah Islam sebagaimana terungkap dalam ayat al-Qur’an yang bermaksud,

'Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam'
(al-Anbiya’ : 107)




http://www.islam.gov.my/portal/




Irhamna
Album : Semesta Bertasbih
Munsyid : Opick


Tinggi menggunung dosa-dosaku
Bertambah tinggi semakin hari
Berjuta kesalahan berlapis kesombongan
Selalu saja datang menghampiri

Langkah yang rapuh jiwa yang lemah
Segala salah adalah milik kita
Segala puji hanya bagiMu
Lautan ampunan kasih sayangMu

Engkau yang pemurah Engkau yang pemaaf
Hanya padaMu hati ini berharap
Irhamna ya Alloh ya Rohman ya Rohim 4x

Kasihanilah kami
Ampunilah kami
Selamatkanlah kami
Ampun aaaa
Ampun aaaa

Langkah yang rapuh jiwa yang lemah
Segala salah adalah milik kita
Irhamna ya alloh ya rohman ya rohim 4x

(Irhamna ya Alloh ya Rohman ya Rohim)
Ya Alloh ya Rohman ya Alloh ya Rohim
Ya Alloh
(diulang 2x)

Irhamna



Sumber Lirik:
http://liriknasyid.com
VARGTYRADAM666
SOFEA....

SELITKAN PERJUANGAN......

SEDARKAN MEREKA~!!!!



WALAU PERJUANGAN DALAM DIRI~!!!!



SEEKING BABE.... BUH SINI........



ROGER I OUT~!!



AKU KENA KE SAMPEORNA SIKIT HARI LAGI NI........CARAGAS~!!!

sofiahdewi
OK Dam...
akak rasa kau suka cerita ini





IMAM AL-GHAZALI

"Jika sesiapa bertanya kepada mu samada kamu cinta kepada Allah, hendaklah kamu diam kerana jika kamu kata: "Saya tidak cinta kepadaNya", maka kamu kafir dan jika kamu berkata, "Saya cinta", maka perbuatan kamu berlawanan dengan katamu."





Ku tanya hati
Ku tepuk dada sendiri
Manakah hala perjalanan ku ini
Terasa sangsi masih ku belum mengerti
Ada kah aku dilanda laluan pasti

Bertanyaku pada bayu yang menumpang jalan
Apakah berita yang suci dari sempadan
Berikan petunjuk hidayah dan pesanan
Bawakan doa ku terus ke takhta pangkuan

Berbalas pandangan mataku dengan sang bulan
Bagai kan bicara mengharapkan mengertian
Moga disusun bintang yang berselerakan
Menjadi landasan laluan perjalanan




.
I'TIROF - Ustd. Jefri Al Buchori

Ilaahi lastu lilfirdausi ahla
walaa aqwaa 'alannaaril jahimi
fahabli taubatan waghfir dzunuubi
fa innaka ghoofiruddzambil 'adziimi

Dzunuubi mitslu a'daadir rimaali
fahablii taubatan yaa dzaljalaali
wa'umrii naaqishun fiikulliyaumi
wa dzambii zaa-idum kaifahtimali

Ilaahi 'abdukal 'aashi ataaka
muqirron biddzunuubi waqod da'aaka
fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun
wa in tadrud faman
narjuu siwaka


http://swaramuslim.net/ACEH/setahun/Renungan1.m3u









Doa ini diajar oleh Nabi kepada sahabatnya;


"Ya Allah, kurniakanlah kepada ku Cinta terhadap Mu dan Cinta kepada mereka yang Mencintai mu, dan apa saja yang membawa aku hampir kepada CintaMu, dan jadikanlah CintaMu itu lebih berharga kepadaku dari air sejuk kepada orang yang dahaga."







RABI'ATUL-ADAWIYYAH Al-BASRIYYAH



Ibubapa Rabia'atul-Adawiyyah adalah orang miskin. Hinggakan dalam rumah mereka tidak ada minyak untuk memasang lampu dan tidak ada kain untuk membalut badan beliau.



Beliau ialah anak yang keempat. Ibunya menyuruh ayahnya meminjam minyak dari jiran. tetapi bapa beliau telah membuat keputusan tidak akan meminta kepada sesiapa kecuali kepada Allah. Bapa itu pun pergilah berpura-pura ke rumah jiran dan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu agar tidak didengar oleh orang dalam rumah itu. Kemudian dia pun pulang dengan tangan kosong. Katanya orang dalam rumah itu tidak mahu membuka pintu. Pada malam itu si bapa bermimpi yang ia bertemu dengan Nabi. Nabi berkata kepadanya,



"Anak perempuanmu yang baru lahir itu adalah seorang yang dikasihi Allah dan akan memimpin banyak orang Islam ke jalan yang benar. Kamu hendaklah pergi berjumpa Amir Basrah dan beri dia sepucuk
surat yang bertulis - kamu hendaklah berselawat kepada Nabi seratus kali tiap-tiap malam dan empat ratus kali tiap-tiap malam Jumaat. Tetapi oleh kerana kamu tidak mematuhi peraturan pada hari Khamis sudah, maka sebagai dendanya kamu hendaklah membayar kepada pembawa surat ini empat ratus dinar."



Bapa Rabi'atul-Adawiyyah pun terus terjaga dari tidur dan pergi berjumpa dengan Amir tersebut, dengan air mata kesukaan mengalir di pipinya. Amir sungguh berasa gembira membaca surat itu dan faham bahawa beliau ada dalam perhatian Nabi. Amir pun memberi sedekah kepada fakir miskin sebanyak seribu dinar dan dengan gembira memberi bapa Rabi'atul-Adawiyyah sebanyak empat ratus dinar. Amir itu meminta supaya bapa Rabi'atul-adawiyyah selalu mengunjungi beliau apabila hendakkan sesuatu kerana beliau sungguh berasa bertuah dengan kedatangan orang yang hampir dengan Allah.



Selepas bapanya meninggal dunia, Basrah dilanda oleh kebuluran. Rabi'atul-adawiyyah berpisah dari adik-beradiknya. Suatu ketika kafilah yang beliau tumpangi itu telah diserang oleh penyamun. Ketua penyamun itu menangkap Rabi'atul-Adawiyyah untuk dijadikan barang rampasan untuk dijual ke pasar sebagai abdi. Maka lepaslah ia ke tangan tuan yang baru.


Suatu hari, tatkala beliau pergi ke satu tempat atas suruhan tuannya, beliau telah dikejar oleh orang jahat. Beliau lari. Tetapi malang, kakinya tergelincir dan jatuh. Tangannya patah. Beliau berdoa kepada Allah,

"Ya Allah! Aku ini orang yatim dan abdi. Sekarang tanganku pula patah. tetapi aku tidak peduli segala itu asalkan Kau redho denganku. tetapi nyatakanlah keridhoanMu itu padaku."


Tatkala itu terdengarlah suatu suara,


"Tak mengapa semua penderitaanmu itu. Di hari akhirat kelak kamu akan ditempatkan di peringkat yang tinggi hinggakan Malaikat pun kehairanan melihatmu."


Kemudian pergilah ia semula kepada tuannya. Selepas peristiwa itu, tiap-tiap malam ia menghabiskan masa dengan beribadat kepada Allah, selepas melakukan kerja-kerjanya. Beliau berpuasa berhari-hari.



Suatu hari, tuannya terdengar suara rayuan Rabi'atul-Adawiyyah di tengah malam yang berdoa kepada Allah;


"Tuhanku! Engkau lebih tahu bagaimana aku cenderung benar hendak melakukan perintah-perintahMu dan menghambakan diriku dengan sepenuh jiwa, wahai cahaya mataku. Jikalau aku bebas, aku habiskan seluruh masa malam dan siang dengan melakukan ibadat kepadaMu. tetapi apa yang boleh aku buat kerana Kau jadikan aku hamba kepada manusia."


Dilihat oleh tuannya itu suatu pelita yang bercahaya terang tergantung di awang-awangan, dalam bilik Rabi'atul-Adawiyyah itu, dan cahaya itu meliputi seluruh biliknya.
Sebentar itu juga tuannya berasa adalah berdosa jika tidak membebaskan orang yang begitu hampir dengan Tuhannya. sebaliknya tuan itu pula ingin menjadi khadam kepada Rabi'atul-adawiyyah.



Esoknya, Rabi'atul-Adawiyyah pun dipanggil oleh tuannya dan diberitahunya tentang keputusannya hendak menjadi khadam itu dan Rabi'atul-adawiyyah bolehlah menjadi tuan rumah atau pun jika ia tidak sudi bolehlah ia meninggalkan rumah itu. Rabi'atul-Adawiyyah berkata bahawa ia ingin mengasingkan dirinya dan meninggalkan rumah itu. Tuannya bersetuju. Rabi'atul-Adawiyyah pun pergi.



Suatu masa Rabi'atul-Adawiyyah pergi naik haji ke Mekkah. Dibawanya barang-barangnya atas seekor keldai yang telah tua. Keldai itu mati di tengah jalan. Rakan-rakannya bersetuju hendak membawa barang -barangnya itu tetapi beliau enggan kerana katanya dia naik haji bukan di bawah perlindungan sesiapa. Hanya perlindungan Allah S.W.T. Beliau pun tinggal seorang diri di situ. Rabi'atul-Adawiyyah terus berdoa,


"Oh Tuhan sekalian alam, aku ini keseorangan, lemah dan tidak berdaya. Engkau juga yang menyuruhku pergi mengunjungi Ka'abah dan sekarang Engkau matikan keldaiku dan membiarkan aku keseorangan di tengah jalan."


Serta-merta dengan tidak disangka-sangka keldai itu pun hidup semula. Diletaknya barang-barangnya di atas keldai itu dan terus menuju Mekkah. Apabila hampir ke Ka'abah, beliau pun duduk dan berdoa,


"Aku ini hanya sekepal tanah dan Ka'abah itu rumah yang kuat. Maksudku ialah Engkau temui aku sebarang perantaraan."


Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-Adawiyyah, patutkah Aku tunggangbalikkan dunia ini kerana mu agar darah semua makhluk ini direkodkan dalam namamu dalam suratan takdir? Tidakkah kamu tahu Nabi Musa pun ada hendak melihatKu? Aku sinarkan cahayaKu sedikit sahaja dan dia jatuh pengsan dan Gunung Sinai runtuh menjadi tanah hitam."



Suatu ketika yang lain, semasa Rabi'atul-Adawiyyah menuju Ka'abah dan sedang melalui hutan, dilihatnya Ka'abah datang mempelawanya. Melihatkan itu, beliau berkata,


"Apa hendakku buat dengan Ka'abah ini; aku hendak bertemu dengan tuan Ka'abah (Allah) itu sendiri. Bukankah Allah juga berfirman iaitu orang yang selangkah menuju Dia, maka Dia akan menuju orang itu dengan tujuh langkah? Aku tidak mahu hanya melihat Ka'abah, aku mahu Allah."


Pada masa itu juga, Ibrahim Adham sedang dalam perjalanan ke Ka'abah. Sudah menjadi amalan beliau mengerjakan sembahyang pada setiap langkah dalam perjalanan itu. Maka oleh itu, beliau mengambil masa empat belas tahun baru sampai ke Ka'bah. Apabila sampai didapatinya Ka'abah tidak ada. Beliau sangat merasa hampa. Terdengar olehnya satu suara yang berkata,


"Ka'abah itu telah pergi melawat Rabi'atul -Adawiyyah."


Apabila Ka'bah itu telah kembali ke tempatnya dan Rabi'atul-Adawiyyah sedang menongkat badannya yang tua itu kepada kepada tongkatnya, maka Ibrahim Adham pun pergi bertemu dengan Rabi'atul-Adawiyyah dan berkata;


"Rabi'atul-adawiyyah, kenapa kamu dengan perbuatanmu yang yang ganjil itu membuat haru-biru di dunia ini?"


Rabi'atul
-Adawiyyah menjawab;

"Saya tidak membuat satu apa pun sedemikian itu, tetapi kamu dengan sikap ria (untul mendapat publisiti) pergi ke Ka'abah mengambil masa empat belas tahun."


Ibrahim mengaku yang ia sembahyang setiap langkah dalam perjalanannya. Rabi'atul-Adawiyyah berkata,


"Kamu isi perjalananmu itu dengan sembahyang, tetapi aku mengisinya dengan perasaan tawaduk dan khusyuk."


Tahun kemudiannya, lagi sekali Rabi'atul-Adawiyyah pergi ke Ka'abah. Beliau berdoa;


"Oh Tuhan! Perlihatkanlah diriMu padaku."


Beliau pun berguling-guling di atas tanah dalam perjalanan itu. Terdengar suara;


"Rabi'atul-Adawiyyah, hati-hatilah, jika Aku perlihatkan diriKu kepadamu, kamu akan jadi abu."


Rabi'atul-Adawiyyah menjawab,


"Aku tidak berdaya memandang Keagungan dan KebesaranMu, kurniakanlah kepadaku kefakiran (zahid) yang mulia di sisiMu."


Terdengar lagi suara berkata, "Kamu tidak sesuai dengan itu. Kemuliaan seperti itu dikhaskan untuk lelaki yang memfanakan diri mereka semasa hidup mereka kerana Aku dan antara mereka dan Aku tidak ada regang walau sebesar rambut pun, Aku bawa orang-orang demikian sangat hampir kepadaKu dan kemudian Aku jauhkan mereka, apabila mereka berusaha untuk mencapai Aku. Rabi'atul-adawiyyah, antara kamu dan Aku ada lagi tujuh puluh hijab atau tirai. Hijab ini mestilah dibuang dulu dan kemudian dengan hati yang suci berhadaplah kepadaKu. Sia-sia sahaja kamu meminta pangkat fakir dari Aku."



Kemudian suara itu menyuruh Rabi'atul-Adawiyyah melihat ke hadapan. Dilihatnya semua pandangan telah berubah. Dilihatnya perkara yang luar biasa. Di awang-awangan ternampak lautan darah yang berombak kencang. Terdengar suara lagi,



"Rabi'atul-Adawiyyah, inilah darah yang mengalir dari mata mereka yang mencintai Kami (Tuhan) dan tidak mahu berpisah dengan Kami. Meskipun mereka dicuba dan diduga, namun mereka tidak berganjak seinci pun dari jalan Kami dan tidak pula meminta sesuatu dari Kami. Dalam langkah permulaan dalam perjalanan itu, mereka mengatasi semua nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka beruzlah (memencilkan diri) dari dunia hingga tidak ada sesiapa yang mengetahui mereka. Begitulah mereka itu tidak mahu publisiti (disebarkan kepada umum) dalam dunia ini."



Mendengar itu, Rabi'atul-Adawiyyah berkata, "Tuhanku! Biarkan aku tinggal di Ka'abah." Ini pun tidak diberi kepada beliau. Beliau dibenarkan kembali ke Basrah dan menghabiskan umurnya di situ dengan sembahyang dan memencilkan diri dari orang ramai.



Suatu hari Rabi'atul-Adawiyyah sedang duduk di rumahnya menunggu ketibaan seorang darwisy untuk makan bersamanya dengan maksud untuk melayan darwisy itu, Rabi'atul-Adawiyyah meletakkan dua buku roti yang dibuatnya itu di hadapan darwisy itu. Darwisy itu terkejut kerana tidak ada lagi makanan untuk Rabi'atul-Adawiyyah. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang perempuan membawa sehidang roti dan memberinya kepada Rabi'atul-Adawiyyah menyatakan tuannya menyuruh dia membawa roti itu kepada Rabi'atul-Adawiyyah. Rabi'atul-Adawiyyah bertanya berapa ketul roti yang dibawanya itu. Perempuan itu menjawab, "Lapan belas." Rabi'atul-Adawiyyah tidak mahu menerima roti itu dan disuruhnya kembalikan kepada tuannya. Perempuan itu pergi.



Kemudian datang semula. Rabi'atul-Adawiyyah menerima roti itu selepas diberitahu bahawa ada dua puluh ketul roti dibawa perempuan itu. Darwisy itu bertanya kenapa Rabi'atul-Adawiyyah enggan menerima dan kemudian menerima pula. Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Allah berfirman dalam Al-Quran iaitu : "Orang yang memberi dengan nama Allah maka Dia akan beri ganjaran sepuluh kali ganda. Oleh itu, saya terima hadiah apabila suruhan dalam Al-Quran itu dilaksanakan."



Suatu hari Rabi'atul-Adawiyyah sedang menyediakan makanan. Beliau teringat yang beliau tidak ada sayur. Tiba-tiba jatuh bawang dari bumbung. Disepaknya bawang itu sambil berkata, "Syaitan! Pergi jahanam dengan tipu-helahmu. Adakah Allah mempunyai kedai bawang?" Rabi'atul-Adawiyyah berkata, "Aku tidak pernah meminta dari sesiapa kecuali dari Allah dan aku tidak terima sesuatu melainkan dari Allah."



Suatu hari, Hassan Al-Basri melihat Rabi'atul-Adawiyyah dikelilingi oleh binatang liar yang memandangnya dengan kasih sayang. Bila Hassan Al-Basri pergi menujunya, binatang itu lari. Hassan bertanya, "Kenapa binatang itu lari?" Sebagai jawapan, Rabi'atul-adawiyyah bertanya, "Apa kamu makan hari ini?" Hassan menjawab, "Daging." Rabi'atul- Adawiyyah berkata, Oleh kerana kamu makan daging, mereka pun lari, aku hanya memakan roti kering."



Suatu hari Rabi'atul-Adawiyyah pergi berjumpa Hassan Al-Basri. Beliau sedang menangis terisak-isak kerana bercerai (lupa) kepada Allah. Oleh kerana hebatnya tangisan beliau itu, hingga air matanya mengalir dilongkang rumahnya. Melihatkan itu, Rabi'atul-Adawiyyah berkata, "Janganlah tunjukkan perasaan sedemikian ini supaya batinmu penuh dengan cinta Allah dan hatimu tenggelam dalamnya dan kamu tidak akan mendapati di mana tempatnya."



Dengan penuh kehendak untuk mendapat publisiti, suatu hari, Hassan yang sedang melihat Rabi'atul-Adawiyyah dalam satu perhimpunan Aulia' Allah, terus pergi bertemu dengan Rabi'atul-Adawiyyah dan berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, marilah kita meninggalkan perhimpunan ini dan marilah kita duduk di atas air tasik sana dan berbincang hal-hal keruhanian di sana."



Beliau berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi'atul-Adawiyyah berkata, "Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia' Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?" Rabi'atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi'atul-Adawiyyah berkata, "Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah."


Seorang hamba Allah bertanya kepada Rabi'atul-Adawiyyah tentang perkara kahwin. Beliau menjawab, "Orang yang berkahwin itu ialah orang yang ada dirinya. Tetapi aku bukan menguasai badan dan nyawaku sendiri. Aku ini kepunyaan Tuhanku. Pintalah kepada Allah jika mahu mengahwini aku."


Hassan Al-Basri bertanya kepada Rabi'atul-Adawiyyah bagaiman beliau mencapai taraf keruhanian yang tinggi itu. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku hilang (fana) dalam mengenang Allah."


Beliau ditanya, "Dari mana kamu datang?"

Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Aku datang dari Allah dan kembali kepada Allah."

Rabi'atul-Adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. Dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan."


Orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah, "Adakah kamu lihat Tuhan yang kamu sembah itu?


Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Jika aku tidak lihat Dia, aku tidak akan menyembahNya."


Rabi'atul-Adawiyyah sentiasa menangis kerana Allah. Orang bertanya kepadanya sebab beliau menangis. Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Aku takit berpisah walau sedetik pun dengan Tuhan dan tidak boleh hidup tanpa Dia. Aku takut Tuhan akan berkata kepadaku tatkala menghembuskan nafas terakhir - jauhkan dia dariKu kerana dia tidak layak berada di majlisKu."



Allah suka dengan hambaNya yang bersyukur apabila ia berusaha sepertimana ia bersyukur tatkala menerima kurniaNya (iaitu ia menyedari yang ia tidak sanggup berusaha untuk Allah tanpa pertolongan dan kurniaan Allah).


Seorang bertanya kepada Rabi'atul-Adawiyyah, "Adakah Allah menerima taubat orang yang membuat dosa?"

Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Itu hanya apabila Allah Mengurniakan kuasaNya kepada pembuat dosa itu yang ia digesa untuk mengakui dosanya dan ingin bertaubat. Hanya dengan itu Allah akan menerima taubatnya kerana dosa yang telah dilakukannya."


Sholeh Al-Qazwini selalu mengajar muridnya, "Siapa yang selalu mengetuk pintu rumah seseorang akhirnya satu hari pintu itu pasti akan dibuka untuknya." Satu hari Rabi'atul-Adawiyyah mendengar beliau bercakap demikian. Rabi'atul-adawiyyah pun berkata kepada Sholeh, "Berapa lama kamu hendak berkata demikian menggunakan perkataan untuk masa depan (Futuretense) iaitu "Akan dibuka"? Adakah pintu itu pernah ditutup? Pintu itu sentiasa terbuka." Sholeh mengakui kebenarannya itu.



Seorang hamba Allah berteriak, "Aduh sakitnya!" Rabi'atul-Adawiyyah bertemu dengan orang itu dan berkata, "Oh! bukannya sakit." Orang itu bertanya kenapa beliau berkata begitu. Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Kerana sakit itu adalah satu nikmat bagi orang yang sangat mulia di sisi Allah. Mereka merasa seronok menanggung sakit itu."



Suatu hari rabi'atul-adawiyyah sedang melihat orang sedang berjalan dengan kepalanya berbalut. Beliau bertanya kenapa kepalanya dibalut. Orang itu menjawab mengatakan ia sakit kepala. Rabi'atul-Adawiyyah bertanya, "Berapa umurmu?" Jawab orang itu, "Tiga puluh." Rabi'atul-Adawiyyah bertanya lagi, "Hingga hari ini begaimana keadaanmu?" Kata orang itu, "Sihat-sihat sahaja." Rabi'atul-Adawiyyah pula berkata, "Selama tiga puluh tahun Allah menyihatkan kamu, tetapi kamu tidak mengibarkan bendera pada badanmu untuk menunjukkan kesyukuran kepada Allah, dan agar manusia bertanya kenapa kamu gembira sekali dan setelah mengetahui kurniaan Tuhan kepadamu, mereka akan memuji Allah. Sebaliknya kamu, setelah mendapat sakit sedikit, membalut kepalamu dan pergi ke sana ke mari menunjukkan sakitmu dan kekasaran Tuhan terhadapmu. Kenapa kamu berlaku sehina itu!"



Suatu hari khadamnya berkata, "Puan, keluarlah dan mari kita melihat keindahan kejadian Tuhan di musim bunga ini.' Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Duduklah dalam rumah seperti aku berseorangan dan melihat yang menjadikan. Aku lihat Dia dan bukan kejadianNya."



Suatu hari, orang bertanya kepada Rabi'atul-Adawiyyah kenapa beliau tidak menyimpan pisau dalam rumahnya. Beliau menjawab, "Memotong itu adalah kerja pisau. Aku takut pisau itu akan memotong pertalian aku dengan Allah yang ku cintai."



Suatu masa Rabi'atul-Adawiyyah berpuasa selama lapan hari. Pada hari terakhir, beliau merasa lapar sedikit. Datang seorang hamba Allah membawa minuman yang manis dalam sebuah cawan. Rabi'atul-Adawiyyah ambil minuman itu dan meletakkannya di atas lantai di satu penjuru rumahnya itu. Beliau pun pergi hendak memasang lampu. Datang seekor kucing lalu menumpahkan minuman dalam cawan itu. Melihat itu, terfikirlah Rabi'atul-Adawiyyah hendak minum air sahaja malam itu.

Tatkala ia hendak mencari bekas air (tempayan), lampu pun padam. Bekas air itu jatuh dan pecah airnya bertaburan di atas lantai. Rabi'atul-adawiyyah pun mengeluh sambil berkata, "Tuhanku! Kenapa Kau lakukan begini kepadaku?"


Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-Adawiyyah, jika kamu hendakkan kurnia dunia, Aku boleh berikan padamu, tetapi akan menarik balik darimu siksaan dan kesakitan yang Aku beri padamu. Kurnia dunia dan siksaan Aku tidak boleh duduk bersama-sama dalam satu hati. Rabi'atul-Adawiyyah, kamu hendak satu satu perkara dan Aku hendak satu perkara lain. Dua kehendak yang berlainan tidak boleh duduk bersama dalam satu hati."


Dengan serta-merta beliau pun membuangkan kehendak kepada keperluan hidup ini, seperti orang yang telah tidak berkehendakkan lagi perkara-perkara dunia ini semasa nyawa hendak bercerai dengan badan. Tiap-tiap pagi beliau berdoa, "Tuhan! Penuhilah masaku dengan menyembah dan mengingatMu agar orang lain tidak mengajakku dengan kerja-kerja lain."



Rabi'atul-Adawiyyah ditanya, "Kenapa kamu sentiasa menangis-nangis?"


Beliau menjawab, "Kerana ubat penyakit ini ialah berdampingan dengan Tuhan."


"Kenapa kamu memakai pakainan koyak dan kotor?" Beliau ditanya lagi, "Kamu ada kawan yang kaya, dan dia boleh memberimu pakaian baru." Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Aku berasa malu meminta perkara dunia dari sesiapa pun yang bukan milik mereka kerana perkara-perkara itu adalah amanah Allah kepada mereka dan Allah jua yang memiliki segala- galanya."



Orang berkata, "Rabi'atul-Adawiyyah, Tuhan mengurniakan ilmu dan kenabian kepada lelaki, dan tidak pernah kepada perempuan, tentu kamu tidak dapat mencapai pangkat kewalian yang tinggi itu (kerana perempuan). Oleh itu apakah faedahnya usaha kamu menuju ke taraf tersebut?"


Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Apa yang kamu kata itu benar, tetapi cubalah ketakan kepadaku siapakah perempuannya yang telah mencapai taraf kehampiran dengan Allah dan lalu berkata, "Akulah Yang Hak". Di samping itu tidak ada orang "kasi" yang perempuan. Hanya didapati dalam kaum lelaki sahaja."


Rabi'atul-Adawiyyah berkata, "Seorang perempuan yang sentiasa bersembahyang kerana Allah adalah lelaki dan bukan perempuan."



Satu hari Rabi'atul-Adawiyyah jatuh sakit. Orang bertanya kepadanya sebab ia sakit. Beliau berkata, "Hatiku cenderung hendak mencapai Syurga, satu hari yang lampau. Kerana itu, Allah jatuhkan sakit ini sementara sebagai hukuman."



Hassan Al-Basri datang berjumpa Rabi'atul-Adawiyyah yang sedang sakit. Di pintu rumah beliau itu, Hassan bertemu dengan Amir Al-Basri yang sedang duduk dengan sebuah beg mengandungi wang. Amir itu menangis. Apabila ditanya kenapa beliau menangis, beliau menjawab, "Aku hendak menghadiahkan wang kepada Rabi'atul-Adawiyyah, tetapi aku tahu dia tidak akan menerimanya. Kerana itulah aku menangis. Bolehkah kamu menjadi pengantara dan meminta dia menerima hadiahku ini?" Hassan pun pergilah membawa wang itu kepada Rabi'atul-Adawiyyah dan meminta beliau menerima wang itu. Tetapi Rabi'atul-Adawiyyah berkata,


"Oleh kerana aku telah kenal Allah, maka aku tidak lagi mahu bersembang dengan manusia dan tidak menerima hadiah dari mereka dan juga tidak mahu memberi apa-apa kepada mereka. Di samping itu aku tidak mahu sama ada wang itu didapatinya secara halal atau haram."


Sufyan Al-Thauri berkata, "Kenapa kamu tidak memohon kepada Allah untuk menyembuhkan kamu?" Rabi'atul-Adawiyyah menjawab, "Kenapa aku merungut pula kerana itu hadiah Allah bagiku. Bukankah salah jika tidak mahu menerima hadiah Tuhan? Adakah bersahabat namanya jika kehendak sahabat itu tidak kita turuti?"



Malik bin Dinar pergi mengunjungi Rabi'atul-adawiyyah satu hari. Dilihatnya dalam rumah Rabi'atul-Adawiyyah satu balang yang pecah dan mengandungi air untuk minum dan mengambil wuduk, satu bata sebagai bantal dan tikar yang buruk sebagai alas tempat tidur. Malik berkata, "Jika kamu izinkan, boleh aku suruh seorang kawanku yang kaya memberimu semua keperluan harian." Rabi'atul-Adawiyyah menjawab;


"Adakah satu Tuhan yang menanggung aku, dan Tuhan lain pula menanggung kawanmu itu? Jika tidak, adakah Tuhan lupa kepadaku kerana aku miskin dan ingat kepada kawanmu itu kerana ia kaya? Sebenarnya Allah itu tidak lupa kepada siapa pun. Kita tidak perlu memberi ingat kepada Tuhan itu. Dia lebih mengetahui apa yang baik untuk kita. Dia yang memberi kurnia dan Dia juga yang menahan kurnia itu."


Rabi'atul-Adawiyyah berkata, "Orang yang cinta kepada Allah itu hilang dalam melihat Allah hingga kesedaran kepada yang lain lenyap darinya dan Dia tidak boleh membezakan mana sakit dan mana senang."


Seorang Wali Allah datang dan merungut tentang dunia. Rabi'atul-Adawiyyah berkata, "Nampaknya kamu sangat cinta kepada dunia, kerana orang yang bercakap tentang sesuatu perkara itu tentulah dia cenderung kepada perkara tersebut."


Satu hari, Sufyan Al-Thauri pergi berjumpa Rabi'atul-adawiyyah. Rabi'atul-Adawiyyah menghabiskan masa malam itu dengan sembahyang. Apabila sampai pagi, beliau berkata, "Pujian bagi Allah yang telah memberkati kita dapat sembahyang sepanjang malam. Untuk tanda kesyukuran, marilah kita puasa pula sepanjang hari ini."


Rabi'atul-Adawiyyah selalu berdoa demikian, "Tuhanku! Apa sahaja yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan dunia, berikanlah kepada musuhku dan apa sahaja kebaikan yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan akhirat, berikanlah kepada orang-orang yang berIman, kerana aku hanya hendakkan Engkau kerana Engkau. Biarlah aku tidak dapat Syurga atau Neraka. Aku hendak pandangan Engkau padaku sahaja."


Sufyan Al-Thauri menghabiskan masa sepanjang malam bercakap-cakap tentang ibadat kepada Allah dengan Rabi'atul-Adawiyyah. Di pagi hari Al-Thauri berkata, "Kita telah menghabiskan masa malam tadi dengan sebaik-baiknya."

Rabi'atul-Adawiyyah berkata, "Tidak, kita habiskan masa dengan sia-sia kerana sepanjang percakapan itu kamu berkata perkara-perkara yang memuaskan hatiku sahaja dan aku pula memikirkan perkara yang kamu sukai pula. Masa itu kita buang tanpa mengenang Allah. Adalah lebih baik jika aku duduk seorang diri dan menghabiskan masa malam itu dengan mengenang Allah."





Rabi'atul-Adawiyyah berkata;


"Doaku padaMu ialah sepanjang hayatku berilah aku dapat mengingatMu dan apabila mati kelak berilah aku dapat memandangMu."




Ya Allah !!! Kurnialah kepadaku Cinta terhadapMu dan Cinta kepada mereka yang mencintaiMu; dan apa sahaja yang membawa aku hampir kepada CintaMu; dan jadikanlah CintaMu itu lebih berharga kepadaku dari air sejuk kepada orang yang dahaga.



LAA HAULAWALA QUWWATAILLA BILLAH



Dipetik dari cerita INDEX kimia kebahagiaan



sofiahdewi





Ebook 011 : Ancaman Global Freemasonry
Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik


Pendahuluan



Selama berabad-abad, Freemasonry telah memancing banyak diskusi. Sebagian orang menuduhkan aneka kejahatan dan hal buruk yang fantastis kepada Masonry. Alih-alih mencoba memahami "Persaudaraan" tersebut dan mengkritisinya secara objektif, mereka bersikap sangat bermusuhan terhadapnya. Sebaliknya, para Mason kian bersikukuh dengan tradisi tutup mulut terhadap semua tuduhan ini, dan lebih memilih untuk tampil sebagai klub sosial biasa yang bukanlah bentuk sejati mereka.

Buku ini berisi paparan yang pas tentang Masonry sebagai suatu aliran pemikiran. Pengaruh terpenting yang menyatukan para Mason adalah filsafat mereka yang paling tepat dideskripsikan sebagai "materialisme" dan "humanisme sekuler". Namun, Masonry adalah suatu filsafat keliru yang berlandaskan pada berbagai anggapan yang salah dan teori yang cacat. Inilah hal mendasar yang mesti menjadi titik tolak untuk mengkritisi Masonry.
Pentingnya kritisisme semacam itu perlu diungkapkan sejak awal, tidak hanya untuk menjelaskan subjek ini kepada non-Mason, tetapi juga untuk mengajak para Mason sendiri memahami kebenaran. Tentu saja, sebagaimana orang lain, para Mason bebas memilih sendiri, dan dapat mengambil cara pandang apa pun yang mereka inginkan tentang dunia dan hidup sesuai dengannya. Ini adalah hak asasi mereka. Tetapi, orang lain pun punya hak untuk memaparkan dan mengkritisi kekeliruan-kekeliruan mereka, dan itulah yang coba dilakukan buku ini.

Kami pun menggunakan pendekatan yang serupa dalam kritisisme kami terhadap komunitas lainnya. Terhadap orang Yahudi misalnya. Sebagian buku ini juga bertalian dengan sejarah Yahudi dan mengajukan berbagai kritisisme tertentu yang penting. Harus dikemukakan bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan anti-Semitisme atau teori konspirasi "Yahudi-Masonik". Memang, anti-Semitisme adalah sesuatu yang tak layak bagi seorang Muslim sejati. Orang Yahudi pada suatu masa telah menjadi bangsa yang dipilih oleh Allah, dan kepada mereka dikirimkan-Nya banyak Nabi. Sepanjang sejarah mereka telah ditimpa banyak kekejaman, bahkan menjadi korban pemusnahan massal, tetapi mereka tidak pernah menanggalkan identitas mereka. Di dalam Al Quran, Allah menyebut mereka, bersamaan dengan orang Nasrani, sebagai ahli kitab, dan memerintahkan orang Islam memperlakukan mereka dengan baik dan adil. Tetapi, bagian penting dari sikap adil ini adalah mengkritisi berbagai keyakinan dan praktik yang salah dari sebagian mereka, menunjukkan kepada mereka jalan menuju kebenaran sejati. Tetapi tentu saja, hak mereka untuk hidup sesuai dengan apa yang mereka percayai dan kehendaki tak perlu dipertanyakan lagi.

Buku Ancaman Global Freemasonry ini berangkat dari premis tersebut, dan secara kritis menelusuri akar Masonry, juga sasaran dan aktivitasnya. Dalam buku ini, pembaca juga akan menemukan ikhtisar sejarah pertarungan para Mason melawan agama-agama ketuhanan. Freemason memainkan peranan penting dalam alienasi Eropa dari agama, dan seterusnya, membangun ordo baru yang berlandaskan kepada filsafat materialisme dan humanisme sekuler. Kita juga akan memahami bagaimana pengaruh Masonry dalam penekanan dogma-dogma ini kepada peradaban non-Barat. Akhirnya, kita akan membahas metode-metode yang digunakan Masonry untuk membantu pengembangan dan pelestarian tatanan sosial yang berdasarkan dogma-dogma ini. Filsafat mereka dan metode yang mereka gunakan untuk mengembangkan filsafat ini akan didedah dan dikritisi.
Diharapkan bahwa fakta-fakta penting yang diuraikan di dalam buku ini akan menjadi sarana bagi banyak orang, termasuk para Mason sendiri, agar mampu melihat dunia dengan kesadaran yang lebih baik.

Setelah membaca buku ini, pembaca akan mampu mempertimbangkan banyak hal, dari aliran filsafat hingga kepala berita surat kabar, dari lagu rock hingga berbagai ideologi politik, dengan pemahaman yang lebih dalam, serta melihat dengan lebih baik arti dan tujuan di belakang berbagai peristiwa dan faktor. ( Disadur dari
www.harunyahya.com )







Klik utk bacaan seterusnya


Ebook Swaramuslim DAJJAL & SIMBOL SETAN





t;line-height:100%">Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber
dicantumkan
sofiahdewi




Kilas Balik Perang Salib
Sejarah Oleh : Redaksi 04 Jan 2005 - 12:20 am




Oleh: Fahmi Amhar



Islam adalah lawan dari kekufuran. Yang dipandang sebagai musuh adalah kekufuran, dan berarti kekuatan yang mendukung implementasi, mempertahankan atau mempromosikan sistem kufur. Kalau kekufuran diibaratkan kemiskinan, maka Islam tidak memerangi orang-orang miskin an sich, namun memerangi kemiskinan, dan berarti orang-orang yang membuat kemiskinan terus terjadi, yaitu para tiran, orang-orang yang terus berbuat kerusakan (fasiq) dan orang-orang yang berlaku tidak adil (dhalim).

Perlawanan Islam terhadap kekufuran dan permusuhan kekufuran atas Islam akan terus terjadi. Rasulullah Saw mendapat informasi dari Allah SWT serta beberapa perintah sebagai berikut:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Qs. al-Baqarah [2]: 190)

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Qs. al-Baqarah [2]: 193).

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo'a: "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisi Engkau". (Qs. an-Nisaa' [4]: 75).


Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Qs. al-Anfaal [8]: 60).

Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa peperangan dalam kerangka jihad bisa terjadi karena (1) kaum muslimin diserang; (2) untuk melenyapkan fitnah (kekufuran) dan permusuhan; (3) demi membela yang tertindas –tanpa melihat agama mereka.

Untuk antisipasi peperangan melawan kekufuran yang selalu mungkin terjadi itu, kaum muslimin diwajibkan menyiapkan segala kekuatan yang dapat menggentarkan musuh, baik itu kekuatan iman, ilmu pengetahuan dan teknologi, malliyah, jasmaniyah, organisasi militer dan juga kekuatan dakwah. Seluruh potensi ummat diarahkan kepada peperangan tiada akhir melawan kekufuran, melawan sesuatu yang menghalangi missi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan missi muslim sebagai khalifatul fil ardh.

Dalam hubungannya dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, meski terdapat ayat:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti millah mereka… (Qs. al-Baqarah [2]: 120).


Namun ayat ini tak pernah dipakai kaum muslimin sebagai legitimasi memerangi Yahudi dan Nasrani, hanya karena agama mereka. Justru sebaliknya, kaum Yahudi dan Nasrani di dalam Darul Islam menikmati perlindungan yang tidak mereka temukan di negara lain. Namun perang salib, yang lama maupun yang baru, justru makin menunjukkan bahwa kekufuran adalah musuh kita, sampai kiamat tiba.




Fakta-fakta Perang Salib


Tidak terlalu mudah mendapatkan gambaran yang akurat tentang peristiwa Perang salib yang sesungguhnya. Beberapa penulis sejarah menggambarkannya berbeda-beda, dan sebagian tampak berlebih-lebihan. *1)

Kesulitan lainnya adalah mengenai nama-nama tempat atau kerajaan dalam buku-buku sejarah lama yang tidak dilengkapi peta, sehingga sulit dipastikan nama dan lokasinya di zaman modern ini, apalagi bila buku-buku tersebut ditulis dalam bahasa yang berbeda-beda, misalnya dari sumber berbahasa Arab atau Latin.

Pada tulisan ini sengaja dicari fakta-fakta dari sumber-sumber Islam dan non Islam, agar didapatkan keseimbangan informasi, terutama mengenai kondisi front masing-masing.
Secara keseluruhan perang salib berlangsung selama hampir dua abad, dengan momen-momen penting sebagai berikut:

Pada sinode di Clermont Perancis, Paus Urbanus II (1088-1099) memulai inisiatif mempersatukan dunia Kristen (yang saat itu terbelah antara Romawi Barat di Roma dan Romawi Timur atau Byzantium di Konstantinopel). Kebetulan saat itu raja Byzantium sedang merasa terancam oleh ekspansi kekuasaan Saljuk, yakni orang-orang Turki yang sudah memeluk Islam.

Ketika terasa cukup sulit untuk mempersatukan para pemimpin dunia Kristen dengan ego dan ambisinya masing-masing, maka dicarilah suatu musuh bersama. Dan musuh itu ditemukan: ummat Islam. Sasaran jangka pendeknyapun didefinisikan: pembebasan tempat-tempat suci Kristen di bumi Islam, termasuk Baitul Maqdis. Adapun sasaran jangka panjangnya adalah melumat ummat Islam. Pasukan salib tidak berencana membunuh Khalifah. Yang mereka rencanakan adalah membunuh Islam, menghapus khilafah dan menghancurkan ummat yang melindunginya dan hidup untuknya. Apa artinya seorang Khalifah jika lembaga Khilafah tak ada lagi? Apa yang bisa dikerjakan Khalifah jika ummat yang dipimpinnya tewas semua? (Qs. Ali-Imran [3]: 169).

1096 – serangan salib pertama diberangkatkan untuk merebut Yerusalem. Pada 1099 pasukan di bawah Gottfried von Bouillon merebut Yerusalem. Mereka mendirikan negara-negara salib, yakni negara-negara boneka di wilayah-wilayah yang diduduki tentara salib.

Namun karena kelemahan Byzantium dan perpecahan di kalangan muslim sendiri, negara-negara boneka ini berkembang sebagai negara-negara latin yang feodalistis dan tirani, di mana seluruh penduduk yahudi dan muslim dihabisi.

Pada serangan salib kedua (1147-1149) pasukan salib berusaha merebut wilayah-wilayah di sepanjang pantai laut tengah, baik yang dikuasai muslim maupun bukan, seperti misalnya wilayah Athena, Korinthia dan beberapa pulau-pulau Yunani. Ini menunjukkan bahwa serangan salib sebenarnya tidak spesifik ditujukan hanya kepada ummat Islam, karena memang kekufuran sebenarnya musuh seluruh manusia –hanya saja ummat Islam adalah penghalang terbesar bagi kekufuran itu.

Serangan salib ketiga (1189-1192) terjadi setelah Sholahuddin al Ayubi berhasil mempersatukan kembali wilayah-wilayah Islam di Mesir dan Syria. Pada 1171 Sholahuddin berhasil menyingkirkan kekuasaan Fathimiyah di Mesir yang merupakan separatisme dari Khilafah di Bagdad, dan mendirikan pemerintahan Ayubiah yang loyal kepada Khalifah. Pada 1187 al-Ayubi berhasil merebut kembali Yerusalem. Serangan salib ketiga ini dipimpin oleh tokoh-tokoh Eropa yang paling terkenal: Friedrich I Barbarosa dari Jerman, Richard I Lionheart dari Inggris dan Phillip II dari Perancis. Namun di antara mereka ini sendiri terjadi perselisihan dan persaingan yang tidak sehat, sehingga Friedrich mati tenggelam, Richard tertawan (akhirnya dibebaskan setelah memberi tebusan yang mahal), sedang Phillip bergegas kembali ke Perancis untuk merebut Inggris justru selama Richard tertawan.

Serangan salib keempat (1202-1204) terjadi ketika pasukan salib dari Eropa Barat ingin mendirikan kerajaan Norman (Eropa Barat) di atas puing-puing Yunani. Paus Innocentius III menyatakan pasukan salib telah murtad (excommuned). Di Konstantinopel permintaan-permintaan tentara salib menimbulkan perlawanan rakyat, yang dibalas tentara salib dengan membakar kota itu serta mendudukkan kaisar latin serta padri latin. Sebelumnya, kaisar dan padri Konstantinopel selalu yunani. Tahun 1212, ribuan pemuda Perancis diberangkatkan dengan kapal untuk bergabung dengan pasukan salib, namun oleh kapten kapal mereka justru dijual sebagai budak ke Afrika Utara! Reputasi pasukan salib dan respek atasnya sudah semakin pudar.

Serangan salib kelima (1218-1221) diumumkan oleh Paus Innocentius dan Konzil Lateran IV, yang juga menetapkan undang-undang inquisisi dan berbagai aturan anti yahudi. Untuk mendapatkan kembali kontrol atas pasukan salib, jabatan raja Yerusalem digantikan oleh wakil Paus. Jabatan "raja Yerusalem" ini hanyalah "formalitas idealis", tanpa kekuasaan sesungguhnya, karena de facto Yerusalem telah direbut kembali oleh al-Ayubi.

Serangan salib keenam (1228-1229) dipimpin oleh kaisar Jerman Freidrich II. Sebagai "orang yang dimurtadkan" (excommuned) dia berhasil merebut kembali Jerusalem. Paus terpaksa mengakui dia sebagai raja Yerusalem. Sepuluh tahun kemudian Yerusalem berhasil direbut kembali oleh kaum muslimin.

Serangan salib ketujuh (1248-1254) dipimpin oleh IX dari Perancis yang telah dinobatkan sebagai "orang suci" oleh Paus Bonifatius VIII. Meski di negerinya Ludwig dikenal sebagai penegak hukum yang baik, namun ia memimpin sebuah organisasi yang amburadul sehingga justru tertangkap di Mesir.

Di bawah Paus Gregorius X (1274) dan juga setelah jatuhnya Konstantinopel (1453), perang salib pernah diserukan kembali, namun tak pernah dimulai. Sejak perang salib keempat, perang ini sudah jatuh popularitasnya.

Sementara itu, tanpa di bawah lambang pasukan salib, pada 1236 Cordoba pusat Daulah Islam di Andalusia direbut kembali oleh pasukan Katolik Kastilia. Pada 1258 Bagdad –pusat Khilafah– dihancurkan oleh Mongol-Tartar. Kedua serangan ini juga punya akibat yang sangat fatal pada sejarah ummat Islam selanjutnya.

Bagi Eropa, hasil positif perang salib yang utama adalah motivasi yang dalam banyak hal ikut memajukan Eropa. Ini karena perang salib mempertemukan bangsa Eropa dengan peradaban yang lebih tinggi (Qs. al-An'aam [6]: 39).

Efek negatifnya adalah secara teologis Eropa makin terpolarisasi. Dunia Kristen Barat makin membentengi diri dan bersikap memusuhi terhadap segala yang berasal dari luar. Dan ini berjalan hingga abad 20. Mentalitas perang salib ini juga pernah digunakan beberapa penguasa Barat untuk menekan kaum protestan. Dan pada Perang Dunia II, Hitler memotivasi pasukannya dalam melawan Rusia sebagai "Perang salib melawan Atheisme".

Oleh karena itu, bila George W. Bush "kelepasan" menyebut-nyebut perang salib demi minyak, senjata dan ideologi kapitalisme, hal itu tak perlu mengherankan lagi.



Analisis Perang Salib

Al-Wakil menuliskan bahwa sebab-sebab yang mendorong orang-orang Kristen terjun ke medan perang bertahun-tahun adalah (Qs. Ali-Imran [3]: 165):

Penyebab utama perang salib adalah kedengkian orang-orang Kristen kepada Islam dan umatnya. Ummat Islam berhasil merebut wilayah-wilayah strategis yang sebelumnya mereka kuasai (terutama di Timur Tengah). Mereka menunggu kesempatan yang tepat untuk meraih apa yang hilang dari tangannya, balas dendam terhadap ummat yang mengalahkannya. Kesempatan itu datang ketika ummat Islam lemah dan kehilangan jati dirinya yang kuat yang sebelumnya meredam perpecahan dan menyatukan langkah. Para tokoh agamawan Kristen bangkit menyerukan pembersihan tanah-tanah suci di Palestina dari tangan-tangan kaum muslimin dan membangun gereja dan pemerintahan Eropa di dunia Timur. Perang mereka dinamakan perang salib karena tentara-tentara Kristen menjadikan salib sebagai simbol obsesi suci mereka dan meletakkannya di pundak masing-masing.


Perasaan keagamaan yang kuat. Orang-orang Kristen meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walau setinggi langit.


Perlakuan in-toleran orang-orang Saljuk terhadap orang-orang Kristen dan para peziarah Kristen yang menuju Yerusalem. Orang-orang Saljuk adalah penguasa wilayah Turki yang relatif belum lama memeluk Islam dan belum begitu memahami syariat Islam dalam memperlakukan agama lain.


Ambisi Sri Paus yang ingin menggabungkan gereja Timur (ortodoks) dengan gereja Katolik Roma. Paus ingin menjadikan dunia Kristen seluruhnya menjadi satu negara agama yang dipimpin langsung Sri Paus.


Kegemaran tokoh-tokoh dan tentara Kristen untuk berpetualang ke negara lain dan mendirikan pemerintahan boneka di sana.


Bagi para pemimpin Kristen, kondisi waktu itu sangat tepat untuk memulai serangan ke dunia Islam, karena:

Ada kelemahan dinasti Saljuk, sehingga "front" terdepan dunia Islam terpecah belah.

Tidak adanya orang kuat yang menyatukan perpecahan ummat Islam. Khilafah de facto terbagi sedikitnya menjadi tiga negara: Abbasiyah di Bagdad, Umayah di Cordoba dan Fathimiyah di Kairo.

Beberapa kabilah pesisir telah masuk agama Kristen seperti Genoa dan Venezia, dan ini memuluskan jalan antara Eropa dan negara-negara Timur.

Kemenangan Sri Paus atas raja sehingga Sri Paus memiliki kekuatan mengendalikan para raja dan gubernur di Eropa.




Dampak Perang Salib

Bangsa Eropa belajar berbagai disiplin ilmu yang saat itu berkembang di dunia Islam lalu mengarangnya dalam buku-buku yang bagi dunia Barat tetap terasa mencerahkan. Mereka juga mentransfer industri dan teknologi konstruksi dari kaum muslimin, sehingga pasca perang salib terjadi pembangunan yang besar-besaran di Eropa. Gustav Lebon berkata: "Jika dikaji hasil perang salib dengan lebih mendalam, maka didapati banyak hal yang sangat positif dan urgen. Interaksi bangsa Eropa selama dua abad masa keberadaan pasukan salib di dunia Islam boleh dikatakan faktor dominan terhadap kemajuan peradaban di Eropa. Perang salib membuahkan hasil gemilang yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya."

Lalu apa yang didapat oleh kaum muslimin? Tidak ada. Ummat Islam tak bisa mengambil apa-apa dari satu pasukan yang bermoral bejat*2), yang sebagian besar berasal dari para penganggur dan penjahat. Perang salib menghabiskan assset ummat baik harta benda maupun putra-putra terbaik. Kemiskinan terjadi karena seluruh kekayaan negara dialokasikan untuk perang. Dekadensi moral terjadi karena perang memakan habis orang laki-laki dan pemuda. Kemunduran ilmu pengetahuan terjadi karena ummat menghabiskan seluruh waktunya untuk memikirkan perang sehingga para ulama tidak punya waktu untuk mengadakan penemuan-penemuan dan karya-karya baru kecuali yang berhubungan dengan dunia perang.

Perang salib merupakan salah satu titik balik dari sejarah keemasan ummat Islam. Perang salib yang melelahkan telah ikut berkontribusi atas proses hancurnya Khilafah Abbasiyah, sehingga serangan Tartar atas Bagdad pada 1258 hanya sekedar finalisasi dari proses tersebut.




Menghadapi Perang Salib Baru

Dengan melihat fakta-fakta serta analisis di atas, tampak bahwa dari sisi kaum muslimin perang salib –apapun motif sesungguhnya– selalu hanya berdampak negatif. Namun demikian, jangankan bila diserang, ummat Islam memang harus memikul amanah al-Qur'an untuk melawan fitnah (kekufuran) dan kezaliman. Dan kapitalisme pimpinan Amerika Serikat adalah bentuk termodern dari kekufuran dan kezaliman itu. Sedang Israel di Palestina adalah front terdepan perang tersebut.

Dari sisi orang-orang Barat, istilah perang salib dihadapi dengan beragam. Pada masyarakat Barat yang sekuler, motivasi religius seperti pada abad 11-13 sudah tak ada lagi. Istilah itu hanya dilontarkan sebagai "penyatu opini" bahwa mereka sama-sama terancam oleh Islam (maka dibuat skenario serangan teror 911 atas WTC), seakan-akan perang salib dimulai oleh kaum muslimin, dan secara militer ummat Islam memang masih memiliki kekuatan yang mampu menggoyang kedigdayaan Barat.

Faktanya, dari sisi manapun, ekonomi, teknologi, militer, ummat Islam sekarang ini berbeda dengan ummat Islam abad 11-13, yang masih memiliki khilafah yang berfungsi baik, serta ekonomi dan teknologi yang lebih maju dari Barat.

Faktanya, sekarang dunia Islam terpecah dalam puluhan negara, yang kesemuanya dipimpin oleh para diktator yang membebek pada Barat. Mereka tergantung pada ekonomi dan teknologi Barat. Sedang rakyatnya hidup dengan berorientasi pada budaya Barat dan gandrung mengkonsumsi produk industri Barat.

Kalau demikian apa yang dicemaskan Barat?

Kebobrokan sistem kapitalisme telah nyata, baik berupa kerusakan lingkungan, pemiskinan di dunia ketiga maupun disorientasi kehidupan pada masyarakat Barat sendiri, yang di antaranya tercermin dari peningkatan penggunaan narkoba dan angka bunuh diri. Orang jelata di Barat akhirnya merasakan sesuatu yang tidak benar dan tidak adil pada sistem yang diterapkan atas mereka. Mereka menyadari bahwa sistem itu hanya menguntungkan segelintir kecil elit mereka, yakni para kapitalis serta politisi yang merealisasi tujuan para kapitalis itu secara sah.

Dan tidak ada lagi di dunia ini yang bisa membendung laju kapitalisme seperti itu di Barat. Sampai akhirnya, di dunia Islam muncul gerakan-gerakan Islam yang melawan kekufuran kapitalisme itu, baik karena dorongan aqidah, maupun karena kesumpekan hidup akibat praktek kapitalisme di negeri-negeri Islam.

Karena itu, yang dicemaskan Barat, atau secara spesifik: yang dicemaskan para kapitalis Barat, tak lain adalah geliat gerakan-gerakan Islam.

Rupanya, meski puluhan tahun sudah khilafah dibubarkan dan sistem kapitalisme diterapkan di dunia Islam, namun selama ummat Islam ini masih ada, dan selama akses kepada sumber-sumber Islam masih dibuka, selama itu pula masih akan bermunculan orang-orang dari ummat Islam ini yang menggeliat untuk bangkit melawan kekufuran, karena kekufuran adalah musuh abadi Islam sejak para nabi.

Sejarah menunjukkan, perang salib-pun akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin, setelah tentara salib berkuasa hampir dua abad. Bagdad-pun demikian, setelah dihancurkan Tartar, akhirnya bangkit kembali. Ini karena ummat Islam masih ada dan dakwah masih berjalan. Berbeda dengan Andalusia, yang ketika inquisisi seluruh muslim dihabisi, sehingga sampai sekarang praktis wilayah itu tidak pernah menjadi muslim kembali.

Karena itu, seandainya perang salib terjadi lagi, maka model yang paling masuk akal adalah model inquisisi. Ummat Islam akan dihabisi, sebab tidak cukup menjadikan mereka sekuler, yang masih berpotensi untuk bangkit kembali.

Untuk itu ditempuh strategi penghancuran dakwah dan penghancuran ummat. Dakwah digilas dengan isu terorisme. Harakah-harakah dakwah yang paling ideologis diserang lebih dulu, walaupun pada akhirnya, yang paling moderatpun akan digilas juga, sebagaimana pengalaman di Bosnia. Sedang penghancuran ummat dilakukan dengan penguasaan total sumber-sumber ekonomi. Maka penguasa manapun yang sulit diajak "kerjasama" akan dihabisi untuk digantikan dengan agen-agen mereka. Beserta tentara dan rakyat yang mendukungnya.

Di sisi lain, kekuatan kapitalisme dioptimalkan untuk membiayai penyesatan opini via media massa, mengorbitkan intelektual yang mendukung mereka (seperti JIL), membiayai partai politik yang sejalan dengannya, melobby penguasa atau tokoh masyarakat agar lunak terhadap mereka, membayar demonstrasi yang mengusung agenda-agenda mereka -sadar ataupun tidak, dan bila perlu membiayai aksi-aksi teroris yang dipandang bermanfaat untuk kepentingannya –baik sadar ataupun tidak bahwa mereka dimanfaatkan.

Menjawab konspirasi ini, tak ada jalan lain bagi harakah-harakah Islam selain lebih merapatkan barisan agar mendapatkan energi yang cukup untuk secepatnya menegakkan kembali Khilafah Islamiyah, karena hanya institusi ini yang akan sanggup menahan "perang salib" tersebut bahkan membalikkannya menjadi jihad fii sabilillah, untuk membuka Roma, sebagaimana nubuwaah Rasul. ( hayatulislam.net )




Catatan Kaki:

1. Ibnu Katsir (dalam [3]: 167) berkata bahwa pasukan Armanus Raja Romawi terdiri dari 35.000 Batrix, dan tiap Batrix mengepalai 200.000 personil kavaleri. Artinya, tujuh milyar personil! Tampak angka ini terlalu dilebih-lebihkan oleh sumber Ibnu Katsir.

2. Pada tentara salib bahkan terdapat suatu "corps pelacur" dari Perancis khusus untuk menghibur pasukan salib yang berbulan-bulan jauh dari keluarga.

Referensi:

Imam AS-SUYUTHI (1498): Tarikh Khulafa'. (penerjemah: Samson Rahman). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001.


IBNU KHALDUN (1332–1406): Muqaddimah. (penerjemah: Ahmadie Thoha). Jakarta, Pustaka Firdaus, 2000.
Muhammad Sayyid AL-WAKIL (1989): Wajah Dunia Islam dari Dinasti Umayyah hingga Imperialisme Modern. (penerjemah: Fadhli Bahri). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998.


Cyril GLASSE: Enskilopedi Islam Ringkas. Jakarta, RajaGrafindo Persada, 1999.


Gerhard KONZELMANN (1988): Die Islamische Herausforderung. 5. Aufl. dtv, 1991.


Franklin H. LITTELL (1976): Atlas zur Geschichte des Christentums (The Macmillan Atlas History of Christianity). New York: Macmillan Publishing Co.; Deutsche Ausgabe - Brockhaus Verlag, 1989.


Werner STEIN (1979): Der grosse Kulturfahr-plan. Berlin: Herbig, 1979.






t;line-height:100%">Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan

sofiahdewi



Perang Salib, Shalahuddin dan Peringatan Maulid
Oleh : Redaksi 30 Mar 2007 - 7:50 pm




Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab [33]: 21).

Setiap Rabi'ul Awwal, umat Muslim sibuk menyiapkan varian agenda dalam rangka memperingati kelahiran Rasulullah SAW yang jatuh pada tangal 12 Rabi'ul Awal. Namun tak ada yang tahu, apa semangat digagasnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang pertama kali dilakukan Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Mesir.

Ia mengusulkan ide itu pada Sultan Mesir, Muzaffar ibn Baktati, yang terkenal arif dan bijaksana. Ia sangat menghormati sosok Shalahuddin, yang di kemudian hari membawa kemenangan bagi tentara Muslim dalam Perang Salib.

Shalahuddin juga merupakan panglima Islam di masa Khalifah Muiz Liddinillah dari dinasti Bani Fathimiyah di Mesir (berkuasa 365 H/975 M).

Gagasan Shalahuddin sederhana. Pada masa itu masjid Al Aqsha diambil alih dan diubah menjadi gereja. Kondisi tersebut diperparah oleh keadaan pasukan Islam yang mengalami penurunan ghirah perjuangan dan renggangnya ukhuwah Islamiyah.

Dari situlah Shalahuddin memiliki gagasan untuk menghidupkan kembali semangat juang dan persatuan umat dengan cara merefleksikan dan mempertebal kecintaan kepada Rasulullah. Selanjutnya digelarlah peringatan Maulid Nabi yang disambut luar biasa oleh seluruh kaum Muslimin kala itu. "Semangat Shalahuddin untuk memperingati Mauild Nabi dalam rangka mengajak ummat Islam untuk back to Quran dan Sunnah. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh pasukan Islam. Peringatan Maulid ini banyak manfaatnya," jelas ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Syukri Zakrasyi.

Apa yang digelorakan Shalahuddin membuahkan hasil di kemudian hari. Jerusalem berhasil direbut. Di bawah kepemimpinannya, Perang Salib diakhiri dengan sedikit jumlah korban. Tak seperti saat tentara Kristen menduduki Jerusalem dan membunuh semua Muslim yang tersisa, pasukan Shalahuddin mengawal umat Kristen dan memastikan jiwa mereka selamat saat keluar dari Jerusalem. Begitulah akhlak Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Tidak mentang-mentang menang dan berkuasa, maka bebas melakukan penindasan.

Muslim Indonesia pantas meniru sejarah Rasulullah dan sejarah lahirnya peringatan maulid Nabi. Sedikit banyak, situasi Muslim saat ini hampir sama dengan situasi umat Islam masa Shalahuddin Al-Ayubi. Selain terpuruk secara politik, ekonomi, sosial, budaya, dan akidah, juga tidak ada kebanggaan sebagai Muslim.

Berkaca lagi pada pribadi Nabi SAW, itulah semangat yang diusung Shalahuddin. Itu pula agaknya yang harus kita lakukan saat ini. ''Dalam kondisi bangsa yang penuh ujian seperti sekarang ini, sangat pantas jika kita melihat figur Rasulullah SAW terutama dalam membangun masyarakatnya yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi. Beliau itu memiliki akhlak yang sangat terpuji: jujur, tanggungjawab dan kebersamaan,'' ujar Prof Dr KH Didin Hafidhuddin Msc, direktur Pasca Sarjana Univeristas Ibnu Khaldun Bogor. (dam/RioL)




Perang Salib

Perang keagamaan antara umat Kristen Eropa dan umat Islam Asia selama hampir dua abad (1096-1291) dikenal dengan nama Perang Salib. Perang itu terjadi sebagai reaksi umat Kristen terhadap umat Islam.

Sejak tahun 632, sejumlah kota penting dan tempat suci umat Kristen dikuasai oleh umat Islam. Akibatnya, umat Kristen merasa terganggu ketika hendak berziarah ke kota suci Yerusalem. Umat Kristen tentu saja ingin merebut kembali kota itu. Perang itu disebut Perang Salib karena pasukan Kristen menggunakan tanda salib sebagai simbol pemersatu dan untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci.

Faktor utama penyebab terjadinya Perang Salib adalah agama, politik dan sosial ekonomi. Faktor agama, sejak Dinasti Seljuk merebut Baitulmakdis dari tangan Dinasti Fatimiah pada tahun 1070, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke sana. Hal ini disebabkan karena para penguasa Seljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitulmakdis. Bahkan mereka yang pulang berjiarah sering mengelu karena mendapatkan perlakuan jelek oleh orang-orang Seljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Dinasti Seljuk sangat berbeda dengan para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.

Faktor politik, dipicu oleh kekalahan Bizantium --sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul)-- di Manzikart (Malazkirt atau Malasyird, Armenia) pada tahun 1071 dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Seljuk terlah mendorong Kaisai Alexius I Comnenus (Kaisar Constantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Seljuk.

Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah, sehingga orang-orang Kristen Eropa berani untuk ikut mengambil bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara khalifah Fatimiah di Mesir, khalifah Abbasiyah di Baghdad dan amir Umayyah di Cordoba yang memproklamirkan dirinya sebagai penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti Dinasti-dinasti kecil di Edessa dan Baitulmakdis.

Sementara faktor sosial ekonomi dipicu oleh pedagang-pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Venezia, Genoa dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang pantai Timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan.

Sejarawan Philip K Hitti penulis buku The History of The Arabs membagi Perang Salib ke dalam tiga periode. Periode pertama disebut periode penaklukkan daerah-daerah kekuasaan Islam. pasukan Salib yang dipimpin oleh Godfrey of Bouillon mengorganisir strategi perang dengan rapih. Mereke berhasil menduduki kota suci Palestina (Yerusalem) tanggal 7 Juni 1099. Pasukan Salib ini melakukan pembantaian besar-besaran selama lebih kurang satu minggu terhadap umat Islam tanpa membedakan laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa, serta tua dan muda. Kemenangan pasukan Salib dalam periode ini telah mengubah peta dunia Islam dan situasi di kawasan itu.

Periode kedua, disebut periode reksi umat Islam (1144-1192). Jatuhnya daerah kekuasaan Islam ke tangan kaum Salib membangkitkan kesadaran kaum Muslimin untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi mereka. Di bawah komando Imaduddin Zangi, gubernur Mosul, kaum Muslimin bergerak maju membendung serangan kaum Salib. Bahkan mereka berhasil merebut kembali Allepo dan Edessa. Keberhasilan kaum muslimin meraih berbagai kemenangan, terutama setelah muculnya Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (Saladin) di Mesir yang berhasil membebaskan Baitulmakdis (Jerusalem) pada 2 Oktober 1187, telah membangkitkan kembali semangat kaum Salib untuk mengirim ekspedisi militer yang lebih kuat.

Periode ketiga, berlangsung tahun 1193 hingga 1291 ini lebih dikenal dengan periode kehancuran di dalam pasukan Salib. Hal ini disebabkan karena periode ini lebih disemanganti oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan sesuatu yang bersifat material dari pada motivasi agama.
(dam/berbagai sumber/RioL)



http://www.youtube.com/watch?v=6A3MH1jHurA

http://www.youtube.com/watch?v=0ATouSgG9RI



http://swaramuslim.com/streaming/nasyid/jefry/Istighfar.wma

Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan


sofiahdewi





Mengenang KARTINI
Sejarah Oleh : Redaksi 21 Apr 2004 - 4:47 pm





http://swaramuslim.com/streaming/nasyid/jefry/Iqra.wma

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]



1. Mukadimah

Bismillahirrahmanirrahiim.
Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita-wanita negerinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Kian hari emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya semakin meninggalkan semuanya, dan ingin kembali kepada fitrahnya.

Perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang. Dan dia belum sampai pada tujuannya. Kartini masih dalam proses. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak sepenuhnya dapat lepas dari kungkungan adatnya. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak dapat lepas dari pengaruh pendidikan Baratnya. Kartini bukan anak keadaan, terbukti bahwa dia sudah berusaha untuk mendobraknya. Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya : "Door Duisternis Tot Licht", yang terlanjur diartikan sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang". Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) - mengartikan kalimat "Door Duisternis Tot Licht" sebagai "Dari Gelap Menuju Cahaya" yang bahasa Arabnya adalah "Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur". Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang (petunjuk atau kebenaran). Di dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah : 257, ALLah menegaskan:

ALLAH pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya:

Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Kartini yang dikungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba meretas jalan menuju benderang. Tapi anehnya tak seorangpun melanjutkan perjuangannya. Wanita-wanita kini mengurai kembali benang yang telah dipintal Kartini. Sungguhpun mereka merayakan hari lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya. Gagasan-gagasan cemerlang Kartini yang dirumuskan dalam kamar yang sepi, mereka peringati di atas panggung yang bingar. Kecaman Kartini yang teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan. Kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang lelah menghadapi pertarungan ideologi. Jangan kecam Kartini. Karena walau bagaimana pun, beliau telah berusaha mendobrak adat, mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan.

Manusia itu berusaha, ALLAH lah yang menentukan. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900]

Demikian kata-kata Kartini yang mencerminkan suatu sikapnya yang tawakkal. Memang, kita manusia sebaiknya berorientasi kepada usaha dan bukan berorientasi pada hasil. Hal ini perlu, agar kita tidak kehilangan cakrawala. Agar kita tidak mengukur keberhasilan suatu perjuangan dengan batasan usia kita yang singkat. Pula agar kita tidak mudah untuk mengecam kesalahan yang dibuat oleh orang-orang sebelum kita. Bukan mustahil, jika kita dihadapkan dalam kondisi yang sama, kita pun akan berbuat hal yang serupa.

Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan dimintai pertanggung jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. [Al-Quran, surat Al-Baqarah : 134]



2. Siapakah Kartini?


Kartini lahir dari keluarga ningrat jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan : R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Dalam waktu singkat pendidikannya di Belanda, ia menguasai 26 bahasa: 17 bahasa-bahasa Timur dan 9 bahasa-bahasa Barat. Kartini sendiri secara formal pendidikannya hanya sampai pada tingkat Sekolah Rendah. Tapi beliau dapat memberikan kritik dan saran yang jelas kepada kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Dengan nota yang berjudul: "Berilah Pendidikan kepada bangsa Jawa", Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan Laut (Marine). Salah satu saran yang beliau ajukan kepada Departemen Kesehatan adalah sebagai berikut:

Para dokter hendaklah juga diberi kesempatan untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat menyolok, terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab. Jikalau seorang awam menceritakan bahwa darah cacing atau belut dapat menyembuhkan mata yang bengkak, mungkin ia akan ditertawakan. Namun adalah suatu kenyataan bahwa air kelapa dan pisang batu dapat dipakai sebagai obat. Soalnya, sebetulnya sangat sederhana : penyakit-penyakit dalam negeri sebaiknya diobati dengan obat-obatan dari negeri itu sendiri. Telah seringkali terjadi bahwa orang-orang sakit bangsa Eropa, teristimewa yang menderita penyakit disentri atau penyakit lain, yang oleh dokter-dokter sudah dinyatakan tak dapat disembuhkan, masih dapat ditolong oleh obat-obatan kita yang sederhana dan tidak membahayakan. Sebagai contoh, belum lama berselang, seorang gadis pribumi oleh seorang dokter dinyatakan menderita penyakit TBC kerongkongan. Dokter itu mengatakan bahwa ia hanya dapat bertahan 2 pekan dan akan meninggal dalam keadaan yang mengerikan. Dalam keadaan putus asa, ibunya membawanya kembali ke desanya untuk diobati. Dan gadis itu sembuh, menjadi sehat, tidak merasa sakit lagi dan dapat bicara kembali. Apa obatnya? Serangga-serangga kecil yang didapat di sawah, ditelan hidup-hidup dengan pisang emas. Pengobatan yang biadab? Apa boleh buat. Bagaimanapun obat itu menolong, sedang obat dokter tidak. Dokter-dokter kita, sebenarnya dapat mengumumkan kasus-kasus seperti itu, tetapi mereka tidak pernah melakukan hal demikian. Mungkin karena khawatir akan ditertawakan oleh para sarjana? Seorang dokter bumiputera yang pengetahuannya setaraf dengan rekannya bangsa Eropa, jika yakin akan sesuatu, mestinya harus berani menyatakan dan mempertahankan keyakinannya.

Dengan membaca petikan nota Kartini yang ditujukan kapada pemerintah Hindia Belanda tersebut, kita dapat memperkirakan daya nalar Kartini untuk ukuran jamannya.



3. Kartini Mendobrak Adat

Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah.

Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang didekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Menurut Kartini, setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Kartini paham benar bahwa saat itu, terutama di Jawa, keningratan seseorang diukur dengan darah. Semakin biru darah seseorang maka akan semakin ningrat kedudukannya. Kartini menentang keningratan darah.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Keningratan darah sekarang ini hanya tinggal sebagai barang antik di museum. Sebagai gantinya sekarang muncul keningratan-keningratan baru: keningratan pangkat, keningratan jabatan dan semacamnya. Puncak dari segala keningratan itu adalah keningratan ekonomi. Siapa yang paling banyak menyimpan harta, dialah yang paling ningrat. Semua dapat diatur olehnya. Keputusan dan kebijaksanaan semua orang akan berjalan erunduk-runduk di hadapan keputusan dan kebijaksanaan orang tersebut. Anehnya lagi, mereka yang mengaku sebagai Kartini-Kartini Masa Kini, tidak menentang keningratan-keningratan baru tersebut. Bahkan sebagian besar mereka menjadi korbannya, kalau tidak boleh dikatakan sebagai abdinya yang setia.



4. Kartini Memandang Ke Barat


Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa. [Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899]

Diskriminasi yang dilakukan penjajah Belanda terhadap bumiputera, telah menjatuhkan moral mereka. Kartini meskipun berasal dari kaum ningrat, tapi pendidikan Barat yang dikenyamnya telah mengajarkan kepadanya bahwa Timur itu rendah dan Barat itu mulia. Kartini bukannya tidak menyadari indoktrinasi ini, tapi kenyataan yang dilihatnya belum lagi dapat dibantah. Dalam dunia pendidikan misalnya, Kartini melihat perbedaan yang menyolok, antara apa yang dimiliki oleh Belanda dengan apa yang baru dapat dicapai oleh Bumiputera.

Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memiliki buku selain buku pelajaran sekolah. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902]

Dari sini nampak bahwa Kartini menyadari pentingnya peranan buku dalam mencerdaskan kehidupan anak manusia. Kalau masa kini, kebudayaan membaca terkalahkan oleh kebudayaan video, apakah jawabnya adalah Kartini masa kini sudah lebih maju dalam hal mendidik anak-anak mereka?

Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900]

Agar setaraf dengan Barat, Kartini merasa perlu untuk mengejar ilmu ke Barat. Barat adalah kiblat Kartini setelah melepaskan diri dari kungkungan adat.

Pergilah ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir. Surat Kartini kepada Stella [12 Januari 1900]



5. Sahabat-sahabat Dekat Kartini

Adat pada dewasa itu tidak memperkenankan seorang ningrat bergaul lekat dengan rakyat biasa. Ningrat harus bergaul dengan ningrat. Hal seperti ini sengaja dilestarikan oleh pemerintah kolonial, agar para ningrat kehilangan kepekaan terhadap problematika rakyatnya, menghindari keterpihakan ningrat kepada rakyat yang tertindas; sekaligus pula memperbesar jarak agar antara ningrat dan rakyat tidak tergalang suatu kekuatan untuk melawan penguasa. Dalam situasi demikian, dapat dipahami bila pergaulan Kartini hanya terbatas pada lingkungan keluarganya dan orang-orang Belanda saja. Pergaulan dengan orang-orang Belanda, tidaklah dilarang, karena orang Belanda dianggap lebih ningrat daripada orang Jawa. Kartini adalah seorang wanita yang mempunyai pemikiran jauh ke depan. Hal ini sudah diamati dan diketahui oleh teman-temannya bangsa Belanda. Banyak orang Belanda di Hindia Belanda maupun di negeri Belanda sendiri ingin menjalin persahabatan dengan Kartini, namun pada umumnya sebenarnya mereka ini adalah "musuh-musuh dalam selimut" yang ingin memperalat Kartini dan memandulkan pikiran-pikirannya. Berikut ini adalah beberapa teman dekat Kartini, yang sering terlibat diskusi maupun korespondensi dengannya :

- J.H. Abendanon
Abendanon datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900. Ia ditugaskan oleh Nederland untuk melaksanakan Politik Etis. Tugasnya adalah sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Karena 'orang baru' di Hindia-Belanda, Abendanon tidak mengetahui keadaan masyarakat Hindia-Belanda dan tidak paham bagaimana dan dari mana ia memulai programnya. Untuk keperluan itu, Abendanon banyak meminta nasihat dari teman sehaluan politiknya, Snouck Hurgronye, seorang orientalis yang terkenal sebagai arsitek perancang kemenangan Hindia-Belanda dalam Perang Aceh. Lebih jauh, Hurgronye mempunyai konsepsi yang disebut sebagai Politik Asosiasi, yaitu suatu usaha agar generasi muda Islam mengidentifikasikan dirinya dengan Barat. Menurut keyakinannya, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam, terutama golongan santrinya. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk membendung dan akhirnya mengatasi pengaruh Islam di Hindia Belanda. Tidak mungkin membaratkan rakyat bumiputera, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan. Untuk tujuan itu, maka langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh, untuk kemudian dibaratkan. Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini, dan untuk tujuan itulah Abendanon membina hubungan baik dengan Kartini. Kelak, Abendanonlah yang paling gigih berusaha menghalangi Kartini belajar ke Nederland. Ia tidak ingin Kartini lebih maju lagi.

- E.E. Abendanon (Ny. Abendanon)
Dia adalah pendamping setia suaminya dalam menjalankan tugasnya mendekati Kartini. Sampai menjelang akhir hayatnya, Kartini masih membina hubungan korespondensi dengannya.

- Dr. Adriani
Keluarga Abendanon pernah mengundang keluarga Kartini ke Batavia. Di Batavia inilah, Ny. Abendanon memperkenalkan Kartini dengan Dr. Adriani. Ia seorang ahli bahasa serta pendeta yang bertugas menyebarkan kristen di Toraja, Sulawesi Selatan. Dr Adriani berada di Batavia dalam rangka perlawatannya keliling Jawa dan Sumatera. Untuk selanjutnya, Dr. Adriani menjadi teman korespondensi Kartini yang intim.

- Annie Glasser
Ia adalah seorang guru yang memiliki beberapa akta pengajaran bahasa. Ia mengajarkan bahasa Perancis secara privat kepada Kartini tanpa memungut bayaran. Glasser diminta oleh Abendanon ke Kabupaten Jepara untuk mengamati dan mengikuti perkembangan pemikiran Kartini. Tidak mengherankan jika kelak Abendanon dapat mematahkan rencana Kartini untuk berangkat belajar ke Nederland, dengan mempergunakan diplomasi psikologis tingkat tinggi. Semua pihak telah gagal dalam segala upaya untuk menghalangi kepergian Kartini ke Belanda. Kartini telah berbulat tekad untuk ke Belanda. Tapi, tiba-tiba, Abendanon datang langsung dari Batavia ke Jepara untuk menemui Kartini tanpa perantaraan surat. Abendanon hanya berbicara beberapa menit saja dengan Kartini. Hasilnya? Kartini memutuskan untuk membatalkan keberangkatannya ke Belanda. Hal ini hanya mungkin jika Abandanon mengetahui secara persis kondisi psikologis Kartini; dan hal ini mudah baginya karena ia menempatkan Annie Glasser sebagai "mata-mata"nya.

- Stella (Estelle Zeehandelaar)
Sewaktu dalam pingitan (lebih kurang 4 tahun), Kartini banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Kartini tidak puas hanya mengikuti perkembangan pergerakan wanita di Eropa melalui buku dan majalah saja. Beliau ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Untuk itulah, beliau kemudian memasang iklan di sebuah majalah yang terbit di Belanda : "Hollandsche Lelie". Melalui iklan itu, Kartini menawarkan diri sebagai sahabat pena untuk wanita Eropa. Dengan segera iklan Kartini tersebut disambut oleh Stella, seorang wanita Yahudi Belanda. Stella adalah anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu. Ia bersahabat dengan tokoh sosialis; Ir. Van Kol, wakil ketua SDAQ (Partai Sosialis Belanda) di Tweede Kamer (Parlemen).

- Ir. Van Kol
Sebelum berkenalan dengan Kartini, Van Kol pernah tinggal di Hindia Belanda selama 16 tahun. Selain sebagai seorang insinyur, ia juga seorang ahli dalam masalah-masalah kolonial. Stella-lah yang selalu memberi informasi tentang Kartini kepadanya, sampai pada akhirnya ia berkesempatan datang ke Jepara dan berkenalan langsung dengan Kartini. Van Kol mendukung dan memperjuangkan kepergian Kartini ke negeri Belanda atas biaya Pemerintah Belanda. Namun, rupanya ada udang dibalik batu. Van Kol berharap dapat menjadikan Kartini sebagai "saksi hidup" kebobrokan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Semua ini untuk memenuhi ambisinya dalam memenangkan partainya (sosialis) di Parlemen.

- Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)
Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif. Dialah orang yang paling berperan dalam mendangkalkan aqidah Kartini. Pada walnya, ia bermaksud untuk mengkristenkan Kartini, dengan kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpedulian terhadap agama. Memang, agaknya setelah perkenalannya dengan Ny. Van Kol, Kartini mulai perduli dengan agamanya, Islam. Kepeduliannya ditandai dengan diakhiri gerakan "mogok shalat" dan "mogok ngaji".

Sekarang kami merasakan badan kami lebih kokoh, segala sesuatu tampak lain sekarang. Sudah lama cahaya itu tumbuh dalam hati sanubari kami; kami belum tahu waktu itu, dan Nyonya Van Kol yang menyibak tabir yang tergantung di hadapan kami. Kami sangat berterima kasih kepadanya. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 12 Juni 1902]

Setelah Kartini kembali menaruh perhatian pada masalah-masalah agama, mulailah Nellie Van Kol melancarkan missi kristennya.

Nyonya Van Kol banyak menceritakan kepada kami tentang Yesus yang tuan muliakan itu, tentang rasul-rasul Petrus dan Paulus, dan kami senang mendengar semua itu [Surat Kartini kepada Dr. Adriani, 5 Juli 1902]

Nyonya van Kol gagal untuk mengkristenkan Kartini secara formal, tapi ia berhasil untuk memasukkan nilai kristen ke dalam keislaman Kartini. Dalam banyak suratnya Kartini menyebut ALLAH dalam konsep trinitas.

Malaikat yang baik beterbangan di sekeliling saya dan Bapak yang ada di langit membantu saya dalam perjuangan saya dengan bapakku yang ada di dunia ini. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 12 Juli 1902]



6. Kartini Ingin Menjadi Muslimah Sejati

Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran). Ibu guru mengajinya memarahi beliau ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini.

"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?" [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Kyai Sholeh Darat ini - demikian ia dikenal - sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?"
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.

"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.

"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"


Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan "Door Duisternis Tot Licht". Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran. Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis.

Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah :
"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]

Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda :

"Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? .... Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?" [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]



7. Cita-cita Kartini Yang Sering Disalahartikan.

Kartini merasa bahwa hati kecilnya selalu mengatakan :

"Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ibu orang yang tertindas dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Petikan suratnya berikut ini adalah cita-cita Kartini yang banyak salah dimengerti :

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.



8. Pelajaran Bagi Umat Islam

Pada dasarnya Kartini ingin berjuang di jalan Islam. Tapi karena pemahamannya tentang Islam belum menyeluruh, maka Kartini tidak mengetahui panjangnya jalan yang akan ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. (Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini, beliau sudah berusaha, tapi ALLAH terlebih dahulu memanggilnya). Apabila kita mempelajari lebih jauh konsep-konsep yang diajukan Kartini, meskipun secara global adalah konsep Islam, tapi secara terperinci dan operasional, rancu dengan konsep-konsep Barat. Kita tahu sebagian besar teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani. Allah sudah memperingatkan kepada kita : Tidak akan pernah ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebelum kamu mengikuti tata cara mereka (Al-Quran, 2:120). Apa yang dialami Kartini merupakan sejarah yang senantiasa selalu terulangi. Setiap seseorang akan memperjuangkan Islam, maka tiba-tiba pihak-pihak yang tidak menyukai Islam akan bersatu untuk menghancurkannya. Bila posisi mereka lemah, maka mereka akan menempuhnya dengan cara yang halus dan tersembunyi. Tapi jika posisi mereka kuat, maka mereka akan menempuh cara-cara paksa. Secara tidak sadar Kartini menceritakan praktek keburukan umat Islam (bukan Islam yang buruk) kepada sahabat-sahabatnya non-Islam. Sehingga kelak kemudian hari menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam. Sebaik-baiknya sahabat non-Islam, walau bagaimanapun tidak akan membantu Islam (Al-Quran, 3:119-120). Kartini berjuang seorang diri dan tidak menghimpun para santri lain yang ada di pulau Jawa. Salah seorang sahabat RasuluLLah, Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan kepada kita bahwa: Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Dan Allah pun mencintai orang-orang yang berjuang di jalanNya dalam suatu barisan (Al-Quran, 61:4).

Wallahu'alam bissawab.

Reposting, sumber dari koleksi Isnet@
From: Abu Akhyar





Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan


sofiahdewi





http://swaramuslim.net/ACEH/setahun/Renungan1.m3u



SEKILAS TENTANG BIBEL

Dalam bentuknya yang sekarang, Bibel memuat dua kitab yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Umat Yahudi hanya beriman kepada Perjanjian Lama atau Taurat, sementara umat Nasrani menganggap Perjanjian Lama sebagai kitab yang berisi syariat-syariat agama, dan Perjanjian Baru atau Injil ditambah surat-surat sebagai perjanjian yang utama.

Dikarenakan kitab Injil tidak banyak mengandung hukum-hukum syariat maka umat Nasrani harus tetap mengacu pada kitab Taurat sebagaimana Yesus sendiri mengatakan dengan tegas bahwa ia datang untuk menyempurnakan apa yang telah dibawa oleh Nabi Musa. Dengan demikian, mereka beriman pada nash-nash Taurat itu dan memandangnya sebagai kitab suci Ilahi yang harus ditaati syariatnya.

Kata Injil berasal dari bahasa Yunani. Asal katanya adalah euaggelion. Dalam bahasa Yunani berarti hadiah, yang diberikan kepada orang yang mendengarkan berita gembira.

Bahasa Yunani bukan bahasa Yesus sendiri tetapi bahasa kaumnya. Pada waktu itu ia sendiri menggunakan bahasa Aramea. Jadi kata Injil tidak pernah disebutkan dalam risalah Yesus atau pada kitab sucinya. Tetapi mungkin kata "berita gembira" atau yang menyerupainya dalam bahasa Aramea. Bahasa itu masih bersaudara dengan bahasa Arab dan bahasa Ibrani.

Dalam Perjanjian Baru kata Injil disebutkan beberapa kali, tapi bukan dalam arti kitab. Hanya dalam arti kabar gembira atau kabar baik. Penggunaan kata Injil sebagai kitab suci yang dibawa Yesus baru digunakan pada pertengahan abad kedua Masehi. Ini berarti sesudah Yesus wafat seratusan tahun kemudian. Sedangkan Al Qur'anul Karim menggunakan nama itu pada risalah Yesus, karena nama itulah yang populer digunakan oleh umat Nasrani dan seluruh masyarakat di seluruh pelosok negeri. Al Qur'an turun enam abad setelah penggunaan kata Injil pada risalah Yesus, sehingga tidak ada nama yang lebih tepat digunakan untuk mengenalkannya pada kitab yang dibawa Yesus selain nama itu.

Absennya Yesus dari gelanggang masyarakat Yahudi membuat pemalsuan atau penyamaran risalah yang dibawanya meningkat. Kami menemukannya lewat
surat Paulus kedua kepada jemaat Tesalonika. Ia mengatakan, "Jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitahuan atau surat yang dikatakan dari kami." (II Tesalonika 2:2)

Dari sini jelaslah bahwa pembuatan dan pemalsuan surat-surat berkaitan dengan Mesias sudah tersiar di masyarakat pada masa Paulus. Bahkan lebih jauh lagi, pemalsuan ini juga sudah memuncak hingga banyak orang yang mengaku sebagai nabi. Mereka mengaku mendapat ilham dan mempertontonkan berbagai kecakapan yang dikatakan sebagai mukjizat. Peristiwa ini persis sama seperti yang diramalkan Yesus dalam ayat berikut:
"Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu, akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda mukjizat-mukjizat dengan maksud, kiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan." (Markus 13:22)

Untuk menyangkal tuduhan Yesus ini terhadap dirinya, maka Paulus pun mengatakan kepada jemaatnya di Roma: "Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang dusta?" (Roma 3:7)

Sejarah Gereja Romawi menjelaskan tentang peristiwa di abad kedua Masehi. Pada waktu itu telah terjadi perdebatan sengit antar umat Nasrani tentang keabsahan sistem para filosofi Yunani yang mereka anut. Mereka berdebat, apakah cara itu dibenarkan?

Tapi akhirnya cara itu mereka laksanakan juga. Ini didukung oleh kecerdikan para peneliti dan kritikus umat Nasrani. Dalam perdebatan itu juga terjadi krisis kejujuran. Berlandaskan alasan itulah dimulailah serial karangan Injil yang dipalsukan atau disamarkan sebagian isinya.

Umat Nasrani pada masa itu tidak memiliki keseragaman pendapat. Secara garis besar jemaat Nasrani terpecah menjadi dua golongan besar, yaitu Nasrani bertradisi Yahudi dan Nasrani bertradisi Yunani. Nasrani bertradisi Yunani inilah yang nantinya menjadi akar tumbuhnya umat Kristen di masa depan. Dalam hal ini Dr. C. Groenen ofm dalam bukunya 'Sejarah dogma Kristologi' mengungkapkan:






"…Justru orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani (diistilahkan: Helenis) sekitar tahun 40 mulai menyebarkan iman kepercayaan Nasrani di luar Palestina, tidak hanya di Samaria, tetapi juga di daerah Syiria, Mesir, dan Afrika Utara. Dan pewartaan juga diarahkan kepada orang bukan Yahudi, yang 'Yunani' tanpa latar belakang tradisi Yahudi, seperti halnya dengan orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani di Diaspora. Akibatnya: pengaruh alam pikiran Yunani atas refleksi umat mengenai iman kepercayaannya bertambah besar dan kuat. Dua-tiga generasi Kristen pertama tentu tidak seluruhnya lepas dari asal-usulnya, lingkup Yahudi pribumi. Tetapi asal-usul itu semakin bergabung dengan alam pikiran Yunani dan akhirnya unsur Yunani menjadi unsur utama dalam pemikiran umat Nasrani.

Alam pikiran Yunani pada awal tarikh Masehi memang serba sinkretis. Di dalamnya terserap bermacam-macam unsur dari kebudayaan-kebudayaan lain, tetapi secara dasariah alam pikiran itu tetap Yunani. Sinkretisme itu meliputi segala sesuatu dan boleh dikatakan terutama pemikiran religiuslah yang serba sinkretis. Segala apa dicampuradukkan melebur menjadi satu, tetapi sekaligus kabur tidak keruan. Dan di samping sinkretisme populer itu masih ada aliran filsafat bermacam-macam, yang berpangkal pada tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, Epikurus, Zenon (Stoa), Diogenes dan sebagainya. Dan filsafat itu sedikit banyak 'merakyat' ke mana-mana dan juga bercampur aduk. Orang-orang Yahudi di Diaspora, yang berkebudayaan Yunani tentu saja tidak terluput dari sinkretisme umum itu."
(hal. 35)

Lebih lanjut Dr. Groenem ofm membuat suatu pernyataan tentang karangan-karangan Perjanjian Baru sebagai berikut:

"Karangan-karangan itu agak fragmentaris. Ditulis dengan alasan tertentu, oleh orang tertentu dan bagi sidang pembaca tertentu. Semua karangan itu dikarang setelah umat Nasrani sudah berkembang sedikit, ditulis antara tahun 50-120 M. Dan tidak jarang di dalamnya bercampur aduk apa yang sudah 'tradisional' dan apa yang baru, apa yang berasal dari umat Nasrani yang murni Yahudi dengan apa yang disumbangkan umat Nasrani yang murni Yunani. Dan bagi kita sukar dipisahkan unsur-unsur yang berbeda latar belakangnya. Sudah penting bahwa seluruh Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan hanya di sana-sini masih ada bekas dari bahasa
Aram yang menjadi bahasa Yesus dan bahasa jemaah awal. Itu berarti bahwa bagi kita tidak ada lagi tersedia ungkapan iman umat Kristen dalam bentuknya yang awal. Semuanya sudah diolah sedikit oleh mereka yang terpengaruh oleh alam pikiran Yunani. " (hal. 37)

Tiap-tiap golongan, Nasrani Yahudi dan Nasrani Yunani, menempuh perkembangannya sendiri-sendiri. Karangan-karangan Perjanjian Baru, khususnya karangan-karangan Paulus, membuktikan bahwa di antara keduanya memang terjadi ketegangan dan bahkan permusuhan. Menurut penilaian umat Nasrani Yahudi, Paulus memang berbangsa Yahudi, tetapi toh tampil sebagai suara jemaah-jemaah Yunani. Dan jelas antara Paulus dengan jemaah Nasrani Yahudi tidak ada kesepahaman. Bagi umat Nasrani Yahudi Paulus dinilai sebagai 'pengkhianat' dan 'murtad' dari ajaran Yesus.

Kosa kata dalam Injil juga disinyalir telah banyak mengalami perubahan. Banyak sisipan ayat-ayat yang dapat merancukan paham monoteisme sebagai ajaran asli Yesus. Menurut Theodore Zahn mulanya kalimat keimanan dalam ajaran Nasrani masih berbunyi: "Saya percaya pada Allah Yang Maha Kuasa". Akan tetapi antara tahun 120 sampai tahun 210 M ada yang menambah kata 'Bapa' di depan kata Yang Maha Kuasa. Tindakan ini sempat dikecam keras oleh beberapa tokoh-tokoh gereja. Uskup Victor dan Zephysius mengutuk penambahan yang dianggap mencemari kemurnian kitab suci dan menentang pendapat yang mengatakan bahwa Yesus adalah salah satu dari oknum Tuhan. Penambahan tersebut adalah konsekuensi dari penerapan pendapat bahwa Yesus adalah 'Anak Tuhan'.







2. SEJARAH PENETAPAN PERJANJIAN BARU

Ajaran Paulus yang banyak mengandung mitos-mitos Yunani ternyata banyak mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitar Mediterania, Laut Tengah. Diantara para pendukungnya tersebut terdapat Ireneus (150-202 M), Tertulianus (155-220 M), Origens (185-254 M), dan Anthanasius (298-377 M). Anthanasius sendiri dikenal sebagai pelopor lahirnya dogma trinitas dalam sidang Nicea pada tahun 325 M. Di belakangnya berdiri pula Santo Agustinus (354-430 M) dan Gregoryus Nyssa (335-394 M). Mereka ini ikut berpikir dan berunding untuk memecahkan persoalan tentang Tuhan itu tiga tetapi satu. Maka tidaklah mengherankan bila kemudian kita mendengarkan ada konsili-konsili seperti konsili Nicea, konsili Efesus, konsili Alexandria dan lain-lain, di mana pada tiap-tiap konsili akan lahir pula suatu 'perkembangan baru dari Tuhan.'



Dalam Konsili Nicea Kaisar Konstantin yang agung mengumpulkan tiga ratus pastur untuk membuat suatu ketetapan. Mereka mengadakan kesepakatan dan mufakat tentang Injil yang benar. Tetapi ternyata mereka bukan memilih kebenaran berdasarkan historis dan pertukaran pikiran yang logis, tapi mereka menumpuk semua Injil yang ada di bawah meja makan malam kudus. Lalu mereka berdoa kepada Allah agar Injil yang benar terangkat ke atas meja dan membiarkan yang dianggap palsu tetap di bawah.

Setelah peristiwa ini, Kaisar Konstantin pun mengeluarkan dekritnya. Ia menyatakan bahwa semua Injil yang berbeda dengan keempat Injil (yang berlaku sampai sekarang) sebagai Injil palsu dan harus dibakar. Sayangnya pada masa itu, ternyata tidak semua orang mau menerima ajaran Paulus. Meskipun Kaisar Konstantin telah membuat satu ketetapan
baku yang harus dipatuhi semua rakyatnya nyatanya masih ada golongan-golongan seperti Nestorius (338-440 M) dan Arius (270-350 M) yang giat menentang. Kedua golongan ini terkenal dengan kegigihannya mempertahankan keyakinan bahwa tiada lain yang patut disembah melainkan Allah. Akibat dari pertentangan mereka inilah akhirnya timbul perburuan manusia yang tiada tara. Siapapun yang tidak mau mengikuti perintah Kaisar Konstantin, diasingkan ke seluruh negeri, bahkan di eksekusi dengan cara dibakar hidup-hidup, diadu dengan singa, diseret oleh kuda dan bahkan dihukum injak dengan seekor gajah.

Pater Mochim dalam bukunya 'Sejarah Gereja' antara lain menerangkan bahwa dekrit itu sudah jelas zalim dan tidak masuk akal. Sayangnya, setelah Kaisar Konstantin merasa bersalah dan membatalkan dekritnya, Arius yang diasingkan sudah meninggal sebelum sempat menerima keputusan pembatalan dekrit tersebut.

Perjanjian Baru pun ditetapkan terdiri dari 27 kitab, yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohanes, Kisah Para Rasul, dan surat-surat Paulus kepada jemaat Roma, jemaat Korintus, jemaat Galatia, jemaat Efesus, jemaat Filipi, jemaat Kolose, jemaat Tesalonika, Timotius, Titus, Filmon, orang Ibrani, kepada Yakobus, kepada Petrus, kepada Yohanes dan kemudian Wahyu kepada Yohanes. Kumpulan kitab-kitab pilihan itu disetujui juga oleh Paus Glasios pada tahun 492-496 M. Lalu diberinya ijin berkembang secara resmi. Maka sejak itu Perjanjian Baru berkembang pesat di kalangan umat Nasrani. Sebetulnya masih ada 158 Injil dan kitab lainnya yang dikatakan oleh para penafsir dan kalangan gereja sebagai Injil yang kudus. Sayangnya, kemudian Injil-Injil tersebut dianggap palsu dan hanya dianggap sebagai karangan biasa. Di antara Injil-Injil dan kitab-kitab itu dikatakan ada yang ditulis oleh Yesus sendiri, seperti suratnya kepada Epiko uros, kepada Propal, Kitab Perumpamaan dan Nasehat, Kitab doa-doa Mesias, Kitab Penciptaan Yesus dan Maria, dan kitab-kitab yang diturunkan dari langit. Selain itu juga masih terdapat Injil-Injil lain yang juga ikut diapokritkan, diantaranya adalah:

a. Injil Markion
b. Injil Mesir
c. Injil Eva
d. Injil Yudas
e. Injil Nicodemus
f. Injil Thomas
g. Injil Barnabas
h. Injil Matius (tidak sama dengan yang ada sekarang)
i. Injil Yosepus
j. Injil Duabelas
k. Injil Kebenaran
l. Injil Maria
m. Injil Yesus
n. Injil Andreas
o. Injil Pilipias, dan lain-lain

(diambil dari berbagai sumber)




Sesungguhnya, hampir seluruh nubuat Perjanjian Lama menunjuk pada Nabi Muhammad. Namun, oleh karena telah terjadi perombakan besar2an di dalam tubuh Perjanjian Lama, maka kita hanya bisa mengenali Muhammad melalui Nebayot, Kedar, Tema, dan lembah Baka. "Nebayot", "Kedar", dan "Tema" sangatlah penting, karena mereka adalah anak2 dari Nabi Ismail (Kejadian 25:13-15) dan memberi petunjuk terhadap kelompok masyarakat bangsa Arab. Sementara "Baka" menjadi penting, karena ia memberi petunjuk adanya perjalanan Nabi Ismail ke Mekah. Ada 6 kata kunci dalam mengidentifikasi Muhammad dalam Perjanjian Lama, yaitu: Nebayot, Kedar, Tema, Arab/Arabia, Baka, dan Paran.

Sepandai2nya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepandai2nya Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) menyembunyikan kebenaran, pasti ketahuan juga jejaknya. Kira2 inilah ungkapan yang paling tepat dalam mengungkap sosok Nabi Muhammad di dalam Perjanjian Lama.

[QS. 2:146. Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.]

[QS. 6:91. Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur'an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.]

[QS. 2:75. Apakah kamu masih mengharapkan mereka (Ahli Kitab) akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?]
[QS. 2:78-79. Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Alkitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.]


1. YEHEZKIEL (Bukti Kedar sebagai orang Arab dan terletak di jazirah Arab).

27:21 Arab dan semua pemuka Kedar berdagang dengan engkau dalam anak domba, domba jantan dan kambing jantan; dalam hal-hal itulah mereka berdagang dengan engkau.

Nubuat Perjanjian Lama banyak menyebut "Kedar", putra kedua Ismail (Kejadian 25:13), yang pada akhirnya menurunkan Nabi Muhammad. Tampak jelas dalam ayat di atas bahwa Kedar adalah suku bangsa Arab. Meski letaknya tidak disebutkan, tapi ini memberi petunjuk tentang lokasi atau status Kedar sebagai orang Arab yang berkaitan erat dengan kedatangan nabi setelah Yesus yang terlihat pada nubuat2 lainnya di bawah ini.





2. YESAYA (Kedar dan Tema bukti orang2 Arab).

21:13. Ucapan ilahi terhadap
Arabia. Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan!
21:14 Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti!
21:15 Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan.
21:16 Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: "Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis.
21:17 Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil

saja, sebab TUHAN, Allah Israel, telah mengatakannya."

Dalam ayat 13 terdapat kata "Arabia" yang memberi isyarat tentang kelompok bangsa Arab yang hendak melakukan hijrah. Pengikut Muhammad ketika itu masih sedikit. Dalam ayat di atas digambarkan hanya diikuti oleh orang2 Dedan (anak Yoksan anak Abraham). Muhammad adalah orang Quraisy keturunan Kedar, namun justru orang2 Quraisylah yang memberontak dakwah Muhammad.

Dalam ayat 14 terdapat kata "Tema", anak ke-9 Nabi Ismail yang terletak di Madinah. Ketika itu Muhammad beserta pengikutnya yang belum banyak, hendak diperangi oleh suku Quraisy (keturunan Kedar) di Mekah. Oleh karenanya, atas perintah Muhammad, mereka melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah (Dari sinilah tonggak tahun hijriyah dimulai). Kelompok Muhammad yang berhijrah dikenal dengan nama "Muhajirin", sementara orang2 Madinah yang menyambutnya dikenal sebagai kaum "Anshor".

Dalam ayat 17 terdapat kata "Kedar", anak kedua Nabi Ismail, yang menurunkan suku Quraisy dan bermata pencaharian sebagai pemanah (pemburu). Mata pencaharian Bani Kedar ini merupakan warisan dari nenek moyangnya, Ismail, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kejadian berikut ini:

21:20 Allah menyertai anak itu (Ismail), sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.
21:21 Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

[H.R. AT-TURMUDZI, dari Watsilah bin Al-Asqa r.a. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya, Allah telah memilih Ismail menjadi anak Ibrahim dan Dia telah memilih keturunan Kinanah menjadi keturunan Ismail dan Dia telah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah dan Dia telah memilih Hasyim dari Quraisy, dan Dia telah memilih aku dari keturunan Hasyim."]


3. MAZMUR (Tempat berziarah dan sumur Zam-Zam di Baka).

84:5 (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
84:6 (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.

Ayat2 di atas berbicara tentang tempat berziarah yang selalu ramai dikunjungi oleh hamba2 Tuhan, yaitu Baka/Mekah. Frasa "tempat yang bermata air" dalam ayat di atas memberi petunjuk kepada kita tentang kejadian ajaib Ismail ketika masih bayi, yaitu peristiwa terbentuknya Sumur Zam-Zam di lembah Baka. Dimanakah lokasi Baka selain di Jazirah Arab? Al-Qur'an dengan tegas menyatakan bahwa Baka adalah Mekah. Berikut pernyataan Al-Qur'an:

[QS. 3:96-97. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Baka (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa




Mka mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.]

[QS. 14:35,37. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala...Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."]

[QS. 90:1-2. Aku benar-benar bersumpah dengan
kota ini (Mekah), dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini,]




4. YESAYA ("Inilah Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan" yang dikutip oleh 4 pengarang injil kanonik sebagai inspirasi karangan mereka ketika "membaptis" Yesus, lihat ayat 1).

42:1. Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
42:2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.
42:5. Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya:
42:6 "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
42:7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
42:8 Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. 42:9 Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu."
42:10 Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi
! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya.
42:11 Baiklah
padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung!
42:12 Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.
42:13 TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan kepahlawanan-Nya.
42:14 Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap.
42:15 Aku mau membuat tandus gunung-gunung dan bukit-bukit, dan mau membuat layu segala tumbuh-tumbuhannya; Aku mau membuat sungai-sungai menjadi tanah kering dan mau membuat kering telaga-telaga.
42:16 Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan.
42:17 Orang-orang yang percaya kepada patung pahatan akan berpaling ke belakang dan mendapat malu, yaitu orang-orang yang berkata kepada patung tuangan: "Kamulah allah kami!"
42:18 Dengarkanlah, hai orang-orang tuli pandanglah dan lihatlah, hai orang-orang buta!
42:19 Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba TUHAN?
42:20 Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak


mendengar.
42:21 TUHAN telah berkenan demi penyelamatan-Nya untuk memberi pengajaran-Nya yang besar dan mulia;
42:22 namun mereka suatu bangsa yang dijarah dan dirampok, mereka semua terjebak dalam geronggang-geronggang dan disembunyikan dalam rumah-rumah penjara; mereka telah menjadi jarahan dan tidak ada yang melepaskan, menjadi rampasan dan tidak ada yang berkata: "Kembalikanlah!"
42:23 Siapakah di antara kamu yang mau memasang telinga kepada hal ini, yang mau memperhatikan dan mendengarkannya untuk masa yang kemudian?
42:24 Siapakah yang menyerahkan Yakub untuk dirampas, dan
Israel kepada penjarah? Bukankah itu TUHAN? Sebab kepada-Nya kita telah berdosa, dan orang tidak mau mengikuti jalan yang telah
ditunjuk-Nya, dan kepada pengajaran-Nya orang tidak mau mendengar. 42:25
Maka Ia telah menumpahkan kepadanya kepanasan amarah-Nya dan peperangan yang hebat, yang menghanguskan dia dari sekeliling, tetapi ia tidak menginsafinya, dan yang membakar dia, tetapi ia tidak memperhatikannya.

Yesaya 42:1-25 di atas adalah satu kesatuan ayat yang tak terpisahkan, karena ia meramalkan kedatangan seorang Nabi bukan Yesus! Justru ayat2 di atas membuka tabir kebohongan peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis sebagaimana dimaksud Matius
3:15-17; 12:16-21, Markus 1:9-11, Lukas 3:21-22, dan Yohanes 1:32-34.

Perlu dicatat, bahwa Yesaya 42:1 di atas menjelaskan tentang konsep "hamba" yang telah dipilih oleh Tuhan untuk seluruh alam semesta, dan secara tegas Al-Qur'an berbicara mengenai hal tersebut:

[QS. 25:1. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,]

Dalam ayat 10 di atas terdapat frasa "nyanyian baru" yang berarti syariat baru. Yesus datang bukan untuk membawa syariat baru, melainkan hanya untuk menggenapi syariat Taurat dan kitab2 para nabi (Matius
5:17-20). Sedangkan Muhammad datang untuk membawa syariat baru bagi semesta alam. Dengan tegas Al-Qur'an menyatakan:

[QS. 21:107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.]

[QS. 38:86-87. Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. Al Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.]

Dalam ayat 11 terdapat frasa "didiami Kedar". Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, bahwa Bani Kedar adalah orang2 Arab keturunan Nabi Ismail di Mekah. Kemudian juga terdapat frasa "Bukit Batu". Mekah juga secara geologis terkenal dengan gunung2 batunya. Sedangkan Yesus adalah keturunan Ishak, adik Ismail, dengan "memaksakan" garis keturunannya melalui jalur Yusuf, bapak tiri Yesus, oleh karena Yesus lahir dari perawan suci Maria (Matius 1:1-18 dan Lukas 3:23-38). Lebih jauh, ayat ini memberi isyarat adanya ibadah haji yang mengagungkan asma Allah dengan bertahmid dan bertalbiah.

Dalam ayat 13 terdapat frasa "Tuhan keluar berperang seperti pahlawan". Ayat ini jelas2 mengindikasikan kedatangan Muhammad, yang senantiasa dakwahnya diiringi dengan peperangan fisik. Perang yang terkenal dan dahsyat ialah Perang Badar. Sementara Yesus digambarkan Alkitab sebagai sosok yang lemah dan tidak pernah berperang atau memimpin peperangan secara fisik. Bahkan "Yesus" mati dibantai umatnya sendiri di tiang salib.

Dalam ayat 17 terdapat frasa " Orang-orang yang percaya kepada patung pahatan akan berpaling ke belakang". Sebelum Muhammad resmi menjadi Nabi, orang2 Arab pada waktu itu adalah penyembah berhala, bahkan mereka meletakkan berhala2nya di sekeliling Ka'bah hingga mencapai 365 buah. Sedangkan Umat
Israel ketika Yesus diutus, bukanlah penyembah berhala dari patung2 buatan manusia, oleh karena mereka sudah mengenal Taurat dan kitab2 para nabi.

Dalam ayat 18 terdapat kata2 ungkapan "buta" dan "tuli". Kata "buta" merupakan ungkapan Tuhan yang dapat diartikan sebagai "tidak dapat membaca dan menulis", sedangkan kata "tuli" dapat diartikan sebagai "tidak pernah mendengar satu kitab pun sebelumnya". Umat Muhammad ketika

beliau diutus adalah umat yang buta huruf. Dalam tradisi Islam dikenal sebagai Zaman Jahiliyah (zaman kebodohan). Ini berbeda dengan umat Israel yang sudah pandai merubah2 Taurat dan kitab2 para nabi. Tentang kaum buta huruf ini, diabadikan di dalam Al-Qur'an:

[QS. 62:2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,]

Dalam ayat 19 digambarkan bahwa "hamba yang dipilih Tuhan" itu adalah seorang hamba yang


"buta dan tuli", artinya bahwa "hamba yang dipilih Tuhan" itu adalah seorang hamba yang "tidak dapat membaca dan menulis" dan "belum pernah mengenal satu kitab pun sebelumnya". Al-Qur'an dengan gamblang mengabadikannya:

[QS. 7:157. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang tidak dapat membaca dan menulis, yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.]

[QS. 42:52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.]

Sedangkan ayat 20 di atas menggambarkan sifat orang2 kafir baik pada masa kerasulan Muhammad maupun sesudahnya yang tidak mau tahu dan tidak mau mengerti agama Islam. Hal ini dijelaskan juga dalam Al-Qur'an:

[QS. 2:18. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)].


5. YESAYA ("Roh seperti burung merpati" yang dikutip oleh 4 pengarang injil kanonik ketika "membaptis" Yesus, lihat ayat lapan).

60:1. Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.
60:2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.
60:3 Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.
60:4 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong.
60:5 Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu.
60:6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN.
60:7 Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.
60:8 Siapakah mereka ini yang melayang seperti awan dan seperti burung merpati ke pintu kandangnya?





[/color]

[color="#483d8b"]Yesaya 60:1-8 di atas adalah satu kesatuan ayat yang tak terpisahkan, karena ia juga meramalkan kedatangan seorang Nabi bukan Yesus! Justru ayat2 di atas membuka tabir kebohongan peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis sebagaimana dimaksud Matius 3:15-17; 12:16
-21, Markus 1:9-11, Lukas 3:21-22, dan Yohanes 1:32-34.

Ayat 1 di atas menggambarkan Firman Tuhan kepada Muhammad sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an:

[QS. 74:1-3. "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu, agungkanlah"]

[QS. 26:196-197. Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israel


mengetahuinya?]

Ayat 2-6 menggambarkan keadaan Jazirah Arab pada saat itu yang diliputi kegelapan. Mereka semua hidup dalam kebodohan, tidak ada aturan, menyembah berhala, dan lain2. Setelah dibangkitkannya Muhammad, seluruh Jazirah Arab tunduk patuh di bawah kekuasaannya. Digambarkan dalam ayat di atas bahwa orang2 dari Midian (adik Ismail) dan Efa (anak sulung Midian) pun berduyun2 memeluk agama Islam.

Dalam ayat 7-8 terdapat kata "Kedar" dan "Nebayot" yang merupakan orang2 keturunan Nabi Ismail sebagaimana dijelaskan di atas. Digambarkan bahwa mereka pada akhirnya berduyun2 memeluk agama Islam dan mempersembahkan korban dan mengagungkan nama Tuhan pada musim haji.


6. ULANGAN & HABAKUK (Pegunungan Paran).

ULANGAN 33:2 Berkatalah ia: "TUHAN datang dari Sinai (Taurat) dan terbit kepada mereka dari Seir (Injil); Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran (Al-Qur'an) dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; di sebelah kanan-Nya tampak kepada mereka api yang menyala.




HABAKUK 3:3. Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. Sela. Keagungan-Nya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya.
3:4
Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya (Al-Qur'an) dari sisi-Nya dan di situlah terselubung kekuatan-Nya.





PARAN, adalah nama varian kuno dari Baka/Mekah, karena di Mekahlah tempat tinggal nabi Ismail hingga dikebumikannya (lihat QS. 2:125; 14:37), dan Muhammad adalah satu2nya nabi/rasul keturunan Ismail dari putra keduanya, Kedar. Lebih jelas tentang Paran dan Ismail, baca Kitab Kejadian di bawah ini:

21:20 Allah menyertai anak itu (Ismail), sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. 21:21
Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Jika kata "Paran" sebagaimana dimaksud Kitab Kejadian 21:20-21 di atas terdapat di sekitar Palestina, maka kata "Paran" dalam ayat tersebut harus direvisi, karena tidak ada bukti sama sekali bahwa Ismail, semenjak bayi hingga dikuburkannaya, berada di sekitar Palestina. Justru bukti2 kuatnya terdapat di lembah Baka/Mekah, yaitu: kuburan Ismail, Sumur Zam Zam, Hijir Ismail, Bukit Shafa dan Marwah, keturunan Ismail, Ka'bah yang dibangun bersama bapaknya, Ibrahim, dan maqam Ibrahim.

[QS. 2:125. Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud"]






[QS. 2:127-129. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah (Ka'bah) bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.]


7. KITAB KEJADIAN (Pemeliharaan Sunat).

17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu (Abraham) serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
17:14
Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."

Realitanya, yang memegang teguh perjanjian tersebut hingga hari kiamat adalah umat Islam, karena umat Kristen tidak disyariatkan untuk sunat, sebagaimana pernyataan pendiri Kristen, Paulus Tarsus dalam 1 Korintus berikut ini:

7:18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.
7:19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.

Umat Kristen lalai, bahwa perintah sunat merupakan kewajiban setiap individu laki2 yang diperintahkan Tuhan dalam Taurat yang tidak bisa dibantah hanya oleh seorang Paulus Tarsus.




Sangat mungkin, Paulus menyatakan demikian karena dia sendiri enggan disunat.


8. KEJADIAN (Sholawat Nabi).

12:2 Aku akan membuat engkau (Abraham) menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Jelas sekali, bahwa ayat2 di atas bercerita tentang Sholawat Nabi (Muhammad dan Ibrahim) yang senantiasa dibaca oleh umat Islam ketika duduk tasyahud/takhiat akhir dalam sholat. Tidak ada umat lain yang selalu memuliakan Nabi Ibrahim kecuali umat Islam. Umat Kristen sendiri, yang mengklaim Perjanjian Lama sebagai kitabnya, tidak pernah memuliakan Nabi Ibrahim.

[QS. 33:56-57. Sesungguhnya Allah dan malaikat2-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang2 yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Sesungguhnya orang2 yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.]



9. KEJADIAN (Perjanjian Allah dengan Abram/Abraham).

15:18
Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:

Dari pihak siapakah keturunan Abram/Abraham akan menguasai wilayah tersebut? Jawabannya sudah pasti, Ismail !!!




Dalam ayat di atas sudah sangat jelas, dan realitanya memang demikian (sebenarnya lebih luas lagi), bahwa keturunan Ismail (bangsa Arab) menyebar dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Irak. Sementara bangsa Israel (keturunan Ishak) hanya menguasai sebagian dari wilayah Palestina (Kanaan).

Ayat di atas juga seolah2 mencocokkan pasangan Abraham dengan Hagar, sebagaimana dijelaskan Taurat sendiri bahwa Abraham berasal dari negeri Ur-Kasdim di pesisir Sungai Efrat, sedangkan Hagar berasal dari negeri Mesir dekat Sungai Nil.

[QS. 3:67-68. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.]



10. YEREMIA ("damai sejahtera" atau "Shalom").

28:9 Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN."

Ayat di atas bercerita tentang "damai sejahtera" yang asal kata Ibraninya adalah "shalom" dan dalam bahasa Arabnya adalah "Salam" atau "Islam" (lihat QS 3:19; 5:3). Muhammad jelas2 mengemban misi Islam, dan sekarang sudah digenapi oleh pemeluk agama Islam, terutama seluruh jazirah Arab yang tunduk pada agama Islam. Muhammad juga banyak bernubuat, namun tidaklah cukup dimuat di sini. Salah satunya adalah nubuat yang berkaitan dengan cucu beliau yang bernama Husain, yang ketika masih kecil sudah diramalkan oleh Muhammad bahwa ia akan mati dipenggal kepalanya di
padang Karbala, Irak. Dan, memang benar2 terbukti!

Sementara Yesus membantah nubuat tersebut, bahwa kedatangannya bukanlah membawa damai di bumi, melainkan pertentangan. Berikut pernyataan Yesus menurut Alkitab:

LUKAS:

12:51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
12:52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
12:53
Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

MATIUS:

10:34
"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.


11. YESAYA ( Injil dan Al-Qur'an).




29:11 Maka bagimu penglihatan dari semuanya itu seperti isi sebuah kitab yang termeterai, apabila itu diberikan kepada orang yang tahu membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat, sebab kitab itu termeterai";
29:12 dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat membaca."

Ayat2 di atas berbicara tentang penyampaian Kitab Suci dari Tuhan. Ayat 11 tampaknya menunjuk pada Yesus, sebab menurut versi Islam, Yesus menerima Injil hanya dalam satu kali turun saja. Sementara ayat 12 dengan jelas bernubuat tentang Muhammad, dimana ketika berada di Gua Hira, Muhammad menerima wahyu pertama kalinya berupa Al-Qur'an Surat Al-'Alaq (96):1-5, yang diabadikan oleh Al-Hadits riwayat Bukhari berikut ini:

[HR. BUKHARI. Malaikat itu mendekapku (Muhammad) sampai aku sulit bernapas. Kemudian, ia melepaskanku dan berkata, "Bacalah!" Kujawab, "Aku tak dapat membaca." Ia mendekapku lagi hingga aku pun merasa tersesak. Ia melepasku dan berkata, "Bacalah!" dan kembali kujawab, "Aku tak dapat membaca!" Lalu, ketiga kalinya, ia mendekapku seperti sebelumnya, kemudian melepaskanku dan berkata: "baca QS. 96:1-5"].


12. KITAB KIDUNG AGUNG (Ciri2 Muhammad).



5:10 --Putih bersih dan merah cerah kekasih-Ku, menyolok mata di antara 10.000 orang. (New/King James Version Bible, New Revised Standard Version Bible, Third Millennium Bible, dan lain2).

5:16 Kata-katanya manis semata-mata, dia (Muhammad) sungguh sangat digemari. Demikianlah kekasih-Ku, demikianlah teman-Ku, hai puteri-puteri Yerusalem. (New/King James Version Bible, New Revised Standard Version Bible, Third Millennium Bible, dan lain2).

Lihat juga Ulangan 33:2 di atas tentang 10.000 orang pengiring Muhammad.

Penjelasan ayat 10:

Menurut saudara sepupu sekaligus menantu Muhammad, yaitu Ali bin Abu Thalib, ciri2 Muhammad adalah: "...Tubuh beliau tidaklah terlalu gemuk, mukanya bundar, warnanya PUTIH BERCAMPUR MERAH..." (H.R. TIRMIDZI dalam Sunan dan Syama'ilnya). Sedangkan menurut Anas bin Malik, ciri2 Muhammad adalah: "...wajahnya terang bercahaya, tubuhnya tidak terlalu PUTIH dan tidak pula terlalu MERAH..." (H.R. BUKHARI, MUSLIM, dan TIRMIDZI). Ketika memasuki kota Mekah pada tahun 630 M dalam keadaan aman dan damai yang dikenal dengan peristiwa "Fathu Makkah", Muhammad disertai 10.000 pengikut yang saleh (STANLEY LANE POOLE, Speeches and Table Talks of the Prophet Mohammed 1882). Dalam literatur lain dikatakan: "Nabi Muhammad berangkat bersama dengan 10.000 orang pada saat yang menentukan ini" (WASHINGTON IRVING, Life of Muhammad, Hal. 17). Sementara itu, dalam literatur lain juga, Abu Sufyan berteriak untuk mengumpulkan orang2: "Wahai orang2 Quraisy, Muhammad telah berada di sini dengan kekuatan yang tidak dapat kalian lawan. Muhammad bersama 10.000 pasukan baja..." (MARTIN LINGS, Muhammad, hal. 474).


Ewan_sn
Testing...
sofiahdewi





MCB-09 : Al Ihya Ulumuddien : Menghidupkan Kembali Ilmu Ilmu Agama
Oleh : Erros Jafar 01 Dec, 03 - 2:38 am






Al Ihya Ulumuddien
Menghidupkan kembali ilmu ilmu agama
karangan Imam Al Ghazali





Karangan Imam Ghazali
Assalamu'alaikum wr wb
Bersama kami mengajak antum antum berinteraksi untuk menghimpun buku Al Ihya Ulumuddien karangan Imam Besar (Al Ghazali). Buku tersebut sangat langka... dan sekarang ini sangat sulit menemukannya ditokok toko buku (kalaupun ada mungkin sangat mahal harganya), padahal isinya sangat bagus untuk pedoman kita umat Islam dalam bersyariat.

Kami tim admin swaramuslim kesulitan mencari file buku tersebut dalam bentuk teks file *.txt. Oleh karena itu kami mengajak antum untuk langsung menghimpunnya di e-book swaramuslim dengan langsung mengisi ke Bab Bab sesuai daftar isi yang telah kami buat URLnya di : http://mcb.swaramuslim.net/index.php?section=9&page=-1



Wassalam





SURAT IMAM AL-GHAZALI
Kepada Salah Seorang Muridnya


Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh segala hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira bahwa di dalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsuf - filsuf.

Ia tidak tahu bahwa ketika telah ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulullah SAW: "Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu".

Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang.

Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindunginya dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali jika diangkat, dipukulkan dan ditikamkan!

Demikian pula, jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.

Wahai anak! berapa malam engkau berjaga guna mengulang - ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia, atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau.

Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulullah SAW, dan menyucikan budi pekertimu, dan menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, 'Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata. Jika tak karena Allah semata'.

Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu. Namun Ingat! bahwasannya engkau akan mati. Dan cintalah siapa yang engkau sukai. Namun Ingat! Engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki. Namun ingat! Engkau akan menerima balasannya nanti.
masing-masing.



6 PERTANYAAN IMAM AL GHOZALI.

Imam Al Ghozali dikenal sebagai ulama besar. Di akhir hidupnya beliau lebih menekuni tasawuf. Karya besar beliau berjudul Ihya Ullumudin. Sedangkan karya yang lain adalah 'Tahafut Al-Falasifa' kerancuan berpikir ahlu filsafat. Buku ini menjadikannya polemik dengan Ibnu Rusdy (setelah Al-Ghazali meninggal).

Imam Al Ghozali mempunyai 6 pertanyaan penting:


1. "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan kerabatnya.

Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)


2. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang.

Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak boleh kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.


3. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawah gunung, bumi,dan matahari.

Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus
hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.


4. "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah.

Semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin)
di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.


5. "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan.

Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.


6. "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang...

Benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, Manusia dengan mudah menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.




Nasyid Ustd.Jefry Al Buchory

http://swaramuslim.com/streaming/nasyid/jefry/radio.m3u




Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan


sofiahdewi




Cara Mudah Hancurkan Zionis (Bag.1)
Oleh : Redaksi 11 Jun 2007 - 4:00 pm



Kamis dinihari, 7 Juni 2007, saat matahari masih terlelap dalam tidurnya, sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk di ponselku dan pesannya cukup jelas:. "Hadiri 'MUNASHOROH PALESTINA' utk menentang 40th pejajahan Yahudi terlaknat. Ahad 10/6 di HI... "

Aku tersenyum. Tiba-tiba saja aku teringat salah satu sabda Rasulullah SAW, "Ilmu qobla 'amal". Ilmu sebelum beramal, yang memiliki arti sebagai: Sebelum melakukan sesuatu, hendaknya engkau mengetahui dengan benar apa yang akan kau lakukan. "

Pesan tersebut mengandung niat yang sungguh mulia. Semua manusia yang memiliki nurani pasti akan mendukungnya. Namun kalimat pesan tersebut mengandung bias dengan adanya tulisan "40th penjajahan Yahudi terlaknat. "

Yang tidak diketahui banyak kalangan, tidak semua Yahudi itu Zionis. Bahkan ada banyak orang-orang Yahudi yang dengan gigih menentang Zionisme. Sebut saja Rabbi Yisroel Dovid Weiss dengan kelompok Neturei Karta-nya di Amerika, Norman Finkelstein yang membuka kedustaan kaum Zionis soal Holocoust, Noam Chomsky yang membeberkan kelakuan Zionis-Amerika sehingga dengan berani menyebut AS sebagai 'The Rogue State' (Negara Bajingan), dan sebagainya. Saya yakin, orang-orang Yahudi yang berjuang keras menentang dan melawan Zionisme ini tentu tidak terlaknat.




Detail Galery Dapat dilihat di
http://swaramuslim.net/galery/boycott/inde...ancurkan_zionis


Di sisi lain, ada banyak orang-orang Melayu, Anglo-Saxon, dan ras selain Yahudi yang secara aktif membantu Zionisme Internasional. Ironisnya, di negeri ini ternyata ada banyak orang yang mengaku Muslim yang turut membantu penjajahan Zionis-Israel di Palestina. Di negeri ini ada banyak orang yang turut menyumbangkan uangnya untuk dijadikan senjata-senjata dan peluru-peluru tentara Zionis yang pada akhirnya membunuhi bayi-bayi Palestina yang tak berdosa dan para Mujahidin Palestina lainnya.


Masih Beli McDonald's?

Dari Senin hingga Jum'at ba'da maghrib, dalam perjalanan pulang dari kantor, saya nyaris selalu melewati resto McDonald's di Pondok Indah, Jakarta. Hampir setiap malam resto itu penuh oleh pembeli. Banyak di antara mereka perempuan-perempuan berjilbab. Tahukah mereka jika sebagian keuntungan dari McD itu disalurkan ke Israel? Tahukah mereka jika CEO McD yang bernama Jack M Greenberg menjabat sebagai Direktur Kehormatan American-Israel Chamber of Commerce and Industry—Kadinnya Amerika—yang berlokasi di Chicago?

McDonald yang telah berdiri di lebih 121 negara, dengan jumlah armada restorannya sekitar 30. 000 buah, merupakan rekanan dari Jewish United Fund dan Jewish Federation. Sebab itu, ketika dalam perayaan 100 tahun berdirinya Jewish United Fund dan Jewish Federation di Chicago-AS di tahun 2002, McD mendapat penghargaan dari dua organisasi zionis itu sebagai perusahaan penyumbang ketiga terbesar di dunia setelah AOL Corporation dan Illinois Tool Works Foundation kepada Zionis-Israel.

Walau fakta-fakta ini sudah tersebar ke seluruh dunia sejak tahun 2000-an lalu, namun masih teramat banyak saudara-saudara kita yang mengabaikan hal tersebut. Ironisnya, di Makkah, sebuah kota suci umat Islam, resto McD bahkan telah mendirikan sekurangnya dua gerainya. Dan di Saudi Arabia sendiri McD telah mendirikan sekitar 71 gerai restonya. Pangeran Misha-al-bin Khalid bin Fahad al-Faisal Al-Saud tercatat sebagai pemegang lisensi restoran McD di Saudi Arabia. Dia bukan Yahudi. Tapi jelas terlaknat!

Sesungguhnyalah, jika ada seseorang—siapa pun dia—yang membeli produk makanan rekanan Zionis-Israel tersebut, maka dia telah ikut andil dalam pembunuhan bayi-bayi Palestina!

Sesungguhnyalah, jika ada seseorang—siapa pun dia—yang membeli dan memakan produk makanan rekanan Zionis-Israel tersebut, maka dia sebenarnya tengah memakan, mengunyah, dan memamah daging bayi-bayi Palestina yang telah dibunuhnya!


Bukan Hanya McDonald's

Sahabat Zionis-Israel bukan cuma McDonald's. Di dunia ini ada banyak sekali perusahaan-perusahaan yang secara aktif dan giat menyalurkan sebagian labanya kepada Zionis-Israel. Ironisnya, perusahaan-perusahaan tersebut bisa hidup dari menyedot uang milik kaum Muslimin seluruh dunia. Kenyataan ini membuat ulama besar asal Qatar, Dr. Yusuf Qaradhawy, pada November 2000 mengeluarkan fatwanya yang sangat monumental:

"Tiap-tiap riyal, dirham, dan sebagainya, yang digunakan untuk membeli produk dan barang Israel atau Amerika, dengan cepat akan menjelma menjadi peluru-peluru yang merobek dan membunuhi pemuda dan bocah-bocah Palestina. Sebab itu, diharamkan bagi umat Islam membeli barang-barang atau produk musuh-musuh Islam tersebut. Membeli barang atau produk mereka, berarti ikut serta mendukung kekejaman tirani, penjajahan, dan pembunuhan yang dilakukan mereka terhadap umat Islam... "


Fatwa ini didukung oleh ulama-ulama dan cendekiawan Muslim dunia seperti Syaikh Al-Azhar Ath-Thantawy, Dr. Abdul Satar Fathullah Said (Dosen Syariah Universitas Al-Azhar), Dr. Naser Farid Wasil (mantan Mufti Mesir), Dr. Muhammad Imarah (Pemikir Muslim Dunia), Dr. Abdul Hamid Ghazali (pakar ekonomi dan politik Islam), dan sebagainya. Puluhan ulama Sudan juga menulis surat dukungan terhadap fatwa tersebut.

Di Lebanon, Ayatullah Sayyid Muhammad Husayn Fadhlullah mengeluarkan fatwa sejenis pada tanggal 20 November 2000. Dari Iran, dari Markas Besar di Kota Qum, Imam Syed Ali Khamenei mengeluarkan fatwa mengharamkan membeli produk dan barang buatan Zionis-Israel dan seluruh negara yang mendukung Zionisme.

"Tiap-tiap transaksi dengan perusahaan yang mana pasti memberikan laba kepada mereka, pada hakikatnya adalah tindakan menolong musuh-musuh Islam dan Muslim, dan juga berarti mendukung rezim Zionis-Israel. Ini adalah perbuatan haram. Membeli produk dan barang dagangan mereka sama saja melakukan tindakan yang tidak bermoral, ini tentu saja tidak dibenarkan. "


Pemimpin Muslim Irak, Ayatullah as-Sayyid Ali as-Seestani juga mengeluarkan fatwa sejenis.

Yang menarik, fatwa Dr. Yusuf Qaradhawy ini ternyata juga direspon sangat positif oleh banyak sekali aktivis kemanusiaan Eropa dan Amerika. Mereka bukan orang Islam, bahkan kelompok Yahudi anti Zionisme yang ada di AS seperti Kelompok Neturei-Karta, dengan tegas menyatakan bahwa Zionisme dan Talmud adalah ajarannya Iblis.

Fatwa Boikot Dr. Qaradhawy bergema ke seluruh dunia. Di Eropa timbul gelombang pasang aksi boikot terhadap Zionis-Israel dan Zionis AS. Inilah beberapa kejadian di antaranya yang dikutip dari buku "Ketika Rupiah Jadi Peluru Zionis" (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2005):
- Belgia: Negara Eropa ini adalah pelopor suatu kampanye internasional untuk memboikot perusahaan-perusahaan minyak AS. Kampanye anti-AS itu dilakukan dalam rangka mengecam invasi AS atas Irak.

Aksi-aksi boikot itu dilakukan aktivis kemanusiaan Belgia dengan jalan menutup stasiun-stasiun bahan bakar milik perusahaan minyak AS seperti Esso dan Texaco di hampir seluruh wilayah Belgia. Di SPBU Esso di provinsi Gent misalnya, aksi boikot itu digelar dalam bentuk pergelaran happening art, ada sebuah karpet menutup mayat-mayat manusia, lalu sekelompok marinir AS bersenjata, dan sosok Presiden George W. Bush. Adegan itu untuk menggambarkan ribuan warga Irak tak berdosa yang menjadi korban ambisi perang minyak yang dikobarkan AS di Irak. Aksi itu juga menyimbolkan betapa ladang-ladang minyak dan gas penting milik Irak telah dirampok dan kemudian dijual perusahaan multinasional AS, Esso dan Texaco.

Organisasi HAM "For Mother Earth" sebagai salah satu anggota aliansi LSM "Kampanye Boikot Bush" memaparkan hal ini dalam pernyataan persnya yang dirilis Sabtu (14/6/03) di Belgia. Aliansi LSM "Kampanye Boikot Bush" merupakan satu koalisi LSM internasional yang terdiri dari Attac, America Watchers, For Mother Earth, dan Christian Movement for Peace.

Aliansi ini menegaskan bahwa AS telah bertindak sebagai "negara bajingan" sejak Bush terpilih sebagai presidennya. LSM For Mother Earth (FME) yang bermarkas di Belgia itu mencantumkan daftar produk-produk AS yang harus diboikot bersama produk-produk alternatif lainnya dalam situs mereka. FME juga mencantumkan perusahaan-perusahaan yang dianggap telah memberikan sumbangan terbesar kepada Partai Republik dalam kampanye Pemilu 2000 AS.

Dengan mengenakan pita dan bendera-bendera peringatan "berbahaya", para aktivis aksi boikot AS itu menutup stasiun-stasiun bahan bakar Esso dan Texaco tanpa kekerasan. Sejumlah lokasi stasiun bahan bakar yang berhasil sukses mereka tutup terletak di Antwerp, Arlon, Bruges, Brussels, Gent, Hasselt, dan Namur. "Ada darah ribuan korban tak berdosa pada logo-logo Esso dan Texaco. Kedua perusahaan minyak multinasional itu, bersama-sama telah menyumbangkan dua juta dolar AS untuk Bush pada kampanye Pemilu 2000. Mereka juga yang mendorong kebijakan pemerintahan Bush untuk menggelar perang di Irak, " tegas Pol D'Huyvetter, jurubicara FME.

Tokoh FME ini juga berkata, "Ketika Bush sama sekali melecehkan peringatan PBB dan opini publik internasional, boikot hari ini adalah model aksi paling efektif yang dapat kami tawarkan pada seluruh warga negara di manapun. Setiap orang bisa dengan mudah mendaftarkan sikap perlawanannya terhadap kebijakan AS. Yakni dengan cara memboikot produk-produk AS yang ada dalam daftar kami, atau bisa juga memboikot seluruh produk AS. Uang adalah bahasa yang biasa digunakan pemerintah Bush untuk memaksa negara-negara lain masuk dalam koalisi mereka. Aksi boikot adalah bahasa yang bisa dimengerti dan dipahami Washington. "

Dalam hampir semua aksi penutupan SPBU milik perusahaan Esso dan Texaco, para pekerja pom bisa memahami tujuan aksi para aktivis. Dialog berjalan cukup lancar. Para pengendara mobil dan motor yang mendengar seruan kampanye boikot perusahaan-perusahan minyak AS dari udara, umumnya memberikan respon mendukung. Mereka memberikan senyuman dan acungan jempol. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)




Link :
- http://www.inminds.co.uk/qa-rabbi-weiss.html
- http://en.wikipedia.org/wiki/Norman_Finkelstein
- http://www.normanfinkelstein.com/
- http://www.chomsky.info/
- http://en.wikipedia.org/wiki/Noam_Chomsky[/COLOR]


[color="#006400"]Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan




sofiahdewi





Sayidina Ali, Sang Inspirator Uluhiyah

Tokoh Teladan Oleh : Redaksi 25 Oct 2003 - 3:17 am
Oleh : Wawan Susetya


http://www.swaramuslim.com/streaming/nasyid/jefry/Iqra.wma


Sayyidina Ali bin Abi Thalib memiliki kepribadian yang penuh inspirasi Uluhiyah atau Ketuhanan. Ali tidak memerlukan proses pengalaman atau tabrakan atau penimbangan dengan dan atas apa pun benda dan peristiwa dalam hidupnya sebagaimana seniornya; Abu Bakar, Umar, dan Usman. Ia tidak perlu menggali ilmu tentang daun dan hujan untuk menemukan kebesaran Allah. Begitu ia memandang daun, yang dijumpainya adalah langsung Allah.

Rasulullah memberikan m.e.t.a.for dengan sabdanya, ''Aku ibarat alun-alunnya ilmu, sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah pintunya (gerbang).''

Pernyataan Rasulullah ini menimbulkan perasaan iri pada kaum Khawarij terhadap Ali. Mereka kemudian mengadakan majelis musyawarah yang dihadiri 10 orang dari kalangan para tokoh. Mereka sepakat menguji Ali: masing-masing akan mengajukan pertanyaan yang sama, tapi harus dijawab oleh Ali dengan jawaban yang berbeda.

Lalu, mereka menemui Ali bin Abi Thalib, masing-masing mengajukan pertanyaan, ''Ya Ali, istimewa manakah antara ilmu dan harta?''

Ali bin Abi Thalib dengan tangkas menjawab pertanyaan mereka satu per satu, yang masing-masing jawaban disertai argumentasi yang berbeda. Jawaban yang disampaikan Ali, yakni: pertama, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Haman, dan Fir'aun.

Kedua, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu selalu menjagamu, sedangkan engkau harus menjaga harta milikmu.

Ketiga, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu banyak kawan, sedangkan orang kaya banyak musuhnya.

Keempat, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu bila diinfakkan (diajarkan) semakin bertambah, sedangkan harta bila diinfakkan semakin berkurang.

Kelima, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu dipanggil dengan sebutan mulia, sedangkan orang berharta dipanggil dengan sebutan hina.

Keenam, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu tidak perlu dijaga, sedangkan harta minta dijaga.

Ketujuh, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu di hari kiamat dapat memberi syafaat, sedangkan orang berharta di hari kiamat dihisab dengan berat.

Kedelapan, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu dibiarkan saja tidak akan pernah rusak, sedangkan harta dibiarkan pasti berkurang (bahkan habis dimakan).

Kesembilan, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu memberikan penerang di dalam hati, sedangkan harta dapat membuat kerusakan di dalam hati (seperti menimbulkan sifat takabur, pamer, dan ingkar).

Kesepuluh, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu bersikap lemah lembut dan selalu berbakti kepada Allah, sedangkan orang berharta seringkali memiliki sifat takabur dan ingkar kepada Allah.

Sepuluh orang tokoh Khawarij yang mengajukan pertanyaan kemudian ditantang oleh Ali bin Abi Thalib: ''Seandainya seluruh kaum Khawarij satu per satu mengajukan pertanyaan 'istimewa mana antara ilmu dan harta' tentu aku akan memberikan argumentasi yang berbeda selagi hayat masih di kandung badan.'' Akhirnya kaum Khawarij mengakui kealiman Ali dan mengakui pula kebenaran sabda Rasulullah. Mereka pun tunduk patuh kepada Ali.

Demikianlah kehebatan Ali, kemenakan dan kader gemblengan Rasulullah. Abu Bakar, Umar, dan Usman, serta kita semua berupaya mencapai ''kota'' itu, memasuki lewat ''pintunya'' dengan cara kita masing-masing untuk memperoleh kemungkinan mendapatkan kemuliaan liqa-u Rabb; untuk mengalami pertemuan agung dengan Allah. Kita melewati ''pintu'', sedangkan Ali adalah ''pintu'' itu sendiri.

Sebagian kita ditakdirkan Allah sejak dinihari kehidupan memperoleh jalan lempang memasuki ''kota ilmu'' Tuhan. Bahkan, ada yang memperoleh rahmat dengan sudah berada di dalamnya tanpa susah payah. Tapi, tak sedikit juga di antara kita yang malah sibuk mencari jalan keluar dari ''kota Tuhan''.



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan





Khayty
Assalamualaikum...Puan sofiahdewi...

saya nak mintak jasa baik Puan sofiahdewi atau masMerah atau Edirossa atau Pakcik Kordi untuk dapat mencarikkan bahan-bahan artikel atau apa sahaja yang berkaitan dengan apa yang saya mahu minta disini...

disini saya catatkan bahan-bahan yang saya mahukan..
dalam bentuk bacaan artikel atau apa sahaja yang berkaitan...

terlebih dahulu saya mengucapkan berbanyak terimakasih diatas kesudian membantu dan bersusah payah mencari bahan tersebut kelak...

selain dari nama/nick yang saya sebut..jika ada yang lain dapat membantu sama..dialu-alukan...terimakasih sekali lagi....

--------------
-Tasfir Surah Al-Buruuj(ayat seperti yang tertera dalam Al-Quran)

-Terjemahan

-Latar belakang surah

-Fadilat Surah

--Sebab turun Surah

--Hikmah Surah

--Tafsir Ayat

JUGA...SEJARAH mengenai beberapa nama dan tempat berikut...

-Dzaa/Dzuu Nuwwaas atau Zur`ah Bin Tubaan As`ad al-Himyari

--Ashab al-Ukhudud

--Intinayus al-Rumi

--Bakhtansar

-sejarah diantara zaman Nabi Isa a.s. dengan Nabi Muhammad s.a.w.

--sejarah Negara Arab/YAMAN/Najran
--sejarah SYAM
-sejarah PARSI


----------------
Tambahan...
* kalau dapat disertakan sejarah Firaun dan Nabi Musa
kaum Tsamud dan Nabi Saleh
-------------

Terimakasih kerana membantu
sofiahdewi


Waalaikumusalam,

Semuga sebahagian artikel dibawah ini dapat membantu pencarian Puan Khaytythkir dan mereka

yang ingin mengetahui…saya akan cuba mendapatkan lagi informasi jika diizinkan untuk perkongsian
renungan bersama.


Untuk mendengar dan membaca taksir/terjamahan surah tersebut sila ke laman berikut:


http://swaramuslim.net/islam/multimedia/quran.php
http://www.mymasjid.com.my/quran/surah.asp?id=85








MUQADDIMAH SURAH AL-BURUUJ

Surah ini diturunkan di Mekah, mengandungi 22 ayat. Dinamakan surah "Al-Buruuj" (Tempat-tempat Peredaran Bintang), kerana pada awal surah ini Allah Taala bersumpah dengan langit dan bintang-bintangnya serta hari pembalasan yang dijanjikan, bahawa kaum kafir yang bertindak ganas menggali parit dan membakar orang-orang yang beriman di dalamnya, akan menerima akibat yang seburuk-buruknya.

Intisari kandungannya: Membentangkan kisah kekejaman kaum kafir terhadap orang-orang yang beriman, yang terjadi dalam zaman Nabi-nabi yang telah lalu. Setelah itu ditegaskan: Bahawa orang-orang kafir yang menim- pakan bencana untuk memesongkan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka mereka akan beroleh azab api yang membakar.

Sebaliknya orang-orang yang beriman dan beramal salih, akan ditempatkan di dalam Syurga yang melimpah-limpah nikmatnya. Kemudian ditegaskan: Bahawa azab Tuhan terhadap orang-orang yang kufur ingkar amatlah berat. Kenangkan sahaja apa yang telah menimpa kaum- kaum yang telah menentang Rasul-rasulnya pada zaman yang silam.
Demikian juga yang akan menim- pa orang-orang kafir yang menentang Nabi Muham- mad (s.a.w.). Surah ini diakhiri dengan menegas- kan tentang kebenaran Al-Quran: "Sebenarnya apa yang engkau sampaikan wahai Muhammad kepada mereka, bukanlah syair atau sihir, (sebagaimana yang mereka tuduh dengan tidak berasas), bahkan ialah Al-Quran yang tertinggi kemuliaannya, (lagi yang terpelihara dengan sebaik-baiknya) pada Luh Mahfuz!"




TAFSIR QURAN: PENGAJARAN AYAT 4, SURAH AL-BURUUJ

"Celakalah kaum yang menggali parit"


KISAH ASHABUL UKHDUD

Shuhaib bin Simaan Arrmmi ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: "Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, karena itu anda kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir"

Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya, maka ia terlarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta.

Maka diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan: Aku ditahan oleh ahli sihir.

Maka berjalan beberapa lama kemudian itu, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan pergi, mendadak di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang tidak berani jalan di tempat itu, maka pemuda itu berkata: "Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajara pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendita itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini".Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang ramai gembira karena telah dapat lalu lintas di jalan itu.

Maka ia langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib, maka berkatalah Rahib itu kepadanya :Anda kini telah afdhat (besal daripadaku, dan anda akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku". Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit yang berat-berat pada semua orang.

Ada seorang besar dalam majlis raja ia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan beragai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: "sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka".

Jawab pemuda itu: "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mahu beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu".

Maka langsung ia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda dan seketika itu juga ia sembuh izin Allah.

Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja

"Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu" Jawabnya "Rabbi (Tuhanku)".

Raja bertanya: "Aku?".

Jawabnya "Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu iaitu Allah".

Ditanya oleh Raja "Apakah anda mempunyai Tuhan selain Aku?"

Jawabnya "Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu ialah Allah".

Maka disiksa oleh raja seberat-beratnya siksa sehingga terpaksa ia memberitahu raja itu akan pemuda yang mendoakannya untuk sembuh itu.


Maka segera dipanggil pemuda itu lalu berkata "Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyebuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit"

Jawab pemuda itu "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla". Raja itu pun bertanya "Adakah aku?", "Tidak" jawab permuda itu. maka tanya raja itu "Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?" Jawab pemuda "Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah". Maka ditangkap dan disisa seberat-beatnya sehingga terpaksa menunjukkan pada Rahib yang mengajarnya. Maka dipanggil Rahib dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi Rahib tetap bertahan dan tidak mahu beralih agama, maka diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya.

Kemudian kembali pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama Islam), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja, Maka raja memerintahkan supaya ke puncak gunung dan di sana juga supaya ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak supaya dilempar dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga mereka berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: "Manakah orang-orang yang membawamu?". Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka".

Lalu pemuda diperintah untuk membawanya ke laut dan naik perahu, bila telah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mau mengubah agama, jika tidak maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta", maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?" Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka".

Kemudian pemuda itu berkata kepada raja "Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku" Raja bertanya: "Apakah perintahmu?" Jawab pemuda: "Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu anda ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaarn (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian anda lepaskan anak panah itu, maka dengan itu anda dapat membunuhku". Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)". Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini. Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya lentang agamanya, jika ia telap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.

Maka adanya orang berjejaljejal dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang menggandong bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menurut mereka berganti agama karena sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang hak.

(H.R. Ahmad, Muslim dan Annasa'i)



Berkata Ibnu Abbas kisah ini berlaku 70 tahun sebelum Nabi saw.
sofiahdewi




Imam Ali, dan Kekuasaan anti-Kemewahan
Cinta Rasul Oleh : Redaksi 02 Aug 2007 - 10:00 pm
Oleh: Irman Abdurrahman



Jauh sebelum sejarahwan dan filosof Inggris, John Emerich Edward Dalberg Acton, terkenal dengan pernyataannya, "Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely," Imam Ali, dalam peringatannya kepada salah seorang gubernurnya, telah menyatakan kekhawatirannya akan potensi koruptif kekuasaan. Potensi itu akan semakin terasah ketika kekuasaan bersinggungan dengan kemewahan.

Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib diriwayatkan telah memperoleh informasi bahwa seorang gubernurnya di Basrah, Usman bin Hunaif al-Ansyari, menghadiri pesta seorang hartawan Basrah. Fenomena yang mungkin kini sepele bagi kita tetapi tidak bagi Ali saat itu. Sang Khalifah segera menyampaikan pesan:

"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Ibnu Hunaif! Telah sampai ke pendengaranku sebuah kabar, bahwa seorang hartawan kota Basrah mengundangmu ke sebuah pesta makan, dan Anda telah bergegas ke sana untuk menikmati aneka hidangan yang lezat di atas nampan-nampan yang datang bergantian… Sungguh aku tak mengira bahwa Anda akan memenuhi undangan seperti itu, lalu makan di suatu tempat yang orang-orang miskinnya dilupakan, dan orang-orang kayanya diundang."

Jauh sebelum sejarahwan dan filosof Inggris, John Emerich Edward Dalberg Acton, terkenal dengan pernyataannya, "Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely," Ali, dalam peringatannya di atas, telah menyatakan kekhawatirannya akan potensi koruptif kekuasaan. Potensi itu akan semakin terasah ketika kekuasaan bersinggungan dengan kemewahan. Ibarat jalan bebas hambatan yang supercepat sehingga mengaburkan pandangan si pengendara dari segala sesuatu di kiri-kanan jalan (wajah lokal, kontur pemandangan, dan wajah regional kehidupan sehari-hari –meminjam ekspresi provokatif Slouka, Ruang yang Hilang: 1999), maka kemewahan dengan "nampan-nampan yang datang bergantian" akan berpotensi menelan habis kesadaran si pemilik kekuasaan terhadap kegetiran, kepahitan, dan kekerasan hidup rakyat yang memberinya kuasa. Bukankah kemewahan adalah "tempat yang orang-orang miskinnya dilupakan, dan orang-orang kayanya diundang"?

Kemewahan adalah sejenis simulasi, representasi tanpa asal-usul realitas. Kemewahan tidaklah diprakondisikan oleh kebutuhan, yang acuannya nyata di dalam realitas, tetapi oleh keinginan: citra, status, simbol, dan gaya sebagai "penanda-penanda" murni yang sudah tidak memiliki "petanda-petanda" (realitas). Bagi kemewahan, tidak ada yang tidak dapat dimiliki karena mewah tidak berbicara tentang "kutahu apa yang kubutuhkan" tetapi "kutahu apa yang kumau".

Karena tidak berpijak realitas, maka kemewahan tidaklah terbatas. Satu hal yang mungkin mengendalikannya hanyalah logika hasrat (logic of desire): fantasi, ilusi, dan halusinasi. Jika sudah demikian, sebagaimana simulasi adalah hiperrealitas (Baudrillard, Simulations: 1983) karena tampak lebih "nyata" daripada kenyataan, maka mewah adalah "hiperkaya" karena bukan hanya kaya tetapi juga rakus.

Oleh sebab itu, alih-alih ingin menjadi seperti Tuhan Yang Mahakaya, para pemuja kemewahan justru ibarat —meminjam ungkapan Goenawan Mohammad— "katak yang hendak menjadi lembu" karena 'kaya' (al-ghani) dalam realitas Ilahiah adalah identik dengan 'sederhana' (al-basîth): kondisi ketakbergantungan. Bukankah semakin sederhana suatu entitas, semakin ia tidak bergantung kepada selainnya. Sementara itu, para pemuja kemewahan, dalam serba "ketakterbatasannya", adalah pecandu-pecandu citra, simbol, ilusi, fantasi, dan halusinasi. Eksistensi dan kualitas-diri mereka amatlah bergantung kepada semua hal tersebut.

Maka, jika para pecandu narkoba harus direhabilitasi karena dipastikan mengalami disorientasi-diri (perasaan tidak percaya diri, tidak berguna, tidak berdaya, dan sebagainya) ketika tidak mengonsumsi zat adiktif itu, para penguasa dan politisi, atau siapa pun, yang menyatakan dirinya tak bermartabat karena penghasilan yang lebih rendah atau kepemilikan yang lebih sedikit adalah sama buruknya dan harus menjalani rehabilitasi yang tampaknya jauh lebih sulit.

Dalam pelukan mesra kemewahan, kekuasaan mengalami proses transformasi yang supercepat menjadi "kerakusan": kuantitas yang menggilas kualitas [naik gaji identik dengan kinerja yang makin baik]; kecepatan yang mengebiri substansi [krisis komunikasi antara masyarakat dengan penguasa dijawab dengan SMS]; citra yang tampak lebih penting dibandingkan realitas [adakah anggota DPR yang menolak kenaikan gaji? Ada, tetapi maaf, bukan dalam rapat-rapat tetapi di koran-koran dan teve-teve].

Apa yang bisa kita harapkan dari para pemegang "amanah" kekuasaan yang telah merapat ke dermaga kemewahan? Mungkin tidak ada—untuk tidak mengatakan "sama sekali" tidak ada. Simpati dan empati, sesuatu yang mungkin paling minim diharapkan dari seorang penguasa, hanya akan kita temui dalam citraan-citraan itu sendiri: iklan, retorika politik di media-media, seremoni-seremoni, atau kunjungan-kunjungan kerja "sesaat".

Sementara itu, yang akan kita saksikan dari kekuasaan jenis ini, di antaranya, adalah pertama, kebijakan simplistik yang mengarah kepada pengabdian yang minimalis. Para penguasa jenis ini pada hakikatnya merupakan korban dari lalu-lintas perburuan hasrat yang tak kunjung henti dan bergerak dalam kecepatan tinggi. Akibatnya, mereka benar-benar lumpuh—terutama secara paradigmatik— untuk menetapkan kebijakan yang radikal, revolutif, dan solutif. Mereka terjebak di dalam kebijakan-kebijakan yang simpilstik: sekedar mengikuti prosedur, reaktif terhadap segala fenomena yang terjadi, dan—bahkan celakanya—miskin alternatif sekaligus larut ke dalam fenomena-fenomena globalisasi ekonomi, politik, dan budaya yang selalu saja diasosiasikan dengan realitas "di luar sana", seraya seringkali berkhotbah, "Tidak ada alternatif bagi sistem pasar."

Bagi Imam Ali, penguasa seperti itu adalah mereka yang menganggap bahwa segala sesuatu telah selesai ketika suatu pekerjaan 'besar' (undang-undang, keppres, kepmen, permen, perpu, dan "tetek bengek" produk hukum positif lainnya, peresmian proyek, pencanangan program, serta berbagai kegiatan seremonial lainnya) telah dilaksanakan padahal, "Jangan beranggapan bahwa kau tidak akan dituntut akibat melalaikan yang remeh semata-mata disebabkan kau telah menyelesaikan berbagai urusan yang besar…"

Yang kedua adalah—meminjam istilah Yasraf Amir Piliang—hiper-kriminalitas, yakni ketika kedegilan dan kebejatan perilaku justru dilakukan oleh mereka yang berkuasa untuk mencegahnya. Akal sehat kita, misalnya, seakan-akan tak kunjung mengerti bagaimana mungkin belasan perwira polisi diduga melakukan tindakan pencucian uang atau bagaimana mungkin para pejabat—yang notabene berpenghasilan lebih daripada cukup dan telah berulangkali naik haji—tanpa adanya sebuah resistensi moral berhaji atas biaya rakyat sementara jutaan orang Indonesia harus bersusah payah menabung seperak-duaperak demi menjadi tamu Allah itu—apatah lagi ketika diduga bahwa sebagian dari "para haji" itu bahkan mengorupsi dana haji.

Sungguh, jawaban itu tidak akan kita temukan, baik dalam logika hukum ataupun moral. Logika hasratlah yang telah mencabik-cabik kesadaran-diri mereka akan moralitas dan realitas sosial. Karena berpacu bersama hasrat akan kemewahan: simbol dan status—haji kini telah hanya menjadi simbol dari status kelas tertentu di dalam masyarakat, apalagi jika dilakukan berkali-kali—mereka melakukan "justifikasi" hak-hak orang banyak sebagai hak-hak khusus mereka [sebagian pejabat yang naik haji dengan Dana Abadi Umat berargumen bahwa hal itu sudah menjadi hak mereka karena menjalankan tugas negara] padahal, "Jangan mengkhususkan dirimu dengan sesuatu yang menjadi hak bersama orang banyak," kata Ali lagi.

Yang berikutnya adalah ketakberpihakan. Para penguasa yang telah mempersembahkan martabat dan kehormatan dirinya kepada buaian kemewahan adalah mereka yang bukan saja abai tetapi berupaya lari dari [tidak berpihak kepada] realitas—kebenaran dan keadilan; karena yang terakhir itu terlalu getir, pahit, dan berat untuk dihadapi; karena perlu keringat, air mata, dan darah untuk memperjuangkannya. Mereka lebih memilih menikmati beragam ilusi dan halusinasi yang disajikan kemewahan yang celakanya—karena wataknya yang manipulatif—sangatlah membenci realitas.

Konsekuensinya: (1) mereka lebih mementingkan kepuasan kaum elit ketimbang rakyat kebanyakan; (2) mereka memanipulasi realitas (melalui iklan, retorika, seremoni-seremoni, dan lain sebagainya) sehingga seolah-olah tampak seperti realitas karena bukankah lebih mudah mengubah persepsi orang akan realitas daripada mengubah realitas itu sendiri; dan (3) "menutupi" diri terhadap rakyat kebanyakan—bukan hanya dengan menetapkan urusan protokoler yang njelimet—dengan menyelubungi diri dan keluarga mereka dengan simbol-simbol yang tak akan pernah terraih oleh tangan-tangan hina kaum papa.

Maka, janganlah pernah berharap mereka melakukan perubahan-perubahan yang radikal bagi kepentingan orang-orang lemah karena bukankah, "Pohon-pohon di padang tandus lebih kuat batangnya sedangkan yang hijau menawan jauh lebih lunak. Demikian pula kayu pepohonan di tempat-tempat gersang lebih kuat nyala apinya dan lebih lambat padamnya," atau "Bukankah. unta akan hidup tenang beristirahat bila telah penuh perutnya? Demikian pula domba bila merasa kenyang setelah makan rerumputan?" ungkap Ali, Sang Putra Ka'bah.

Ada yang unik dari ucapan Imam Ali di dalam Nahj al-Balâghah ('puncak kefasihan' —suatu bunga rampai yang dipandang sarat nilai-nilai kehidupan sekaligus diekspresikan dengan kata-kata indah). Di situ, Ali menyebut dunia, dalam struktur negasi, dengan istilah qalib-an hissiyyan 'sesuatu yang tidak dapat diidentifikasi seperti halnya sesuatu yang bersifat sensual', mirip dengan simulasi sebagai 'peniruan yang tanpa asal-usul realitas'. Jelaslah bahwa yang dikecam Ali bukanlah dunia fisik: jasad tempat ruh kita bersemayam, bumi tempat kita berpijak, dan lingkungan sosial tempat kita berinteraksi, tetapi dunia hasrat yang kemilaunya mampu mengalienasi manusia bukan saja dari persoalan-persoalan masyarakatnya tetapi juga dari kesadaran-diri.

"Dunia kemilau" inilah yang, dalam realitas kita, telah mampu mengalienasi seseorang dari perannya sebagai penegak hukum, pengemban amanah rakyat, mahasiswa/pelajar, guru besar, agamawan, aktivis pro-demokrasi, dan—terlebih lagi—dari eksistensi dirinya sebagai manusia. Karena itulah, kini, kita kian sulit membedakan antara "penegak hukum dengan pelaku kriminal", "politikus dengan preman", "guru besar dengan pelacur intelektual", "mahasiswa/pelajar dengan tukang pukul", "agamawan dengan penghasut", "aktivis pro-demokrasi dengan penyuap", dan bahkan antara "manusia dengan monster".

Kini tampaknya kita harus mulai melakukan penjarakan dari dunia hasrat dan pengakraban dengan realitas—bukan sebaliknya seperti yang sering disalahtafsirkan orang dari istilah self-denial 'penyangkalan-diri'. Namun tentu saja, kita tak mungkin memaksa para "bapak-bapak" kita itu untuk melakukan self-denial ala Imam Ali yang, "Tiada secuil emas atau perak dari dunia kalian ini pernah kusimpan. Tiada harta apa pun darinya pernah kutabung. Tiada sepotong baju pun telah kusiapkan sebagai pengganti pakaianku yang lusuh. Tiada sejengkal tanah pun yang kumiliki. Tiada kuambil bagi diriku lebih daripada makanan seekor keledai yang renta."

Yang kita minta mungkin hanyalah hal-hal sepele seperti, "Kadang-kadang dapatkah Bapak keluar dari rumah dan istana Bapak yang megah itu lalu memperhatikan adakah di sekitarnya gubuk-gubuk liar yang setiap harinya selalu diliputi kecemasan dan ketakutan tentang: tempat berteduh yang mungkin digusur, makanan yang habis, uang yang menipis, anak yang menangis karena belum membayar uang sekolah atau pungutan lainnya; atau sesekali relakah Bapak meninggalkan mobil-mobil mewah Bapak lalu menaiki bus-bus umum atau kereta-kereta api yang penuh sesak dan sumpek, yang para penumpangnya seringkali harus cemas: apakah ongkos mereka cukup atau—jika cukup—masihkah ada pada tempatnya, yang kondekturnya menghitung keping demi keping uang recehan sembari bertanya dalam hati: adakah ini cukup untuk membayar setoran, seraya berharap semoga tidak ada pungli atau tidak kena tilang yang berbuntut 'uang damai'."

Hal-hal di atas mungkin sesuatu yang remeh, yang tidak akan berbuah kompensasi seperti jika anggota parlemen "berstudi banding" ke luar negeri, bukan pula berbuah "surga" seperti yang dijanjikan dari haji yang berbiaya dinas tersebut. Yang dapat mereka peroleh, paling tidak, adalah kesempatan untuk mengetahui siapakah mereka (dan siapakah yang bukan mereka) dan siapa yang mesti mereka penuhi haknya lebih daripada yang lain.
Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Ewan_sn
Sejarah Perkembangan Islam di Jepun
Oleh MAZLAN NORDIN

DALAM simpanan tukang catat ini sejak beberapa tahun lalu ialah sebuah al-Quran yang dicetak di negara Jepun. Pada sebelah kanan setiap muka ialah ayat-ayat suci dan pada sebelah kiri terjemahan dan penjelasan dalam bahasa Jepun.

Kitab suci itu dicari semula dari rak buku setelah membaca berita berulang mengenai orang-orang Islam di Korea Selatan berdoa supaya kira-kira 20 orang awam Korea yang ditawan oleh askar Taliban di Afghanistan tidak diapa-apakan.

Kerana, orang-orang Islam bangsa Jepun dan Korea berupa golongan minoriti di negeri masing-masing. Keterangan mengenai mereka yang diperoleh dari Wikipedia, ensiklopedia bebas mungkin berguna bagi kita.

Pertama mengenai Islam di negara Jepun. Hubungan pertama dengan orang Islam ialah dengan orang-orang Melayu yang bekerja sebagai kelasi kapal-kapal British dan Belanda lewat abad-19. Sebelum itu, lewat 1870, buku riwayat hidup Nabi Muhammad telah diterjemah ke bahasa Jepun. Dengan itu, agama Islam dianggap mengambil tempat dalam imaginasi intelek bangsa Jepun.

Satu lagi yang dianggap pertemuan penting ialah pada tahun 1890 manakala Turki pemerintahan Uthmaniah mengirim sebuah kapal ke Jepun sebagai membalas secara hormat lawatan seorang putera diraja Jepun ke Istanbul beberapa tahun sebelum itu.

Orang Islam Jepun yang pertama menunaikan fardu haji ialah Kotaro Yamaoka yang memeluk agama Islam pada tahun 1909 dan mengambil nama Omar Yamaoka manakala pergi ke Mekah.

Seorang lagi bernama Bunpaciro Ariga yang berniaga ke India dan memeluk agama Islam setelah berkenalan dengan orang-orang India Islam. Beliau kemudian mengambil nama Ahmad Ariga.

Pelarian Islam

Masyarakat Islam muncul di negara Jepun dengan ketibaan ratusan orang Turkoman, Uzbek, Tajik, Kirghiz, Kazakh dan lain-lain pelarian Islam dari Asia Tengah dan Rusia, iaitu akibat revolusi komunis. Mereka diberi perlindungan oleh Jepun dan selanjutnya bermastautin di beberapa buah bandar.

Dengan lahirnya masyarakat kecil Islam itu, beberapa buah masjid dibina. Yang utama sekali ialah Masjid Kobe pada tahun 1935 dan Masjid Tokyo pada tahun 1938 (diperbaharui pada tahun 1990-an).

Dalam masa Perang Dunia Kedua pula, makluman mengenai agama Islam tersebar luas di negara Jepun dan di kalangan pusat-pusat penyelidikan mengenai Islam dan dunia Islam. Lebih 100 buah buku dan majalah mengenai Islam terbit di negara Jepun.

Sebenarnya terbitan-terbitan itu bukan untuk memperkenalkan Islam, tetapi untuk membolehkan pihak tentera lebih mengetahui mengenai Islam dan orang Islam. Ini kerana wujudnya masyarakat Islam yang ramai di China dan Asia Tenggara yang ditakluki oleh tentera Jepun.

Pada tahun 1970-an, pelbagai maklumat mengenai Islam tersebar, iaitu selepas “krisis minyak tahun 1973.” Dengan itu ramai orang Jepun mendapat kesempatan melihat gambar-gambar orang Islam menunaikan fardu haji di Mekah dan mendengar bacaan-bacaan ayat suci al-Quran serta suara bilal melaungkan azan.

Sebilangan orang Jepun kemudian memeluk agama Islam ketika itu dan kemudiannya ‘puluhan ribu’.

Hingga baru-baru ini, masyarakat Islam paling ramai di negara Jepun ialah orang Turki. Lalu disebut bahawa sebelum meletusnya perang, orang Jepun bersimpati dengan warga Islam di Asia Tengah yang antikomunis.

Sebilangan lagi masuk Islam setelah berkenalan dan berdampingan dengan mereka manakala tamat perang.

Sebilangan pemandu pesawat-pesawat angkatan udara Jepun dilatih mengucap dua kalimah syahadat jika ditembak jatuh dan ditawan oleh orang-orang kampung.

Menurut yang empunya cerita, beberapa orang yang berbuat demikian terkejut melihat orang-orang kampung berubah sikap mereka.

Jelas bahawa serangan Jepun di China dan negara-negara Asia Tenggara merapatkan hubungan dengan orang-orang Islam. Mereka yang masuk Islam menubuhkan, pada tahun 1953, organisasi Islam yang pertama di bawah pimpinan seorang bernama Sidiq Imaizumi. Bilangan ahli seramai 65 orang Islam bertambah dua kali ganda beberapa tahun kemudiannya.

Bilangan sebenar orang Islam di Jepun tidak begitu jelas kerana kerajaan Jepun tidak bertanya mengenai agama dalam borang-borang banci dan lain-lain dokumen rasmi. Bilangan mereka ditaksirkan kira-kira 70,000 orang, iaitu 90 peratus warga asing dan 10 peratus Jepun.

Terjemahan al-Quran dalam bahasa Jepun belum diedarkan secara meluas. Pelbagai tulisan mengenai Islam tidak jual di toko-toko buku atau diperoleh di perpustakaan awam.

Demikian serba sedikit mengenai Islam di negara Jepun. Bersambung kelak, insya-Allah ialah keterangan mengenai Islam di Korea.

Semoga adanya pihak-pihak berwajib di negara kita memberi sumbangan meluaskan maklumat mengenai Islam di negara-negara lain.

* Penulis ialah konsultan kanan ISIS Malaysia. Pandangan penulis adalah pendapat peribadi dan tidak ada kena-mengena dengan ISIS.

Mengimbau kembali perkembangan Islam di Jepun
Oleh MAZLAN NORDIN

DALAM simpanan tukang catat ini sejak beberapa tahun lalu ialah sebuah al-Quran yang dicetak di negara Jepun. Pada sebelah kanan setiap muka ialah ayat-ayat suci dan pada sebelah kiri terjemahan dan penjelasan dalam bahasa Jepun.

Kitab suci itu dicari semula dari rak buku setelah membaca berita berulang mengenai orang-orang Islam di Korea Selatan berdoa supaya kira-kira 20 orang awam Korea yang ditawan oleh askar Taliban di Afghanistan tidak diapa-apakan.

Kerana, orang-orang Islam bangsa Jepun dan Korea berupa golongan minoriti di negeri masing-masing. Keterangan mengenai mereka yang diperoleh dari Wikipedia, ensiklopedia bebas mungkin berguna bagi kita.

Pertama mengenai Islam di negara Jepun. Hubungan pertama dengan orang Islam ialah dengan orang-orang Melayu yang bekerja sebagai kelasi kapal-kapal British dan Belanda lewat abad-19. Sebelum itu, lewat 1870, buku riwayat hidup Nabi Muhammad telah diterjemah ke bahasa Jepun. Dengan itu, agama Islam dianggap mengambil tempat dalam imaginasi intelek bangsa Jepun.

Satu lagi yang dianggap pertemuan penting ialah pada tahun 1890 manakala Turki pemerintahan Uthmaniah mengirim sebuah kapal ke Jepun sebagai membalas secara hormat lawatan seorang putera diraja Jepun ke Istanbul beberapa tahun sebelum itu.

Orang Islam Jepun yang pertama menunaikan fardu haji ialah Kotaro Yamaoka yang memeluk agama Islam pada tahun 1909 dan mengambil nama Omar Yamaoka manakala pergi ke Mekah.

Seorang lagi bernama Bunpaciro Ariga yang berniaga ke India dan memeluk agama Islam setelah berkenalan dengan orang-orang India Islam. Beliau kemudian mengambil nama Ahmad Ariga.

Pelarian Islam

Masyarakat Islam muncul di negara Jepun dengan ketibaan ratusan orang Turkoman, Uzbek, Tajik, Kirghiz, Kazakh dan lain-lain pelarian Islam dari Asia Tengah dan Rusia, iaitu akibat revolusi komunis. Mereka diberi perlindungan oleh Jepun dan selanjutnya bermastautin di beberapa buah bandar.

Dengan lahirnya masyarakat kecil Islam itu, beberapa buah masjid dibina. Yang utama sekali ialah Masjid Kobe pada tahun 1935 dan Masjid Tokyo pada tahun 1938 (diperbaharui pada tahun 1990-an).

Dalam masa Perang Dunia Kedua pula, makluman mengenai agama Islam tersebar luas di negara Jepun dan di kalangan pusat-pusat penyelidikan mengenai Islam dan dunia Islam. Lebih 100 buah buku dan majalah mengenai Islam terbit di negara Jepun.

Sebenarnya terbitan-terbitan itu bukan untuk memperkenalkan Islam, tetapi untuk membolehkan pihak tentera lebih mengetahui mengenai Islam dan orang Islam. Ini kerana wujudnya masyarakat Islam yang ramai di China dan Asia Tenggara yang ditakluki oleh tentera Jepun.

Pada tahun 1970-an, pelbagai maklumat mengenai Islam tersebar, iaitu selepas “krisis minyak tahun 1973.” Dengan itu ramai orang Jepun mendapat kesempatan melihat gambar-gambar orang Islam menunaikan fardu haji di Mekah dan mendengar bacaan-bacaan ayat suci al-Quran serta suara bilal melaungkan azan.

Sebilangan orang Jepun kemudian memeluk agama Islam ketika itu dan kemudiannya ‘puluhan ribu’.

Hingga baru-baru ini, masyarakat Islam paling ramai di negara Jepun ialah orang Turki. Lalu disebut bahawa sebelum meletusnya perang, orang Jepun bersimpati dengan warga Islam di Asia Tengah yang antikomunis.

Sebilangan lagi masuk Islam setelah berkenalan dan berdampingan dengan mereka manakala tamat perang.

Sebilangan pemandu pesawat-pesawat angkatan udara Jepun dilatih mengucap dua kalimah syahadat jika ditembak jatuh dan ditawan oleh orang-orang kampung.

Menurut yang empunya cerita, beberapa orang yang berbuat demikian terkejut melihat orang-orang kampung berubah sikap mereka.

Jelas bahawa serangan Jepun di China dan negara-negara Asia Tenggara merapatkan hubungan dengan orang-orang Islam. Mereka yang masuk Islam menubuhkan, pada tahun 1953, organisasi Islam yang pertama di bawah pimpinan seorang bernama Sidiq Imaizumi. Bilangan ahli seramai 65 orang Islam bertambah dua kali ganda beberapa tahun kemudiannya.

Bilangan sebenar orang Islam di Jepun tidak begitu jelas kerana kerajaan Jepun tidak bertanya mengenai agama dalam borang-borang banci dan lain-lain dokumen rasmi. Bilangan mereka ditaksirkan kira-kira 70,000 orang, iaitu 90 peratus warga asing dan 10 peratus Jepun.

Terjemahan al-Quran dalam bahasa Jepun belum diedarkan secara meluas. Pelbagai tulisan mengenai Islam tidak jual di toko-toko buku atau diperoleh di perpustakaan awam.

Demikian serba sedikit mengenai Islam di negara Jepun. Bersambung kelak, insya-Allah ialah keterangan mengenai Islam di Korea.

Semoga adanya pihak-pihak berwajib di negara kita memberi sumbangan meluaskan maklumat mengenai Islam di negara-negara lain.

* Penulis ialah konsultan kanan ISIS Malaysia. Pandangan penulis adalah pendapat peribadi dan tidak ada kena-mengena dengan ISIS.


Ewan_sn
Menolak tanggapan Barat perintis perubatan moden
Oleh Abdurrahman Haqqi


Banyak bidang kajian kedoktoran sudah dibukukan ilmuwan Islam, jadi rujukan universiti di Eropah

ADAKAH sains perubatan moden masa ini sampai kepada tahap cemerlang sekarang sekiranya ahli perubatan Islam pada masa silam tidak merekod dan mencatat cara rawatan, diskripsi, diagnosis, kajian, penemuan, farmasi dan penyelidikan mereka.

Malangnya sumbangan ilmuwan perubatan Islam terhadap kemajuan sains perubatan moden ditelan zaman seperti tertelannya ketamadunan Islam oleh keegoan dan kecemburuan sesetengah masyarakat antarabangsa yang memperkecilkannya. Mereka hanya mengakui ketamadunan hanya datang dari Eropah (baca: Barat). Mereka hanya mengakui bahawa sejarah manusia dan kemajuannya hanya berpusat di Eropah (baca: Barat). Mereka memaksakan kehendak bahawa putaran bumi hanya berasal dari Eropah (baca: Barat).

Pada 28 Julai lalu, penulis menghadiri perasmian Persidangan Sains Perubatan Malaysia, Indonesia dan Brunei Darusalam anjuran Institut Perubatan, Universiti Brunei Darussalam.

Pada akhir sesi plenari I, Dekan Fakulti Perubatan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof Datuk Dr Lokman Saim dengan kertas kerja perdana bertajuk Identifying Regional Priorities in Health Research menjual pantun berikut:







Mudik ke muara dengan perahu
perahu penuh ikan gelama
tidak menyelidik tak kan tahu
tak tahu tak akan ke mana

Ketika itu duduk di sebelah penulis ialah pembentang kertas kerja dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Dr Nurdeng Beuraseh yang juga kawan lama ketika menuntut di Kuwait dulu. Beliau menjelaskan kepada penulis mengenai sifat ikan gelama. Katanya, jika kita mahu menangkap ikan gelama, kita mesti memastikan dahulu kedudukan ikan berkenaan. Apabila sudah diketahui di mana tempat ikan berkenaan, barulah kita mengepung dan menangkapnya. Penulis pun bergumam bahawa pemilihan ikan gelama dalam pantun di atas memang tepat dan sesuai kerana menyelidik mencari sesuatu dengan cara berhati-hati. Penyelidikan itulah punca kemunculan buku rujukan perubatan Islam yang menjadi asas kepada sains perubatan moden.

Islam menggalakkan umatnya yang berkebolehan untuk mendalami bidang perubatan supaya tidak tertinggal daripada bangsa lain. Ini jelas kita dapati daripada suatu kejadian yang berlaku pada zaman Nabi SAW ketika Baginda masih di Makkah.

Pada suatu masa seorang sahabat, Sa'ad ibn Abi Waqqas jatuh sakit dan Baginda pun menjenguknya. Ketika menjenguk, Baginda memerintahkan sahabat yang lain untuk memanggil al-Harits ibn Kaldah al-Tsaqafi, seorang tabib kenamaan di Makkah pada masa itu. Sabda Baginda maksudnya: “Panggillah al-Harits ibn Kaldah untuk mengubatinya. Sesungguhnya dia adalah seorang yang mahir dalam perubatan.”

Ketika al-Harits datang dan memeriksa Sa’ad, beliau menggunakan dua cara rawatan yang biasa dilakukan doktor pada hari ini iaitu secara psikologi dan material. Secara psikologi, al-Harits berkata kepada Sa’ad dan orang di sekitarnya bahawa insya-Allah tidak ada apa-apa dan secara material dia pula memberikan ubat untuk dibuatkan tamar yang dimasak dengan susu kemudian meminta Sa’ad meminumnya. Tidak lama selepas itu, Sa’ad pun sembuh. (Lihat Ibn Abi Ushaibi’ah, ‘Uyun al-Anba, hal. 161)

Daripada kejadian di atas setidaknya dapatlah kita membuat dua kesimpulan. Pertama, panggilan Rasulullah SAW kepada al-Harits ibn Kaldah membuktikan bahawa Islam menyeru umatnya untuk mempelajari sains perubatan dan cara rawatan bahkan menggalakkannya. Kedua, kesaksian Baginda ke atas kepakaran dan kemahiran al-Harits ib Kaldah dalam bidang perubatan secara teori dan amali.

Al-Harits ibn Kaldah yang berasal dari Taif sememangnya seorang pakar perubatan yang terbilang pada zamannya. Beliau menulis perbahasannya mengenai perubatan dengan Kisra Anusyarwan, Raja Parsi ketika itu. Kebanyakan perubatan yang dilakukannya adalah nasihat dan hikmah. Pernah Khalifah Mu’awiyyah bertanya beliau: “Apakah cara yang mujarab dalam rawatan?” dan jawapannya ialah “Lapar!” Jawapan ini pula yang diberikan kepada Kisra Anusyarwan ketika beliau ditanya berkenaan dengan asas perubatan.

Ketika ditanya mengenai mandi sauna oleh Kisra, contoh lain, beliau menjawab: “Jangan anda memasukinya ketika anda sedang kenyang; jangan anda mendatangi keluarga anda ketika sedang mabuk; jangan anda bangun pada tengah malam dalam keadaan telanjang; jangan anda menyantap makanan ketika anda sedang marah; berlembutlah dengan diri anda kerana ia akan menenangkan fikiran anda; dan jangan makan terlalu banyak kerana ia akan memudahkan tidur anda.” (Lihat Ibn Abi Ushaibi’ah, ‘Uyun al-Anba, hal. 167)

Antara ilmuwan perubatan Islam terbilang yang menulis buku rujukan perubatan dalam sejarah tamadun manusia adalah Ali ibn Sahl al-Tabari (w. 850M) dengan tulisannya Firdaus al-Hikmah, Abu Bakar al-Razi (w. 320H) dengan bukunya al-Hawi, Khalaf ibn Abbas al-Zahrawi (w. 961M) pakar bedah dengan kitabnya al-Tasrif Liman ‘Ajaza ‘an al-Ta’lif, dan al-Hussein ibn Abdullah ibn Ali ibn Sina (w.429H) dengan al-Qanun sebagai kitab unggulnya.

Semua buku hasil penyelidikan dalam bidang perubatan di atas adalah mercu tanda bagi kemajuan sains perubatan moden. Sebagai contoh, buku al-Tasrif Liman ‘Ajaza ‘an al-Ta’lif karangan al-Zahrawi adalah buku rujukan pertama dalam sejarah sains pembedahan selama lima abad lamanya yang diterjemah lima kali ke dalam bahasa Latin. Yang membanggakan kita lagi buku ini mengandungi lebih daripada 200 gambar alat pembedahan yang menunjukkan betapa alim dan pakarnya al-Zahrawi dalam bidang pembedahan sehingga beliau boleh menggambarkan alatnya. Buku ini terdiri daripada 30 artikel yang dibahagikan kepada dua bahagian.

Bahagian Pertama dikhaskan untuk membincangkan perkara yang berkaitan dengan ubat dan cara penyembuhan, manakala Bahagian Kedua dikhaskan untuk keperluan pembedahan. Bab Satu berkaitan dengan bekam; Bab Dua berkaitan dengan pembedahan tubuh manusia secara amnya; Bab Tiga berkaitan patah tulang dan yang sejenis dengannya.

Buku al-Qanun karangan Ibn Sina pula adalah buku rujukan di sekolah perubatan dan universiti Eropah hingga pertengahan abad ke-17. Ia diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebanyak 20 kali dalam masa 30 tahun sebelum berakhirnya abad ke-15. Dalam buku ini, Ibn Sina membahagikan kajiannya kepada lima bahagian iaitu sains perubatan secara umum; ubat-ubatan; penyakit khusus bagi sesetengah anggota badan; penyakit yang menimpa semua badan manusia; dan farmasi. Oleh itu, sememangnya Ibn Sina mendapat jolokan Bapa Perubatan Dunia.

Itulah contoh masyarakat bertamadun yang melahirkan ilmuwan berjasa kepada manusia. Masyarakat Islam ialah satu-satunya masyarakat yang dikawal dan dilindungi Allah Ta’ala. Anggota masyarakat itu meninggalkan dan membuang jauh segala bentuk pemujaan dan pendewaan kepada sesama manusia untuk melakukan pemujaan dan pendewaan kepada Allah SWT saja. Oleh sebab itulah anggota masyarakat berkenaan menjadi orang yang bebas dan merdeka sepenuhnya.

Bila saja program yang berpunca dari Allah SWT menjadi tali pengikat antara umat manusia, iaitu kedaulatan bagi seluruh umat manusia tidak bersumber daripada sebarang kuasa duniawi dalam bentuk pengabdian dan penindasan atas sesama umat manusia nescaya masyarakat itu menjadi sebuah masyarakat ideal yang boleh menggambarkan keindahan ciri kemanusiaan, iaitu ciri roh dan fikiran.

Sebaliknya bila saja dasar perkauman, kebangsaan, warna kulit dan tanah air, persamaan nasib dan lain-lain lagi yang menjadi tali pengikat antara kelompok umat manusia, maka jelas dasar-dasar itu tidak menggambarkan ciri kemanusiaan, sebab manusia akan tetap menjadi manusia tanpa kebangsaan, tanpa warna kulit dan tanah air, tetapi manusia itu bukan manusia lagi tanpa roh dan fikiran

Ahad lalu, akhbar ini melaporkan mengenai pengambilan pelajar bagi Program Perubatan Kolej Universiti Teknologi dan Pengurusan Malaysia (KUTPM). Sejajar dengan hasrat kerajaan untuk mengantarabangsakan pendidikan tinggi Malaysia, KUTPM menubuhkan pusat pengajian di empat negara bagi menawarkan program pengajiannya di seberang laut.

Penubuhan pusat di Indonesia, India, Vietnam dan China dilakukan menerusi usaha sama antara KUTPM dengan rakan kerjasama global di negara terbabit.

Sekolah Perubatan Antarabangsanya (KIMS) ditubuhkan di Bangalore, India dan diharapkan ia mampu melahirkan ramai pakar perubatan dan membantu kerajaan mencapai matlamat meningkatkan modal insan dalam bidang berkenaan.

Sudah semestinya umat Islam termasuk negara yang memikirkan bagaimana cara memposisikan semula keunggulan perubatan Islam pada mata masyarakat antarabangsa dan membuktikan fikiran berkenaan dengan menubuhkan pusat penyelidikan sains perubatan Islam yang disesuaikan dengan zaman kita ini.

Kita pun mempersoalkan jika UNESCO menetapkan tujuh keajaiban dunia dalam bidang struktur bangunan mengapa mereka tidak memperhatikan mengenai keajaiban penemuan ilmuwan silam khasnya ilmuwan yang memberi sumbangan yang tidak ternilai harganya kepada kemajuan tamadun manusia pada hari ini.

INTI PATI

Tamadun perubatan

Barat sengaja menidakkan sumbangan Islam dalam merintis ilmu perubatan moden.

Banyak bukti menunjukkan Islam mendahului tamadun lain dalam bidang perubatan seperti penghasilan kitab perubatan.

Ada antara kitab perubatan karangan ilmuan Islam menjadi rujukan universiti di Eropah sehingga pertengahan abad ke-17.


sofiahdewi
Mendamba Hakim Yang Adil

Tokoh Teladan Oleh : Redaksi 20 Feb 2004 - 9:00 pm


Suatu ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib berpolemik dengan seorang Yahudi. Sang khalifah yakin baju besi yang dipakai orang Yahudi itu adalah miliknya. Namun si Yahudi tetap menyangkal. Ia tetap bertahan, bahwa baju besi itu adalah kepunyaannya. Polemik itu terus meruncing hingga keduanya sepakat untuk menghadapkannya ke hakim.

Begitu Ali dan si Yahudi itu duduk di depan persidangan, hakim yang bernama Syuraih bertanya kepada Ali, "Apa yang Anda kehendaki, wahai saudara Ali?"

"Soal baju besiku yang hilang. Kemudian diambil oleh Yahudi ini!" Ali menerangkan.

"Apakah yang diucapkan Ali itu benar?" tanya Hakim kepada si Yahudi.

"Tidak. Ini benar-benar baju besiku dan sekarang berada di tanganku!" jawab si Yahudi.

"Saudara Ali, sebagai orang yang menuntut, Anda harus mendatangkan dua orang saksi yang mendukung Anda sebagai bukti," pinta sang Hakim.

Ali bin Abi Thalib segera mengajukan dua orang saksi, yaitu pembantunya, Qanbar dan putranya, Hasan bin Ali. Sang Hakim, menerima kesaksian Qanbar dan menolak kesaksian Hasan bin Ali.

"Kesaksian Qanbar saya benarkan, tetapi kesaksian Hasan bin Ali tidak karena ia putra Anda sendiri!" ujar Syuraih.

"Tapi, tidakkah saudara Hakim pernah mendengar bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, 'Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda di surga'?"

Dengan suara yang lembut tapi penuh wibawa Syuraih menjawab, "Allahumma na'am. Ya Allah, memang benar."

"Lalu, masihkah tidak dapat diterima kesaksian pemimpin pemuda di surga ini?"

Namun, Syuraih masih tetap dalam pendiriannya bahwa ia tidak dapat menerima kesaksian Hasan bin Ali. Karena Ali tak bisa mendatangkan seorang saksi, maka Hakim memutuskan dia yang kalah. Dengan tegas ia katakan bahwa baju besi itu adalah kepunyaan si Yahudi itu.

Ali tidak angkat bicara lagi. Ia tidak berdaya melawan peraturan dan undang-undang. Ia terima keputusan hakim itu dengan senang hati. Ia menyadari bahwa ia tidak dapat menghadirkan saksi yang mendukung tuntutannya. Lalu sambil tersenyum beliau berkata, "Ashaba Syuraih ma lii bayyinatun! Sahabatku Syuraih, Anda sungguh benar. Saya tidak mempunyai bukti yang kuat."

Si Yahudi itu melihat dengan mata kepala sendiri betapa puasnya Ali bin Abi Thalib terhadap keputusan yang dijatuhkan hakim tersebut. Ia heran mengapa seorang khalifah mau tunduk terhadap peraturan dan undang-undang.

Melihat adegan mengharukan itu, si Yahudi pun berkata di hadapan majelis persidangan itu, "Baju besi ini benar-benar kepunyaan Ali. Aku memungutnya waktu baju besi ini jatuh dari untanya ketika ia hendak pergi ke medan Shiffin...."

Selanjutnya Yahudi itu mengucapkan dua kalimat syahadat. Begitu mendengar si Yahudi membaca syahadat, dengan segera Ali menyatakan, "Kalau begitu, baju besi itu kuhadiahkan kepadamu!" Selain itu, orang Yahudi itu juga dihadiahi sembilan ratus dirham uang.

Peristiwa "baju besi" di atas menyimpan ibrah (pelajaran) yang mestinya kita teladani. Pertama, keberanian Qadhi Syuraih mengambil keputusan. Dengan kedudukannya sebagai hakim, Syuraih berani mengambil keputusan tegas, berani dan adil. Keputusan yang ia tentukan tidak pandang bulu. Meskipun yang terdakwa adalah seorang khalifah yang kedudukannya lebih dari presiden, karena bukti menunjukkan ia kalah, maka harus diputuskan salah. Persis seperti yang disitir Rasulullah saw dalam ungkapannya, "Seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, tentu akan aku potong tangannya," (HR Bukhari).

Dalam konteks sekarang, hakim seperti itu sungguh sulit dicari. Kenyataan yang ada justru sebaliknya. Pencuri ayam dipenjara, sedangkan perampok uang negara dibiarkan bebas. Peristiwa teranyar yang terjadi di negeri ini adalah kasus pengadilan Akbar Tandjung dan koleganya. Meski pengadilan sudah memutuskannya bersalah, tapi karena yang bersangkutan adalah pejabat dan orang yang berpengaruh di negeri ini, maka kasusnya tetap mengambang. Bahkan, tidak mustahil bisa bebas.

Selain itu, banyak hal yang perlu diperbaiki di negeri ini. Selain watak para penegak hukumnya yang tidak jujur, juga undang-undangnya sendiri. Akibat lamanya Orde Baru berkuasa, sebagian besar peraturan di negeri ini sepertinya dibuat sedemikian rupa agar bisa disiasati. Misalnya, dalam kasus peradilan. Orang yang diputus bersalah pada Pengadilan Negeri bisa dianulir oleh Pengadilan Tinggi. Sehingga dengan harap-harap cemas, arti naik banding itu adalah untuk melenyapkan putusan hakim pada tingkat Pengadilan Negeri. Andai kata Pengadilan Tinggi memvonis sama atau malah memperberat, maka masih juga dianggap tak punya kekuatan hukum tetap karena masih dimungkinkan sebuah kasasi.

Padahal kita tahu, kasasi bisa memakan waktu lama untuk mengusut ulang kasus yang menumpuk sebelumnya. Tetapi andai kata pun akhirnya Mahkamah Agung (MA) membenarkan vonis pada tahapan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi, si terpidana masih punya peluang untuk lolos karena masih ada lembaga Peninjauan Kembali (PK). Tentu PK memerlukan waktu bertahun-tahun, sehingga orang sudah lupa sama sekali terhadap kasus sebenarnya. Dengan mengikuti cara berpikir seperti ini, maka selain membenarkan sistem hukum kita yang sangat koruptif, sesungguhnya kita sedang menipu diri sendiri. Dengan peraturan itu, jangan berharap seorang penjahat dan politikus kelas kakap yang telah merampok negeri ini bisa tersentuh hukum.

Kedua, berani menerima kekalahan. Inilah yang dilakukan Ali bin Abi Thalib. Kendati ia merasa benar—dan kenyataannya memang demikian—tapi keputusan hakim tidak ia tolak. Ia tidak ngotot untuk mempertahankan pendapatnya. Yang terjadi di negeri ini justru sebaliknya. Meski ia tahu dan semua orang tahu dirinya bersalah, tapi ia tetap ngotot mempertahankan pendapatnya. Segala cara pun diupayakan. Dari menyuap para hakim sampai membayar para demonstran untuk mendukungnya.

Beginilah keadaan bangsa kita. Para penegak hukumnya tidak bermoral, aturan yang kita pakai pun sangat koruptif lantaran jauh dari landasan agama. Padahal, ketiga aspek itu—hukum, moral dan agama—harus bersanding. Tak ada aturan tanpa hukum, tak ada hukum tanpa moralitas, dan tak ada moralitas tanpa agama sebagai sumber pertama dari nilai-nilai moral dan etika. Wallahu a'lam. (RioL)













"JANGAN TINGGALKANKU "

http://swaramuslim.com/streaming/nasyid/ha...inggalkanku.wma



Bila ku kenang jalan hidupku
betapa kurasa kehadiranMu
kini beranjak dewasa aku
kau berikan uluran tangan suciMu


reff
ya Tuhanku terimalah sujudku
ya Tuhanku terimalah syukurku
duhai Yang Kuasa tlah kau beri rahmatMu
kau berikan sgala karunia kasihMu


sadarku semua ini milikMu
jangan...jangan lagi jauh dariku
jangan jangan pernah tinggalkanku
Yang Kuasa bimbinglah aku selalu




SALMAN AL-FARISI r.a. (Pencari Kebenaran)

Tokoh Teladan Oleh : Redaksi 14 Mar 2005 - 3:20 pm
Salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, hingga bermunculanlah filosof-filosof Islam, dokter-dokter Islam, ahli-ahli falak Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam .

Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agama. Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui. Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya. Salman radhiyallahu 'anhu sendiri turut menvaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu.

Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima Hijrah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan vang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.

Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam -- yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimim sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut:

Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah nakh sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 al-Ahzab:l0)

Dua puluh empat ribu orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya.

Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan. Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?

Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Itulah dia Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu!' Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya Persi, Salman radhiyallahu 'anhu telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.

Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atau usul Salman radhiyallahu 'anhu tersebut. Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.

Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta'ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka ... dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit ... Sewaktu menggali parit, Salman radhiyallahu 'anhu tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman radhiyallahu 'anhu bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.

Salman radhiyallahu 'anhu seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.

Salman radhiyallahu 'anhu pergi mendapatkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun pergi bersama Salman radhiyallahu 'anhu untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi. Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti....

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi. "Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah", kata Salman radhiyallahu 'anhu, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan takbir, sabdanya:

Allah Maha Besar! Ahu telah dikaruniai hunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu.

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertakbir sabdanya: Allah Maha Besar! Ahu telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya.

Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum Muslimin. Lalu diceritakanlah oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan'a, begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru:

Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya .... Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.

Salman radhiyallahu 'anhu adalah orang yang mengajukan saran untuk membuat parit. Dan dia pulalah penemu batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia dan ramalan-ramalan ghaib, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Ia berdiri di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyaksikan cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dan dia masih hidup ketika ramalan itu menjadi kenyataan, dilihat bahkan dialami dan dirasakannya sendiri. Dilihatnya kota-kota di Persi dan Romawi, dan dilihatnya mahligai istana di Shan'a, di Mesir, di Syria dan di Irak. Pendeknya disaksikan dengan mata kepalanya bahwa seluruh permukaan bumi seakan berguncang keras, karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah Allah ....Nah, itulah dia sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon yang rindang berdaun rimbun, di muka rumahnya di kota Madain; sedang menceriterakan kepada shahabat-shahabatnya perjuangan berat yang dialaminya demi mencari kebenaran, dan mengisahkan kepada mereka bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Persi, masuk ke dalam agama Nashrani dan dari sana pindah ke dalam Agama Islam. Betapa ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan menjatuhkan dirinya ke dalam lembah kemiskinan demi kebebasan fikiran dan jiwanya .. .! Betapa ia dijual di pasar budak dalam mencari kebenaran itu, bagaimana ia berjumpa dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan iman kepadanya ...!

Marilah kita dekati majlisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceriterakannya!

"Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama "Ji". Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluq Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam. Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati: "Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!" Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nashrani dari mana asal-usul agama mereka. "Dari Syria",ujar mereka.

Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya: "Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita". Kami pun bersoal-jawab melakukan diskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya diriku ....

Kepada orang-orang Nashrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai. Lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.

Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Maka datanglah aku kepadanya, kuceriterakan keadaanku. Akhirnya tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka dan belajar, Sayang uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat ....dan mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya demikian rupa, sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu dari padanya.

Dan tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku padanya: "Sebagai anda maklumi, telah dekat saat berlakunya taqdir Allah atas diri anda. Maka apakah yang harus kuperbuat, dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi. "Anakku!", ujamya: "tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul".

Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceriterakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang shalih yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan ku ceriterakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula.

Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di 'Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi.

Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku berternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.

Kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakannya. Ujarnya: "Anakku.' Tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. la nanti akan hijrah he suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia, la mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya':

Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, maka kataku kepada mereka: "Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?" "Baiklah", ujar mereka.

Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang yahudi. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.

Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang yahudi Bani Quraizhah yang membeliku pula daripadanya. Aku dibawanya ke Madinah, dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.

Aku tinggal bersama yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani 'Amar bin 'Auf di Quba.

Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku lagi duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya: "Bani Qilah ######! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku-pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi: "Apa kata anda?" Ada berita apakah?" Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya: "Apa urusanmu dengan ini, ayoh kembali ke pekerjaanmu!" Maka aku pun kembalilah bekerja ...

Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kataku kepadanya: "Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedeqah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini". Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya.

"Makanlah dengan nama Allah". sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada para shahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. "Nah, demi Allah!" kataku dalam hati, inilah satu dari tanda-tandanya ... bahwa ia tah mau memakan harta sedeqah':

Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya: "Kulihat tuan tak hendak makan sedeqah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah'', lalu kutaruh makanan di hadapannya. Maka sabdanya kepada shahabatnya: 'Makanlah dengan menyebut nama Allah ! ' Dan beliaupun turut makan bersama mereka. "Demi Allah': kataku dalam hati, inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah ':

Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian kupergi mencari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan kutemui beliau di Baqi', sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh shahabat-shahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju. Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, maka disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap henabian sebagai disebutkan oleh pendeta dulu.

Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceriterakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceriterakan tadi.

Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku:'Mintalah pada majihanmu agar ia bersedia membebashanmu dengan menerima uang tebusan."

Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh para shahabat untuk membantuku dalam soal keuangan. Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam perang Khandaq dan peperangan lainnya.

Dengan kalimat-kalimat yang jelas dan manis, Salman radhiyallahu 'anhu menceriterakan kepada kita usaha keras dan perjuangan besar serta mulia untuk mencari hakikat keagamaan, yang akhirnya dapat sampai kepada Allah Ta'ala dan membekas sebagai jalan hidup yang harus ditempuhnya .... Corak manusia ulung manakah orang ini? Dan keunggulan besar manakah yang mendesak jiwanya yang agung dan melecut kemauannya yang keras untuk mengatasi segala kesulitan dan membuatnya mungkin barang yang kelihatan mustahil? Kehausan dan kegandrungan terhadap kebenaran manakah yang telah menyebabkan pemiliknya rela meninggalkan kampung halaman berikut harta benda dan segala macam kesenangan, lalu pergi menempuh daerah yang belum dikenal -- dengan segala halangan dan beban penderitaan -- pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negeri ke negeri lain, tak kenal letih atau lelah, di samping tak lupa beribadah secara tekun ...?

Sementara pandangannya yang tajam selalu mengawasi manusia, menyelidiki kehidupan dan aliran mereka yang berbeda, sedang tujuannya yang utama tak pernah beranjak dari semula, yang tiada lain hanya mencari kebenaran. Begitu pun pengurbanan mulia yang dibaktikannya demi mencapai hidayah Allah, sampai ia diperjual belikan sebagai budak belian ...Dan akhirnya ia diberi Allah ganjaran setimpal hingga dipertemukan dengan al-Haq dan dipersuakan dengan Rasul-Nya, lalu dikaruniai usia lanjut, hingga ia dapat menyaksikan dengan kedua matanya bagaimana panji-panji Allah berkibaran di seluruh pelosok dunia, sementara ummat Islam mengisi ruangan dan sudut-sudutnya dengan hidayah dan petunjuk Allah, dengan kemakmuran dan keadilan.. .! Bagaimana akhir kesudahan yang dapat kita harapkan dari seorang tokoh yang tulus hati dan keras kemauannya demikian rupa? Sungguh, keislaman Salman radhiyallahu 'anhu adalah keislamannya orang-orang utama dan taqwa. Dan dalam kecerdasan, kesahajaan dan kebebasan dari pengaruh dunia, maka keadaannya mirip sekali dengan Umar bin Khatthab.

Ia pernah tinggal bersama Abu Darda di sebuah rumah beberapa hari lamanya. Sedang kebiasaan Abu Darda beribadah di waktu malam dan shaum di waktu siang. Salman radhiyallahu 'anhu melarangnya berlebih-lebihan dalam beribadah seperti itu.

Pada suatu hari Salman radhiyallahu 'anhu bermaksud hendak mematahkan niat Abu Darda untuk shaum sunnat esok hari. Dia menyalahkannya: "Apakah engkau hendak melarangku shaum dan shalat karena Allah?" Maka jawab Salman radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Di samping engkau shaum, berbukalah; dan di samping melakukan shalat, tidurlah!" Peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah, maka sabdanya: Sungguh Salman radhiyallahu 'anhu telah dipenuhi dengan ilmu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri sering memuji kecerdasan Salman radhiyallahu 'anhu serta ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji Agama dan budi pekertinya yang luhur. Di waktu perang Khandaq, kaum Anshar sama berdiri dan berkata: "Salman radhiyallahu 'anhu dari golongan kami". Bangkitlah pula kaum Muhajirin, kata mereka: "Tidak, ia dari golongan kami!" Mereka pun dipanggil oleh Rasurullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan sabdanya: Salman adalah golongan kami, ahlul Bait.

Dan memang selayaknyalah jika Salman radhiyallahu 'anhu mendapat kehormatan seperti itu ...!

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menggelari Salman radhiyallahu 'anhu dengan "Luqmanul Hakim". Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya: "Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering".

Dalam kalbu para shahabat umumnya, pribadii Salman radhiyallahu 'anhu telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Di masa pemerintahan Khalifah Umar radhiyallahu 'anhu ia datang berkunjung ke Madinah. Maka Umar melakukan penyambutan yang setahu kita belum penah dilakukannya kepada siapa pun juga. Dikumpulkannya para shahabat dan mengajak mereka: "Marilah kita pergi menyambut Salman radhiyallahu 'anhu!" Lalu ia keluar bersama mereka menuju pinggiran kota Madinah untuk menyambutnya ...

Semenjak bertemu dengan Rasulullah dan iman kepadanya, Salman radhiyallahu 'anhu hidup sebagai seorang Muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan selalu berbakti. Ia pun mengalami kehidupan masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu; kemudian di masa Amirul Mu'minin Umar radhiyallahu 'anhu; lalu di masa Khalifah Utsman radhiyallahu 'anhu, di waktu mana ia kembali ke hadlirat Tuhannya.

Di tahun-tahun kejayaan ummat Islam, panji-panji Islam telah berkibar di seluruh penjuru, harta benda yang tak sedikit jumlahnya mengalir ke Madinah sebagai pusat pemerintahan baik sebagai upeti ataupun pajak untuk kemudian diatur pembagiannya menurut ketentuan Islam, hingga negara mampu memberikan gaji dan tunjangan tetap. Sebagai akibatnya banyaklah timbul masalah pertanggungjawaban secara hukum mengenai perimbangan dan cara pembagian itu, hingga pekerjaan pun bertumpuk dan jabatan tambah meningkat.

Maka dalam gundukan harta negara yang berlimpah ruah itu, di manakah kita dapat menemukan Salman radhiyallahu 'anhu? Di manakah kita dapat menjumpainya di saat kekayaan dan kejayaan, kesenangan dan kemakmuran itu ...?

Bukalah mata anda dengan baik! Tampaklah oleh anda seorang tua berwibawa duduk di sana di bawah naungan pohon, sedang asyik memanfaatkan sisa waktunya di samping berbakti untuk negara, menganyam dan menjalin daun kurma untuk dijadikan bakul atau keranjang. Nah, itulah dia Salman radhiyallahu 'anhu Perhatikanlah lagi dengan cermat! Lihatlah kainnya yang pendek, karena amat pendeknya sampai terbuka kedua lututnya. Padahal ia seorang tua yang berwibawa, mampu dan tidak berkekurangan. Tunjangan yang diperolehnya tidak sedikit, antara empat sampai enam ribu setahun. Tapi semua itu disumbangkannya habis, satu dirham pun tak diambil untuk dirinya. Katanya: "Untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kuperbuat dan kujual tiga dirham.

Yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku, sedang satu dirham sisanya untuk shadaqah. Seandainya Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu melarangku berbuat demikian, sekali-kali tiadalah akan kuhentikan!"

Lalu bagaimana wahai ummat Rasulullah? Betapa wahai peri kemanusiaan, di mana saja dan kapan saja? Ketika mendengar sebagian shahabat dan kehidupannya yang amat bersahaja, seperti Abu Bakar, Umar, Abu Dzar radhiyallahu 'anhum dan lain-lain; sebagian kita menyangka bahwa itu disebabkan suasana lingkungan padang pasir, di mana seorang Arab hanya dapat menutupi keperluan dirinya secara bersahaja.

Tetapi sekarang kita berhadapan dengan seorang putera Persi, suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan serta hidup boros, sedang ia bukan dari golongan miskin atau bawahan, tapi dari golongan berpunya dan kelas tinggi. Kenapa ia sekarang menolak harta, kekayaan dan kesenangan; bertahan dengan kehidupan bersahaja, tiada lebih dari satu dirham tiap harinya, yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri.. .? kenapa ditolaknya pangkat dan tak bersedia menerimanya?

Katanya: "Seandainya kamu masih mampu makan tanah asal tak membawahi dua orang manusia --, maka lakukanlah!" Kenapa ia menolak pangkat dan jabatan, kecuali jika mengepalai sepasukan tentara yang pergi menuju medan perang? Atau dalam suasana tiada seorang pun yang mampu memikul tanggung jawab kecuali dia, hingga terpaksa ia melakukannya dengan hati murung dan jiwa merintih? Lalu kenapa ketika memegang jabatan yang mesti dipikulnya, ia tidak mau menerima tunjangan yang diberikan padanya secara halal? Diriwayatkan eleh Hisyam bin Hisan dari Hasan: "Tunjangan Salman radhiyallahu 'anhu sebanyak lima ribu setahun, (gambaran kesederhanaannya) ketika ia berpidato di hadapan tigapuluh ribu orang separuh baju luarnya (aba'ah) dijadikan alas duduknya dan separoh lagi menutupi badannya. Jika tunjangan keluar, maka dibagi-bagikannya sampai habis, sedang untuk nafqahnya dari hasil usaha kedua tangannya". Kenapa ia melakukan perbuatan seperti itu dan amat zuhud kepada dunia, padahal ia seorang putera Persi yang biasa tenggelam dalam kesenangan dan dipengaruhi arus kemajuan? Marilah kita dengar jawaban yang diberikannya ketika berada di atas pembaringan menjelang ajalnya, sewaktu ruhnya yang mulia telah bersiap-siap untuk kembali menemui Tuhannya Yang Maha Tinggi lagi Maha Pengasih.

Sa'ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya, lalu Salman radhiyallahu 'anhu menangis. "Apa yang anda tangiskan, wahai Abu Abdillah",') tanya Sa'ad, "padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat dalam keadaan ridla kepada anda?" "Demi Allah, ujar Salman radhiyallahu 'anhu, "daku menangis bukanlah karena takut mati ataupun mengharap kemewahan dunia, hanya Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepada kita, sabdanya:

Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara, padahal harta milikku begini banyaknya"

Kata Sa'ad: "Saya perhatikan, tak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan sebuah baskom. Lalu kataku padanya: "Wahai Abu Abdillah, berilah kami suatu pesan yang akan kami ingat selalu darimu!" Maka ujamya: "Wahai Sa'ad! Ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau derita. Dan pada putusanmu jika kamu menghukumi. Dan pada saat tanganmu melakukan pembagian". Rupanya inilah yang telah mengisi kalbu Salman radhiyallahu 'anhu mengenai kekayaan dan kepuasan. Ia telah memenuhinya dengan zuhud terhadap dunia dan segala harta, pangkat dengan pengaruhnya; yaitu pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepadanya dan kepada semua shahabatnya, agar mereha tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil bagian daripadanya, kecuali sekedar bekal seorang pengendara.

Salman radhiyallahu 'anhu telah memenuhi pesan itu sebaik-baiknya, namun air matanya masih jatuh berderai ketika ruhnya telah siap untuk berangkat; khawatir kalau-kalau ia telah melampaui batas yang ditetapkan. Tak terdapat di ruangannya kecuali sebuah piring wadah makannya dan sebuah baskom untuk tempat minum dan wudlu .:., tetapi walau demikian ia menganggap dirinya telah berlaku boros .... Nah, bukankah telah kami ceritakan kepada anda bahwa ia mirip sekali dengan Umar?

Pada hari-hari ia bertugas sebagai Amir atau kepala daerah di Madain, keadaannya tak sedikit pun berubah. Sebagai telah kita ketahui, ia menolak untuk menerima gaji sebagai amir, satu dirham sekalipun. Ia tetap mengambil nafkahnya dari hasil menganyam daun kurma, sedang pakaiannya tidak lebih dari sehelai baju luar, dalam kesederhanaan dan kesahajaannya tak berbeda dengan baju usangnya.

Pada suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan raya, ia didatangi seorang laki-laki dari Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat, hingga melelahkannya. Demi dilihat olehnya seorang laki-laki yang tampak sebagai orang biasa dan dari golongan tak berpunya, terpikirlah hendak menyuruh laki-laki itu membawa buah-buahan dengan diberi imbalan atas jerih payahnya bila telah sampai ke tempat tujuan. Ia memberi isyarat supaya datang kepadanya, dan Salman radhiyallahu 'anhu menurut dengan patuh. "Tolong bawakan barangku ini!", kata orang dari Syria itu. Maka barang itu pun dipikullah oleh Salman radhiyallahu 'anhu, lalu berdua mereka berjalan bersama-sama.

Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman radhiyallahu 'anhu memberi salam kepada mereka, yang dijawabnya sambil berhenti: "Juga kepada amir, kami ucapkan salam" "Juga kepada amir?" Amir mana yang mereka maksudkan?" tanya orang Syria itu dalam hati. Keheranannya kian bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman radhiyallahu 'anhu dengan maksud hendak menggantikannya, kata mereka: "Berikanlah kepada kami wahai amir!"

Sekarang mengertilah orang Syria itu bahwa kulinya tiada lain Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu, amir dari kota Madain. Orang itu pun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf bagai mengalir dari bibirnya. Ia mendekat hendak menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman radhiyallahu 'anhu menolak, dan berkata sambil menggelengkan kepala: "Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu!

Suatu ketika Salman radhiyallahu 'anhu pernah ditanyai orang: Apa sebabnya anda tidak menyukai jabatan sebagai amir? Jawabnya: "Karena manis wahtu memegangnya tapi pahit waktu melepaskannya!"

Pada waktu yang lain, seorang shahabat memasuki rumah Salman radhiyallahu 'anhu, didapatinya ia sedang duduk menggodok tepung, maka tanya shahabat itu: Ke mana pelayan? Ujarnya: "Saya suruh untuk suatu keperluan, maka saya tak ingin ia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus'' Apa sebenarnya yang kita sebut "rumah" itu? Baiklah kita ceritakan bagaimana keadaan rumah itu yang sebenamya. Ketika hendak mendirikan bangunan yang berlebihan disebut sebagai "rumah'' itu, Salman radhiyallahu 'anhu bertanya kepada tukangnya: "Bagaimana corak rumah yang hendak anda dirikan?" Kebetulan tukang bangunan ini seorang 'arif bijaksana, mengetahui kesederhanaan Salman radhiyallahu 'anhu dan sifatnya yang tak suka bermewah mewah. Maka ujarnya: "Jangan anda khawatir! rumah itu merupakan bangunan yang dapat digunakan bernaung di waktu panas dan tempat berteduh di waktu hujan. Andainya anda berdiri, maka kepala anda akan sampai pada langit-langitnya; dan jika anda berbaring, maka kaki anda akan terantuk pada dindingnya". "Benar", ujar Salman radhiyallahu 'anhu, "seperti itulah seharusnya rumah yang akan anda bangun!" Tak satu pun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau diutamakan oleh Salman radhiyallahu 'anhu sedikit pun, kecuali suatu barang yang memang amat diharapkan dan dipentingkannya, bahkan telah dititipkan kepada isterinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman.

Ketika dalam sakit yang membawa ajalnya, yaitu pada pagi hari kepergiannya, dipanggillah isterinya untuk mengambil titipannya dahulu. Kiranya hanyalah seikat kesturi yang diperolehnya waktu pembebasan Jalula dahulu. Barang itu sengaja disimpan untuk wangi-wangian di hari wafatnya. Kemudian sang isteri disuruhnya mengambil secangkir air, ditaburinya dengan kesturi yang dikacau dengan tangannya, lalu kata Salman radhiyallahu 'anhu kepada isterinya: "Percikkanlah air ini ke sekelilingku ... Sekarang telah hadir di hadapanku makhluq Allah') yang tiada dapat makan, hanyalah gemar wangi-wangian Setelah selesai, ia berkata kepada isterinya: "Tutupkanlah pintu dan turunlah!" Perintah itu pun diturut oleh isterinya.

Dan tak lama antaranya isterinya kembali masuk, didapatinya ruh yang beroleh barkah telah meninggalkan dunia dan berpisah dari jasadnya ... Ia telah mencapai alam tinggi, dibawa terbang oleh sayap kerinduan; rindu memenuhi janjinya, untuk bertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan dengan kedua shahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta tokoh-tolroh mulia lainnya dari golongan syuhada dan orang-orang utama ....

Salman radhiyallahu 'anhu .... Lamalah sudah terobati hati rindunya Terasa puas, hapus haus hilang dahaga. Semoga Ridla dan Rahmat Allah menyertainya.

Sumber : harun yahya



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Ewan_sn
Muslim penggerak sejarah, tamadun China
JUDUL: Rahsia Kegemilangan Islam di China
Penulis: Ann Wan Seng
Penerbit: PTS Profesional Publishing Sdn Bhd


MENYEBUT China, perkara yang berkisar di minda adalah sebuah negara yang kaya dengan budaya, kesenian dan nilai peradaban tinggi.

Sejarah China yang panjang itu serta diperintah oleh beberapa dinasti tertentu hingga menimbulkan rasa ingin tahu serta mengorek rahsia terkandung termasuk dari segi kemunculan dan kegemilangan masyarakat Islam di negara berkenaan.

Buku Rahsia Kegemilangan Islam di China ini menceritakan dengan terperinci mengenai sejarah termasuk kedatangan Islam di negara itu.

Berdasarkan sejarah, umat Islam di negara itu juga memainkan peranan penting dalam pentadbiran beberapa dinasti China dan diberi kedudukan tinggi di kaca mata pemerintah. Islam dipercayai sampai ke negara itu sejak lebih 1400 tahun lalu.

Nabi Muhammad sebelum berhijrah dari Makkah ke Madinah menghantar beberapa sahabat untuk berdakwah di China.

Pada Zaman pemerintah dinasti Tang ada rekod wujud hubungan diplomatik antara kerajaan China dengan pemerintahan Saidina Usman Affan, iaitu sekitar 618 Masihi (M).

Mereka meletakkan batu asas untuk membolehkan Islam bertapak di China dan akhirnya Islam berkembang pesat di China.

Ketika pemerintahan dinasti Yuan pula, kerajaan itu mengamalkan dasar pemerintahan memihak kepada umat Islam. Seterusnya umat Islam juga membantu penubuhan dinasti Ming pada 1368, sebagai balasan Maharaja dinasti itu membina beberapa masjid dipercayai 100 masjid manakala Beijing empat masjid besar dan sekali gus Islam terus berkembang pesat .

Kini, natijahnya, misi dakwah itu berjaya melahirkan lebih 136 juta umat Islam dengan majoriti menetap di Xinjiang, Gansu, Hubel, Qinghai dan Yunnan.

Di China kini ada kira-kira 35,000 masjid dengan yang tertua adalah Masjid Nujie dibina di Beijing pada 996M. Masyarakat etnik Hui adalah kumpulan komuniti Islam terbesar di China iaitu meliputi 90 peratus daripada jumlah mereka yang beragama Islam. Mereka banyak membantu perkembangan tamadun di negara kuasa besar itu.

Masjid tidak saja dijadikan pusat ibadat tetapi juga aktiviti kemasyarakatan dan pendidikan. Peranan masjid diperkukuhkan sebagai pusat kekuatan dan penyatuan tenaga umat Islam. Masjid juga merapatkan hubungan sesama umat Islam di China.

Kesan tamadun Islam di China melahirkan sejumlah alim ulama dan tokoh ilmuan Islam antaranya Wang Daisyu dan Yusuf Ma Zhu yang memberi sumbangan besar kepada pembinaan negara itu sendiri.

Secara keseluruhan jumlah umat Islam di China tidak dianggarkan dengan tepat. Bagaimanapun, ada pelbagai faktor dikemukakan untuk menyokong kenyataan itu, iaitu umat Islam bertapak di negara itu sejak 1400 tahun lalu, sebahagian wilayah China duduki oleh penduduk beragama Islam dengan penempatan bertebaran di kawasan cukup luas, sumbangan dan kesan tamadun Islam di peradaban China yang amat besar dan Islam terus bertahan sebagai sebuah agama terbesar di China dengan cara hidup sunnah masih mendominasi kehidupan penduduk di sana.

Sejarah umat Islam di China turut membantu perkembangan agama Allah itu di Asia termasuk Tanah Melayu. Secara langsung mengubah perkembangan politik dan ekonomi rantau Asia sehingga kini.
Ewan_sn
Muhammad Yusuf bin Ahmad (Tok Kenali )


Muhammad Yusuf bin Ahmad atau lebih dikenali sebagai Tok Kenali (1868 – 1933) ialah seorang tokoh tokoh ‘Ulama’ , guru, tokoh pembangun pemikiran umat Islam di dunia sebelah sini, di awal abad ke-20. Beliau seorang alim Rabbani yang dalam hidupnya banyak berpandukan kitab Suci Al-Quran disamping Sunnah Nabi Shallallaahu alaihi wasallam. Beliau disebut juga sebagai seorang yang memilih hidup sederhana . dan juga seorang wali keramat dan mendapat ilham daripada Allah dan ilmu laduni (Ilmu Kurniaan Ilahi tanpa belajar).

Tok Kenali - Tokoh Besar Ulama Kelantan
Bagi seseorang yang mengkaji sejarah tanah air, lebih-lebih lagi menyelidiki “sejarah kelantan’ maka dia secara langsung atau tidak, akan menemui nama Tuk kenali’. Mengikut perkembangan sejarah, Tuk Kenali adalah merupakan seorang pembangun fikiran umat Islam di dunia sebelah sini menerusi pengajaran kepada murid-murid yang bertebar pada beberapa tempat di Alam Melayu, juga melalui fikiran-fikirannya yang membina menerusi majalah “Pengasuh”, keluaran Majlis Agama Islam dan Adat istiadat Melayu kelantan dan majalah “Al-Hikmah” sebuah majalah pengatahuan yang antara lain yang sedang bersemarak di masa ini.

Sesuatu perkara yang menarik perhatian kita ialah perjuangan dan penghidupan Tuk kenali adalah agak nyata. Beliau banyak menerima pengaruh dari ajaran-ajaran Failasuf islam Al-Iman Ghazali , (1058-1111M) seorang pembangun dan pembina fikiran umat Islam yang banyak membuat pembaharuan dalam acara mengupas soal-soal agama berdasarkan ajaran-ajaran kitab suci Al-Quran dan hadis di samping memperoleh ilmu ladunni di zaman silam. Melihat kepada perjuangannya, kita mendapati cara perjuangannya hampir-hampir sama dengan perjuangan Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905M), seorang pembawa pembaharuan pemikiran umat Islam yang meletakkan kitab Al-Quran sebagai asas perjuangannya dan perjuangannya adalah secara melyeluruh menyedar dan membina masyarakat dalam aspek hidup, agama, ilmu pengatahuan, politik, sosial ekonomi dan lain-lain yang secara kebetulan di masa Tuk kenali berada di kota Suci Makkah dan semasa beliau melawat ke Mesir 1322H (1904M) merupakan akhir zaman Syaikh itu.

Untuk selanjutnya marilah sama-sama kita mengikuti garis-garis perjuangan beliau dan cebisan riwayat hidup beliau sebagai berikut:


Kelahiran Tok Kenali
Beliau dilahirkan di Kampung Kenali, Kubang Kerian, Kota Bharu, Kelantan kira-kira pada tahun 1287H (1870M*) dengan nama Muhammad Yusof (pernah disebut sebagai Awang sahaja) iaitu di penghujung pemerintahan Sultan Muhammad II (1837-1886M). Bapanya seorang petani bernama Ahmad, manakala Fatimah, ibunya adalah seorang insan yang sopan dan bercita-cita tinggi dan murni.


Latar Belakangnya
Muhammad Yusoff dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, dan ini adalah membentukkan sifat peribadinya yang tidak menonjol. Bapanya seorang petani manakala ibunya bagaimana kebiasaan orang-orang di kampungnya adalah bekerja menolong pekerjaan suaminya.

Sebelum melanjutkan pelajaran ke luar negeri, Muhammad Yusof telah mula belajar pada datuknya sendiri Encik Salleh (Tok Leh) iaitu dalam pelajaran membaca kitab suci Al-Quran dan pelajaran tulis-menulis. Sesudah itu dia menyambungkan pelajaran ke masjid Besar Al-Muhammadi, Kota Bharu dan tempat-tempat pengajian lain di sekitar kota Bharu dalam pelajaran Bahasa Arab, nahu, saraf juga pengetahuan agama.

Isterinya ialah Cik Ruqayyah Mahmud. Beliau dikurniakan empat orang anak, iaitu Ahmad, Muhd Shaalih, Mahmud dan Abdullah Zawaawi.

Perlu disebutkan bahawa datuknya adalah seorang yang lebai, warak, mempunyai sedikit sebanyak ilmu-ilmu agama untuk panduan hidup, seorang yang mempunyai kesedaran, mematuhi peraturan-peraturan agama dan gemar berbuat ibadat semata-mata mencari keredaan Allah.

Bapanya meninggal dunia sewaktu umurnya baru meningkat 5 tahun. Beliau dilantik di bawah pengawasaan datuknya menyebabkan pengaruh bapanya kurang terasa dalam corak hidupnya. Di samping itu, nenek perempuan tirinya, Tuk Mek ngah turut memberikan pendidikan yang baik kepadanya termasuk pengawasan terhadap punca-punca makanan yang hendak disajikan. Menurutnya pengaruh-pengaruh makanan-makanan yang haram adalah membawa akibat yang buruk dalam penghidupan di dunia ini, lebih-lebih lagi di akhirat.

Kebolehan Luar Biasa
Kecenderungan Tuk Kenali dalam pelajaran adalah nyata sejak kecil lagi. Perasaan ingin maju dan ingin tahu adalah meluap-luap di dadanya. Dalam tempoh yang pendek dia telah dapat mengkhatami pembacaan kitab suci Al-quran dan dapat menulis dengan baik. Kerana itu tidaklah hairan mengapa dia telah dipilih oleh penggawa daerahnya untuk menjadi seorang kerani sebagai pembantunya dalam mengira dan menguruskan hasil-hasil tanaman dan kebun di kawasan tersebut sewaktu dia berusia antara tujuh ke lapan tahun.


Menyambung Pelajaran Ke Kota Bahru
Sewaktu berusia antara sembilan ke sepuluh tahun, Muhammad Yusof telah mengambil langkah bagi menyambung pelajarannya ke Kota Bharu. Tempat pertama yang ditujunya ialah ke masjid Al-Muhammadi, di mana terdapat beberapa orang guru agama dan beratus-beratus orang murid dari seluruh ceruk Negeri Kelantan menyembung pelajaran mereka ke sini. Sekitar masjid besar ini, dewasa ini penuh dengan pondok-pondok (asrama) penuntut.

Dalam masa menuntut di sini beliau berguru kepada Tuan Haji Wan Ismail (ayahnda Datuk Perdana Menteri Paduka Raja, Kelantan, Dato' Nik Mahmud) Beliau belajar bersama-sama Encik Idris yang kemudiannya menjadi “Mufti Kerajaan Kelantan”’ Selain iatu beliau berguru kepada Tuan Guru Hj. Ibrahim, penambang (Mufti kerajaan Kelantan) Syaikh Muhammad Ali bin Ab. Rahman (Wan Ali) Kutan dan kepada Tuan Guru Padang (Hj. Ahmad) Kota Bharu.


Melanjutkan Pelajaran Ke Tanah Suci Mekah
Sebagai seorang pelajar, Tok Kenali telah menaruh cita-cita yang kuat untuk melanjutkan pelajaran ke Mekah. Pada tahun 1887M (1305H). Menjelang umurnya kira-kira 18 tahun, Tok Kenali menjejak Tanah Suci Mekah untuk meninggikan pelajaran agamanya di samping menunaikan rukun islam yang kelima, ibadat Haji iaitu sesudah enam bulan mengalami kesusahan di Lautan Hindi disebabkan kerosakan kapal yang ditumpanginya.

Penghidupan Tok Kenali di Tanah Suci Mekah
Pemergian Tok Kenali ke Tanah Suci Melah adalah semata-mata atas bantuan daripada sahabat dan kenalan beliau di Kota Bharu yang berjumlah kira-kira RM50.00 dan sumbangan daripada ibunya cuma berjumlah RM22.00. Kesukaran yang di hadapi Tok Kenali di rantau orang tidak dapat digambarkan lagi. Hampir tujuh bulan beliau di sana tanpa tempat kediaman yang tetap. Semasa itu beliau menginap di serambi Masjidil Haram, Mekah, dan hanya dapat tidur serta berehat-rehat bila menjelang sesuku malam disebabkan Masjidil Haram merupakan pusat ibadat tawaf, sa’i, sembayang dan sebagainya.

Pakaiannya sederhana, begitu juga tentang pemilihan makanannya untuk menampung kekosongan di waktu pagi dan petang. Memandangkan kedudukan ini, beliau pernah ditugaskan menjadi tukang masak sementara dalam sesuatu perkelahan atau antara kawan-kawannya di wadi-wadi (lembahan) dan di pinggir-pinggir bukit-bukit nan tandus.

Perkembangan Pelajaran
Sebelum beliau keluar negeri dahulu, beliau telahpun mempunyai pengetahuan-pengetahuan asas dalam pelajaran-pelajaran yang telah dipelajari ketika itu . Beliau telah pun menguasai pengetahuan bahasa arab (Nahu dan Sarafnya) bagi mengikuti setiap segi jurusan pengetahuan agama di masa itu. Perkara-perkara ini adalah melayakkan Tuk Kenali untuk menerima dan mengikuti pelajaran-pelajarannya yang sedang berkembang dewasa ini di Tanah Suci Makkah.

Tuk Kenali terpaksa belajar mendengar sahaja tanpa kitab. Di samping itu juga beliau terpaksa membaca di kedai-kedai kitab dengan meminta izin tuan-tuan kedai itu untuk membaca dan menatap kitab-kitab jualannya dalam tempoh yang agak lama dengan cara yang cermat sekali. Kitab-kitab Wakaf yang ada dalam simpanan di Masjid Al-Haram juga dipergunakan untuk memahami kuliah-kuliah gurunya . Selain itu, Tuk Kenali terpaksa pula meminjam kitab-kitab gurunya sendiri. Kerana kemiskinanlah agaknya , membawa Tuk Kenali mengharungi lautan ilmu dan kemajuan melebihi kawan-kawannya yang lain.

Jelaslah bahawa Tuk Kenali banyak sekali membaca dan menatap kkitab-kitab buah tangan ulamak dan para failasuf islam yang telah dan sedang tersebar di dunia islam dewasa itu. Beliau juga mempunyai sifat suka bertanya dan mengkaji pelajarannya sebelum pelajaran itu di ajar oleh gurunya dengan mengadakan perbandingan-perbandingan sendiri dan pergalaman sendiri. Banyak membaca dan banyak membuat kajian adalah merupakan faktor-faktor besar dalam perkembangan ilmu seseorang pelajar atau siswa.

Antara guru-guru di Masjid yang namanya banyak disebut-sebut oleh Tuk Kenali ialah Tuan Guru Wan Ahmad atau nama penuhnya Wan Ahmad bin Muhammad Zain yang terkenal sebagai seorang pengarang sesudah nama Syaikh Daud Patani. Kepada Guru inilah Tuk Kenali mendapat bimbingan dan bantuan baik dari segi ilmu pengetahuan mahupun penghidupan. Disamping itu, terdapat beberapa orang guru dari patani dan indonesia yang mungkin mendapat perhatian Tuk kenali disamping guru-gurunya yang terdiri daripada orang-orang Arab.


Lawatan Tok Kenali ke Mesir
Dalam tahun 1904M, Tok Kenali telah melawat Mesir bersama Tuan Guru Wan Ahmad, Encik Nik Mahmud (yang kemudiannya bergelar Datuk Perdana Menteri Paduka Raja Kelantan) dan Hj. Ismail Patani. Garis-garis kasar lawatan ini adalah menunjukkan bahawa lawatan beliau ke Mesir adalah berbentuk lawatan sambil belajar terutama kerana mengkaji hal-hal perkembangan pelajaran yang berhubung dengan Agama Islam di Universiti Al-Azhar dan lain-lain tempat pengajian di sekitar kota Kahirah.


Pulang ke Tanah Air
Pada tahun 1909M (1327 H) iaitu sesudah menjalani pengajian selama 22 tahun di tanah suci mekah, maka Tuk kenali pun pulang ke tanah air iaitu ke Kelantan seterusnya pada tahun 1911M (1329M) beliau mula membuka pondok Kenali, sebuah tempat pengajian yang kemudiannya menjadi pusat pengajian agama di semenanjung ini. Dua tahun kemudian , beliau menjadi guru di masjid Besar Al-Muhammadi, kota Bharu yang waktu itu menjadi pusat pengetahuan agama terbesar di kelantan, malahan juga dikenali di Semenanjung sebagai Serambi Mekkah.

Murid-murid dari seluruh kelantan telah membanjiri pondok-pondok yang terletak berderet-deret di sepanjang jalan di kawasan masjid dan di kawasan Kubang Pasu. Selain itu, bukan sedikit murid-murid dan pelajar-pelajar dari luar negeri datang yang menceduk pengetahuan agama daripada guru-guru yang terkenal . Selain daripada Tuk kenali, mereka belajar pada Tuan Guru Hj. Nik Abdullah, Tuan Guru Hj.Idris (yang kemudiannya berjawatan “Mufti kelantan) dan lain-lain.

Memandang hak-hak kemasyarakatan di kampung sendiri perlu pula dititik beratkan, maka Tuk kenali terpaksa pula menetap di kampungnya sendiri iaitu sesudah lima tahun mengajar di Masjid Besar Al-Muhammadi. Dewasa itu pondok kenali kembali bersemarak sehingga namanya termasyur ke serata ceruk rantau Semenanjung ini, malah sampai ke Indonesia (terutama Sumatera) kemboja, Patani dan lain-lain. Jumlah pelajar-pelajar yang menetap di asrama (Pondok) meningkat 400 orang suatu jumlah yang besar dalam pertumbuhan pengajian Islam dikala itu.

Dalam menjalankan tugasnya, Tuk kenali menetapkan beberapa buah kitab pelajaran (teks) dalam berbagai-bagai jurusan, iautu pengajian Bahasa dan pengetahuan-pengetahuan Agama islam dalam berbagai-bagai peringkat pelajaran. Beliau sendiri banyak mengambil peranan dalam mengembangkan pengetahuan Bahasa Arab, manakala pelajaran-pelajaran lain diperkembangkannya selaras dengan kehendak-kehendak masyarakat dewasa itu. Murid-murid beliau yang telah matang dalam pengajiannya dilantiknya menjadi kepala telaah (guru Kumpulan) disamping itu, kitab-kitab agama dalam tulisan jawi diajarkan juga kepada pelajar-pelajar dan orang-orang kampung. Menerusi pengajian-penjagian kepada orang-orang dewasa inilah lahirnya cerita-cerita tauladan yang kadang-kadang mengggelikan, sebagai suatu cara untuk menarik perhatian murid-murid kepada pelajaran yang sedang ditumpukan. Suatu hal yang agak luar biasa bahawa dalam masa mengajar itu, Tuk kenali mengajar tanpa kitab, di hadapannya tiada kitab-kitab pelajaran sedangkan muridnya mempelajarinya dengan menggunakan kitab. Ililah menunjukkan bahawa Tuk kenali adalah seorang yang mempunyai daya ingatan yang kuat.

Kemasyuhuran Tuk kenali telah menarik ramai pelajar Islam dari serata ceruk semenanjung. Antara mereka ini ada yang telahpun mempunyai kematangan dalam pengetahuan Agama islam datang untuk mengenal wajah dan mengikuti sebahagian pelajaran yang diajar oleh Tuk Kenali. Antara mereka ada yang datang kira-kira seminggu, sebulan, tiga atau empat tahun seterusnya. Ini bergantung kepada keadaan masing-masing, sebab di antara mereka ada yang sudahpun bekerja sebagai guru agama. Qadi atau sebagainya. Untuk meminta Tuk Kenali membaca kitab, cukuplah dengan meminta izin beliau di mana si peminatnya sendiri yang akan disuruh membacanya di hadapan kumpulan pelajar-pelajar. Sesudah itu Tuk kenali memainkan peranan memberi kefahaman dan mensyarahkan isi kitab itu, juga memberi peluang-peluang bertanya.


Menghembus Nafas Terakhir
Setelah kira-kira 65 tahun menyedut udara dunia ini, maka Tuk kenali pun dipanggil tuhan, kekasihnya iaitu pada Ahad 19 November 1933M, berikutan suatu penyakit di kakinya.

Majalah “Pengasuh” keluaran 11 disember 1933M. Mencalitkan berita tentang kematian Tuk kenali antara lain berbunyi;

“ kembali ke Darul-Baqa 1352 yang meredupkan alam Kelantan dendan dukacita. Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun:.

“Hari wafatnya; dilawati oleh tidak kurang daripada 2,500 orang dan disembahyang jenazahnya lebih daripada 1,000 orang dan disembahyang jenazahnya lebih seribu orang yang khalis liwajhillaahi Ta’ala.

Tuk Kenali dikebumikan di perkuburan yang sekarang terkenal dengan nama Kubur Tuk Kenali’ kilometer 5 jalan Pasir Puteh, Kota Bharu, tidak jauh dari istana negeri. Kuburnya selalu dizarahi oleh Duli yang maha Mulia Al-marhum Sultan Ibrahim (nenekanda kepada Duli Yang mulia Sultan Ismail Putera Sekarang) apa lagi oleh ramai terutamnya bekas murid-murid beliau yang ada berselerak di negeri ini, juga oleh pelawat-pelawat.

Dari desa pergi ke kota mencari sahabat nan berbudi kematiannya tanpa mewarisi harta tapi meninggalkan ilmu dana bakti.


Jawatan-jawatan Tok Kenali
Tuk kenali ada di antara orang-orang yang memikul tugas dan jawatan terpenting dalam perkembangan pengajian islam dan pertubuhan kebudayaan timur yang berteraskan islam di negeri Kelantan berdasarkan jawatan-jawatan yang pernah disandangnya sebagai berikut:

1. Ahli Majlis Ulama Islam Kelantan (7 Disember 1951- 19 November 1933).

2. Ketua Pelajaran Agama (Pengarah Bahagian Ilmu Agama. Bertanggungjawab memimpin Madrasah Muhammadiyyah dan penerbitan buku teks.

3. Ketua Pengarang pertama majalah Pengasuh (lidah rasmi Majlis Agama Islam Kelantan dikeluarkan setiap Isnin, dijual 10 sen senaskah).

4. Anggota Majlis Agama Islam Kelantan dan Adat Istiadat Melayu Kelantan.

5. Pengasas Jamiyyah al-Ashriyyah - kumpulan ilmiah membincangkan isu agama dan semasa.

6. Penterjemah kitab dari Bahasa Arab ke Bahasa Melayu.

7. Guru agama di Masjid Besar al-Muhammadi, Kota Bharu.

8. Penasihat agama kepada Datuk Perdana Kelantan (Menteri Besar).


Kegiatan-kegiatan dan Jasa Tok Kenali
Selain daripada amengajar, Tuk Kenali juga bergiat dalam lapangan-lapangan yang berhubung dengan kemajuan agala dana kebudayaan islam. Datu Paduka menteri Paduka Raja (Tuan haji mahmud bin ismail) dengan nasihat beliau telah dapat membentuk Majis Agama Islam dan Adat istiadat melayu kelantan pada 24 Disember 1915M (17 Safar 1334H). Ini adalah satu jasa yang dapat dilihat buktinya sampai sekarang.

Semasa hendak mengeluarkan majalah pengasuh 1918M iaitu warta majlis Agama islam dan Adat Istiadat Melayu kelantan. Tuk kenali telah dipilih untuk menjadi ketua pengarang kehormat . pada mulanya majalah ini dikeluarkan berupa lembaran akhbar yang mempunyai bidang besar, diterbitkan setia hari Isnin, senaskah berharga 10 sen. Penerbitan majalah ini juga adalah daripada saranan dan dorongan-dorongan beliau.

Selain itu beliau telah ditugaskan oleh pihak majlis Agama Islam kelantan untuk menterjemahkan Tafsir Al-Khazin yang bertajuk “Lubaab at-Ta,wiil fil Ma’aani At-Tanzil” ke dalam bahasa melayu. Tugas berat ini telah dijalankan oleh beliau dan sebahagian daripada tafsir Al-khazin telahpun siap diterjemahkan. Sayangnya, naskah ini tidak dapat dikesan sehingga sekarang.

Juga tidak dapat dilupakan bahawa majalah Al-Hikmah (lahir 1 julai 1923M) di mana ketua Pengarang dan penerbitnya yang berbahagia tuan hj. Ahmad bin Ismail (Datuk Lela negara) adalah kerap menerima nasihat-nasihat dan fikiran-fikiran yang berguna daripada Tuk kenali. Majalah pengetahuan ini diterbitkan tiga kali sebulan . pejabat penerbitan ini selalu didatangi oleh Tuk kenali danaa merupakan salah satu tempat beliau membaca surat-surat khabar dan majalah dewasa itu.

Tuk kenali adalah seorang pencinta ilmu pengetahuan. Hal ini ternyata sekali dalam sejarah hidupnya . Beliau juga pernah menyimopan sebuah buku cetera Raja Muda . salah sebuah buku sejarah kelantan yang penting. Buku ini kemudiannya telah diberikan kepada pengaranag buku Hikayat Seri kelantan.

- dalam kegiatan kemasyarakatan pula , beliau telah melancarkan suatu getakan perhimpunan umat islam yang di namakan ‘Jam ,iyyatul Asriyyah] ‘[Perhimpunan semasa] yang kerap membicangkan perkara-perkara hangat dalam masyarakat [Politik] , pebincangan=perbincangan ilmu dan perhimpunan kerana ibadat. Sebagai megekal gerakan tersebut ,maka satu bangunan telah didirikan di tebgah-tengah ibu kota dengan nama yang sama, terletak di Jalan Tengku Petra Semarak , Kota Bharu.

Perkembangan Pengaruh
Melihatkan jawatan- jawatan pentig yang telah disandang oleh Tuk Kenali dalam masa hayatnya,juga memandangkepada kegiatan dan jasa -jasa beliau yang cermelang dalam perkambangan pengajian ugama dan kebudayaan islam di Negeri Kelantan khasnya dan Alam Melayu amnya.

Maka sudah sewajanyalah pengaruh beliau segera berkembang ke segenap pelusuk tanah air dalam masa yang singkat sekali. Perkembangan-perkembangan ini adalah agak memuncak di penghujung pemerintahan Sultan Muhammad IV (1900-1920M) dan di awal pemerintahan sultan Ismail (1920-1944M) . kedua-dua baginda sultan ini adalah di antara sultan-sultan yang banyak mencipta kemajuan negeri dalam serba lapangan, lebih-lebih lagi di lapangan kemajuan agama islam. Ini adalah memberi peluang yang besar kepada perkembangan pengaruh Tuk kenali yang sedang berkembang ke seluruh tanah air, apa lagi melihat kedudukan Tuk Kenali yang sedang berkembang ke seluruh tanah air, apa lagi mellihatkan eratnya perhubungan Tuk Kenali dengan anak tuan gurunya dahulu iaitu dengan hj. Nik mahmud bin ismail (Datuk Perdana Menteri Paduka Raja) yang juga memegang peranan terpenting dalam pentadbiran negeri kelantan dewasa itu.

Tidak keterlaluan jika dikatakan bahawa tersebarnya pengatahuan Bahasa Arab dan pengetahuan-pengetahuan agama melalui pondok dan sekolah-sekolah pondok ke seluruh Tanah melayu ini antara lain ialah daripada jasa Tuk kenali yang menyusun kata-kata Tassrif yang kemudiannya diperkanalkan oleh murid-murid nya terutama tuan guru hj. Ali Shalaahuddin Pulau Pisang dan syaikh uthman jalaluluddin, seberang prai dalam buku Tatriful Arf- itu, syaikh Uthman menulis;

“Sesungguhnya hamba pungut akan dia daaripada beberapa mutiasa tasrif yang amat elok bagi guru hamba yang alim lagi yang amat ilmunya lagi yang menghimpunkan bagi beberapa fan ilmu yang bangsa kepada agama iaitu muhammad yusof yang masyhur akan gelarannya di seluruh tanah melayu dengan Tuk kenali di negeri kelantan.


Perkembangan Pondok Sekolah Agama dan Sekolah Melayu
Sistem persekolahan yang diutaamakan oleh Tuk kenali dalam masa hayatnya ialah sistem pondok, Sistem pondok yang menggunakan bahan-bahan pelajaran yang berdasarkan kitab dengan mengkelas-kelaskan kitab kepada pengajian peringkat rendah, menengah atas dana tinggi yang dipelajari secara berkelompok (berhalqah) di masjid atau madrasah (balaisah) . Manakala pelajar-pelajar yang tinggal di pondok-pondok (Asrama) di bawah bimbingan Tuk kenali, telah melahirkan beberapa orang tokoh ulamak. Tuan-tuan guru (tok guru_, pendakwah, pengarang yang terkenal yang datang dari beberapa tempat di seluruh tanah Melayu , sumatera, kemboja dan lain-lain.

Guru-guru pondok lepasan kenali inilah kemudiannya tersebar keseluruhan rantau ini di mana mereka menghidupkan pula sistem pondok.

Adalah agak luar biasa, di samping menggalakkan sistem pondok, Tuk kenali sebagai pencinta ilmu, tidaaklah menghalang wujudnya sistem persekolahan.

Tertubuhnya Agama islam dan adat istiadat melayu kelantan padaa tahun 1915M yang sudahpun mempunyai rancangana mendidikan sekolah-sekolah Agama islam di kelantan , adalah juga dengan mendapat nasihat daripada Tuk kenali. Maka pada 5 Ogos 1917M ditubuhkan sebuah Sekolah Agama berbahasa pengantar melayu yang menitik beratkan Bahasa Arab, dengan nama “Al-Madrasah Al-Muhammadiyyah Al-Kilantaniyyah”. Sekolah ini juga mengadakan pelajaran bahasa inggeris di sebelah petangnya.

Jadi, Tuk Kenali sebagai Ketua Pelajaran Agama Islam di Kelantan adalah memainkan peranan dalam pembukaan dan perlaksaan sekolah ini. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama “ Sekolah Agama Majlis”.

Kemudian pada tahun 1937 bila lahirnya sekolah aliran bahasa arab di Majlis dengan nama “Majlis Al-Muhammadiyyah Al-Arabiyyah” barulah Sekolah Agama Majlis tadi bertukar nama dengan “Sekolah Melayu Majlis”, manakala sekolah yang baru tadi disebut “Sekolah Arab Majlis”. Akhir sekolah aliran melayu ini diserapkan secara beransur-ansur ke dalam Bahasa Arab sesudah dia dipindahkan ke bangunan Maahad Al-Muhammadi sekarang ( sebagai ekoran daripada sekolah aliran arab tadi )

Keberkatan usaha beliau ini membawa Syaikh Uthman Jalaludin Al-Kilatani membuka sekolah arab Manaabi’ Ai-’Uluum, Bukit mertajam pada tahun 1934 (1353). Demikian juga Tuan Guru Hj. Ali Salaahudin membuka madrasah Al-Falaah di Pulau Pinang di mana kedua-dua madrasah ini lebih berbentuk pondok (sistem pondok).

Di samping itu beliau juga adalah dianggap sebagai pendorong pembukaan sebahagian sekolah-sekolah Melayu di Kelantan ini seperti Sekolah Melayu Kubang Kerian 1920M, Sekolah Melayu Mentuan, dan lain-lain. Beliau tidaklah memusuhi pembukaan sekolah-sekolah seperti ini selagi pelajaran yang diajar tidak menyelaweng daripada ajaran islam yang suci.


Tok Kenali Melahirkan Angkatan Pengarang
Di antara murid-murid Tuk kenali terdapat suatu golongan atau angkatan pengarang buku-buku agama yang mempunyai kedudukan yang baik di kalangan masyarakat Islam di dunia sebelah sini. Mereka ialah”

1. Dr. Syaikh Muhammad idris Al-Marbawi, seorang pujangga Islam yang banyak memberio sumbangan dalam perkembangan ajaran-ajaran Isdlam dengan kamusnya “Kamus Al- Marbawi” (Arab-Melayu) dan kitab-kitab karyanya yang banyak di lapangan Agama Islam.

2. Saahib Al-Fadhilah Datuk Hj. Ahmad mahir, Mufti Kerajaan kelantan yang juga seorang pengarang.

3. Syaikh uthman Jalaluddin Al-Kilantani, seorang pengarang buku-buku agama dan seorang guru.

4. Tuan guru Hj. Yaakub bin Ismail. Legor, Selatan Thailand.

5. Saahib Al-Fadhilah, Datuk Hj. Ismail bin Yusoff, Mufti Kerajaan kelantan.

6. Asy-Syaikh Muhammad Salih Tuk kenali, Makkah Al-Mukarramah Saudi Arabia.

7. Yang Berbahagia Hj. Ahmad bin Ismail (Datuk Lela Negara) pengarang majalah Al-Hikmah***(1923M) yang banyak mendidik bakat-bakat penulis dan pengarang-pengarang sebelum perang.

8. Tuan guru Hj. Ali Salahuddin, seorang guru agama terkenal yang juga menjadi seorang pengarang.

9. Tuan Guru Hj. Abdullah Tahir, seorang guru agama terkenal yang juga menjadi seorang pengarang.

10. Tuan Guru Hj. Yaakub bin Hj. Ahmad , lorong Gajah mati, kota Bharu adalah seorang guru agama dan seorang pengarang.

11. Yang berbahagia Datuk Hj. Hassan Yunus Al-Azhari, Bekas Menteri Besar Johor , ahli politikyang juga menjadi seorang pengarang.

Selain murid-murid beliau yang berbakat, terdapat pula cahaya-cahaya mata Tuk kenali yang turut memperkembangkan pengajaran ayahndanya, mereka ialah

1. Al-Marhum Hj. Ahmad Tuk Kenali, guru agama di pondok kenali dan guru yang mengajar pada beberapa buah surau dalam beberapa jajahan, daerah Negeri Kelantan.

2. Hj. Mahmud, wakil Syaikh haji , makkah.

3. Hj. Mohd Salleh Tuk Kenali, guru agama di kota suci Makkah dan seorang pengarang buku-buku dan risalah-risalah agama. Beliau mendirikan persatuan “Darul-Islah” bertempat di Maulid nabi, Suatu persatuan astu perhimpunan kaum Muslimin dari Tanah melayu, patani, kemboja, Indonesia dan lain-lain yang datang ke Tanah Suci makkah terutamanya di musim-musim haji, di mana Tuk kenali diperkenal dan jasanya diperkenangkan. Suatu persatuan lagi didirikan oleh beliau dengan nama “Darul-Quran (Persatuan Al-quran) bertempat di Misfalah, Makkah.

4. Hj. Abdullah Zawawi, lulusan kuliah Syariah, makkah. Berkecimpung di bidang pendidikan dan menjadi pengetua sekolah-sekolah menengah di Kerajaan Arab Saudi dan Nigeria.


Peribadi dan Sifat-sifat Utama
Tuk kenali bukan hanya terkenal sebagai salah seorang ulamak besar sahaja, malah terkenal pula sebagai tokoh yang mempunyai sifat-sifat utama yang berguna untuk menjadi teladan kepada masyarakat islam. Antara sifat-sifat utama yang berguna untuk menjadi teladan kepada masyarakatt islam. Antara si fat-sifat tersebut ialah:

a) Sangat menghormati dan memuliai ibu

cool.gif Pemurah, suka menderma terutamanya kepada fakir miskin dan anak-anak.

C) Seorang yang sabar, tidak lekas marah.

D) Suka berjalan kaki sahaja sebagai suatu langkah latihan melenyapkan perasaan sombong, bongkak dan megah.

E) mengamalkan hidup berdikari. Beliau membeli sendiri di pasar.

F) suka membaca dan menatap, baik buku-buku atau majalah-majalah di mana-mana sahaja beliau berada.

G) Suka beriktikaf di masjid, manakala tidur kerap berbantalkan lengan.

H) pakaian beliau amat sederhana.

Sebenarnya Tuk kenali ialah seorang “wali” atau seorang sufi disebabkan berlaku perkara luar biasa pada dirinya dan tidak inginkan kemegahan dan kesenangan hidup yang berlebihan. Tambahan pula memandang makhluk-makhluk lain dengan pandangan yang penuh bertimbang rasa dan kasihan belas.


Tok Kenali dan Hal-hal Kemasyarakatan
Sewaktu melancarkan pengajaran-pengajarannya, Tuk kenali didapati agak gemar sekali membincangkan hal-hal politik tanah air. Semasa hayatnya Tuk kenali tidak memisahkan politik daripada bidang pelajaran, malah beliau tidak mengenal pemisahan antara. Agama islam yang difahami dengan politik. Ini adalah merupakan suatu cara menyesuaikan pengajarannya dengan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dengan alam keliling. Kerana itu dalam pengajarannya beliau mengemukakan beberapa anjuran melalui cerita-cerita tauladan yang berkesan antaranya: ikut bapamu, tetapi takutkan Tuhan kuasailah pengetahuan agama dan politik ilmu itu apa yang terguris dalam hati pengetahuan manusia terbatas. Mengaku salah jika bersalah. Sunnah Tuhan sudahlah wajar biar mati adat, jangan mati syarak. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Bertanya pada yang tahu. Penjahat itu mencukupi dengan kejahatannya. Doa adalah senjata orang mukmin. (Cerpen-cerpen Tuk Kenali” oleh AQHAS - halaman 76), Terbitan baru dengan tajuk cerpen-cerpen warisan Tuk Kenali).


Tok Kenali dan Puisi
Dalam masa menyampaikan pengajarannya, disamapaing mengutarakan ayat-ayat suci Al-Quran dan hadis-hadis nabi Muhammad S.A.W , maka terhamburlah dari mulut beliau beberapa rangkap syair dan kata-kata hikmat bak mutiara gugur dari untainya.

Di sini dibentangkan sebuah syair yang pernah dikeluarkan oleh Tuk Kenali iaitu:

Bahaya Merokok:

Perokok itu terhina, dungu, membazir dan keji, kerendahan bagi penagihnya, pasti, Darinya menguap kentut yang busuk dan diluati. Kepulan asap dari bibirnya mengasapi muka dana peribadi.

Antara kata-kata hikmatnya:

“orang yang mulia itu ialah orang yang memuliakan ibu” “mengkaji sendiri adalah punca kemajuan dalam pembelajaran”,


Pengaruh Imam Al-Ghazali
Melihatkan peribadi dana sikap hidupnya, nyatakan bahawa Tuk kenali adalah terpengaruh oleh ajaran-ajaran Failasuf islam Iman Ghazali, seorang alhi Tasauf yang sampai kepada darjat “hakikat” mengenal diri dan Tuhannya, ingin mencapai kebahagiaan dan kesucian yang setinggi-tingginya dalam penghidupan yang singkat ini, kemewahan hidup yang terhad dan sifat tidak membesar diri adalah nyata sekali dalam penghidupannya.

Unsur-unsur ini adalah terkandung dalam adoa yang dikumpul dan digubah oleh Iman Al-Ghazali dalam kitabnya “Ayyuhai Walad” (Wahai Anak) yang menjadi amalan Tuk Kenali dan murid-murid beliau sehingga sesudah itu dikenal pula dengan “Doa Tuk Kenali” (Doa mengiringi sembahyang Lima Waktu) yang antara lain bererti:

wahai tuhan, sesungguhnya saya pohon pada Engkau pemberiannya sempurna , kesihatan yang berkekalan, rahmat yang menyeluruh dan kesegaran yang berguna. Saya pohonkan daripada Engkau puncak kesenangan hidup, puncak kebahagiaan umur, kesempurnaan kebaikan, juga keluasan pemberian dan kesopanan yang lebih berfaedah.”
Tuhanku, Tolonglah kami dan jangan pula kami ditindas. Tuhanku, Bahagiakanlah kesudahan hidup kami, buktikanlah hasrat kami dengan penambahan amalan. Susilah kesegaran dikala berpagi-pagi dan berpetang-petang.

Wahai Tuhanku, tumpahkanlah rahmat engkau di tempat kembali kami dan kesudahan kami dan tuangkanlah dulang kemaafan ke atas dosa-dosa kami dan kurniakanlah pembaikan kepada keaifan-keaifan kami dan berikanlah kegiatan kami pada agama engkau. Kepada Engkau kami berserah dan kepada engkau kami menggantung harapan”.

Meninjau kepada beberapa segi yang telah dikemukakan di atas, tidaklah keterlaluan jika dikatakan bahawa Tuk kenali adalah salah seorang tokoh ulama terkenal dan pembangun fikiran Umat Islam di dunia sebelah juga tidaklah salah jika dikatakan bahawa selagi terbitnya majalah pengasuh ke alam persuratan melayu, maka selama itulah Tuk Kenali dikenangan, seterusnya tidaklah merupakan suatu penonjolan jika dikatakan bahawa selagi wujudnya majlis Agama islam dan Adat istiadat melayu kelantan” maka selama itulah ?Tuk Kenali masih disebut dan dikenali.


Ewan_sn
Catatan kehidupan Al-Biruni
Oleh: DR. SYED ALI TAWFIK AL-ATTAS

PEMISAHAN ilmu kepada usaha-usaha yang menggunakan kaedah ilmiah (scientific method) dan yang tidak menggunakannya adalah fenomena moden. Ia muncul di Barat dengan kemunculan sains tabii pada kurun ke-16. Dengan kejayaan para ilmuwan membebaskan diri dari kongkongan gereja seterusnya membina suatu aliran yang utuh, “sains kemasyarakatan” menurut langkah yang sama dan di bawah kepimpinan Auguste Comte mereka membebaskan diri dari kongkongan yang sama seterusnya meletakkan ilmu berkenaan manusia di bawah bidang kemanusiaan (humanities).

Sains kemasyarakatan memisahkan dirinya dari kemanusiaan dan menggelarkan dirinya “sains” kerana ia mengguna pakai kaedah ilmiah, dan memastikan ia juga setaraf dengan sains tabii dalam soal taraf kesahihannya. Pada zaman yang dikuasai oleh faham romantik, ilmu kemanusiaan hanyalah merangkumi sisa-sisa dari apa yang dinamakan kehidupan manusia, yakni persoalan cita dan perasaan, harapan dan keindahan. Pembahagian yang dibuat ini bagaimanapun menjadikannya sesuatu yang bersandarkan pendapat semata-mata di mana kebenaran yang subjektif mungkin boleh disuarakan, tetapi tiada kebenaran objektif yang boleh ditemui.

Punca perkembangan ini ialah kaedah ilmiah; dan ia ditakrifkan sebagai kaedah bagi mengetahui hakikat kejadian melalui pemerhatian, andaian dan uji kaji. Kaedah ini seterusnya dicirikan oleh maklumat-maklumat dan bukti-bukti yang bersifat material semata-mata yakni boleh ditanggapi oleh pancaindera dan boleh diukur kadarnya.

Para pemikir Muslim menimbulkan persoalan-persoalan besar berkenaan kesesuaian kaedah ilmiah ini apabila digunakan ke atas sains kemasyarakatan. Tidak kurang pentingnya soalan berkenaan kemampuan kaedah itu apabila diguna pakai dalam bidang sains tabii pada zaman sains-sains yang sunyi nilai dan akhlak, memandu dunia ke arah kebinasaan. Teguran-teguran seumpama ini, walau bagaimanapun, tidak menjejaskan pemerhatian, andaian, dan uji kaji berdasarkan maklumat-maklumat inderawi yang boleh diukur. Sebagaimana ia, langkah- langkah yang digunakan ini sah dan terpelihara dalam usaha memperoleh ilmu. Persoalannya, adakah kaedah ini ciptaan Eropah moden semata-mata?

Istilah ilm atau fiqh pada mulanya diguna oleh kaum Muslimin bagi merujuk kepada ilmu berkenaan wahyu, maklumat-maklumatnya, tradisinya dan makna-maknanya. Justeru makna harfinya terpelihara. Ia mula memperoleh makna istilahi apabila diguna bagi merujuk kepada syariah. Kini ia bermakna ilmu yang diperoleh secara istidlal, dengan mengkaji bukti bagi mengetahui apa yang tidak diketahui. Istidlal mengandaikan pemerhatian maklumat dan pengkajiannya menerusi uji kaji, ukuran dan pemerhatian lanjut. Perbezaan seterusnya ialah antara istiqra’ dan istinbat. Yang pertama itu seerti dengan kaedah empirikal dan induktif manakala yang kedua seerti dengan kaedah analitikal. Bukti tentang dakwaan ini boleh ditemui di mana-mana, khususnya dan karya- karya perubatan Abu Rayhan al-Biruni.

BAHAGIAN SATU

Abu Rayhan Muhammad b. Ahmad al-Biruni, pada pandangan saya mungkin merupakan salah satu lambang teragung zaman keemasan sains tamadun Islam. Beliau cendekiawan agung yang dikurniakan berbagai- bagai kepandaian dalam bidang ilmu falak (astronomy), tabii (physics), kaji alam (geography), perubatan dan bidang-bidang ilmu lain. Beliau tokoh ilmuwan terulung pada zaman pertengahan tamadun Islam, salah satu zaman yang paling hebat dalam bidang reka cipta manusia. Walaupun tidak begitu dikenali berbanding Ibn Sina, kesarjanaannya dan pemerhatiannya yang tajam terhadap perubahan-perubahan masyarakat, dan yang lebih penting pencapaian-pencapaian saintifik yang diperolehnya meletakkannya pada kedudukan yang tinggi dalam sejarah pemikiran. Sebahagian sejarawan meletakkannya salah seorang saintis tamadun Islam teragung.

Al-Biruni dilahirkan pada tahun terakhir pemerintahan Khalifah al-Muti’. Tarikh sebenar kelahirannya tidak pasti. Walau bagaimanapun, menurut sesetengah sarjana beliau dilahirkan pada hari Khamis, 3 Zulhijah 362H, di Khwarizm, berdekatan Khira. Daerah ini merupakan pusat kebudayaan antarabangsa yang tumbuh hasil penaklukan. Khwarizm pernah menjadi sebahagian dari Khilafah Umayyah, akan tetapi semasa al-Biruni dilahirkan, ianya telah lama di bawah kuasa dinasti Parsi, Samani. Di bawah pemerintahan Samani, bandar-bandar Asia Tengah seperti Bukhara dan Samarkand mencapai kemuncak sebagai pusat kebudayaan dan kekayaan. Kesusasteraan, syair, serta berbagai-bagai cabang ilmu pengetahuan dinaungi oleh golongan pemerintah, termasuk pemerintah tempatan Khwarizm. Pada awal remajanya al-Biruni dipelihara oleh bapa angkatnya Abu Nasr Mansur b. Ali b. Iraq, kerabat diraja Khwarizm yang juga ahli ilmu hisab (mathematics) dan astronomi yang terkenal. Beliau bertanggungjawab memperkenalkan kepada al-Biruni geometri Euclid dan astronomi Ptolemy.

Al-Biruni boleh dibandingkan dengan berlian yang bergemerlapan. Pada zaman awalnya, al-Biruni begitu mengagumi para ilmuwan Yunani purba. Menurut Max Meyerhorf, pada pandangan al-Biruni bangsa Yunani adalah bangsa yang paling terkehadapan dan cemerlang dalam soal keilmuwan, mereka mengangkat martabat ilmu ke tempat tertinggi dan memajukannya ke tahap yang sempurna. Walau bagaimanapun al-Biruni menentang falsafah silogistik dan rasionalistik Aristotle, menghormati pencapaian saintifik kaum Stagira, dan berbeza pendapat daripada kaum Peripatetik dalam soal-soal besar seperti makna kejadian dan soal keabadian alam. Dia juga membuat kajian mendalam terhadap al-Razi dan penulis- penulis lain yang dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Hermetik.

Peristiwa-peristiwa yang mengubah struktur siasah Asia Tengah pada penghujung kurun ke-10 memberi kesan langsung kepada kehidupan ilmiah al-Biruni apabila penguasa tempatan Khwarizm berpaling memberi ketaatan kepada Dinasti Samani. Al-Biruni meninggalkan negaranya dan membawa diri ke bandar Rayy di mana dia menemui penaungnya yang baru Shams al-Ma‘ali, pemerintah Jurjan dan Tabaristan. Raja ini merupakan pemerintah kejam dan al-Biruni tidak selesa berada di bawah naungannya, tambah pula pertukaran pemerintah menyebabkan dia kehilangan penaung yang diperlukan bagi meneruskan kajiannya. Dengan itu dia kembali ke Khwarizm pada tahun 1012. Satu lagi perubahan siasah berlaku pada 1017. Kali ini membawa kesan yang amat besar yang mengubah kehidupannya: Penaklukan Khwarizm oleh tokoh teragung pada zaman itu, Mahmud Ghaznawi.

Mahmud Ghaznawi (998-1030M) adalah hasil dan sekali gus orang yang bertanggungjawab mengubah institusi-institusi siasah di Asia Tengah, Parsi dan India Utara. Mahmud dikenali dalam sejarah India sebagai penjarah yang mabuk darah, akan tetapi terkenal sebagai penaung seni, sastera dan sains. Pada zamannya, dia mengumpulkan di istananya para ilmuwan dan penulis teragung. Ibn Sina telah pun menyelamatkan diri ke istana pemerintah Buwayh di Parsi, manakala sesetengah ilmuwan yang lain datang secara sukarela dengan harapan mendapat naungan diraja. Sesetengah yang lain pula semata-mata terperangkap apabila Mahmud mencari orang-orang yang berbakat di bandar-bandar yang ditaklukinya. Al- Biruni termasuk dalam golongan ketiga ini. Pada masa itu dia telah dikenali sebagai ahli astronomi, matematik dan falsafah dan apabila Mahmud menakluki Khwarizm, dia dibawa ke Ghazna pada tahun 1017M. Ini bukan bermakna dia ditawan; sebaliknya pemerintah mahukan kehadirannya di istananya, dan satu-satunya peluang untuk dia meneruskan kajian dan penulisannya ialah dengan menyertai rombongan Mahmud.

Tidak banyak maklumat berkenaan kehidupan al-Biruni di Ghazna manakala rujukannya kepada Mahmud adalah berlapik dan kabur. Yang jelas al-Biruni tidak sukakan Mahmud dan sentiasa dalam ketakutan terhadap apa yang Mahmud mungkin lakukan terhadapnya. Walau bagaimanapun, kegilaan Mahmud terhadap penaklukan membuka ruang kepada al-Biruni mencapai cita-cita ilmiahnya kerana ia membolehkannya menjelajah negara-negara asing. Tidak banyak maklumat yang diperoleh berkenaan kerja-kerja yang dilakukan al-Biruni semasa menyertai rombongan Mahmud pada 1030M. Pada masa inilah Mahmud hampir setiap tahun menyerang wilayah-wilayah raja-raja India, dan hampir pasti al-Biruni menyertainya, mungkin sebagai ahli astronomi atau astrologi. Al-Biruni tidak mengagung-agungkan kemenangan para penakluk, atau berpandangan bahawa tamadun yang lebih besar membawa kebaikan kepada yang lebih kecil. Dalam keadaan sedemikian al-Biruni memulakan pengkajiannya terhadap tamadun India, dan di sebalik kekangan tugas- tugasnya terhadap Mahmud dia tidak melepaskan peluang keemasan yang diperolehnya itu.

Pengukuran adalah perkara asasi dalam kaedah ilmiah al-Biruni. Baginya, pengukuran jarak bukan sahaja penting dari segi kegunaan: Ia adalah cara yang penting bagi menyatakan kebenaran. Ilmu yang diperoleh melalui geometri selaras dengan hakikat alam itu sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh keyakinannya bahawa bilangan daun sesuatu bunga mengikut undang-undang geometri. Dia juga mengkaji bidang graviti khusus (specific gravity). Berikut ialah penjelasan kaedah yang beliau gunakan:

Pertama dia menimbang jisim itu dalam udara, kemudian menimbangnya dalam air dengan meletakkannya dalam bekas kon yang ditebuk lubang padanya pada ketinggian tertentu. Seterusnya dia menimbang air yang diganti oleh jisim tadi dan dari berat air itu dia mengetahui berat jisim. Kemudian dengan membahagikan berat jisim di udara dengan berat air berkenaan, dia memperoleh graviti khusus jisim itu, ataupun lebih tepat lagi bahan yang membentuk jisim itu.

Bahan-bahan yang diperoleh melalui kajian teks banyak didapati dalam bukunya. Al-Biruni bagaimanapun tidak bergantung hanya kepada perpustakaan dan hasil kajian orang lain. Dalam kitabnya, al-Saydanah fi al-Tibb, al-Biruni menyatakan keraguannya terhadap pengumpulan buku untuk perpustakaan serta menunjukkan kecenderungannya terhadap ingatan. Perpustakaan, katanya, terdedah kepada bahaya kebakaran, kehilangan akibat kecurian atau kemusnahan.

BAHAGIAN DUA

Dari sekian banyak karya peninggalan al- Biruni dalam bahasa Arab dan Sanskrit, terdapat satu senarai (catalogue) lengkap yang dikatakan mengandungi tidak kurang dari 60 folio yang elok cetakannya, ianya adalah kitab al-Saydanah fi al-Tibb, usahanya yang terakhir yang dimulakan pada penghujung usianya seperti beliau nyatakan pada awal pengenalan buku berkenaan.

Kitab al-Saydanah boleh dibahagikan kepada dua bahagian. Pertama merupakan pengenalan kepada ilmu farmasi, farmakologi dan terapi perubatan, yang dilengkapi takrif dan penjelasan sejarah yang berguna. Selanjutnya, buku berkenaan farmasi dan materia medica telah sampai kepada kita dalam bentuk draf yang dinukilkan oleh al- Biruni sendiri yang menambahkan catatan- catatan sisi tidak lama sebelum kematiannya.

Seperti penulis-penulis Muslim yang datang kemudian, al-Biruni memanfaatkan kitab al-Nabat karangan Abu Hanifah al-Dinawari, juga tulisan al-Razi. Al-Biruni memetik dua tulisan al-Razi, kitab al-Saydanah dan kitab al-Abdal dan menyatakan:

“Aku telah melihat dua karya Abu Bakr al-Razi tetapi aku kurang berpuas hati terhadapnya. Apa saja yang aku ingat aku tambahkan padanya untuk diulangkaji kembali, untuk aku dan rakanku, supaya dia dapat mengenal pasti apa yang aku katakan sama ada berpunca dari kelalaian atau kelemahan ingatanku.”

Sebaik mungkin al-Biruni memastikan dia mengikuti tradisi: Dia menyusun materia medica berkenaan mengikut susunan huruf seperti dilakukan Ibn Sina, Ibn al-Baytar dan al-Ghafiqi. Dia juga menyenaraikan istilah lain bagi setiap dadah yang disenaraikan, biasanya dalam bahasa Yunani, Syria, Parsi, Sogdi, Sindhi, Hindi, Khwarizmi (dan dalam keadaan tertentu, Tirmidhi).

Selain tersusun mengikut urutan huruf, senarai panjang materia medica secara umumnya merangkumi perbicaraan tentang khasiat dan pandangan penulis-penulis lain tentangnya, selaras dari segi rangkanya dengan Medical Formulary al-Kindi. Adalah tugas yang besar untuk memahami sepenuhnya ruang lingkup maklumat yang terkandung dalam buku itu, istilah-istilah yang digunakan dalam perbahasan etimologi tentang nama-nama dadah dan kata seertinya. Dalam kata al-Biruni sendiri:

“Satu kepayahan besar berkenaan bahasa Arab ialah banyak perkataan yang seerti dan seseorang itu mesti membezakan satu dari yang lain melalui perubahan bentuk (inflection) dan titik. Sedikit kecuaian dalam soal ini akan mendatangkan kekeliruan dan kekaburan. Seseorang itu tidak dapat memastikan apa sebenarnya yang dimaksudkan dan kecuaian seperti ini malangnya begitu berleluasa di kalangan kita. Sekiranya ini tidak berlaku, karya-karya yang ditinggalkan para ilmuwan Yunani yang diterjemah ke bahasa Arab sudah mencukupi. Malangnya kita tidak dapat bergantung kepadanya; tambah pula kerana pembetulan dan pindaan dimasukkan dalam karya-karya mereka, kita tidak lagi memperoleh manfaat penuh.”

Seperti dinyatakan sebelum ini kitab al- Saydanah al-Biruni boleh dibahagikan kepada dua bahagian utama. Yang pertama, satu pengenalan dan lima bab yang padat di mana al-Biruni menjelaskan kaedah-kaedah dan kajian yang dilakukan, pendekatan dan perancangannya, termasuk sahabat dan pembantunya al-Shaykh al-Nasha‘i, dan matlamat-matlamat mereka dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang munasabah. Al- Biruni mengutamakan pendekatan yang berasaskan “pengalaman sendiri” dan menekankan bahawa pengulangan cara itu akan melengkapkan ilmuwan dengan maklumat- maklumat yang tidak mungkin dilupakan, yang jika tidak terpaksa dirujuk berulang kali. Sikap ini berlawanan dengan sikap para pengumpul yang hanya mengulang kembali kesilapan-kesilapan yang terdahulu. Al-Biruni menyimpulkan perbahasan berkenaan dengan memetik kata-kata penulis Arab: “Kekayaan sebenar seseorang itu ialah ilmu yang tersimpan dalam ingatannya yang dapat dia gunakan dengan mudah bila-bila sahaja.”

Bahagian kedua mengandungi materia medica yang diatur dengan teliti berdasarkan susunan huruf. Dia telah membina aliran berikut, dan telah menjelaskan ciri-cirinya.

(1) Pertama, dia namakan ubatan berkenaan, kemudian senaraikan istilahnya dalam bahasa-bahasa lain.

(2) Berikutnya etimologi ubat berkenaan.

(3) Sumbernya, di mana diperoleh.

(4) Sifat ubat itu. Dia menggunakan kaedah pembahagian membahagikannya kepada galian, tumbuhan dan haiwan.

(5) Dia juga memberikan penjelasan morfologi terhadap dadah berkenaan.

(6) Turut disediakan ialah perbandingan antara jenis-jenis, dengan menekankan bahagian-bahagian yang digunakan, warna dan ciri-ciri luaran yang lain.

(7) Pertumbuhan, penyebaran, penanaman, pengumpulan dan penyimpanan ubat- ubatan asas (simple drugs) untuk kegunaan akan datang.

(dirol.gif Kerapkali dia memetik pengarang lain dalam bentuk prosa dan ayat, juga merujuk kepada penilaian yang mereka lakukan.

(9) Menyediakan asas kepada pemisahan farmakologi dari farmakognosi dalam usaha terancang bagi membuktikan sifat-sifat lahiriah ubat-ubatan asas (simples). Menurut Profesor Dr. Hamarneh, bahagian ini dari kitab al-Saydanah adalah salah satu yang terbaik dan yang pertama seumpamanya pernah ditulis dalam mana-mana bahasa sehinggalah kepada zaman kebangkitan Eropah.

Di samping nama-nama ubatan al-Biruni juga memberi penjelasan panjang terhadap setiap ciri ubatan berkenaan, dari etimologinya, sifat dan pembawaannya, hinggalah kepada ciri-ciri lahiriah, isi kandungan dan keracunannya. Tafsiran umum al-Biruni tentang keracunan dalam kitab al-Saydanah berasaskan, dengan sedikit pengubahsuaian, kepada teori-teori dan pegangan Hunayn al-Ibadi dan ilmuwan sezaman dengannya. Dalam bahagian ini, al-Biruni menjelaskan tentang beberapa ubatan asas (simple drugs) yang beracun atau mengandungi kesan sampingan yang membentuk keracunan.

Perbincangan itu mengandungi banyak pemerhatian asli yang disertai pandangan- pandangan yang menarik dan penting dari segi sejarah. Kelazimannya, dari daya usaha al-Biruni, dia akan menjelaskan asal-usul herba tertentu termasuklah kenyataan-kenyataan sejarah dan tafsiran-tafsiran ilmuwan lain. Dia turut menyertakan unsur-unsur budaya dan akhlakiah yang diselitkan bersama kegunaan dan khasiatnya. Ini dilakukan dengan penuh bijaksana dan ilmiah. Memetik satu contoh:

“Dikatakan bahawa chah (tea) adalah perkataan Cina merujuk kepada sejenis herba yang tumbuh di tempat tinggi di negara itu. Terdapat berbagai-bagai jenis yang dibezakan menurut warna: Setengahnya putih, ada yang hijau, ungu, kelabu dan hitam.

Orang Cina dan Tibet memasaknya, dan menyimpannya dalam bekas berbentuk kiub selepas mengeringkannya. Teh mempunyai ciri-ciri air dan mempunyai khasiat dalam mengatasi kemabukan. Dengan sebab itu ia dibawa ke Tibet di mana masyarakatnya kuat minum arak, dan tiada ubat yang lebih mujarab bagi mengatasi kesannya dari herba ini. Orang yang membawanya ke Tibet tidak menerima bahan tukaran lain selain dari kesturi. Dalam buku Akhbar al-Sin disebut bahawa harga 30 beg teh ialah sedirham, dan rasanya manis bercampur masam. Apabila direbus masamnya hilang... Seorang raja Cina yang marah terhadap seorang pegawainya telah membuangnya ke kawasan pergunungan. Pegawai itu mendapat demam dan pada suatu hari dengan susah payah dia berjalan dalam keadaan lemah menuju ke lembah gunung. Dia dalam keadaan lapar dan kebetulannya menjumpai pokok-pokok teh, lalu dimakan daunnya. Selepas beberapa hari demamnya mula berkurangan, lalu dia terus memakan dauh teh hinggalah sembuh sepenuhnya. Seorang pegawai lain kebetulan melalui tempat itu dan menjumpai pegawai yang sembuh itu lantas menceritakan kepada raja tentang apa yang berlaku. Raja memerintahkan kajian dilakukan terhadap teh dan tabib-tabib baginda menyenaraikan kebaikannya kepada baginda. Mereka juga memasukkan teh ke dalam kaedah perubatan.”

Banyak sebab kenapa al-Biruni mendapat pujian tinggi dari sarjana Barat seperti Dr. Edward Sachau, DeBoer dan lain. Dia tidak pernah sesat dalam hutan maklumat yang tidak perlu, sebaliknya memastikan langkahnya sentiasa berada dalam landasan pencari kebenaran. Penilaiannya yang objektif terhadap masalah semasa dan kontroversi menghalang tulisan-tulisannya dari dicemari racun dan sangkaan buruk yang membawa kepada sikap berat sebelah dan berpihak.

Secara semula jadinya, al-Biruni berbakat besar dalam ilmu sains tepat (exact sciences). Dari usia 17 tahun, dia arif bagaimana menentukan aras tempat, dan empat tahun kemudian menyempurnakan bulatan bertingkat (graduated circle). Astronomi, geodesi, meneralogi, botani, farmasi, tidak ada bidang yang tidak menarik minatnya dan tidak diberi sumbangannya. Deduksi dan intuisi sains fizikal dan tabii, dalam ruang lingkup masing-masing telah digunakan secara berterusan oleh al-Biruni.

Abdullah b. Mas‘ud meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

Jangan berharap menjadi orang lain kecuali dalam dua keadaan. Pertama: Seorang yang Allah kurniakan kekayaan dan dia belanjakan pada jalan yang benar. Kedua: Seorang yang Allah kurniakan kebijaksanaan dan dia mengamalkannya dan mengajarnya pada orang lain.

Al-Biruni memiliki kedua-duanya, dan dia meninggalkan warisan yang akan terus dikaji dan dicontohi oleh generasi akan datang.

- DR. SYED ALI TAWFIK AL-ATTAS ialah Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM).
Ewan_sn
Syeikh Abdullah Muhammad Siantan
Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

NAMA Kepulauan Siantan dan Kepulauan Jemaja memang cukup dikenali dalam beberapa kitab klasik Melayu. Di antara sekian banyak versi sejarah mengenai hubungan dunia Melayu dengan negeri China, salah satu di antaranya ada kesamaan antara Siantan dengan Pattani, Johor, Palembang dan Bangka.

Keempat-empat tempat itu, ramai mengatakan dan juga berupa tulisan yang meriwayatkan salah seorang putera Raja Cina melarikan diri ke negeri mereka. Putera Raja Cina yang dimaksudkan itu bernama Lim Tau Kian.

H. Amryn Helmi Yuda dalam kertas kerjanya berjudul Masuknya Islam ke Pulau Bangka, menulis, “Sejarah menyebutkan bahwa Wan Abduljabar adalah putra dari Abdulhayat, seorang kepercayaan Sultan Johor untuk memerintah di Siantan. Wan Abdulhayat ini semula adalah seorang pejabat tinggi Kerajaan China bernama Lim Tau Kian, yang kerana berselisih faham dikejar-kejar kemudian melarikan diri bersama isterinya sampai ke Johor. Di sini mendapat perlindungan daripada Sultan.

“Ia kemudian memeluk agama Islam dan menggunakan nama Abdulhayat. Karena keahliannya, ia kemudian diangkat oleh Sultan Johor menjadi kepala negeri di Siantan dengan Ce' Wan Abdulhayat”.

Dalam buku-buku penulisan moden tentang Patani juga disebut-sebut nama ‘Lim Tau Kian’ (Lim Tau Kin). Tetapi dalam semua manuskrip (klasik) ialah ‘Lim Tai Kim’. Riwayat Pattani diceritakan bahawa seorang anak Raja Cina bernama Lim Tai Kim/Lim Tau Kian untuk dilantik sebagai Kaisar Cina telah diuji dengan pelbagai kepandaian dan hampir semuanya lulus belaka.

Namun demikian, dia gagal ujian yang terakhir iaitu tinggal bermalam dalam suatu lopak yang di dalamnya penuh dengan lintah.

Lim Tai Kim/Lim Tau Kian sangat jijik dengan jenis binatang itu. Oleh kerana itu, dia tidak sanggup tinggal dalam lopak itu selama satu malam. Oleh kerana berasa malu, dia melarikan diri ke Pulau Siantan. Tiada berapa lama tinggal di Siantan dia berangkat ke Pattani, usianya pada masa itu ialah 22 tahun.

Di Pattani, dia masuk Islam, ditukar namanya dengan Ya’qub. Pelat orang Pattani dipakai nama ‘Aluk’ atau ‘Aquk’ atau ‘Aqub’ lama-kelamaan bertukar menjadi ‘Tok Aguk’.

Beliau berkahwin dengan salah seorang kerabat Diraja Pattani bernama Raja Cik Cahaya. Lim Tai Kim/Lim Tau Kian/Ya’qub dilantik sebagai Syahbandar untuk memungut cukai di Pelabuhan Kerisik, Pattani.

Menurut riwayat, dialah menjadi arkitek Masjid Kerisik dan dia juga yang membuat Meriam Seri Patani dan Seri Negeri. Berdasarkan sebuah salasilah keturunannya disebut bahawa Lim Tai Kim/Lim Tau Kian/Ya’qub meninggal dunia pada 976 H/1568 M. Kuburnya terletak di Tanjung Luluk/Tanjung Tok Aguk.

Demikian gambaran ringkas kisah Siantan yang bererti ada hubungan dengan tempat-tempat lainnya. Kepulauan Siantan yang terletak di Laut China Selatan itu termasuk dalam gugusan kepulauan Indonesia yang paling utara. Ia terletak di antara Malaysia Barat dan Malaysia Timur atau termasuk antara Malaysia Barat dengan Brunei Darussalam.

Di antara tokoh ulama yang berasal dari Siantan yang dianggap sezaman dengan Syeikh Abdul Malik bin Abdullah Terengganu/Tokku Pulau Manis (1650 M-1149 H/1736 M) dikenali dengan nama Haji Muhammad Siantan. Beberapa orang sarjana mencatat Hikayat Golam diterjemahkan dari bahasa Arab oleh seorang tokoh yang berasal dari Siantan. Beliau ialah Abdul Wahhab Siantan.

Abdul Wahhab Siantan ialah guru kepada Raja Ja’far, Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga ke-6 (1805-1831 M). Selain dua nama ulama yang berasal dari Siantan itu, terdapat lagi dua nama yang lain. Seorang bernama Syeikh Abdullah bin Muhammad Siantan dan yang seorang lagi ialah Syeikh Abdullah bin Abdul Wahhab Siantan.

Dua versi manuskrip yang penulis peroleh di Dabo Singkep, dapat diketahui bahawa Syeikh Abdullah bin Abdul Wahhab Siantan pernah mensyarah sebuah karya Syeikh Abdullah bin Muhammad Siantan yang diberi judul Bayanu Syirki li Ilahil Haqqil Maliki yang diselesaikan pada hari Jumaat, waktu Asar, 9 Zulhijjah 1228 H, di Air Kepayang, Bandar Terempa, Tanah Pulau Siantan.

Menarik juga untuk diperhatikan maklumat dari manuskrip karya Syeikh Abdullah bin Abdul Wahhab Siantan itu, yang tercatat bahawa dalam tahun 1228 H atau yang diperkirakan bersamaan tahun 1813 M bererti Terempa yang dinyatakan sebagai ‘bandar’ atau kota kecil telah wujud.

Karya Syeikh Abdullah bin Abdul Wahhab Siantan yang merupakan syarah itu kemudian disyarah pula, dijumpai sebuah salinannya yang diselesaikan tahun 1235 H.

Jika diperhatikan kedua-dua tahun yang tercatat pada dua versi manuskrip karya Siantan itu, masing-masing bertahun 1228 H/1813 M dan 1235 H/1819 M yang bererti mendahului karya-karya tokoh-tokoh Riau yang terkenal lainnya.

Memerhatikan tahun kemunculan kedua-dua karya itu bererti pengarangnya sezaman dengan tokoh ulama dunia Melayu yang sangat terkenal Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Diperhatikan juga bahawa Raja Ali Haji pujangga Riau yang terkenal itu sewaktu ke Mekah (1243 H/1827-28 M) sempat belajar kepada ulama yang berasal dari Pattani itu.

Dengan demikian dipercayai bahawa Raja Ali Haji adalah peringkat murid pula kepada kedua-dua ulama yang berasal dari Siantan itu.

ANALISIS NASKHAH

Pada pengamatan penulis, kedua-dua manuskrip yang tersebut di atas adalah merupakan syarah dari sebuah matan yang dipercayai berasal dari Syeikh Muhammad Siantan yang disyarah pula oleh anaknya Syeikh Abdullah bin Muhammad Siantan.

Oleh sebab berasal daripada satu karya, maka pada syarah tersebut banyak persamaan dan perbezaan kandungan. Pada beberapa tempat pula antara kedua-dua naskhah mempunyai kelebihan dan kelemahan yang tersendiri.

Di bawah ini penulis nyatakan data ringkas kedua-dua versi manuskrip. Setelah itu sedikit petikan di antara bahagian kandungan atau kalimat dari kedua-dua naskhah itu.

Penulis mulai dengan Naskhah 1228 H, kandungan ringkas ialah membicarakan syirik dan tauhid menurut pandangan ahli hakikat dalam tasauf.

Karya ini merupakan syarah daripada perkataan-perkataan Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad yang terdapat dalam Risalah Bayanis Syirki. Tebalnya adalah 86 halaman, 19 baris setiap halaman. Ukuran: 23.6 x 19.5 cm. Klassifikasi: Nadir, belum diketahui di mana manuskrip selain yang diperkenalkan ini tersimpan. Diselesaikan: Pada hari Jumaat, waktu Asar, 9 Zulhijjah 1228 H, di Air Kepayang, Bandar Terempa, Tanah Pulau Siantan. Keadaan Manuskrip: Lengkap, tidak terdapat kerosakan, tulisan jelas dan baik, ditulis dengan dakwat hitam dan merah.

Manuskrip di atas terdapat berbeza kalimat yang digunakan pada mukadimah jika dibandingkan versi Naskhah 1235 H. Untuk sebagai perbandingan, sebelum membicarakan Naskhah 1235 H lebih lanjut di bawah ini penulis petik mukadimah dari kedua-dua versi itu, dimulai Naskhah 1228 H tertulis, “Ada pun kemudian daripada itu, maka akan berkata yang berkehendak kepada rahmat Allah s.w.t dan ampun-Nya, iaitu Syeikh Abdullah namanya anak Syeikh Muhammad yang terlebih hina ia daripada kasut. Maka tatkala dikehendak oleh Allah akan menyampaikan Ia akan kehendakku kepada negeri Pahang bahawasanya menuntut daripada aku setengah daripada sebesar-besar manusia dan iaitu Maulana Pengulu yang amat mulia Muhsin namanya, anak Marhum Habib Abdur Rahman, Habsyi bangsanya, lagi Ba' Alawi bahawa aku perbuatkan baginya suatu risalah yang pandak daripada perkataan ulama ahil hakikat ...”.

Perhatikan perbezaan-perbezaan dengan Naskhah 1235 H yang termaktub dengan kalimat-kalimat, “Ada pun kemudian daripada itu, maka lagi akan berkata orang yang berkehendak kepada rahmat Allah dan ampun-Nya, akan Syeikh Abdullah ibnu Muhammad orang yang terlebih hina daripada kaus yang di bawah kaki segala orang.

“Maka tatkala dikehendak oleh Allah maka datanglah ke Tanah Bugis maka menuntutlah kepada kami daripada setengah orang yang besar-besar pada masa itu, lagi ia ulama pada ilmu tarekat, dan iaitu Tuan Syeikh Zainal Abidin, Qusyasyi bangsanya, Madinah nama negerinya, bahawasanya kami karangkan dia suatu risalah yang pandak, iaitu daripada segala perkataan ulama ahil hakikat...”.

Pemikiran Sheikh Abdullah Siantan

Pada awal syarahnya Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan (Naskhah 1228 H) menyatakan, “Maka bahawasanya barang yang faqir suratkan dalam kertas ini akan dipersembahkan Kebawah Duli Telapakan Maulana Saiyid Muhsin itu, akan makanan orang tuha-tuha jua. Dan tiada boleh dimakan oleh kanak-kanak kecil-kecil...”.

Sesudah kalimat tersebut nampaknya ada ketegasan Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan bahawa ahli syariat jauh lebih rendah martabatnya dari ahli hakikat, katanya, “Ulama ahlis syariah itu dibilangkan dia kanak-kanak jua, jika ia mengetahui ilmu empat mazhab sekali pun. Dan ulama ahlil hakikat itu dibilangkan akan dia orang tua”.

Pandangan Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan yang demikian tentu saja sangat tidak disetujui oleh ahlisy syariat. Mereka sangat murka. Bagi penulis pendapat demikian ada wajarnya kerana jika kita pelajari tulisan-tulisan dan ucapan-ucapan ahlisy syariat sangat banyak tuduhan-tuduhan mereka yang mengatakan bahawa ahlil hakikat adalah sesat, zindiq, keluar dari Islam dan lain-lain sebagainya.

Pandangan Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan lagi, “... Dan adalah orang yang terpedaya ia dengan ilmunya itu, mereka itulah ulama ahlis syariah yang zahir. Dan mengiktikadkanlah mereka itu dan memandakkanlah mereka itu atas barang yang diketahui oleh mereka itu akan dia. Dan menyangkalah atas bahawa tiada ada lagi ilmu yang mulia lain daripada ilmu yang sudah diketahui oleh mereka itu akan dia”.

Setelah pandangan tersebut beliau tegaskan, “Maka adalah ilmu hakikat itu seperti mutiara dalam laut tiada mengetahui akan dia itu melainkan segala orang yang kuasa menyelam dia. Dan ilmu syariat itu, iaitu ilmu yang zahir, seperti telur hayam (ayam). Harganya tiada berapa, hanya adalah ingar bangar jua mengerjakan dia. Maka mutiara itu mahal harganya besarnya tiada berapa ...”.

Ditulisnya serangkap syair dalam bahasa Arab dan diterjemahkannya, “Adakanlah akan dirimu itu seperti mutiara dalam andangnya, dalam laut yang maha dalam Dan jangan engkau seperti hinduk hayam, meletakkan ia akan telurnya yang satu, memenuhi suaranya itu dalam kampung”.

Sungguh pun demikian yang diperkatakan oleh Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan pada awal kitab, namun beliau sendiri bukanlah seorang yang melalaikan syariat. Beliau adalah seorang ulama pengamal syariat juga.

Jalan pemikirannya dapat kita perhatikan kalimatnya, “... hakikat itu tiada menyalahi syariat, dan syariat itu tiada menyalahi hakikat. Dan keduanya itu bertepatan. Hakikat itu batin syariat, dan syariat zahir hakikat. Dan tarekat itu menjalani ia akan kedua-duanya itu. Makrifat itu mengenal jalan keduanya. Kerana syariat itu umpama kulit. Dan tarekat itu umpama tempurung. Dan makrifat itu umpama isi yang di dalam tempurung. Dan hakikat itu umpama minyak yang di dalam isinya itu”.

Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan menegaskan bahawa semua Rasul diutus adalah untuk menegakkan syariat. Nabi Khidir a.s bertugas menzahirkan hakikat. Nabi Muhammad s.a.w adalah kedua-duanya syariat dan hakikat secara padu dan serentak.

Ditegaskannya, “Dan karena itulah difardukan oleh Allah atas Rasulullah s.a.w itu perang sabilillah dengan kafir serta dihalalkan Allah mengambil rampasan harta, halal memakan dia. Dan segala Rasul yang dahulunya perang sabil jua, tiada dihalalkan mengambil rampasan harta mereka itu dan tiada dihalalkan memakan dia”.

Syeikh Abdullah bin Syeikh Muhammad Siantan berpendapat bahawa untuk ilmu syariat terdiri bermacam-macam nama iaitu: Ilmu Syariat, Ilmu Syirik, Ilmu Ijtihad, Ilmu Maktasabah, Ilmu Istijarah, ilmu Mukallafah dan lmu Ta’lilah.

Menurutnya ilmu hakikat juga ada beberapa nama, iaitu: Ilmu Hakikat, Ilmu Tanzih, Ilmu Wahdah, Ilmu Fana’ dan banyak lagi namanya.

Demikianlah pengenalan tentang naskhah/manuskrip Siantan.


Ewan_sn
Sheikh Ahmad al-Fathani
Utusan Malaysia

Koleksi tulisan Allahyarham Wan Mohd. Saghir Abdullah

Pada mulanya penulis tidak mengenali Sheikh Ahmad al-Fathani, kerana penulis selalu diceritakan tentang kehebatan Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan Sheikh Nik Mat Kecik al-Fathani sahaja. Oleh sebab itu, pada penyelidikan awal penulis hanya tertumpu pada biografi Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan sahabat-sahabatnya.

Ibu penulis, Hajah Wan Zainab binti Syeikh Wan Ahmad al-Fathani pada mulanya enggan bercerita lebih panjang mengenai ayahnya.

Namun di antara cerita yang paling awal, katanya: "Kalau kamu ingin tahu tentang ayahku hendaklah kamu merantau ke Kelantan. Di sana ada murid-murid dan anak angkat ayahku. Anak angkat dan murid angkat ayahku yang paling terkenal ialah 'Awang Kenali'. Dia ialah ulama besar dan keramat. Ada murid ayahku menjadi ulama besar Kelantan namanya 'Nik Mahmud' dan 'Haji Muhammad Sa'id'.

"Sebelum kamu dengar dan temukan riwayat ayahku dari orang lain, aku tidak akan menceritakan kisahnya semua, tapi cukup kamu ketahui bahawa ayahku pergi ke Baitulmadqis dari Mekah dengan berjalan kaki. Sewaktu beliau pulang dari Turki pernah mendapat pelbagai hadiah dari Sultan Turki, di antaranya globe dunia yang besar sehingga tidak muat pintu ketika akan dibawa masuk ke rumah...", demikian cerita ibu penulis.

Setelah itu sekitar tahun 1960-an, penulis sering terbaca tentang Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathani terselit dalam riwayat beberapa ulama yang diperkenalkan di majalah-majalah dan buku-buku.

Maklumat awal yang penulis perolehi mengenai beliau adalah berupa tulisan terdapat dua sumber. Sumber pertama pernah dibicarakan oleh salah seorang muridnya, seorang orientalis iaitu, Prof. Dr. C.Snouck Hurgronje yang dimuat dalam bukunya Mecca in The Latter Part Of The Nineteenth Century.

Maklumat pertama didengar bahawa Snouck Hurgronje adalah murid Sheikh Ahmad al-Fathani melalui cerita Saiyid Muhammad Yusof Zawawi, yang ketika hidupnya pernah sebagai Mufti Terengganu. Beliau menjelaskan kepada penulis sewaktu berada di Masjid Negara pada tahun 1977. Cerita beliau tersebut dikuatkan pula dengan pelbagai catatan yang penulis temui beberapa tahun kemudiannya.

Sumber kedua ditulis oleh murid Tok Kenali dalam majalah Pengasuh, bertarikh 2 Zulkaedah 1352 H/ 15 Februari 1934 M, hari khamis, jilid ke 17, muka ke 13 dan 14.

Sedikit mengenainya penulis salin tanpa perubahan bahasa, iaitu: "....al-Allamah Sheikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani yang terkaya daripada ujian umpama kita ini. Betapakah tiada berkata demikian itu? Kerana ilmu yang mengandungi pelajaran agama itu masih ada lagi sekarang 60 perkara ilmu. Maka al-Allamah itu dapat empat puluh tujuh ilmunya seperti mengkhabarkan kepada penulis satu orang alim yang dipercayai khabarannya kerana dia berkebetulan pada satu masa itu ada peluang. Maka al-Allamah itu mentakrifkan 47 ilmu itu satu persatunya.

"Dan setengah-setengah ia karang ilmu itu. Maka sekarang ini, ada juga setengahnya seperti syaikhuna al-Kanali, dapat dua puluh empat. Kalau pembaca-pembaca hendak tahu insya-Allah saya akan sebut. Sebab almarhum itu (Maksudnya Tok Kenali) dapat setengah ilmu al-Allamah pada bilangan itu ialah kerana banyak mukhalathah dan mengaji daripadanya. Katakanlah seperti Abu Hurairah dengan Nabi kerana banyak bercampurnya dapat riwayat hadis tujuh ribu lebih. Dan al-Allamah yang tersebut itu almarhum sentiasa puji dan sebut; menunjukkan kasihnya demikianlah al-Allamah itu telah dapat khabar bahawa murid-murid yang lebih disayang ialah almarhum..."

Mengenai Sheikh Ahmad al-Fathani ini, penulis pernah menerbitkan buku kecil di Yala (1971-1972) dan pernah dimuat dalam majalah Dian bilangan 49, tahun 1972. Kedua-dua karya tersebut adalah karya penulis yang pertama diterbitkan.

Selain itu, khusus mengenai pemikiran Sheikh Ahmad al-Fathani ada tujuh siri pernah dimuat dalam Dewan Budaya mulai April 1991 sehingga September 1991 dan disambung dalam bulan Oktober 1991. Dalam majalah Dakwah pula mulai Ogos 1989 hingga April 1991, dan disambung lagi Jun 1991 hingga Disember 1991, yang penulis tulis khusus membicarakan ulama-ulama Malaysia dan Patani. Sebahagian besar ulama yang dibicarakan ada hubungkaitnya dengan Syeikh Ahmad al-Fathani.

Adakalanya mengenai pertalian dalam kekeluargaan, pertalian keilmuan daripadanya hingga ke atas dan murid-murid beliau.

Riwayat ringkasRiwayat ringkas Sheikh Haji Wan Mushthafa al-Fathani, iaitu datuk kepada Sheikh Ahmad al-Fathani, pernah penulis tulis dalam majalah Al-Islam, Januari 1990, iaitu siri ke-3 di bawah judul Thabaqat Para Ulama Patani.

Dalam Jurnal Dewan Bahasa, Mac 1990, penulis perkenalkan pemikiran bahasa dan huruf Melayu baru ciptaan Sheikh Ahmad al-Fathani. Dalam Jurnal Bahasa, September 1991, diperkenalkan pula kitab Hadiqatul Azhar war Rayahin yang merupakan karya Sheikh Ahmad al-Fathani.

Sepanjang tahun 1990 dan 1991, dalam Jurnal Dewan Bahasa, penulis perkenalkan pelbagai kitab karya ulama dunia Melayu, yang sebahagian besar juga menyentuh nama Sheikh Ahmad al-Fathani, kerana beliau adalah selaku pentashih pertama. Nazham atau syair Sheikh Ahmad al-Fathani, baik dalam bahasa Arab mahu pun dalam bahasa Melayu, beberapa buah di antaranya juga penulis sebut dalam jurnal tersebut itu.

Selain yang penulis sebutkan, masih banyak mengenai Sheikh Ahmad al-Fathani yang ditulis dalam majalah lainnya, di antaranya majalah Pengasuh.

Sebagai kesinambungan dari semua yang tersebut di atas, penulis menerbitkan pula buku khusus mengenai ulama ini, berjudul Sheikh Ahmad al-Fathani: Pemikir Agung Melayu dan Islam, Jilid 1 dan 2, terbitan Khazanah Fathaniyah, 2005.

Buku tersebut terkumpul maklumat lengkap mengenai Sheikh Ahmad al-Fathani hasil dari kajian demi kajian yang penulis selidiki. Dalamnya terkandung di antaranya mengenai pemikiran dan perjuangannya, termasuk aktiviti keseluruhan murid-muridnya yang terkenal, keluarganya yang menjadi ulama dan tokoh dunia Melayu, dan lain-lain yang penulis fikirkan perlu ditonjolkan.

Penulis dulukan perkataan 'Melayu' dari perkataan Islam dalam judul buku tersebut adalah bermaksud bahawa beliau adalah seorang ahli fikir yang terbesar untuk seluruh zaman bagi dunia Melayu.

Penulis tidak bermaksud mengatakan bahawa Sheikh Ahmad al-Fathani adalah pemikir agung atau besar untuk dunia Islam antarabangsa. Namun walau pun kecil, tidak dapat dinafikan bahawa ada peranan, sumbangan dan pemikiran beliau untuk kepentingan umat Islam sejagat hingga peringkat antarabangsa.

Kesinambungan daripada itu, penulis memperkembangkan lagi perbicaraan mengenai Sheikh Ahmad al-Fathani melalui artikel ini secara bersiri, seperti yang pernah penulis lakukan sebelum ini.

Ia dimulakan dengan pengenalan, seterusnya biografi yang mengandungi asal-usul keluarga beliau, keturunannya, keluarga yang menjadi ulama dan tokoh, murid-muridnya, kewafatannya, hasil-hasil karya beliau yang terkenal, dan pemikiran-pemikiran dalam pelbagai bidang.

Sebagai permulaan, penulis memulakan dengan pengenalan dan asal-usul nama beliau sahaja. Seterusnya mengenai yang selainnya akan dibicarakan dalam siri-siri selanjutnya.

Asal-usulNama lengkap Sheikh Ahmad al-Fathani ialah Sheikh Wan Ahmad bin Muhammad Zainal Abidin bin Datu Panglima Kaya Sheikh Haji Wan Mushthafa bin Wan Muhammad bin Wan Muhammad Zainal Abidin (faqih Wan Musa al-Jambui as-Sanawi al-Fathani) bin Wan Muhammad Shalih al-Laqihi bin Ali al-Masyhur al-Laqihi.

Walau bagaimana pun nasab yang sahih dan tahqiq dari Sheikh Ahmad al-Fathani sendiri ialah: Ahmad bin Zainal Abidin bin Haji Wan Mushthafa bin Wan Muhammad bin Wan Muhammad Zainal Abidin al-Fathani.

Nasab ini beliau tulis pada tiga tempat iaitu pada akhir Hadiqah al-Azhar, juga pada akhir Tuhfatul Ummah dan dalam sebuah catatan.

Tetapi pada semua cetakan Ar-Risalah al-Fathaniyah ialah: Ahmad Zainal Abidin bin Haji Wan Mushthafa bin Wan Muhammad bin Musa al-Fathani. Pada nama Zainal Abidin disebut nama 'Musa'.

Ada kemungkinan 'Zainal Abidin' adalah sebagai nama gelar untuk Syeikh Faqih Wan Musa al-Fathani, kerana 'Zainal Abidin' bermaksud 'perhiasan orang-orang yang mengabdikan diri kepada Allah'.

Dalam salah satu manuskrip tulisan Tok Kelaba al-Fathani, ada dicatat bahawa datuk-neneknya berasal dari negeri Khurasan, iaitu yang pertama datang ke dunia Melayu bernama 'Syarif Zainal Abidin'.

Beliau ini merantau ke Pulau Jawa, lalu berkahwin dengan seorang perempuan yang berasal dari Minangkabau. Oleh sebab terjadi sesuatu peperangan di Jawa, maka 'Syarif Zainal Abidin' bersama dengan salah seorang Raja Jawa keluar dari Pulau jawa lalu terdampar di Kelaba, iaitu sebuah negeri dalam Daulah Islam Patani Darussalam.

Syarif Zainal Abidin adalah seorang ulama, sehingga mudah baginya mendapat pengaruh di Kelaba dan juga meninggal dunia di Kelaba. Anak Syarif Zainal Abidin bernama Abu Bakar, berpindah ke Kelantan, dan tinggal di Kampung Laut, Kelantan. Di Kampung Laut (Kelantan), beliau memperolehi anak bernama Abdullah. Abdullah memperolehi anak bernama Abdul Shamad.

Abdul Shamad ini pindah pula ke Kelaba dan mendapat anak bernama Abdul Mukmin. Abdul Mukmin mendapat anak bernama Abdul Latif, dan Abdul Latif mendapat anak bernama Husein (Tok Kelaba).

Syarif Zainal Abidin yang dicatat oleh Tok Kelaba sebagai datuk neneknya itu adalah sezaman dengan Zainal Abidin yang disebut oleh Sheikh Ahmad al-Fathani. Oleh sebab ada hubungan kekeluargaan antara Sheikh Ahmad al-Fathani dengan Tok Kelaba, maka penulis yakin pertemuan nasab kedua-duanya adalah pada nama Zainal Abidin. Zainal Abidin pada salasilah Tok Kelaba kemungkinan adalah orang yang sama dengan Zainal Abidin pada salasilah Sheikh Ahmad al-Fathani.

Adapun nama Musa bin Muhammad Salleh bin Ali al-Masyhur al-Laqihi al-Fathani adalah berdasarkan tulisan Sheikh Muhammad Nur bin Sheikh Muhammad Ismail Daudy al-Fathani.

PenutupSelanjutnya, mengenai yang lain-lainnya akan dibicarakan dalam artikel ini secara bersiri-siri. Ia meliputi asal-usul keluarganya, keturunannya, keluarga yang menjadi ulama dan tokoh, murid-muridnya, kewafatannya, hasil-hasil karyanya yang terkenal, dan pemikiran-pemikiran beliau dalam pelbagai bidang.


Ewan_sn
Ayat al-Hujurat menyedarkan John Pugh
Susunan ZUARIDA MOHYIN




“JIKA kita semua (penganut Kristian) menghormati di antara satu sama lain, sudah pasti tidak timbul pelbagai perbalahan dan perbezaan pendapat sesama kita.” Kata-kata seorang paderi sewaktu menyampaikan khutbah inilah yang telah mencetuskan kesedaran serta membuka minda lelaki kelahiran Toowoomba, Queensland, Australia, John Pugh sekali gus membawa kepada pengislaman beliau kira-kira tujuh tahun lalu.

Pugh yang dipetik menerusi pengakuan penghijrahan akidahnya kepada sebuah laman web Islamik mengakui, titik perubahan ini berlaku kira-kira sebulan selepas pengislaman isteri yang dibuat secara tidak rasmi. Apatah lagi pada masa itu, hatinya semakin kecewa dan memberontak dengan agama kepercayaan yang pernah suatu ketika itu diagung-agungkan.

Ditambah pula apabila diketemukan pula dengan surah al-Hujurat ayat 13 di mana Allah berfirman yang bermaksud: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu daripada seorang laki-laki, seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

“Hakikatnya inilah yang menyedarkan saya bahawa sungguhpun ayat di atas diturunkan kepada umat Islam menerusi kitab al-Quran tetapi sebenarnya, kehidupan yang saya lalui selama ini adalah berasaskan idea-idea atau ajaran Islamik.

Semasa aktif dengan kerja-kerja di gereja lagi, saya tidak pernah lupa menyumbang bakti kepada mereka yang memerlukan atau miskin. Kepercayaan kepada Tuhan begitu teguh malah saya selalu berusaha melaksanakan apa sahaja kehendak-Nya, saya menilai manusia itu secara adil. Semua manusia berasal dari Adam dan Hawa. Yang pasti, keserasian ini telah hadir sejak saya dilahirkan di dunia ini.

“Menariknya, di dalam Islam setiap seseorang itu adalah sama di sisi Allah tidak kira mereka itu orang Arab atau sebaliknya, orang berkulit putih atau hitam. Yang pasti Allah melihat kepada ketakwaan dan amalan baiknya, maka di akhirat jua semua amalan mereka itu ditimbang dan semua umat Islam itu adalah bersaudara.

“Kenyataannya yang tidak saya sedari selama ini iaitu Allah telah membawa atau mendorongkan saya kepada agama Islam. Inilah yang dikatakan ketentuan Ilahi. Malah pada masa sama, isteri saya telah lebih dahulu mengenai salah seorang ketua masyarakat Islam di tempat kami iaitu Dr. Shahjahan Khan yang juga selaku Presiden Persatuan Islamik Toowoomba,” kata bapa kepada dua anak ini yang memeluk Islam bersama isterinya.

Ikrar syahadah mereka itu telah disaksikan pasangan Khan sewaktu pasangan itu berkunjung ke rumah mereka iaitu pada 16 Jun 2001.

Menurut Pugh, pengislaman mereka suami isteri bukanlah datang mendadak. Ini kerana sepanjang aktif dengan gereja telah wujud beberapa keraguan. Pun begitu, pada masa itu ia tidak dibesar-besarkan memandangkan agama pegangan itu adalah segala-galanya dalam kehidupan.

“Namun, isteri saya yang lebih dahulu dan agak berani mempersoalkan tentang beberapa perkara yang diajarkan di gereja yang dikatakan sentiasa berubah-ubah. Ini kerana, semasa belajar di University of New England, dia mengambil pengajian Islam.

“Katanya, dalam Islam penganutnya mempercayai bahawa tiada tuhan yang disembah melainkan kepada Allah, ceramah-ceramahnya sentiasa menitikberatkan soal keamanan, kedamaian dan kesamaan. Malah, mereka yang arif dengan Islam (ulama, mereka ini tidak pernah gentar menjawab soalan-soalan sukar seperti yang berkaitan ketuhanan sehingga berani berdebat tentang perbandingan agama.

“Akui isteri, ini ketara benar dengan apa yang berlaku di dalam agamanya. Mereka yang banyak meluahkan persoalan, akan cuba ‘dilenyapkan’ atau dianggap bersalah atau berdosa. Apa yang diajar mestilah diterima tanpa mempersoalkannya. Keyakinan mendalam isteri kepada agama Islam mengatasi segalanya, lantas mengambil keputusan bergelar Muslim dan seterusnya memakai tudung dan berpakaian sopan,” kata Pugh yang tidak menyangka keyakinannya kepada agamanya sebelum ini menjadi pudar sebaik mengenali Islam.

Menerusi laman web ini juga Pugh berkongsi serba sedikit latar belakang kehidupannya sebelum Islam. Beliau mengakui bahawa dirinya seorang yang boleh dikategorikan seorang pengikut setia Kristian.

“Setiap minggu, kami (saya, ibu, nenek dan pakcik) akan ke gereja. Pakcik merupakan orang yang bertanggungjawab mempengaruhi saya kepada agama ini kerana dia seorang yang dikira setia. Pada 1984, selepas kematian pakcik, kehidupan saya musnah dan ini menyebabkan saya berjanji untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raga saya kepada gereja. Saya mula melibatkan diri dengan kerja-kerja dakyah dalam pelbagai aktiviti mereka.

“Pada masa itu juga saya sempat mempelajari sejarah agama tersebut dan dari situ sudah nampak beberapa perkara di dalam agama ini yang tidak berapa jelas dan paling ketara ia sentiasa berubah-ubah. Namun, semuanya saya pendam kerana cintakan agama ini.

“Lama-kelamaan, apa yang saya harapkan demi menyumbang kepada gereja menemui kehancuran apabila kerjaya yang saya bina di situ lenyap, apabila saya ditinggalkan tanpa pekerjaan atau lebih tepat, bergelar penganggur,” kata Pugh yang mengalami kisah sedih apabila dia sendiri disingkirkan dari gereja kerana dianggap sebagai bebanan dan sering menimbulkan pelbagai persoalan yang dikatakan akan mengugat institusi gereja mereka.


- Petikan daripada IslamOnline.net

sofiahdewi



Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan"
Katagori : Ramadhan
Oleh : Redaksi 02 Sep 2008 - 2:40 pm

IQRA- Ustad Jefri Al Buchori




Selain memerintah syaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah 'azimat' Nabi tatkala memasuki Ramadhan!

"Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: "Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian."

Rasulullah meneruskan: "Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air."

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: "Aku berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?" Jawab Nabi: "Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah".

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu'."

"Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain."

"Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya."

"Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang."

Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, "Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu."

"Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka."

"Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya."

"Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka."

"Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga." (HR. Ibnu Huzaimah).

[hidayatullah.com]



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
SemangatZaman
SALAM......
KEPADA SESIAPA YANG MEMPUNYAI CERITA TENTANG LAKNATULLAH KAMAL ATATURK, KONGSILAH CERITA UNTUK RENUNGAN BERSAMA...
sofiahdewi
Salam kembali buat SZ,

Saya bukan pakar sejarah tetapi sangat meminat sejarah terutama sejarah islam.
Saya berharap beberapa aktikel yang akan saya letakkan dapat menarik pembaca
merenungi perjalanan kehidupan kita untuk masa depan.

Semua ciptaan benda di dunia ini tidak bermula daripada kosong tetapi ianya berteraskan
kemas kini ciptaan orang-orang terdahulu dan inilah yang di katakan sejarah.

Sesuatu kejayaan bukan kebetulan tetapi lahir dengan perancangan yang betul. Faktor
penting dalam perancangan ialah mengambil kira pengalaman lalu dan pengalaman lalu itu
juga boleh dikatakan sebagai sejarah.


QUOTE
URUTAN KHALAFAH ISLAMIYAH
Oleh: Ustadz Ahmad Syarwat, Lc

Ada begitu banyak analisa para pemikir dan pengamat tentang sebab-sebab jatuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Baik yang bersifat lebih teknis maupun sebab-sebab yang bersifat lebih umum.

Sebab-sebab secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah, terutama sejarah Turki sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah sebab-sebab secara umumnya saja.


A. Sebab Ekternal

Sudah kita ketahui bersama bahwa Khilafah Turki Utsmani kalah pada perang dunia pertama. Sebagai negara yang kalah perang, maka negeri itu dengan mudah ditindas, dirampok dan juga diperebutkan wilyahnya oleh para pemangsa dan lawan-lawannya.

Sampai terjadi penghinaan yang begitu besar, di mana bangsa Turki yang secara geografis memang penduduk Eropa dilecehkan dengan ungkapan "The Sickman in Europe." Bahkan kata "turkey" dalam ungkapan mereka merupakan pelecehan, yang artinya ayam kalkun.

Pahlawan dan tokoh muslim Turki pu tidak luput dari penghinaan. Salah satunya adalah Barbarossa si Janggut Merah. Di dalam cerita Asterik, tokoh Barbarosssa muncul sebagai bajak laut yang bodoh. Padahal beliau adalah pahlawan Islam di masanya dan pelaut kafir Eropa sangat takut dengan angkatan perangnya.

B. Sebab Internal

Penjajahan barat terhadap Turki semakin menusuk tatkala mereka berhasil meraih generasi muda Turki dengan pendidikan ala barat. Tentu saja semua itu untuk mendapatkan satu tujuan, yaitu sekulerisasi selapis generasi. Maka lahirlah kemudian generasi baru yang anti Islam, Islamo-phobia, sekuler, liberal dan berotak barat.

Mereka inilah yang kemudian didukung oleh Eropa untuk menumbangkan lembaga khilafah Islamiyah. Tercatat tokohnya adalah Mustafa Kemal Ataturk yang terlaknat. Sosok ini telah berhasil menumbangkan khilafah pada tahun 1924 lewat gerakan Turki Muda.

Sayangnya, hujaman belati mematikan ini justru masuk ke dalam pelajaran sejarah di negeri kita sebagai kebangkitan, bukan sebagai kejahatan. Rupanya, jaring-jaring kerja bangsa-bangsa kafir itu sedemikian luas, sehingga sosok Kemal Ataturk yang zhalim itu, justru muncul dalam buku sejarah kita sebagai pahlawan.

Padahal Kemal telah melakukan dosa yang bahkan Iblis pun tidak pernah melakukannya. Yaitu menumbangkan satu rangkaian khilafah Islamiyah yang terakhir. Padahal belum pernah sebelumnya umat Islam di dunia hidup tanpa naungan khilafah.

Sebab khilafah sudah ada sejak zaman Rasululullah SAW hidup, yakni sejak 15 abad yang lalu. Selama itu, umat Islam belum pernah hidup tanpa ada khilafah. Iblis dan para jin tidak pernah mampu menumbangkannya. Tiba-tiba seorang sekuleris yang nota bene agamanya masih Islam, malah menumbangkannya. Walhasil, sejak jatuhnya khilafah Turki, umat Islam masuk dalam bid'ah kubro. Sebuah bid'ah teramat besar yang melebihi semua jenis bid'ah yang pernah ada. Dan tentunya sangat dibenci dan dimurkai. Sebuah bid'ah berupa umat Islam hidup tanpa naungan khilafah.

Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam

Dengan wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 623 M, umat Islam segera membaiat Abu Bakar ra sebagai pengganti beliau. Istilah pengganti ini dalam bahasa Arab adalah khalifah. Lengkapnya, khalifatu rasulillah atau pengganti Rasulullah. Maksudnya bukan menggantikan posisi kenabian Muhammad SAW, melainkan posisi beliau SAW sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. Sebab nabi kita itu selain sebagi nabi, juga berperan sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.

Selain itu, ada juga sebutan lain buat posisi tertinggi umat Islam sedunia, yaitu istilah Amirul Mukminin. Artinya adalah pemimpin umat Islam.

1. Khilafah Rasyidah

Khilafah Rasidah berdiri tepat di hari wafatnya Rasululllah SAW. Terdiri dari 4 orang atau 5 orang shahabat nabi yang menjadi khalifah secara bergantian. Mereka adalah:

Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)

Umar bin Khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M)

'Utsman bin 'Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)

Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M) dan

Al-Hasan bin 'Ali ra (tahun 40 H/661 M)

Masa berlakunya selama kurang lebih 30 tahun. Disebut juga sebagai khilafah rasyidah karena posisi mereka sebagai shahabat nabi yang mendapat petunjuk. Dan memang ada pesan dari nabi untuk mentaati para khalifah rasyidah ini.

2. Khilafah Bani Umayyah

Khilafah ini berpusat di Syiria, tepatnya di kota Damaskus. Berdiri untuk masa waktu sekitar 90 tahun atau tepatnya 89 tahun, setelah era khulafa ar-rasyidin selesai. Khalifah pertama adalah Mu'awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Adapun masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

Mu'awiyyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)

Yazid bin Mu'awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)

Mu'awiyah bin Yazid (tahun 64-65 H/683-684 M)

Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)

Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-86 H/685-705 M)

Walid bin 'Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)

Sulaiman bin 'Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)

Umar bin 'Abdul 'Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)

Yazid bin 'Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724M)

Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)

Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M)

Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M)

Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M)

Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)

Sebenarnya khilafah Bani Ummayah ini punya perpanjangan silsilah, sebab satu dari keturunan mereka ada yang menyeberang ke semenanjung Iberia dan masuk ke Spanyol. Di Spanyol mereka kemudian mendirikan khilafah tersendiri yang terlepas dari khilafah besar Bani Abbasiyah.

3. Khilfah Bani Abbasiyah

Kemudian kekhilafahan beralih ke tangan Bani 'Abasiyah yang berpusat di Baghdad. Total masa berlaku khilafah ini sekitar 446 tahun. Khalifah pertama adalah Abu al-'Abbas al-Safaah. Sedangkan khalifah terakhirnya Al-Mutawakil 'Ala al-Allah.

Secara rinci masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

Abul 'Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)

Abu Ja'far al-Manshur (tahun 137-159 H/754-775 M)

Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)

Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)

Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786- mega_shok.gif 9 M)

Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)

Al-Ma'mun (tahun 198-217 H/813-833 M)

Al-Mu'tashim Billah (tahun 618-228 H/833-842M)

Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)

Al-Mutawakil 'Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)

Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)

Al-Musta'in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)

Al-Mu'taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)

Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)

Al-Mu'tamad 'Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)

Al-Mu'tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)

Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)

Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)

Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)

Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)

Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)

Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)

Al-Muthi' Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)

Al-Tha`i' Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)

Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)

Al-Qa`im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)

Al-Mu'tadi Bi Amrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)

Al-Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)

Al-Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)

Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)

Al-Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160 M)

Al-Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)

Al-Mustadli`u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)

Al-Naashir Lidinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)

Al-Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)

Al-Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)

Al-Musta'shim Billah (tahun 640-656 H/1242-1258 M)

Al-Mustanshir Billah II (tahun 660-661 H/1261-1262 M)

Al-Haakim Biamrillah I (tahun 661-701 H/1262-1302 M)

Al-Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)

Al-Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1343 M)

Al-Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)

Al-Mu'tadlid Billah I (753-763 H/1354-1364 M)

Al-Mutawakil 'Ala al-Allah I (th. 763-785 H/1364-1386 M)

Al-Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)

Al-Musta'shim (tahun 788-791 H/1389-1392 M)

Al-Mutawakil 'Ala al-Allah II (th. 791- mega_shok.gif 8 H/1392-1409 M)

Al-Musta'in Billah (tahun mega_shok.gif 8-815 H/1409-1416 M)

Al-Mu'tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416- 1446 M)

Al-Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)

Al-Qa`im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)

Al-Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)

Al-Mutawakil 'Ala al-Allah III (th 884-893 H/1485-1494 M)

Al-Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)

Al-Mutawakil 'Ala al-Allah IV (th 914-918 H/1515-1517 M)

Khilafah Bani Abbasiyah dihancurkan oleh pasukan Tartar (Mongol), sehingga umat Islam sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa adanya khalifah. Namun kurun waktnya hanya terpaut 3 tahun setengah saja dan segera berdiri khilafah Utsmaniyah.

4. Khilafah Bani Utsmaniyyah

Khilafah Bani Utsmaniyyah tercatat memiliki30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad 10 Hijriyah atau abad ke enam belas Masehi. Nama-nama mereka sebagai berikut:

Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M)

Sulaiman al-Qanuni (tahun 926-974 H/1520-1566 M)

Salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M)

Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M)

Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M)

Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M)

Mushthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M)

'Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M)

Mushthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)

Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M)


Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M)

Muhammad IV (tahun 1058-1099 H/1648-1687 M)

Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691 M)

Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M)

Mushthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)

Ahmad III (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M)

Mahmud I (tahun 1143-1168 H/1730-1754 M)

Utsman III (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M)

Musthafa III (tahun 1171-1187 H/1757-1774 M)

Abdul Hamid I (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M)

Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M)

Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M)

Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M)

Abdul Majid I (tahun 1255 H-1277 H/1839-1861 M)

'Abdul 'Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M)

Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M)

'Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M)

Muhammad Risyad V (tahun 1328-1338 H/1909-1918 M)

Muhammad Wahiddin (II) (th. 1338-1340 H/1918-1922 M)

'Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M).

Khalifah terakhir umat Islam sedunia adalah 'Abdul Majid II. Semenjak tumbangnya khilafah terakhir ini, berarti umat Islam telah hidup lebih dari selama (2006-1924= 82 tahun) tanpa keberadaan lembaga yang menyatukan.

Kepastian Kembalinya Khilafah

Lepas dari realitas di lapangan yang kurang menggembirakan, di mana umat Islam saat in menjadi budak barat, kekayaan alam mereka dijarah, ekonomi mereka terpuruk, nilai mata uang mereka sangat rendah, hutang luar negeri merekabertumpuk tak terbayar, pemuda mereka dirusak, wanita mereka menjadi hamba syahwat, bahkan masih ditambah lagi dengan rombongan Islam liberal dan sebagainya, namunmasih ada harapan.

Kita masih menemukan satu hadits dari Rasulullah SAW yang cukup melegakan, yaitu kabar gembira dari beliau bahwa suatu saat, khilafah ini akan kembali terbentuk, bahkan dengan kualitasnya yang rasyidah itu.

Sabda Rasulullah saw, "Kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi".

Namun tentunya khilafah ini tidak akan terbentuk begitu saja, bila hanya dengan doa dan diam saja. Atau hanya dengan bicara dan demonstrasi saja. Setiap umat Islam meski bersinergi untuk saling menguatkan dan saling menyokong semua upaya untuk kembali kepada khilafah Islamiyah.

Sebab setiap elemen umat punya potensi yang mungkin tidak dimiliki oleh saudaranya. Maka seruan untuk kembali kepada khilafah seharusnya bukan sekedar lips service, namun harus diiringi dengan kerja nyata, pembinaan dan pengkaderan 1,5 milyar umat, pendirian lembaga pendidikan dan sekian banyak pos-pos penting umat. Lantas diiringi juga dengan kebesaran hati, keterbukaan sikap serta jiwa kepemimpinan dunia Islam yang mumpuni.

Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat menyaksikan beridirnya khilafah Islamiyah semasa kita hidup. Sungguh sebuah kepuasan yang dimpikan oleh dunia Islam selama ini. Amien.

Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi warabaraktuh.


Sumber: Eramuslim



QUOTE
Rencana Baru Zionis Israel untuk Timur Tengah


Infopalestina: Dalam sebuah paragrap dukumen strategi nomor 474 yang diterbitkan oleh Jewish Institute for National Security Affairs (JINSA) dikatakan: tindakan merubah system adalah target dan tujuan kita yang kita upayakan untuk direalisasikan di Libanon dan Suriah. Sejak lama telah kita tulis bahwa di sana ada tiga jalan yang mungkin digunakan untuk merealisasikan tujuan tersebut: system ini memilih perubahan dirinya, atau dijatuhkan lewat rakyatnya, atau melalui serangan dari luar dengan alasan mengencam dunia luar.

Petunjuk dan Isi

Paragrap yang disebutkan dalam dokumen JINSA ini merupakan hasil pengulangan atas apa yang terungkap pada tahun 1915 dari ungkapan yang keluar dari mulut pemimpin Zionis Ze'ev Jabotinsky (1880-1940) dalam sebuah artikel yang diterbitkan harian The Tribune pada 30 November 1915. Dia mengatakan dalam artikelnya: prediksi harapan masa depan bagi kita adalah memotong-motong Suriah…. Tugas kita adalah hadir untuk prediksi harapan masa depan ini. Dan semua yang selain itu hanyalah membuang-buang waktu.

Setelah itu datang David Ben Gurion tahun 1948. Dia mengatakan: Kita harus bersiap maju ke depan melanjutkan espansi ini. Target kita adalah merealisasikan kesuksesan yang gemilang dengan menghancurkan Libanon, Yordania, Suriah dan titik terlemah yaitu Libanon.

Adapun Odid Yinon, telah meletakan rencana Zionis untuk timur tengah pada tahun 1982. dia mengatakan dalam rencana tersebut: Jelas bahwa asumsi-asumsi militer yang tersebut di atas, dan rencana ini secara umum, juga bersandar kepada kontinyuitas agar Arab berada dalam kondisi perpecahan lebih besar dari apa yang terjadi sekarang. Dan juga dalam kondisi sangat membutuhkan gerakan massa yang sebenarnya. Dari situ maka apapun jenis perseteruan Arab – Arab akan membantu kita dalam jangka waktu dekat dan akan memperpendek jalan menuju tujuan dan target lebih besar tingkat urgensinya, yang itu tewujudkan dalam penghancuran dan pembagian Irak kenjadi etnis-etnis. Demikian juga Suriah dan Libanon….


Contoh Praktis


Perilaku politik luar negeri Amerika dan Israel menunjukan ke sejumlah realitan dan bukti-bukti materi yang menegaskan bahwa koalisi Israel – Amerika berjalan ke arah pelaksanaan tujuan-tujuan dan target-target yang masih berulang-ulang mulai dari tahun 1915, kemudian tahun 1948 dan 1982 hingga hari ini.

Analisa secara umum dan parsial saling berkaitan, atas dasar penilaian pendalilan atas umum dengan parsial dan parsial dengan umum. Sebagai contoh: bahwa apa yang terjadi di realita lapangan adalah bagian dari realita-realita parsial menegaskan hal itu, yaitu realita-realita-realita yang mungkin bisa didiskusikan dari pandangan analisa parsial sebagai berikut:

1- Irak: Setelah perselisihan Arab – Arab meningkat, terjadilah aksi agresi dan pendudukan Irak. Beberapa saat setelah berada di bawah pendudukan militer, muncullah langkah pertama proses pembagian Irak menjadi kelompok-kelompk suku dan etnis, melalui konstitusi Irak yang dibuat kedubes Amerika dan yang di belakangnya, Israel. Terjadinya pembagian menjadi 3 wilayah federal dan pengkhususan hasil-hasil minyak khusus dengan segala yang ada secara terpisah.

2- Yordania: Meskipun tidak diduduki, secara penuh Yordania berada di bawah perwalian/pengawasan Israel – Amerika, sesuai dengan kesepakatan damai Israel – Yordania yang ditanda-tangani di lembah Araba. Kesepakatan yang telah menjadikan struktur institusi-institusi politik Yordania hanya sekadar cabang dari kolega-koleganya dari Israel. Intelijen dan kepolisian Yordania hanyalah sekadar cabang dari intelijen dan kepolisian Israel. Demikian juga militer Yordania, ibarat entitas kecil yang hanya berdiri untuk melaksanakan tugas tugal, yaitu melindungi raja. Tidak urusan terahdap persoalan-persoalan lainnya. Orang-orang Amerika dan Inggris berhasil sukses mengadaptasikan aliran militer dan satuan tempur khusus dengan militer Yordania dan pasukan pengawal raja yang disesuaikan dengan pelaksanaan tugas ini.

Demikian juga pasar-pasar dan ekonomi Yordania, tidak lain hanya mewakili cabang dari pasar-pasar Israel. Dan saat ini, ekonomi Yordania hanyalah sekadar pintu lewat bagi "hubungan ekonomi Arab – Israel yang tidak dideklairkan". Dengan kata lain, ekonomi Yordania telah menjadi pihak yang memerankan sebagai kuda buruan ekonomi Israel di dalam ekonomi Arab. Dengan bukti beredarnya banyak barang Israel di pasar-pasar Arab dikarenakan banyaknya perusahaan Yordania yang menyalurkan barang-barang tersebut setelah merubah lisensi asli dan prosusennya sehingga menjadi barang murni Yordania. Demikian juga orang-orang Israel membeli kebutuhan barang-barang asal Arab dari pasar-pasar Yordania tanpa perlu merubah lisensi dan produses aslinya.

Secara politik, Yordania telah menjadi terminal koordinasi antara sebagian pihak Arab dan Israel. Sistem kerajaan Yordania terus maju berjalan bekerjasama dengan Israel, mengira bahwa kerjasama ini akan bisa mencegah ancaman ketamahan Israel dan akan bisa menangkis hantu pendudukan Israel.

3- Libanon: Di mana rencana-rencana itu telah jelas. Pelaksanaannya telah mengalami kemajuan besar. Dalam hal ini, analisa yang diajukan seorang peneliti Amerika Trish Show yang merujuk kepada:

a. Dokumen mahkamah internasional: yang terakhir adalah ungkapan-ungkapan ancaman yang dilontarkan orang-orang Amerika kepada Ketua Komisi Penyelidik PBB Serge Brammertz saat menyiapkan laporan yang hasilnya tidak membantu pencapaian misi yang diminta. Peneliti Amerika ini mengisyaratkan perincian lebih besar kepada mantan Ketua Komisi Penyelidik PBB Detlev Mehlis dan perannya yang berhasil digagalkan.

b. Gerakan-gerakan dubes Amerika di Beirut Jeffry Filtman, secara khusus ancamannya kepada pemerintah Libanon terkait dengan Menteri Luar Negeri Libanon Fauzi Shalukh.

c. Penangkapan anggota jaringan Mossad di Libanon yang melakukan banyak serangan dan ledakan serta aktivitas lainnya yang memiliki hubungan dengan pembunuhan Taufiq Hairi dan yang lainnya. Pada akhirnya, perkara ini berhasil ditutup karena tekanan kedubes Amerika di Beirut.

c. Sikap orang-orang Amerika, Libanon dan Komisi Penyelidik PBB yang pura-pura tidak tahu atas apa yang tercantum dalam laporan khusus tentang kejahatan pembunuhan Hariri

d. Cara yang membuat berhasil dikeluarkannya keputusan-keputusan internasional seputar Libanon dan tabiat skenario yang akan berdampak kepada keputusan-keputusan ini di kawasan secara umum dan di dalam negeri Libanon secara khusus.

e. Peristiwa pembunuhan dua bersaudara Magdzub, secara khusus cara pelaksanaan pembunuhan itu, serta penutupan dan tindakan pemerintah Libanon menyembunyikan masalah ini.

Secara umum, Libanon telah menjadi dia dekat (sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) dari merealisasikan tujuan yang telah dikatakan Ze'ev Jabotinsky, David Ben Gurion, Odid Yinon dan ditegaskan oleh dokumen Jewish Institute for National Security Affairs (JINSA). Tidak tersisa dari skenario menghabisi Libanon kecuali pelaksanakan skenario cabang khusus dengan bentuk-bentuk perang internal di Libanon.





QUOTE
Sejarah: Mustafa Kamal keturunan Yahudi?

H.S. Armstrong, salah seorang pembantu Ataturk dalam bukunya yang berjudul al-Zi'bu al-Aghbar atau al-Hayah al- Khasah li taghiyyah telah menulis:

"Sesungguhnya Ataturk adalah daripada keturunan Yahudi. nenek moyangnya adalah Yahudi yang berpindah dari Sepanyol ke bandar Salonika,".

Golongan Yahudi ini dinamakan dengan Yahudi Daunamah yang terdiri daripada 600 buah keluarga.

Mereka mendakwa memeluk Islam pada tahun 1095 Hijrah(h) (1683 Masehi), tetapi masih menganut agama Yahudi secara senyap-senyap. Ini diakui sendiri oleh bekas Presiden Israel, Yitzak Zifi, dalam bukunya Daunamah terbitan tahun 1377H (1957M).

Ada kumpulan-kumpulan agama yang masih menganggap diri mereka sebahagian daripada Nabi Israel, antaranya ada satu kumpulan iaitu kumpulan Daunamah yang Islam hanya pada zahir tetapi mengamalkan ajaran Yahudi secara senyap-senyap.

Ketika Mustafa kamal mencapai usia 12 tahun, beliau memasuki Sekolah Tentera Salonika, dan kemudiannya menyambung pelajaran di Akademi Tentera Monasitar pada tahun 1302H (1885M).

Pada tahun 1322H (1905M), beliau memasuki kolej tentera di Istanbul dan menamatkan latihan ketenteraannya pada tahun 1325H. (1907M) dan kKemudiannya, belaiu telah ditugaskan di Kem Tentera Batalion ketiga di Salonika.

Kamal mula memusuhi Khalifah Uthmaniyyah

Di situlah bermulanya usaha Mustafa Kamal dalam memusuhi Khalifah Uthmaniyyah dan agama islam. Dengan kedudukannya sebagai graduan kolej tentera, beliau telah mengingatkan rakan-rakan pegawainya agar tidak tertipu dengan pemikiran dunia Islam.

Beliau telah mengubah ucapan Assalamualaikum kepada Marhaban Bikum (Selamat Datang).

Tindakan beliau selanjutnya ialah menubuhkan Pertubuhan Kebangsaan dan Kebebasan yang bertujuan untuk menghapuskan Kerajaan Uthmaniyyah yang menurutnya mengamalkan pemerintahan kuku besi,tetapi malangnya Pertubuhan Bersatu dan Maju yang ketika itu juga bergiat cerdas menentang pemerintahan Islam telah menjadi batu penghalang kepada pengerakan Mustafa Kamal ini.

Imej Mustafa Kamal menonjol selepas meletusnya Perang Dunia Pertama apabila beliau dipilih sebagai panglima pasukan ke -19 di Sinaq Qal'ah.

Pasukannya dapat mengalahkan tentera British sebanyak dua kali di Semanjung Ghalibuli di Balkan Darnadil mestkipun kekuatan tentera British mampu mengalahkan tentera Artaturk. Dengan kemenangan tersebut, Ataturk telah dinaikkan pangkat kapten dan kemudiannya jeneral pada tahun 1335H (1916M).

Pada hakikatnya, kemenangan yang dicapai oleh Mustafa kamal adalah kemenangan yang disengajakan dirancangkan oleh tentera Inggeris supaya reputasi Ataturk dipandang tinggi oleh Kerajaan Uthmaniyyah.

Ini kerana peperangan di antara tentera Uthmaniyyah dengan tentera bersekutu berlanjutan selama beberapa hari tanpa mana-mana pihak mencapai sebarang kemenangan sehingga menyebabkan kedua-dua belah pihak bertahan dikawasan masing-masing untuk beberapa bulan.

Akirnya pihak Inggeris secara mengejut tanpa disangka-sangka telah meninggalkan kawasan pantai Ghalibuli. Pada tahun 1337H (1918M), Ataturk telah mengetuai satu pasukan tentera di Palestin.

Beri laluan mudah kepada Inggeris

Beliau telah menghentikan peperangan terhadap Inggeris, memusuhi Kerajaan Uthmaniyyah secara mengejut dan membenarkan Inggeris mara ke sebelah Utara tanpa mendapat sebarang tentangan.

Ketika itulah beliau mengadu jatuh sakit dan telantar di di Kem Nablus. Tindakannya itu telah menimbulkan pelbagai spekualasi dan tanda tanya, lantas beliau membawa pasukan tenteranya ke Utara sehingga ke Damsyik.

Di sana, beliau telah mengeluarkan perintah supaya menghentikan tentangan terhadap Inggeris sekaligus membuka peluang kepada Inggeris untuk mara ke wilayah-wilayah Uthmaniyyah.

Selepas kekalahan Turki dan perisytiharan gencatan senjata, Inggeris meminta khalifah membubarkan Dewan Rakyat yang berkuasa menentukan kekuasaan khalifah.

Selepas pembubaran itu, Inggeris mencetuskan pula huru hara dalam istana Kerajaan Uthmaniyyah sepanjang tempoh dua tahun 1337 - 1338 H (1918-1919M) dan meminta khalifah menghentikan angkara yang sengaja mereka rancangkan itu.

Mereka kemudian mencadangkan Mustafa Kamal untuk memikul tugas tersebut supaya Mustafa dapat menjadi orang yang berupaya memenuhi aspirasi rakyat dan satu-satunya pegawai tinggi tentera yang layak mendapat penghargaan daripada pihak tentera.

Kedudukkan dan kehebatan Mustafa kamal kian terserlah di mata orang ramai, manakala reputasi institusi khalifah pula semakin menurun sementara pada waktu yang sama beliau telah merealisasikan perancangan Pihak Bersekutu untuk menguasai wilayah-wilayah Kerajaan Uthmaniyyah.

Bunuh orang Islam

Taktik yang digunakan oleh Inggeris untuk menjayakan rancangan tersebut ialah dengan membebaskan Greek daripada penguasaan Izmir dan ini terang-terang bercanggah dengan teks perjanjian yang telah dimeteraikan oleh Pihak Bersekutu.

Semua ini berjalan dengan pantas sekali apabila tentera Greek melepaskan tembakan kepada orang Islam Turki di jalan-jalanraya, memaksa mereka menanggalkan tarbus yang kemudian dipijak-pijak dengan kaki, menanggalkan purdah yang dipakai oleh wanita Muslim, membakar perkampungan Islam di Izmir dan menyembelih orang Islam tanpa belas kasihan.

Di tengah-tengah kegawatan tersebut, kapal Ainabuli telah berlabuh di perairan Izmir di tengah-tengah Armada laut Inggeris dan Greek, lalu Mustafa Kamal menuju ke Izmir dan mengerah segala keupayaannya dan memperlihatkan modus operandi yang menyakinkan dalam menentang Greek.

Mustafa Kamal mengutus telegram kepada khalifah untuk menjelaskan keadaan yang genting, akan tetapi kerajaan mendesak beliau pulang untuk mengelakkan belaiu daripada terus menibulkan huru-hara.

Khalifah cuba memeujuk Mustafa Kamal tetapi belaiu tetap enggan pulang malahan menghantarkan telegram kepada baginda, "Saya akan tinggal di Anadul sehingga kemerdekaan dapat dicapai."

Lancar revolusi, tipu rakyat Turki

Mustafa Kamal mula melancarkan revolusi yang disokong sepenuhnya oleh Inggeris dan beliau telah berjaya pada peringat permulaan dan ia berlaku apabila gerakan beliau telah disertai oleh para pemimpin muda dan pemikir-pemikir yang meletakkan syarat agar tidak membabitkan khalifah.

Pertempuran di antara tentera Uthmaniyah dengan Greek telah berlanjutan selama satu setengah tahun.

Semasa pertempuran sedang berlaku, Pihak Bersekutu telah mengumumkan bahawa mereka berkecuali.

Apa yang menghairankan senjata-senjata yang dibelakkan kepada Mustafa Kamal adalah dari Rusia hasil perancangan rapi pihak Inggeris di Busfor sekalipun Rusia memang memusuhi Kerajaan Uthmaniyyah.

Pada 23 Mac 1921M (1340H), tentera Greek mencetuskan kembali api peperangan dan pada September tahun yang sama, pertempuran di antara kedua-dua belah pihak terhenti apabila Greek menarik keluar tenteranya dari Izmir.

Dua hari selepas itu, tentera-tentera Uthmaniyyah mula memasuki Izmir tanpa menggunakan sebarang kekerasan.

Propaganda Barat telah membesar-besarkan kemenangan pimpinan Mustafa Kamal ini dan menyebarkannya dengan cepat ke negara-negara Islam.

Orang Islam telah tertipu dengan tindakkan Mustafa yang berjaya memenuhi aspirasi mereka sehinggakan Ahmad Shauqi pernah memuji belaiu melalui sebuah qasidah yang mengumpamakan Ataturk seperti Khalid bin al-Walid.

"Maha Besar Allah betapa kemenangan yang penuh keajaiban, Khalid Turki hidupkanlah kembali, Khalid Arab.

Bubar kerajaan Khalifah

Malangnya impian mereka yang tertipu dengan tindakan Mustafa tidak tercapai kerana pada 3 Mac 1343H (1924M)., tersiar berita tentang pembubaran Kerajaan Khalifah.

Khalifah dan kerabat Diraja telah dihalau keluar dari negara Turki, manakala dua buah kementerian iaitu Kementerian Wakaf dan Kementerian Undang-undang Syari'ah telah dimansuhkan.

Sekolah-sekolah agama pula telah ditukar menjadi sekolah-sekolah awam.

Dalam suasana getir itu, musuh-musuh Islam melihat bahawa penghapusan Khalifah Islamiah bukanlah suatu perkara mudah kerana ia hanya akan tercapai dengan cara menonjolkan seorang wira yang agung dan Mustafa merupakan orang yang digelar wira tersebut.

Pihak Inggeris telah melaksanakan rancangan ini bersama-sama Mustafa Kamal sendiri dengan membebaskan Greek dari Izmir dan mendakwa Mustafa adalah pahlawan sebenar yang menjayakan kemenangan tersebut.

Seluruh rakyat mula mempercayai perkara tersebut dan bagi Inggeris inilah masa yang paling sesuai untuk memasukkan jarumnya bagi menghancurkan Islam.


Wallahua'lam





Firman Allah "Sederhanalah dan jangan terlalu berlebih-lebihan serta berusahalah melakukan yang benar. Setiap musibah yang menimpa orang-orang muslim adalah suatu pelebur kesalahan biarpun hanya sekadar tercucuk duri " ……..

Firman Allah "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu berdukacita, padahal kamulah orang–orang yang paling tinggi darjatnya, sekiranya kamu beriman."- (surah Ali Imran:Ayat 139)




http://hapise.multiply.com/journal/item/5[...]



jblack
menarik jugak bace dlm ni. tapi bnyk sgt la. kalau ade compilation boleh download cantik gak

kawan2 jgn lupe, register aje terus dpt duit raye,
http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=jeff14
rick_kk
Aslkm.
Aslkm.

Maklumat yang baik dan telus ini mampu membuka minda dan mata hati mereka yang mahu memikirkannya.

Secara peribadi; berkaitan sebaran agama ini saya membuat klasifikasi:

Era Rasulullah: Tiada peperangan kecuali untuk mempertahankan diri; malah peperangan terhadap golongan murtad tidak lebih daripada pembalasan terhadap tipuan dan pengkhianatan mereka. (Nota: seperti kita ketahui; terdapat golongan yang masuk Islam sekadar menjalankan helah memerangkap umat Islam).

Era Khalifah Rasyidin: Pemilihan ketua dibuat secara baiah. Peperangan dalam era berlaku bukan atas dasar meluaskan wilayah tetapi atas dasar menebus maruah Islam dan membuka jalan kepada 'kebebasan beragama'. (Nota: Peperangan dibuat terhadap pemerintah kafir yang menghalang rakyatnya memeluk Islam dan memaksa mereka tetap dengan agama yang ditentukan pemerintah; sebaliknya kepada ketua negara (walaupun mereka bukan Islam) yang memberi kebebasan kepada rakyatnya memilih agama; terus diberi pengiktirafan (dan perlindungan) oleh khalifah Islam).

Era Selepas Khalifah Rasyidin: Khalifah Islam mula membelakangi visi dan misi Islam (rujuk atas dasar apa Nabi Muhammad diutus kepada manusia; dan rujuk prisinsip umat (ulamak) Islam sebagai pewaris nabi dalam meneruskan misi dan visi dengan mengekalkan konsep dan prinsip Islam); sebaliknya mula melakukan sesuatu yang berkepentingan peribadi dan kuasa; apabila sistem monarki diamalkan dan peperangan dibuat atas dasar meluaskan kuasa. Taklukan era inilah yang memberi kesan negatif di mana penakluk tidak menyebar Tauhid kepada penduduk jajahan takluknya sebaliknya mementingkan pungutan cukai dan meraih kekayaan untuk kehidupan mewah; telah menimbulkan rasa benci dan dendam yang tiada berkesudahan kepada penduduk tanah jajahan. (Nota: Sesungguhnya praktikal Islam, misi menyebar Tauhid bukanlah dengan cara peperangan atau penaklukan; sebaliknya ia adalah suatu dedikasi dalam membuka minda umat manusia dalam melihat (dengan jelas) antara kebenaran dan kebatilan (minadz-dzulumati ilan-nur).

Era Fitnah: Era fitnah ialah era terkini; di mana umat Islam melihat sesuatu yang non-Islamik sebagai identiti Islam. Mereka mengamalkannya dan memepertahankannya. Dalam masa yang sama identiti sebenar Islam telah terabaikan; sehingga lahir konsep dan prinsip melalui takrifan atau glosari dan interpretasi/konotasi yang tersasar. Tuhan telah dianggap sebagai majikan yang mesti diampu (konsep religi), memuji-muji sekadar ingin mendapat upah (mulut memuji-muji, minda tergambar upah). Dari sini tertanam sifat 'syirik syaghir' yang melumpuhkan 'mukhlithina lahuddin' dalam hati umat Islam. Ketika inilah reputasi umat Islam mula merudum; dan Islam tertampil begitu hodoh; diperlekeh dan dipersendakan oleh dunia.

Oleh itu; marilah kita bermuhasabah diri dalam mempastikan keaslian ajaran Islam yang kita amalkan; lantas menyatukan usaha dan minda kita membawa semua umat Islam kepada umat yang satu; dan menampilkan kepada dunia di mana letaknya kebenaran Islam dan di mana letaknya kebatilan mereka; semoga mereka ingin kembali kepada Tauhid.

Wslm.
sofiahdewi
Waalaikumussalam,

Terima kasih kepada saudara/saudari rick_kk diatas perkongsian tambahan ini. Semuga sama sama kita beroleh tambanan ilmu. Mohon di tambahan perkongsian ilmu untuk kesanambungan yang berterusan dan munafaat untuk renungan bersama. rolleyes.gif
sofiahdewi
QUOTE(jblack @ Sep 12 2008, 11:08 AM) *
menarik jugak bace dlm ni. tapi bnyk sgt la. kalau ade compilation boleh download cantik gak

kawan2 jgn lupe, register aje terus dpt duit raye,
http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=jeff14


Terima kasih di atas komentar saudara/saudari. Semuga mendapat perhatian saudara administrator. rolleyes.gif
trzpower
Salam Ramadhan!

Tahniah buat semua yang terlibat dalam thread yang amat menarik ini, ( terutamanya tuan tanah )banyak ilmu yang berguna utk pedoman kita. Semoga usaha anda mendapat keberkatan Allah!

Wassalam
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.
Invision Power Board © 2001-2014 Invision Power Services, Inc.